My Destiny Love

My Destiny Love
46. Dua suami nakal


__ADS_3

Marcel kini menapaki studionya Billy, mencari keberadaan sahabat usilnya itu. Namun, yang dicari tidaklah nampak batang hidungnya. Marcel hanya melihat Eric yang duduk disana, seakan menunggu untuk melampiaskan rasa yang sama sepertinya


" Hey, kemana sahabat luknut itu pergi?" tanya Marcel merujuk pada Billy


" Aku tidak tahu. Dia sudah menghilang sejak aku ke studio" jawab Eric, hanya memandang sekilas pada Marcel lalu menunduk kembali, semalam cukup berat untuknya


" Dia pasti tahu kita akan kemari, jadi pasti sudah melarikan diri duluan"


" Aku juga setuju"


" Palingan dia sembunyi ke kantornya Mike. Ayo kita kesana, tanganku sudah terlalu gatal untuk memukulnya" ucap Marcel lagi sembari mengepalkan tangannya dan memperagakan orang yang ingin memukul


" Iya, kelakuannya sekarang sudah terlalu keterlaluan"


" Eum..tapi tunggu! Dia tidak mencium bibirmu kan? Kalau benar, itu akan sangat menjijikan"


" Billy sepertinya mempunyai kelainan ****ual" ujar Eric bangkit dari duduknya tanpa menjawab apa yang ditanyakan Marcel


πŸ€πŸ€πŸ€


Marcel menatap Billy yang terus dipukuli oleh Eric, dia hanya memberikan dua tonjokan saja sebagai hadiah untuk Billy karena sudah berani mengecupi wajahnya dengan bibir berlipstick pria itu


Setelah puas memukuli Billy tanpa perlawanan, Eric juga ikut mrnjatuhkan diri disofa samping Marcel kelelahan sedang Billy, hanya mampu meringis saat wajahnya kini penuh lebam. Sahabatnya tidak benar-benar memukulinya, kalau beneran pasti sekarang dia sudah masuk rumah sakit


" Makanya jangan usil, enak kan rasanya dikeroyok?" ujar Mike setelah puas mentertawai Billy yang mati kutu. Billy, memutuskan sembunyi ke kantornya dan dua sahabatnya yang lain juga menyusul akhirnya


" Mana aku tahu akan separah ini, lagian Eric. Sejak kapan kau jadi pemarah?" tanya Billy sembari mengusap bekas pukulan Eric yang terasa perih. Saling memukul seperti ini sudahlah menjadi hal biasa diantara ke empatnya. Apalagi Billy sudah melakukan kesalahan. Namun, pukulan yang mereka layangkan tidaklah membabi buta. Mereka sudahlah biasa dengan itu semua


"Sejak semalam, saat aku hampir tinggal nama. Kau tahu seberapa mengerikannya istriku saat marah, apalagi saat ini dia sedang mengandung. Aku benar-benar hampir dibunuhnya semalam. Memang pantas wajahmu kutonjok" jawab Eric yang kesal. Billy meringis akibat perih luka diwajahnya yang sengaja ditekan Mike didekatnya


"Beruntung kamu tidak beneran dihajar Marcel. Kalau tidak, kurasa kau harus menjalani operasi setelah ini" tutur Mike pada Billy yang masih terus meringis. Pagi-pagi sekali Billy sudah harus menyembunyikan diri dikantor Mike dari kemarahan dua sahabatnya, walau akhirnya mereka tetap menemukannya dan melayangkan sedikit hadiah


"Aku tidak memukulnya karena istriku marah, malahan aku berterima kasih padanya untuk itu. Tapi, aku memukulnya karena telah berani menempelkan bibir jeleknya pada wajahku.Itu menjijikan" ujar Marcel sarkas. Dia menjadi sangat marah saat melihat video dimana Billy mengecupi wajahnya dan Eric saat mabuk dengan bibir berlipstick pria itu


"Bukannya bersyukur bibirku yang melakukannya. Kalau aku suruh seorang wanita yang melakukannya, sudah dapat dipastikan, burung kalian tidak akan menemukan sarangnya lagi"

__ADS_1


"Tetap saja itu menjijikan!" seru Marcel tidak mau kalah. Mike hanya menonton sembari mengangkat tangan pasrah dengan kelakuan para sahabatnya


Setelahnya mereka malah mendapat usiran dari Mike sebelum kedatangan mantan Mike membuat kegaduhan dan memilih pergi setelah menyelesaikannya.


πŸ€πŸ€πŸ€


" Hai sepupu tersayangku!" Vika tersentak saat mendengar suara sapaan itu dan langsung menatap pada si penyapa


" Lisa..." kagetnya, spontan berdiri dan memeluk sang sepupu terkasih walau perut buncit keduanya sedikit mengganggu pelukannya


" Hei, jangan berlari seperti itu. Bisa mati aku sama suami sialanmu itu kalau sampai terjadi sesuatu sama dirimu" protes Lisa yang teramat sangat kesal pada para sahabat suaminya, karena sudah berani mengajak suaminya mabuk-mabukan dan bermain perempuan, setidaknya itulah pemikirannya dan Marcel juga tidaklah luput dari kekesalannya, sekalipun Marcel adalah suami dari sepupu terkasihnya


" Aku tidak apa-apa lisa. Oh ya! Tumben kamu kemari? Padahal sejak aku kasih alamat rumah kami, kamu tidak pernah pergi kesini"


" Aku hanya merindukan sepupuku. Kenapa memang? Tidak boleh aku kesini?"


" Bukan begitu. Hanya saja aku heran dengan kedatanganmu tiba-tiba. Kau tahu! Aku sangat kesepian sendirian disini"


" Kalau begitu, keluarlah sesekali"


" Aku juga malas melakukannya" jawab Vika lesu. Lisa menggelengkan kepalanya


" Bagaimana kamu bisa ketahuan dan suamimu...? Dia tidak marah?"


" Tentu saja marah, tapi aku masih bisa mengatasinya. Aku ketahuan karena sebuah kesalahan kecil, aku menukar pakaianku di sebuah gang sempit yang tanpa kusadari terdapat kamera CCTV yang tidak terlihat dan suruhan Marcel akhirnya mendapatkannya dan mengidentifikasi identitasku" jelas Vika menghela nafas sendu


" Ah! Sudahlah. Setidaknya dia tidak mengkasarimu" tutur Lisa membuat Vika menatap sepupunya itu lemas. Andai Lisa tahu seberapa brutal suaminya saat sedang marah, Marcel berubah menjadi mengerikan


" Eum iya" Vika hanya dapat mengangguk mengiyakan lalu beralih pada perut Lisa yang juga sama sepertinya, sedang mengandung


" Berapa umur kandunganmu sekarang?" tanya Vika


" Tiga bulan 6 hari..kalau kamu?"


" Umurnya sekarang empat bulan 10 hari" Vika mengusap perutnya penuh kasih sayang

__ADS_1


" Perutmu tidak terlihat terlalu menonjol sepertiku, padahal umur kandunganmu sudah lebih dariku" ujar Lisa merasa heran. Vika juga berkerut bingung menatap perut buncit sepupunya


" Apa mungkin karena aku sedang mengandung kembar?" lanjut Lisa bertanya


" Kembar? Kamu mengandung anak kembar?" Vika berujar antusias dan Lisa mengangguk membenarkan


" Wuah, pasti sangat menyenangkan. Aku juga ingin punya anak kembar" kata Vika dengan wajah berbinar harap


" Tidak perlu anak kembar! kita bisa membuat banyak kalau kamu ingin punya banyak anak" seru sebuah suara yang sangat dikenali oleh Vika. Kedua wanita itu menatap kearah pintu dimana suami mereka sedang berada. Melirik pada jam didinding lalu kembali menatap suaminya


" Kenapa jam segini sudah pulang?" tanya Vika bingung lalu menatap pada Eric, suami Lisa yang berada disamping Marcel


" Haruskah aku jawab pertanyaan itu?" ujar Marcel sedang Eric melirik pada istrinya yang masih memasang wajah kesal, Lisa masihlah sangat kesal pada suaminya karena insiden bekas lipstick semalam


" Kenapa tidak bekerja? Apa sekarang lagi suka jajan diluar ya?" tanya Lisa pada suaminya dengan nada sinis. Eric memegang tengkuknya yang tiba-tiba menjadi berat. Bagaimana dia harus menjelaskannya pada Lisa soal bekas lipstick yang memenuhi wajahnya semalam


" Sekarang aku setuju dengan katamu, kalau istrimu mengerikan" bisik Marcel pelan pada Eric di sampingnya lalu menepuk pelan bahu sang sahabat


" Semoga kau selamat, Ric" lanjutnya sembari melangkah kearah sang istri yang menatap bingung dirinya dan Lisa yang menatapnya tajam penuh intimidasi


" Apa kalian berdua baru saja menghabiskan waktu dengan partner ranjang kalian?" tanya Lisa tajam membuat Eric mengusap kasar wajah tampannya dan Marcel membatin kesal


" Sial! Wanita ini akan membuat Vika semakin salah paham" batinnya beujar kesal


" Partner ranjang apa maksudnya?" tanya Vika ragu menatap sepupunya


" Kau tahu Vik. Semalam suami terkasihku pulang dalam keadaan berlumur bekas lipstick. Dapat kau bayangkan apa yang sudah dilakukannya semalam dan aku juga tidak percaya dengan suamimu. Wajahnya menggambarkan kalau dia pria mesum" jelas Lisa sarat akan emosi di setiap katanya. Siapa yang tidak akan emosi membayangkan suami tidur dengan wanita lain


" Apa..?" Vika menatap pada suaminya yang sudah menghelakan nafas lelahnya kembali


" Billy sialan" cecar batinnya yang tetap menyalahkan semua ini pada si biang kerok, Billy Anderson


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™


__ADS_2