
Sepasang suami istri itu tampak menikmati makanan mereka dalam diam. Keduanya tidak ada yang membuka suara. Vika bahkan sempat berpikir dia makan dengan patung kalau saja tidak melihat suaminya itu mewanti-wanti dirinya dengan tatapan tajamnya. Vika juga harus sangat bersyukur saat suami hypernya itu tidak protes akan pakaiannya yang jelas hampir membungkus menutupi seluruh tubuhnya
Vika mencoba menikmati makannya walau sedikit risih dengan tatapan para wanita kecentilan yang tertuju pada suaminya, dia juga dapat mendengar berbagai pujian yang ditujukan pada suaminya itu yang tampak menikmati makanannya dengan santai seakan tidak mendengar apapun, padahal Vika yakin kalau Marcel juga dapat mendengarnya dengan jelas semua pujian itu. Rasa tidak rela timbul di hatinya saat melihat sikap santai suaminya itu. Apa Marcel memang sangat suka memamerkan ketampanannya dan Vika sangat tidak menyukai itu
" Pasti sangat menyenangkan menjadi orang tampan ya?" tanyanya spontan tanpa tersaring lagi
" Apa yang kau bicarakan. Makan saja makanannya, jangan berpikir macam-macam" jawab Marcel acuh bahkan terkesan tidak peduli. Apanya tampan? Isi pikirannya kini di penuhi dengan ambisi membuka penyamaran pencuri V dan membalas perbuatan Markus
" Pasti kau senang para wanita memandangmu dengan tatapan lapar" ujar Vika lagi yang membuat Marcel muak. Dia dan tiga sahabatnya yang lain memang akan selalu jadi pusat perhatian dimana ada kaum wanita didalamnya tapi, Marcel tidak peduli. Dia bahkan tidak tertarik dengan satupun diantara para wanita itu
" Itu hak mereka. Memang aku punya kuasa apa untuk melarang mereka menatapku" kata Marcel sembari melirik sekilas pada sekumpulan wanita yang sibuk menatapnya dan para wanita itu langsung dibuat salting dengan lirikan sekilasnya itu
" Mereka semua sangat cantik" Vika masih terus membicarakan itu, hatinya masih merasa tidak rela. Marcel mengulum senyum mendengar kata itu
" Lalu, haruskah aku mengundang mereka semua keatas ranjangku" ujar Marcel sembari meminum minumannya dengan santai dan elegan. Tangan Vika menggenggam erat pisau dan garpu di tangannya untuk memotong steak didepannys. Awas saja jika Marcel berani melakukan itu, dapat dipastikannya senjata pria itu akan putus ditangannya
" Lakukan saja, itukan hak mu" jawabnya yang sangat berlainan dengan kata hatinya
" Berhentilah memikirkan mereka, habiskan saja makananmu. Kamu harus memiliki tenaga ekstra untuk malam ini" kata Marcel acuh entah karena tidak peduli atau karena tidak peka dengan keadaan. Wajah Vika memerah karena mengerti kearah mana kata-kata pria itu menjurus
Tanpa menjawab lagi Vika mulai kembali menikmati makannya walau rasa risih itu sangat mengganggunya. Bisakah dia rusak saja wajah tampan suaminya agar tidak menjadi pusat perhatian
__ADS_1
" Wuah! Dunia ini benar-benar terasa sempit sekali ya" seru sebuah suara yang langsung membuat selera makan Marcel menghilang, dia sudah sangat muak dengan suara itu. Vika yang juga terkejut dengan suara itu menatap pada pemilik suara dan dapat dilihatnya seorang wanita yang berdiri anggun dengan penampilan modis dan seksinya, sangat jauh berbeda dengan penampilannya sekarang yang jauh dari kata menarik, tertutup dan terlihat kuno, lalu matanya melirik pada pria disamping wanita itu yang melempar senyum padanya
" Hai Vika" sapanya sok akrab. Vika kembali menjatuhkan pandangan pada suaminya yang wajahnya sudah mengeras marah
" Tidak kusangka kita bisa bertemu disini" ujar Vina melirik Vika sekilas dan wanita itu tersenyum penuh kemenangan karena merasa penanpilan dirinya lebih menarik daripada istri Marcel tersebut
" I-iya kebetulan sekali ya" jawab Vika canggung saat sang suami tidak bereaksi
" Bisakah kalian lewat saja, tidak perlu sok menyapa" sebuah kalimat akhirnya terucap dari bibir Marcel tanpa menatap lawan bicaranya. Markus menatap sinis pada Marcel yang bahkan tidak ingin repot-repot memandang dirinya
" Kami menyapa Vika bukan dirimu, jadi santailah kawan" ujar Markus sembari mengedipkan sebelah matanya pada Vika yang hanya mampu melongo
" Kalian sudah melakukannya kan, sekarang pergilah" Marcel jelas sangat tidak ingin berdebat tapi rasa muaknya pada Markus membuatnya ingin sekali mencincang Markus
" Tidak kusangka kau berubah menjadi se dingin ini, apakah sangat sulit melupakanku, Marcel" ujar Vina dengan nada sensual, wajah Marcel semakin mengeras marah sedang Markus hanya tersenyum melihat aksi sang kekasih. Cemburu? Tidak ada kata itu dalam kamusnya karena dia tidak pernah mencintai Silvina, Markus hanya memanfaatkan Vina untuk perusahaannya
" Apa maksudmu sulit melupakan Vin?" tanya Vika yang tidak mengerti akan hubungan Marcel dengan Vina, wanita itu melempar senyum pada Vika
" Kamu belum mengetahuinya! Suamimu ini mantan kekasihku dulunya"
" Mantan kekasih" Vika membeo dengan kata-kata Vina. Dia mulai sadar dengan semuanya, tidak mungkin kan pria sesempurna Marcel tidak memiliki wanita yang dicintai dalam hidupnya
__ADS_1
" Lepaskan tangan j***ng-mu dari pakaiaanku" desis Marcel menyingkirkan kasar tangan Vina di bahunya lalu menatap tajam pasangan sampah yang selalu mengganggu didepannya itu
" Tunggu saja sampai aku menemukan bukti yang akan membuka kedok kalian berdua" batin Marcel tanpa mengucapkan apapun lalu bangkit berdiri meraih tangan Vika yang terkejut dan melangkah pergi dari sana menyisakan senyum di wajah Markus dan rasa gelisah pada Vina karena kekesalan Marcel. Vina menggigit jarinya gugup, kenapa sekarang sangat sulit baginya untuk menaklukan seorang Marcel padahal dulu pria itu tidak sedingin itu
๐๐๐
" Kenapa kau menarikku? Aku bahkan belum menghabiskan makananku" protes Vika langsung melayang saat mereka sudah memasuki mobil
" Kamu bisa makan lagi nanti, aku akan membelikan semua yang kamu inginkan" jawab Marcel terlampau tidak peduli
" Aku tidak mau, makan nanti tidak akan sama lagi rasanya seperti saat ini. Hanya karena rasa tidak relamu pada mantan kekasihmu itu kau mengabaikan rasa senangku, kenapa tidak kau paksa saja Vina untuk menikah denganmu" ujar Vika merasa sangat kesal, dia salah mengerti sikap Marcel pada Vina yang di tangkapnya adalah Marcel cemburu pada gadis itu yang lebih memilih Markus dan pikiran Vika seakan berasumsi sendiri tentang sejauh mana hubungan yang sudah dijalani oleh Marcel dan Vina. Menilik dari kebebasan Vina dalam berhubungan dengan pria serta bagaimana hypernya seorang Marcel, Vika mengambil kesimpulan kalau mereka pasti pernah tidur bersama, dan Vika sangat tidak rela hal itu pernah terjadi. Setitik air mata turun dari matanya, kehamilannya membuatnya jadi sangat sensitif dan cengeng
" Ide yang bagus, biar ku praktekkan nanti" jawab Marcel asal walau alasan sebenarnya adalah dia malas untuk berdebat apalagi rasa marahnya belum hilang dalam jiwanya, Marcel tidak ingin karena emosinya ini nanti akan membuatnya membentak Vika.
Tidak lagi menjawab, kini Vika mulai menangis diam-diam. Marcel yang fokus menyetir melirik pada istrinya di sebelah dan cukup tertegun saat matanya melihat istrinya itu menangis
" Vika, kau menangis?" tanyanya dengan lembut sembari menyentuh bahu istrinya
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan๐๐