
Setelah puas mengerjai Marcel yang kesakitan, Markus keluar dari ruang kamarnya kembali menemui Vika di ruang tamu.Dilihatnya gadis itu yang fokus menonton acara kesayangannya, Markus mendekat
"Maaf menunggu lama" kata Markus, Vika hanya tersenyum
"Tidak apa-apa" jawab Vika, gadis itu benar-benar polos hingga tidak sadar kalau bahaya sedang mengintainya.Markus melirik gelas minuman Vika yang isinya bahkan belum berkurang sedikitpun
"Kenapa tidak diminum airnya?" ujar Markus bingung, Vika melihat kearah gelas berisi minuman yang belum disentuhnya dan langsung mengambil gelasnya lalu meminum air itu
"Ah! Jusnya enak" komentarnya setelah meminum separuh air itu.Markus tersenyum misterius, mangsanya sudah masuk perangkap.Tinggal menunggu obat itu bereaksi dalam tubuh Vika, maka semuanya akan dalam kendalinya
Keduanya mulai bercerita ringan, Markus bahkan sedikit membuat lelucon untuk membuat Vika nyaman. Dia duduk lebih mendekat lagi kearah Vika dan mulai melancarkan aksinya, tangannya terangkat membelai rambut gadis itu membuat Vika membeku menerima perlakuan itu dari orang yang diharapkannya selama ini
"Kamu tahu Vika. Sebenarnya sudah lama, aku menunggu saat-saat seperti ini.Saat-saat kita bisa berdua saja" Markus mulai mengeluarkan rayuannya sedangkan Vika dapat merasakan jantungnya seakan mau copot. Apa ini artinya perasaannya selama ini mendapat sambutan
"Aku mencintaimu" umbar Markus membuat Vika memandang mata Markus dalam jarak dekat
Melihat tatapan Vika, Markus menjatuhkan pandangannya pada bibir mungil Vika.Perlahan wajahnya mendekat hendak mencium bibir itu.Namun, tiba-tiba...
"Sayang, apa kamu ada didalam?" sebuah suara terdengar, mengejutkan dua insan itu yang langsung menjauhkan diru. Markus gelagapan, itu suara Vina.Vina tidak boleh melihat kalau dia membawa Vika ke apartemen, kalau tidak, semua rencana yang telah disusunnya selama ini akan hancur
Markus masih membutuhkan Vina untuk keuntungan perusahaannya serta untuk menghancurkan Marcel
Begitupun dengan Vika, gadis itu juga panik. Dia tidak ingin temannya itu melihat dia dengan Markus berada di apartemen ini. Vika masih belum sanggup menyakiti hati temannya, Vina
"Vika, a-aku.." Markus tidak bisa berkata-kata lagi. Dia panik saat langkah kaki Vina terdengar mendekat. Vika yang mengerti hanya mengangguk. Dia mengambil tas kecilnya dan gelas minumannya lalu langsung menuju balkon apartemen untuk bersembunyi. Dia melakukan itu, agar Vina tidak merasa curiga dengan dua gelas yang berada diatas meja.
__ADS_1
Melihat kecekatan gadis itu, Markus hanya mampu bernafas lega
"Sayang, kamu disini rupanya. Kenapa tidak menyahut saat aku panggil?" tanya Vina dengan suara dibuat imut dan langsung merangkul manja dalam pelukan Markus. Sedangkan pria itu hanya memandang khawatir kearah balkon, dimana Vika bersembunyi
" Tadi aku tidak mendengar suaramu, mungkin karena suara TV yang keras" jelas Markus.Vina mempercayainya, dia melepas pelukannya
"Oh! Aku sangat merindukan tempat ini. Rasanya sudah lama sekali aku tidak kemari" ujar Vina seraya melangkah kearah balkon. Markus menjadi panik
"Gawat, Vika ada disana.Jangan sampai Vina melihatnya" batin Markus cemas
Begitupun dengan Vika, dia juga panik saat mendengar suara Vina mendekati balkon.Vika melirik ke bawah, terlihat balkon dibawahnya terbuka, Vika bisa melompati balkon ini ke balkon bawah lalu keluar dari pintu apartemen bawah.Mudah-mudahan pemilik apartemen bawah adalah orang baik, jadi dia dapat pergi dengan mudah
Dalam waktu singkat itu, Vika mulai memperhitungkan kemungkinan saat dia melompat, berapa tekanan yang harus dikerahkannya dalam jarak itu serta bagaimana agar tidak terlalu ribut dan mencolok, otak cerdasnya dapat berpikir dengan cepat.
Dengan sebelah tangan memegang gelas yang masih ada sisa setengah airnya, Vika mulai bergerak meloncat dengan lincah, dengan tubuh elastisnya dia bisa melakukannya dengan baik dan hobi gilanya membuatnya dapat dengan mudah meluncur dari balkon atas ke balkon bawah dengan baik
Vika mendarat dengan mulus dibalkon bawah
"Oh syukurlah tidak tumpah" gumamnya memandang gelas ditangannya yang airnya beriak hampir saja tumpah.Dia lebih mementingkan gelas itu ketimbang nyawanya jika saja dirinya sedikit kepeleset maka dapat dikatakan good bye pada nyawanya
Sedangkan Vina melangkah pelan kearah balkon dan memandangi pemandangan sore menjelang malam yang begitu damai.Dia sedikit curiga saat melihat sesuatu seperti bergerak di balkon tapi tidak dilihat apapun olehnya ketika sampai disana. Vina menepis isi pikirannya yang tidak berdasar
"Vina" panggil Markus, yang melihat Vina tampak tenang seperti tidak melihat apapun. Markus mendekat ke balkon dan tidak melihat Vika
"Kemana gadis itu" batin Markus heran, saat melihat Vika menghilang dari balkon. Bagaimana gadis itu bisa pergi dari balkon ini atau jangan-jangan...
__ADS_1
Markus buru-buru melihat ke bawah dan terlihat balkon bawah yang terbuka. Jangan-jangan Vika melompat ke balkon bawah dan sialnya itu balkon apartemen Marcel
"TIDAK!!" batinnya berteriak sebelum Vina akhirnya membelai wajah pria itu dan mengajaknya masuk kedalam apartemen
๐๐๐
Vika berjalan pelan memasuki apartemen itu yang bagai tak berpenghuni. Vika masuk lebih dalam dengan pelan dan tertegun saat melihat punggung seorang pria yang sedang sibuk melakukan push-up tanpa memakai pakaian atasnya. Vika terhenti, haruskah dia menyapa atau langsung menuju pintu dan keluar. Tapi dia masuk ke apartemen orang ini tanpa izin, yang berarti dia harus meminta izin dan maaf karena telah lancang masuk dalam apartemen orang lain tanpa izin
Vika menelan ludah melihat punggung kekar itu, punggung yang bahkan terlihat mengkilat entah karena keringat atau pria itu baru saja habis mandi.Dia merasakan darahnya berdesir. Obatnya mulai bereaksi dalam tubuhnya, akhirnya Vika memberanikan diri untuk menyapa
"Permisi!" ujarnya lembut
Sang pria yang sedang fokus melakukan push up itu terhenti dari kegiatannya saat mendengar suara seorang wanita. Keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Sang pria akhirnya berdiri masih membelakangi Vika
"Maaf! Saya.." perkataan Vika terhenti saat sang pria berbalik. Pria itu, pria yang mencuri ciuman pertamanya, Marcel Raveno
Mata Vika berkedip melihat Marcel yang berdiri dengan gagahnya memperlihatkan tubuh bagian atas pria itu yang terpampang jelas didepannya. Tubuh atletis berotot yang cukup menggodanya, apalagi kini Vika merasa aneh dengan tubuhnya, tiba-tiba saja dirinya merasa kepanasan
Gadis itu semakin merasa tidak nyaman saat Marcel terus-terusan memandangnya datar tanpa berucap sepatah kata pun. Pria itu terlihat begitu menggoda bagi Vika saat ini, dengan tubuh model, wajah aktor itu hampir membuat Vika mimisan apalagi ditambah rambut pria itu yang tampak basah, pertanda kalau pria itu baru saja melakukan ritual mandinya dan itu semakin menambah kesan seksi pada pria itu
Vika bisa saja terpesona pada pria yang terlihat menggoda didepannya tanpa sadar kalau dirinya baru saja keluar lubang buaya masuk ke kandang singa
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan๐๐