My Destiny Love

My Destiny Love
42. Tiap malam


__ADS_3

Suasana rumah sakit terlihat damai walau aroma obat-obatan sangatlah kentara menusuk bulu hidung. Marcel merangkul pinggang istrinya sembari terus melangkah menuju ruangan dokter kandungan untuk check up kandungan sang istri


" Pelan-pelan jalannya" bibir Vika terbuka menyuarakan protesnya pada sang suami yang dinilai berjalan terlalu cepat


" Perasaan jalanku biasa saja" jawab Marcel merasa aneh


" Langkahmu terlalu lebar"


" Kakimu saja yang pendek" kata Marcel melirik pada kaki sang istri lalu tanpa persetujuan langsung mengangkat tubuh sang istri dengan gaya bridal


" Hei, apa yang kau lakukan?" ujar Vika terkejut


" Biar lebih cepat. Kakimu terlalu lama jika digunakan berjalan" Marcel menjawab acuh lalu mulai melangkah dengan sang istri dalam gendongan


"Yaakk, turunkan aku. Ini memalukan"


" Jangan bergerak atau jangan salahkan aku bertindak kurang ajar disini" desis Marcel juga kesal saat sang istri malah bergerak-gerak untuk lepas dari gendongannya. Mendengar itu, Vika menjadi tenang dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami untuk menutupi rasa malunya saat banyak pasang mata yang menatap mereka


" Aku jadi berat sekarang kan?"


" Iya. Kau juga gemuk sekarang"


" Heeiii" teriak Vika merasa kesal dengan jawaban itu. Apa suaminya itu tidak bisa untuk sedikit berkata manis


' Tidak sayang, kamu tidak berat. Tubuhmu bahkan terasa seringan kapas apalagi sekarang kamu sedikit kurusan. Kamu harus makan yang banyak ya sekarang' setidaknya berkatalah kata-kata seperti ini


" Walau kamu gemuk tapi aku suka tubuhmu yang sekarang. Terlihat lebih seksi" lanjut Marcel datar, bahkan terkesan bukan kata-kata yang sengaja dirangkai tapi memang itulah pemikiran pria itu


" Aku penasaran, bagaimana kamu akan melompati gedung jika tubuhmu gemuk?" Marcel menatap sang istri penuh maksud setelah mengucapkan kata itu


" Aku akan diet"


" Tidak akan kubiarkan itu terjadi"


" Apa hakmu meng....uumm" Marcel langsung membungkam mulut Vika dengan bibirnya


" Diamlah, bibirmu terlalu berisik kalau terbuka" ujar Marcel acuh dan menurunkan sang istri tepat didepan ruangan dokter yang dituju


" Ka-kamu..." Vika kehilangan kata-katanya sembari melirik malu pada beberapa suster yang lewat dan melihat kelakuan suaminya. Sebenarnya sudah sejak awal masuk kedalam rumah sakit tersebut, Marcel sudah begitu menarik perhatian para wanita disana dengan rupa wajahnya dan perlakuannya yang sok romantis ini makin membuat orang tertarik padanya bukan? Mungkin sebagian orang yang melihat akan berpikir, betapa beruntungnya dirinya memiliki suami seperti Marcel, tanpa mereka tahu bagaimana lelahnya dia menghadapi keganasan sang suami saat sudah diatas ranjang

__ADS_1


Keduanya masuk kedalam ruangan dokter kandungan tersebut yang merupakan seorang dokter wanita muda yang begitu cantik. Diam-diam Vika melirik wajah suaminya, menilai bagaimana ekspresi sang suami melihat dokter cantik di depannya dan yang ditemukan Vika hanyalah tatapan datar penuh kebosanan yang ditampilkan oleh Marcel. Vika menghembuskan nafas lega. Sadar, kalau sang suami memang hanya memasangkan wajah itu saat berhubungan dengan orang lain


" Apa ada kendala yang dirasakan selama mengandung mba?" tanya sang dokter lembut sembari tersenyum


" Mba?" bingung Vika dengan panggilan itu


" Iya. Tentu saja. Mba lupa dengan saya? Saya Keysha, dokter yang pernah suster Dira kenalin sama mba" Vika tampak berpikir


" Oh iya. Dokter Key" ujar Vika antusias, sedangkan Marcel yang melihatnya hanya menghembuskan nafasnya jengah. Wanita ketemu sesama wanita memang sangatlah merepotkan


" Ternyata Mba masih ingat. Jadi bagaimana?" tanya sang dokter lagi. Vika melirik pelan pada suaminya lalu berisyarat pelan pada dokter Key untuk lebih mendekat padanya


" Dok, bisakah Anda memeriksa saya dibalik tirai saja. Jangan terlihat oleh suami saya. Dia itu mengerikan" bisik Vika pelan dengan wajah memelas. Dokter Key menatap pada Marcel yang menatap penuh intimidasi keduanya lalu menatap pada Vika yang memelas dan keningnya berkerut bingung dengan dua ekspresi berbeda pasangan suami istri tersebut


" Baiklah. Mari ikut saya mba" dokter Key mempersilahkan Vika untuk berbaring diatas ranjang yang sudah disiapkan lalu menarik tirainya. Namun, tangan besar Marcel menghalanginya


" Kenapa harus ditutup?"


" Karena saya mau memeriksa keadaan istri Anda tuan dan ini tidak untuk dilihat oleh laki-laki ya"


" Saya kan suaminya"


" Walau Anda suaminya, Anda tetaplah seorang laki-laki. Jadi, tunggu sebentar ya" dokter Key kembali ingin menutup tirainya


" Apa lagi?"


" Lalu apa masalahnya saya melihat istri saya. Ini bahkan bukan untuk pertama kali saya melihatnya. Saya sudah melihatnya ratusan kali" Blusss... Wajah Vika dan dokter Key memerah dengan sendirinya mendengar ocehan Marcel yang blak-blakan


" Tetap tidak boleh tuan. Ikutilah prosedur yang sudah kami tetapkan. Tunggu saja sebentar" umbar dokter Key terlihat kesal sekaligus malu


Sreettt....tirai itupun tertutup tanpa sempat membiarkan Marcel untuk protes lagi dan akhirnya memilih untuk menunggu saja


" Terima kasih dok" ujar Vika juga sedikit malu


" Tidak masalah. Para suami memang begitu. Oh ya! Apa ada kendala selama mba mengandung?"


" Tidak, tapi terkadang saya merasakan keram di perut dan itu katanya wajar bagi ibu hamil"


" Keram?" dokter Key bergerak cepat ingin memeriksa kondisi tubuh Vika

__ADS_1


" Maaf! Bolehkah...?" Vika mengangguk saat sang dokter meminta izin untuk sedikit menyingkap pakaian tertutupnya


Dokter Key mulai melakukannya dan dibuat terkejut dengan beberapa bekas percintaan yang masih tercetak di tubuh Vika lalu menatap kearah ibu hamil itu seakan bertanya penyebabnya


" Sudah saya katakan dok. Suami saya mengerikan" cicit Vika dengan wajah memerah malu


" Berapa kali dalam seminggu mba berhubungan dengan suami Mba?"


" Tiap malam" jawab Vika yang ingin sekali rasanya masuk kedalam lubang semut untuk menyembunyikan wajahnya yang malu. Dokter Key melongo mendengar jawaban itu. Diam-diam dia mulai dapat menilai karakter suami dari pasiennya


" Suami mba pasti seorang maniac" timpal dokter Key yang langsung diiyakan oleh Vika. Dia setuju


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Beberapa saat setelah pemeriksaan. Dokter Key menatap tajam kearah Marcel yang kebingungan


" Bagaimana keadaannya?" tanya Marcel mengabaikan tatapan tidak enak yang dilayangkan dokter Keysha


" Bagaimana apanya? Anda ingin membunuh bayi dalam kandungannya?" sembur sang dokter dengan kesal. Dia memang masih lajang tapi mendengar kalau Marcel bahkan tidak memberikan libur untuk istrinya membuatnya menjadi kesal, apalagi tadi Vika sempat bercerita kalau dia pernah beberapa kali jatuh pingsan saat berhubungan karena kelelahan


" Maksudnya?" tanya Marcel bingung sedang Vika hanya menunduk disamping suaminya


" Maksudnya Anda dilarang menyentuh istri Anda selama seminggu ini"


" Apa! Seminggu? Kenapa bisa begitu?" Marcel tidak dapat menerimanya


" Anda harus sedikit memberi ruang untuk istri Anda. Tubuhnya bisa remuk jika Anda terus-menerus melakukannya"


" Tapi saya tidak sampai menekan titik Vitalnya saat berhubungan dan..."


" Tetap tidak boleh tuan" Marcel menghembuskan nafasnya


" Baiklah" jawabnya kemudian dan menatap pada istrinya yang menunduk


Dalam hati, Vika berteriak senang dengan jawaban Marcel. Akhirnya dia bisa beristirahat nyenyak malam ini tanpa harus meladeni nafsu suaminya yang terlalu over


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2