My Destiny Love

My Destiny Love
38. Akan menarik


__ADS_3

Vika mondar-mandir diruang tamu sembari berpikir keras. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang bagaimana dia harus bersikap pada Marcel


" Haruskah aku meminta maaf padanya?" gumam Vika bertanya pada dirinya sendiri. Otaknya berpikir berbagai kemungkinan hingga...


" Ya, aku harus meminta maaf padanya" ujar Vika akhirnya memantapkan diri untuk mengalah, lalu melangkah ke kamarnya bermaksud untuk mengambil tas nya lalu berangkat ke kantor suaminya dengan tujuan untuk meminta maaf pada suaminya yang sedang dalam kondisi mood yang buruk


Rasa gugup menyerangnya saat Vika sudah berada didalam mobil, pikirannya berkecamuk dengan berbagai pertanyaan. Kira-kira bagaimana ya tanggapan Marcel nanti saat dia datang ke kantor suaminya itu disaat dirinya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki disana


" Apa akan marah ya?" batinnya lalu menggeleng. Vika menyadari satu kelemahan suaminya itu, Marcel lemah terhadap godaan dan Vika bisa menggunakan itu nantinya sebagai senjata pamungkasnya


Memasuki gedung kantor itu dengan elegan, Vika hanya mampu mengumbar senyum pada setiap karyawan yang menatapnya dan mulai terjadi bisik-bisik diantara mereka


" Kudengar tadi mantan bos datang dan itu bukankah istrinya ya?" tanya salah satu karyawan yang mengenal sosok Vika sebagai istri dari Marcel saat acara peresmian yang dilakukan bos mereka


" Sepertinya iya" jawab yang lainnya


" Wuah, mantan dan istri dalam satu tempat yang sama, pasti bakal ada kejadian menarik nih"


" Hey kalian! Berhenti bergosip. Apa kalian sudah mengerjakan tugas kalian dengan benar?" teriak asisten Tommy pada karyawan penggosip itu sembari menodongkan jari telunjuknya memperingatkan mereka agar tidak bicara sembarangan


" Nyonya muda, Anda datang!" kata asisten Tommy lumayan terkejut dengan kehadiran Vika di kantor tuannya, Vika mengangguk


" Eum, bisa bawa aku ke ruangan Marcel"


" Tentu nyonya, mari ikut saya. Tapi sebelumnya, apakah tuan sudah mengetahui kehadiran Anda?" Vika terdiam sejenak lalu mengangguk, dia memilih berbohong saat ini. Vika berencana memberi kejutan akan kehadirannya pada suaminya itu atau bisa dikata hidupnya karena Vika tidak akan memiliki kehidupan jika saja Marcel tidak menolongnya saat itu walau imbasnya kepada kehidupan pria itu


" Baiklah, saya mengerti. Mari nyonya muda"


Keduanya lalu masuk kedalam lift yang akan membawa mereka pada tingkatan ke delapan, dimana ruangan Marcel berada. Akhirnya keduanya sampai didepan pintu ruang kerja Marcel

__ADS_1


" Biar saya ketuk dulu nyonya"


" Tidak perlu, biar saya masuk langsung saja" kata Vika sembari tersenyum pada asisten Tommy


" Tapi nyonya..." asisten Tommy merasa gugup tiba-tiba, entah kenapa dia merasa seperti ada angin dingin yang melewati tengkuknya hingga dia bergidik


" Kenapa kau jadi khawatir begitu? Tidak ada yang sedang kalian sembunyikan kan?" tanya Vika sedikit curiga dengan reaksi asisten Tommy hingga pikiran buruk melintas di otaknya


" Apakah Marcel jenis pria seperti itu! Menjalin hubungan sesama pria juga dengan asisten Tommy!" pikir Vika karena tidak mungkin suaminya itu selingkuh dengan wanita lain saat Vika melihat sendiri suaminya itu tidak tertarik dengan para wanita. Vika bergegas membuka pintu ruang kerja Marcel bersamaan dengan jawaban asisten Tommy


" Tidak, Nyonya...." Asisten Tommy hanya mampu ternganga menatap pemandangan didepannya " ...muda" akhirnya asisten Tommy benar-benar terdiam sembari melirik pada istri tuannya yang juga mematung menatap kedepan


" Mati aku" batin asisten Tommy yang pasti akan mendapatkan hukuman dari Marcel karena sudah membiarkan hal ini dilihat oleh istrinya


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Marcel mendorong pelan Vina agar menjauh dari wajahnya saat hampir saja bibir keduanya bersentuhan. Mata Marcel tidak lepas dari sang istri yang berdiri mematung di pintu ruangan begitu juga dengan asisten Tommy yang menunduk takut-takut di belakang Vika sedang mulutnya terlihat berkomat-kamit mengutuk dirinya sendiri


" Vika" gumam Marcel tidak melepaskan tatapannya pada sang istri sedang Vina yang masih di pangkuan Marcel juga menatap kearah Vika lalu tersenyum penuh kemenangan


" Ma-maaf, aku mengganggu" cicit Vika tergagap, matanya terasa panas seketika melihat apa yang disuguhkan didepannya. Dia berbalik, hendak pergi dari tempat itu sebelum lahar panas matanya keluar didepan sepasang manusia didepannya


" Tunggu dulu" teriak Marcel menghentikan langkah Vika yang hendak pergi


" Vina, turunlah dan pergilah dari sini" kata Marcel datar pada Vina sedang matanya masih tertuju pada sang istri. Marcel ingin melihat bagaimana reaksi istrinya itu setelah melihat hal tadi


" Tapi, Marcel" Vina masih mau protes dengan perintah Marcel


" Lakukan sebelum aku berubah pikiran lalu menyeretmu keluar" Marcel menghunuskan tatapan tajamnya pada Vina yang tersentak. Nada bicara Marcel berubah dalam sekejap dan buru-buru Vina bangkit dari pangkuan Marcel dengan perasaan kecewa, hampir saja dirinya bisa berciuman dengan Marcel namun harus gagal karena seorang Vika

__ADS_1


" Pergilah" kata Marcel yang juga bangkit dari kursinya lalu menyapu kasar pangkuannya, Marcel melangkah kearah sang istri yang masih berdiri membelakanginya


" Maaf, tuan" asisten Tommy langsung bersuara saat Marcel mendekat kearahnya. Namun, Marcel hanya mengibaskan tangannya sebagai isyarat kalau dirinya menyuruh asisten Tommy untuk pergi


" Vika" panggil Marcel menyentuh bahu sang istri sedang Vika menghembuskan nafasnya berusaha mempersiapkan diri agar terlihat biasa saja, sungguh, dia tidak ingin terlihat lemah didepan suaminya itu


" Iya" Vika berbalik dengan wajah tersenyum. Dia berhasil mengontrol emosinya dengan baik. Menatap wajah suaminya yang baru saja ketahuan selingkuh. Apa Vika telah salah mengira selama ini kalau suaminya itu tidak normal padahal nyatanya Marcel terlalu normal untuk di pahaminya


" Sial!" pekik batin Marcel saat melihat reaksi sang istri. Begitu tidak ada artinya kah dirinya bagi Vika, hingga tidak ada sedikitpun rasa cemburu yang hadir pada wanita itu saat melihat suaminya dalam posisi yang begitu intim dengan wanita lain. Padahal Marcel sudah berharap melihat wajah kecewa dari Vika yang berarti istrinya itu cemburu


" Ada apa kamu kemari?" hanya ini pertanyaan yang mampu Marcel suguhkan, padahal Marcel sudah menyiapkan berbagai penjelasan jika saja Vika menunjukkan ekspresi kecewa atau cemburunya yang berarti istrinya itu memiliki sedikit rasa padanya. Tapi, apa yang diinginkannya sangatlah berbeda dengan apa yang didapatnya. Ekspresi Vika sangatlah biasa saja seakan tidak melihat apapun sebelumnya


" Ada yang ingin kukatakan padamu tapi sepertinya aku datang pada saat yang tidak tepat" jawab Vika sembari melirik pada Vina yang mendekat dengan gaya angkuhnya


" Hai Vika" sapa Vina dengan tidak tahu malunya. Dia melangkah mendekat pada Vika dan Marcel


" Hai" balas Vika yang juga tersenyum ramah padahal nyatanya hatinya ingin sekali menjambak wanita itu sekarang, tidak peduli kalaupun Vina adalah temannya. Tapi, sekarang bukanlah saatnya dirinya terlihat lemah didepan kedua orang itu, dia akan memperlihatkan bagaimana kelas seorang istri dengan seorang pelakor


" Sedang apa kau kemari?" tanya Vina yang mendapat tatapan tajam dari Marcel. Bisakah jika dirinya langsung menyeret Vina untuk keluar dari ruangnya sekarang. Tapi, Marcel masih ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya antara istri yang tidak mencintainya dan mantan yang sedang proses pendekatan dengannya.


" Sepertinya akan menarik"


.


.


.


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2