My Destiny Love

My Destiny Love
24. Hukuman


__ADS_3

Merasa sangat bosan dengan keadaannya di rumah mewah Marcel membuat Vika meraih ponselnya hanya untuk menghubungi sepupunya, Lisa


" Halo sepupu cantikku" sapa Vika pada Lisa di seberang


" Ada apa kau menelponku. Apa penyamaranmu sudah terbongkar?"


" Kau itu tidak ada manis-manisnya ya" kesal Vika dengan jawaban judes sepupunya


" Aku menelponmu hanya iseng-iseng karena aku bosan" jawabnya tanpa rasa bersalah sedikit pun


" Kalau kau bosan kenapa menggangguku, kenapa tidak kau ganggu saja suamimu itu"


" Ah kau ini. By the way, Lis, kamu dimana sekarang?"


" Aku sedang meni pedi, kan aku akan melangsungkan pernikahan minggu ini" jawab Lisa di seberang dengan nada malas


" Menikah! Siapa? Kamu?" terkejut Vika dengan pemberitahuan yang tidak di ketahuinya


" Ya iyalah, memang siapa lagi. Kamu? Kan udah"


" Menikah dengan siapa? Siapa pria gila yang mau menikahimu?"


" Tanyakan saja pada suamimu, dia kenal dengan calon suamiku. Sudah ya, aku lagi sibuk. Besok, kapan-kapan aku akan menghubungimu lagi" tut..suara panggilan terputus, Vika melongo. Sepupunya akan menikah dan dia baru mengetahuinya tapi Vika sangat menyayangkan pria yang akan menjadi suami sepupu angkuhnya yang pasti akan sangat malang nantinya


" Nyonya" Vika tersentak saat dipanggil dengan panggilan yang tidak terlalu terbiasa di telinganya


" Eh iya, ada apa?"


" Tuan pulang nyonya dan Anda harus menyambutnya" Vika memutar bola matanya malas dengan pemberitahuan itu, sudah beberapa hari ini dirinya melakukan hal bodoh itu sedangkan dirinya sangat merasa bosan dengan itu semua karena biasanya dirinya akan menghilangkan bosan dengan cara ekstrimnya sendiri


" Bilang saja sama tuanmu, aku terlalu lelah untuk menyambutnya dan sekarang lagi istirahat" ujar Vika sembari bangkit dari sofa ruang tamu lalu melangkah menuju kamarnya yang hampir tiap malam menjadi saksi bisu bagaimana ganasnya sang suami menggarapnya

__ADS_1


" Baik nyonya" jawab si pelayan melangkah kembali ke pintu depan


πŸ€πŸ€πŸ€


Marcel memasuki kamarnya setelah melepas jas dan tas kerjanya pada tempatnya, mata tajamnya melirik pada seseorang yang kini bergelung di balik selimut berpura-pura tidur. Marcel tersenyum tipis, dia tahu kalau istrinya sedang berpura-pura tapi dia biarkan saja apa yang mau dilakukan wanita itu


Tidak banyak berkata-kata Marcel melepas sisa pakaian yang melekat di tubuhnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selepas Marcel menghilang dibalik pintu kamar mandi, Vika bernafas lega karena tidak ketahuan sedang berpura-pura


" Ah untunglah" desahnya merasa sangat deg-degan.


Hari masih terlalu sore untuknya tertidur tapi Vika akan menggunakan kehamilannya untuk lepas dari suami mesumnya, itupun kalau Marcel mau mendengarnya


Dengan sangat perlahan Vika mencoba turun dari ranjang, berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun agar tidak membuat Marcel sadar kalau dia sedang mencoba untuk keluar dari kamar


Perlahan-lahan dia melangkah dan akan segera menggapai pintu, Vika tersenyum saat tinggal tiga langkah lagi dirinya akan mencapai pintu tapi sebuah suara baritone sudah lebih dulu menginterupsinya dengan penekanan


" Mau kemana kamu?" tanya Marcel yang baru saja membuka pintu kamar mandi dan melihat sang istri berjinjit ingin melarikan diri. Vika membeku dan berbalik perlahan dan tersenyum cengengesan


" Siapa bilang kita akan makan malam?" kata Marcel mulai mengunkung tubuh Vika tepat di pintu kamar mereka


Vika hanya mampu menelan ludah melihat tubuh suaminya yang begitu suka di pamerkan oleh pria itu hanya pada dirinya saja


" La-lalu kamu ingin apa?"


" Percayalah, aku lebih tertarik untuk memakanmu" Marcel memberikan smirknya pada sang istri yang mulai gelisah dengan tatapan mesum suaminya itu


" Aku tidak bisa melakukannya malam ini, perutku sakit" Vika mulai mengeluarkan jurus memelasnya karena suaminya itu bukanlah orang yang mudah di lawannya dengan kekerasan, harus menggunakan kelembutan mungkin Marcel akan luluh


" Sakit?" Marcel bertanya panik sedang Vika bersorak dalam hati karena suaminya termakan tipuannya


" Kalau begitu buka bajumu biar aku periksa" oke, lupakan saja Vika pernah bersorak dalam hati, suaminya itu luar biasa menyebalkan dan tingkat kemesumannya sudah diluar batas, menyuruhnya membuka baju sama saja dengan menyuruhnya untuk melayani suami hypernya itu

__ADS_1


Pernah suatu malam Marcel menyerangnya karena alasan dia sengaja menggoda suaminya itu dengan berpakaian terbuka padahal pakaian yang di pakainya adalah piyama tidur yang sangat tertutup. Vika yakin otak suaminya itu sudah terbentur sesuatu


" Tidak perlu, sudah tidak sakit lagi tapi aku tetap ingin keluar, aku lapar ingin makan" protes Vika yang juga mengutuk kebodohannya yang masuk ke kamar ini tadi, akan lebih baik jika dia mengunci diri di kamar lain dan terbebas dari suami super mesumnya


" Kamu melupakan sesuatu nyonya Raveno" lirih Marcel dengan tatapan misteriusnya, Vika merasa senang dengan panggilan itu tapi dirinya sadar pernikahan mereka tidaklah sama dengan pernikahan pasangan lainnya, ada batas dimana mereka akan bercerai dan batasnya adalah sampai dirinya melahirkan


" Melupakan apa?"


" Kau baru saja berbuat salah, tidak ingin menyambutku dan berpura-pura tidur"


" Siapa yang berpura-pura? Aku benaran ketiduran tadi dan terbangun karena kehausan ingin minum" jelas Vika masih mencoba untuk membohongi Marcel


" Alasan yang bagus nona tapi kamu harus menerima hukuman karena telah berbohong bukan?" tutur Marcel, pandangannya mulai berkabut hasrat


" Ti-tidak, aku tidak berbohong. Aku benaran ketidu..um" tidak ada celah bagi Vika untuk menjelaskan karena lagi-lagi sang suami mendominasinya, Marcel membawa istrinya pada ciuman lembutnya dan melepasnya setelah merasa telah mendapatkan asupan gizinya


" Kau beruntung hari ini, sayang karena aku akan membebaskanmu dari hukuman tapi tidak akan ada lain kali kalau sampai kau berani berbohong padaku" Vika menelan ludahnya kasar dengan ultimatum itu. Kira-kira apa yang akan dilakukan Marcel jika tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Spontan kepala Vika mengangguk dengan sendirinya


" Bagus, sekarang siapkan dirimu. Aku akan membawamu keluar, kita makan malam diluar" Marcel berbalik hendak menjauh dari tubuh Vika yang kemungkinan akan membuatnya hilang kendali lagi


" Ingat, jangan pakai pakaian yang terbuka kalau dirimu masih ingin keluar" sambungnya lagi tanpa memandang Vika dan melangkah kearah ruang khusus yang digunakan sebagai lemari yang dipenuhi pakaiannya


Vika memegang jantungnya yang berdetak dengan menggila sekaligus merasa heran dengan suaminya yang tidak melakukan apapun padanya padahal dirinya dapat melihat dengan jelas tonjolan yang minta untuk dipuaskan, yang berarti sang suami sedang sangat berhasrat


Vika menghelakan nafasnya pelan dan mulai bergerak mencari pakaiannya yang paling tertutup dari yang tertutup sebelum suami gilanya berubah pikiran dan kembali ingin mengupasnya


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran di harapkanπŸ™πŸ™


__ADS_2