
Tiga tahun kemudian...
Marcel menatap wajah damai sang istri yang tertidur bersama putra mereka. Dylan tumbuh dengan sangat baik dan anak itu persis replika dari dirinya. Saat bayi, Dylan memang mirip Vika tapi seiring bertambah besar dirinya semakin mirip dengan daddynya. Baik dari segi fisik maupun dari segi sifat. Anak itu sangatlah dingin dan terkesan tidak peduli pada sekitar serta hanya bicara apa yang penting saja. Persis seperti Marcel saat kecil
Dengan sifat putranya yang seperti itu, menjadi suatu keuntungan juga bagi Marcel. Dia bisa bebas bermesraan dengan sang istri karena Dylan tidak pernah rewel dengan mamanya. Anak itu bahkan tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan orang tuanya. Dia hanya sibuk bermain dengan tab yang dibelikan Marcel untuknya
Marcel turun mengambil sarapan untuk sang istri dan dengan sangat lembut mulai membangunkannya
" Sayang, bangunlah!" lirih Marcel di telinga sang istri yang mulai terusik. Vika melenguh kecil sembari membuka matanya yang sayu. Dia kurang istirahat semalam, karena harus melayani suami gilanya yang tidak pernah memberinya waktu istirahat malam yang baik. Vika juga merasa tubuhnya kurang sehat hari ini
" Jangan banyak bergerak, atau kamu akan membangunkan Dylan" ujar Marcel memegang tubuh Vika yang akan berguling kearah putra mereka yang masih tertidur dengan nafas teratur. Semalam menjelang dini hari anak itu terbangun dan entah ada angin apa masuk ke kamar orang tuanya, lalu kemudian membaringkan diri diantara kedua orang tuanya yang baru saja selesai dari ritual mereka
Mata Vika terbuka sepenuhnya, menatap pada putranya yang masih larut dalam dunia mimpi. Putranya semakin hari semakin menjadi replika Marcel. Anaknya akan menjadi pria yang tampan saat dewasa kelak
" Sejak kapan dia tidur disini?" tanya Vika yang tangannya terjulur mengusap wajah halus sang putra. Anaknya sangat minim bicara dan cenderung tidak peduli sekitarnya hingga Vika sempat khawatir putranya akan tumbuh tanpa memiliki banyak teman
" Dia masuk sekitar jam 3 dini hari tadi malam. Aku tidak tahu penyebabnya. Mungkin Dylan sedang mimpi buruk makanya memilih tidur bersama kita" jelas Marcel yang juga menatap penuh kasih pada putranya. Putra yang pernah dipanggilnya setan kecil tapi sekarang telahlah berubah menjadi malaikat kecilnya
" Jadi sayangku! Bukankah hari ini kita akan kerumah sakit melihat putri Billy yang baru lahir" Vika spontan mengalihkan tatapannya pada wajah sang suami yang tersenyum. Dia lupa kalau hari ini dia ada jadwal mengunjungi Dira yang baru saja melahirkan dua hari lalu.
" Kenapa tidak bilang dari tadi sih mas! Aku lelah sekali dan ini semua karenamu" tuding Vika pada suaminya, sebagai pelaku utama yang membuat tubuhnya kelelahan
" Iya sayang! Karena itulah mas sudah siapkan sarapan untukmu. Sekarang pergilah cuci muka dulu. Setelah itu sarapan dan kita pergi kerumah sakit dimana keluarga Billy berada" Vika mengangguk dan tanpa mengajukan protes bangkit menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya lalu sarapan, sesuai seperti apa yang dikatakan suaminya
๐๐๐
" Woah! Dia cantik sekali. Aku juga ingin punya anak cewek" seru Vika menatap takjub putri kecil Billy yang berada dalam box bayi. Dira yang masih diatas ranjang perawatan tersenyum mendengarnya
" Kita bisa segera memilikinya jika kita rajin mem...euhm" Vika dengan segera membekap bibir suaminya. Karena sudah dapat dipastikannya, jika bibir itu terbuka maka, hanya kalimat menyebalkan yang akan keluar
" Akan lebih baik jika mas diam saja" Billy dan Dira yang melihat suami-istri itu tertawa tertahan sedangkan Dylan diam-diam mendekat pada box bayi putri Billy yang diberi nama Sandara Anderson. Keempat orang dewasa di sana terdiam mendadak saat melihat bocah 3 tahun itu menatap fokus pada bayi perempuan didalam box
__ADS_1
" Ssstttt" Vika meletakkan telunjuknya di bibir. Menginstruksikan agar tidak ada yang membuat suara. Dia sangat bahagia melihat reaksi penasaran sang putra karena biasa Dylan tidak akan pernah peduli pada sekitarnya, apapun itu. Tapi, bayi kecil itu telah menarik perhatian bocah dingin itu
Vika mendekat pada sang putra yang masih terfokus pada bayi yang menggeliat didalam box
" Dedek bayinya bernama Sandara, Dylan boleh memanggilnya Dara. Apa Dylan menyukai Dedek bayi Dara?" tanya Vika menatap sang putra yang kini mengalihkan pandangannya pada sang mommy. Bocah Balita itu menatap lama pada Vika sebelum akhirnya menggeleng sebagai jawaban
" Apa? Dylan tidak suka! Tapi, kenapa Mommy lihat Dylan menyukai dedek bayi Dara?" tanya Vika lagi. Dylan tidak menjawab dan melangkah menjauh dari box bayi menuju sofa single yang tersedia diruangan VIP tersebut
" Ternyata genmu sangatlah mengerikan, Marcel" cetus Billy terpana menatap bocah tiga tahun yang mirip sahabatnya, Marcel
" Itu membuktikan kalau dia memang gen unggulku" jawab Marcel dan tidak lupa dengan kata-kata narsisnya
" Putra kita sepertinya menyukai putri kecilnya Billy" Vika mengeluarkan asumsinya menatap pada sang putra yang jelas tertarik pada bayi Sandara
" Dia masih sangat kecil untuk mengeluarkan asumsi seperti itu Vika" Marcel ikut berpendapat
" Tapi, aku tidak pernah melihat putra kita tertarik pada hal disekitarnya seperti sekarang. Aku yakin! Putra kita menyukai putri Billy"
" Benarkah! Kamu serius?" Vika berujar dengan mata berbinar. Dia ingin sekali melihat putranya tumbuh dengan normal, bukan seperti seorang yang tumbuh besar layaknya robot. Dingin dan tidak tersentuh
" Tidak. Aku tidak setuju! Aku tidak mau berbesan dengan pria seperti Billy" kata Marcel yang tidak habis pikir dengan pemikiran sang istri dan sahabat gilanya
" Memangnya kenapa? Toh! Mereka juga masih kecil. Belum tentu juga mereka nanti saling menyukai. Aku juga tidak berniat memaksa putriku dalam pernikahannya nantinya" jelas Billy yang mengulum senyum dengan keseriusan Marcel
" Aku tetap ingin Sandara menjadi menantuku dan Dylan harus menikah dengan Sandara. Aku tahu kalau putra kita itu tertarik sama bayi kecil ini" ujar Vika sembari melirik pada sang putra yang sudah sibuk dengan tab yang dibawanya tadi. Entah permainan apa yang sedang dimainkan putra terkasihnya
" Tapi sayang..."
" Tidak ada tapi-tapian. Aku tetap ingin Sandara menjadi menantuku. Aku menyukainya"
" Kita bisa buat anak perempuan jika kamu menginginkannya tapi tidak dengan mengatur masa depan putramu" jelas Marcel yang mulai jengah juga dengan ke keras kepalaan sang istri
__ADS_1
" Tapi bagaimana jika aku hamil lagi tapi bukan anak perempuan?" tanya Vika membuat Marcel menghelakan nafasnya pelan. Sedang Billy dan Dira hanya menatap bingung keduanya sebagai penonton
" Aku akan terima idemu untuk menjodohkan mereka"
" Kamu janji!"
" Eum..iya, aku janji"
Vika meloncat senang mendengarnya. Dia ingin sekali punya anak perempuan, sudah sejak dulu dia berharap hal itu, bahkan Vika pernah berharap Dylan terlahir sebagai perempuan tapi nyatanya bocah itu malah mengambil keseluruhan bapaknya entah rupa,sikap dan genetal sekalipun
Baru saja Vika meloncat kesenangan, beberapa saat kemudian dia malah merasa mual ingin memuntahkan isi perutnya, dan tubuhnya juga mendadak jadi lemah. Vika buru-buru ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang sudah merasa tidak enak sejak pagi tadi
" Sayang, kamu baik-baik saja?" Marcel bertanya cemas sembari melangkah mendekat ke kamar mandi
" Sepertinya Vika sedang hamil!" ujar Dira membuka suara. Dari gejala yang diperlihatkan oleh Vika, Dira dapat memprediksinya sebagai seorang suster, bahwa istri Marcel itu sedang hamil
" Hamil?? Benarkah!" tanya Marcel dengan nada senang walau sempat ngebug. Dira mengangguk yakin
" Wah! Istriku sedang mengandung anak kedua kami" seru Marcel dengan riang menuju kearah sang istri yang masih muntah-muntah. Billy dan Dira saling pandang lalu tertawa. Sedang bocah balita bernama Dylan Raveno malah terlihat cuek tidak peduli dengan apa yang dibahas oleh orang dewasa di depannya walau bocah itu kadang-kadang juga melirik diam-diam bayi perempuan dalam box. Entah itu karena suka atau karena penasaran?
.
.
.
Kisah Dylan-Sandara akan ada lanjutannya kapan-kapan๐๐
Satu frame sama kisah Lucas(putra Mike) dan Ricko-Ricki (putra Eric)
Masih terlalu bocah untuk punya kisah๐๐
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan๐๐