
Wajah Vika kini semakin cemberut, menatap kesal pada suaminya yang tersenyum bahagia. Setelah pengakuan tidak sengajanya didengar oleh Marcel dan suaminya itu bahkan tidak membalasnya dengan ucapan manis, membuat Vika sangatlah kesal dan ingin sekali rasanya mengabaikan suami mesumnya itu. Tapi, dia selalu kalah langkah dengan suaminya itu
Hari bahkan sudah begitu siang saat keduanya keluar dari kamar yang menjadi saksi kegiatan panas mereka semalam. Vika meletakkan makanan untuk suaminya dengan wajah tidak bersahabat
" Ada apa dengan ekspresi wajahmu?" tanya Marcel dengan sangat sengaja
" Bukan apa-apa. Abaikan saja wajahku" jawab Vika judes. Marcel tersenyum dan menarik lengan sang istri mendekat padanya
" Bolehkah aku bertanya? Bukankah kau pernah berkata bahwa pria yang kau cintai itu Markus. Lalu, apa maksud kata-katamu yang mengatakan cinta padaku?"
" Penjelasannya panjang dan kamu juga tidak akan percaya jika aku menjelaskannya"
" Penjelasan apa?" kening Marcel berkerut bingung
" Aku memang sudah terikat takdir dengan dirimu sejak dulu dan memang kamu lah takdir cintaku" kerutan di dahi Marcel semakin dalam, menandakan kalau dirinya semakin bingung
" Takdir! Takdir apa yang kamu bicarakan?"
" Ah! Sudahlah. Kamu tidak akan mengerti. Sekarang lepaskan tanganku! Aku harus makan juga" kata Vika yang tentu saja tidak digubris oleh Marcel.
Marcel membawa sang istri terduduk di pangkuannya lalu mengungukung dengan lengan kokohnya
Baru saja bibir Vika terbuka ingin protes. Marcel sudah lebih dulu membungkamnya dengan sebuah kecupan
" Jangan berisik dulu. Ada yang ingin kutunjukkan padamu" katanya seraya mengeluarkan ponselnya. Vika melihat dengan was-was gerakan yang akan dilakukan suaminya itu
" Ini! Lihatlah dan jangan menilai suamimu ini dengan penilaian buruk" kata Marcel datar. Vika mengambil ponsel itu dan memutar media video yang ditunjukkan oleh Marcel. Beberapa saat kemudian bibir Vika merekah dalam tawa, melihat suaminya diciumi oleh Billy yang bibirnya berlipstick
Video selesai diputar, Vika menatap suaminya dengan tatapan polosnya, dia telah salah paham pada suaminya. Marcel juga menatapnya sembari menaikkan sebelah alisnya
" Jadi! Siapa wanita liar yang kau maksud?" tanya Marcel pelan. Vika menggeleng ragu
" Maaf" cicitnya sembari menunduk
__ADS_1
" Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu padaku, suamimu?"
" I-itu karena...kamu...kamu...?"
" Aku seorang hyper?" tebak Marcel yang dengan cepat diangguki oleh Vika. Marcel tertawa melihat anggukan polos itu
" Suamimu ini bukan pria yang suka main perempuan sayang. Jadi, berhenti mengkhawatirkan hal tidak jelas seperti itu"
" dan sekarang kamu sudah tau kan? Siapa wanita liar yang sudah menodai suamimu. Sekarang, aku persilahkan dengan ikhlas untukmu menjambaknya" tunjuk Marcel pada gambar Billy yang tersenyum nyengir. Vika mengerjapkn matanya lalu tertunduk malu
" Kau tahu? Aku lebih tertarik memakan dirimu daripada mencari perempuan lain. Jadi, kuatkan dirimu saja daripada berpikir yang tidak-tidak" ungkapnya sembari mengusap pelan rambut sang istri. Seharusnya Vika dapat menilai bagaimana perasaannya dari sikapnya saja kan? Tidak perlu harus dijabarkannya dengan kata-kata
πππ
" Apa!!" Marcel berdiri dari duduknya dengan spontan saat informasi tentang sahabatnya yang masuk rumah sakit didengarnya. Dengan buru-buru Marcel menghentikan rapat yang sedang dipimpinnya karena sang sahabat jauh lebih berharga daripada kekayaannya saat ini, lagian libur sehari tidak akan membuatnya jatuh miskin
Terburu-buru Marcel menjemput Eric menuju rumah sakit dimana kini sahabatnya dirawat
" Bil,bagaimana keadaan Mike?" tanya Marcel langsung begitu sampai ditempat dengan Eric disampingnya. Nafas keduanya terengah-engah karena berlari terburu-buru menuju rumah sakit itu. Billy menggeleng, tanda belum mengetahui keadaan Mike jelasnya
" Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mike bisa terluka seperti ini?" tanyanya lagi setelah mendudukkan diri disamping Billy yang pakaiannya sudah terkoyak dan berlumur darah
" Aku tidak tahu. Aku hanya melihat Elina, istri Mike. Dia..dia menusuk Mike..." Billy menjelaskan apa yang sempat dilihatnya lalu kembali menunduk tidak bersemangat. Merasa telah gagal menjadi seorang sahabat dan dua lainnya hanya berusaha menghibur dengan menepuk pelan bahu Billy memberi semangat
πππ
Marcel kembali pulang larut setelah dari rumah sakit dekat desa, tempat Mike dirawat. Dia pamit setelah puas mengerjai Billy yang kena tamparan keras dari suster Dira setelah mendengar cerita palsu yang dikarangnya dengan Eric tentang Billy.
Pintu terbuka dan Marcel dibuat terkejut dengan keberadaan sang istri yang berdiri tepat didepan pintu dengan wajah memerah
" Darimana saja kau?" Marcel membelalakkan mata mendengar pertanyaan itu. Sejak hari pengakuan itu, Vika sekarang sangatlah posesif pada dirinya. Walau Marcel menyukainya tapi tetap saja, terkadang dirinya merasa risih dengan keposesifan ini
" Maaf, aku lupa mengabari. Tadi aku pergi kerumah sakit karena Mike, salah satu sahabatku masuk rumah sakit" jelasnya santai tapi Vika malah memicingkan matanya curiga
__ADS_1
" Rumah sakit mana?"
" Rumah sakit dipinggiran desa sana. Jauh dari sini"
" Jauh? Kamu tidak sedang membohongiku kan?" tanya Vika lagi. Memiliki suami yang berwajah tampan memang membuatnya jauh lebih protektif sekarang. Bukan tidak mungkin akan ada pelakor nantinya yang akan datang pada suaminya menggoda seperti kasus Vina dulu
" Bohong? Tentu tidak Vika. Bukankah sudah ku bilang, berhenti curiga padaku dan kenapa juga kamu sekarang jadi kekanak-kanakan seperti ini" kata Marcel mulai jengah. Mendengar itu, wajah ibu hamil itu mendadak berubah sedih
" Kamu membentakku!" lirihnya
" Membentak? Aku tidak membentak kamu, Vika" kata Marcel yang bingung. Bisa jelaskan? Dimana kata-katanya yang terdengar membentak!
" Kamu jahat" kata Vika yang sudah menangis lalu berbalik meninggalkan suaminya. Tidak mau lagi melihat Marcel
" Vika, tunggu!" Marcel kembali mengusap wajahnya kasar dengan kelakuan aneh sang istri. Vika terkadang manja tapi sedetik kemudian menjadi jutek. Terkadang keras lalu berubah menjadi cengeng. Marcel bahkan tidak tahu, harus bagaimana menghadapi sifat sang istri yang berubah-ubah
" Vika" panggilnya pelan setelah masuk kedalam kamar dan melihat sang istri yang sudah bergelung dalam selimut. Marcel mendekat dan mencoba untuk membujuk calon ibu itu dari kemarahan yang tidak jelas apa penyebabnya
" Jangan menyentuhku! Singkirkan tanganmu" kata Vika galak saat merasakan tangan Marcel menyentuh bahunya. Vika selalu merasa kesal sekarang, jika Marcel tidak melakukan apa yang menjadi kehendaknya. Vika ingin mendengar kata-kata cinta keluar dari bibir suaminya itu, tapi Marcel tidak kunjung mengucapkannya membuatnya terkadang menjadi sebel sendiri
" Vika, bisa dengarkan penjelasanku dulu"
" Tidak. Menjauhlah sana dariku"
" Tapi.."
" Jangan menggangguku malam ini" kata Vika menatap tajam sang suami lalu menutup diri dengan selimut, mengabaikan Marcel yang kembali menghela nafas kasar
" Wanita hamil memang menakutkan" lirihnya menyetujui perkataan Eric tempo hari
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkanππ