
Persaingan bisnis semakin mencekik dan kini Marcel sudah duduk berhadapan dengan rival terbesarnya, Markus. Marcel bukan pengusaha nomor satu, dua, atau tiga didunia karena pada dasarnya sistem itu tidak pernah ada. Setiap bisnis yang berjalan berbeda-beda bidang dan tujuannya .Jadi, bagaimana bisa manusia mengatakan seseorang sebagai pengusaha nomor satu didunia sedang dunia ini dipenuhi dengan ratusan pengusaha sukses dibidangnya masing-masing. Mungkin iya, jika yang dikatakan orang terkaya didunia yang diseleksi melalui pendapatan bersih pertahunnya serta total kekayaan dari harta dan properti yang dimiliki oleh orang tersebut. Namun Marcel hanyalah termasuk dalam jajaran pengusaha sukses didalamnya bukan yang berada dalam peringkat tersebut
" Tidak kusangka kau masih bisa selamat setelah beberapa kali gagal produksi" ujar Markus tersenyum mengejek di seberang meja depan Marcel
" Itulah guna otak untuk digunakan bukan memikirkan bagaimana mencuri barang orang lain " timpal Marcel menatap tajam pada Markus
" Siapa yang kau sebut mencuri disini?" tanya Markus melirik ke sekelilingnya yang merupakan dewan direksi yang tidak tahu-menahu masalah pencurian perusahaan Marcel karena idenya dicuri sebelum diluncurkan ke pasar dan yang orang-orang tahu itu adalah keluaran perusahaan Markus bukan perusahaan Marcel
" Aku tidak sedang menuduh siapa-siapa disini. Itu tertuju pada orang yang merasa saja" jawab Marcel membalas senyuman sinis Markus yang hanya dapat menahan kekesalannya dalam hati
" Baiklah, mari kita mulai bahasannya" ucap moderator mengalihkan atensi keduanya dan kini mereka akan kembali beradu argumen dalam memperebutkan saham
πππ
Tertawa begitu puas, bahkan saat memasuki kantornya. Marcel masih terbawa suasana senangnya karena berhasil mengalahkan Markus tadi
" Ternyata dia tidaklah secerdas itu" gumam Marcel yang menampilkan senyum kepuasan. Markus tanpa pencuri V tidaklah berarti apa-apa bagi seorang Marcel. Ingin menjatuhkannya! Sepertinya Markus harus banyak-banyak bermimpi
" Bagaimana perkembangan penyelidikan tentang pencuri itu?" tanya Marcel tiba-tiba pada asisten di sebelahnya
" Beni maupu Kevin belum memberikan kabar apapun tuan dan sepertinya mereka belum menemukan petunjuk" Marcel berdecih mendengar pemberitahuan itu
" Pantas saja mereka tidak berani menghubungiku ternyata kerja mereka masih selelet ini"
" Tambahkan orang dalam pencarian data pencuri sialan itu"
" Sepertinya itu tidak akan banyak membantu tuan karena modal pencarian kita hanya berdasarkan sebuah gambar siluetnya dan pencocokan DNA yang kita temukan juga sama sekali tidak memberikan hasil tuan. Mungkin jika pencuri ini bergerak sekali lagi, kita akan lebih mudah menangkapnya tuan" jelas sang asisten
" Sial!" umpat Marcel kembali dibuat kesal saat memikirkan betapa sulitnya hanya untuk menangkap seorang pencuri saja, terlebih pencuri itu hanyalah seorang perempuan
Pintu Lift terbuka dan Marcel masuk ke ruangannya dan mulai kembali berkutat dengan pekerjaannya hingga waktunya pulang
πππ
Harum bau masakan memenuhi ruang dapur yang kini sedang digunakan Vika untuk memasak. Para pelayan disampingnya yang ikut membantu hanya mampu menggigit bibir, mereka pasti akan dimarahi oleh tuan mereka jika melihat nyonya mereka turun kedapur padahal melarang nyonya mereka yang keras kepala pun sangatlah percuma. Vika tidak mendengarkan
__ADS_1
Vika mencoba masakannya dengan perasaan riang
" Wuah! Ini enak. Daddymu akan menyukainya kan sayang?" tanya Vika sembari mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit, Vika bertanya pada sang anak dalam kandungannya yang tentu saja tidak akan menjawab. Namun, senyum tampak merekah di wajah Vika. Dia terlihat senang karena sekarang suaminya sudah sedikit lebih pengertian.
Setelah hari itu Marcel tidak lagi terlalu memaksakan kehendaknya dan mengalah pergi saat Vika mengatakan tidak mau dan sikap itu terlihat begitu manis di mata ibu hamil muda tersebut
Suara dering ponselnya mengalihkan atensi Vika pada benda pipih yang diletakkannya sembarang diatas meja, dilihatnya si pemanggil lalu mengangkatnya dengan buru-buru
" Halo papa" ujar Vika dengan antusias begitu menjawab panggilan yang ternyata dari pak Trisna, sang papa tercinta
" Bagaimana kabarmu putri kecil papa dan bagaimana kabar calon cucu papa yang tercinta?" pak Trisna langsung bertanya di seberang. Pria paruh baya itu begitu bahagia saat mengetahui kalau sang putri sedang mengandung dari pemberitahuan sang menantu. Menanti cucu dari anak semata wayangnya begitulah membahagiakan bagi beliau dan pak Trisna berharap cucunya kelak bisa mengambil alih bisnis keluarganya yang terpentok pada Vika sebagai seorang wanita. Pak Trisna sudah membuat keputusan akan menyerahkan kerajaan bisnisnya pada cucunya kelak yang berarti anak dari Marcel dan Vika
" Aku baik-baik saja pa dan cucu papa juga baik-baik saja didalam sini" kata Vika sembari mengelus perutnya
" Syukurlah, jaga baik-baik cucu papa ya karena kelak dia akan menjadi penerus perusahaan papa"
" Iya pa. Apa papa tidak sekalian menanyai kabar menantu kesayangan papa?"
" Papa sudah melihatnya. Dia benar-benar menantu papa yang begitu membanggakan, suamimu itu berhasil membungkam seluruh dewan direksi pagi ini. Papa memang tidak salah pilih menantu dan sekarang papa juga sedang sibuk ikut organisasi untuk mengungkapkan identitas pencuri yang mengambil banyak hasil produksi perusahaan suamimu" jelas pak Trisna
Hati Vika seakan berhenti berdetak tiba-tiba. Dia benar-benar sedang dalam kondisi darurat sekarang. Apa yang akan terjadi padanya jika papa dan suaminya mengetahui fakta kalau dialah pencuri yang dimaksudkan selama ini
" I-iya pa. Vika hanya mampu memberi dukungan saja dan tolong papa jangan terlalu lelah, jaga kesehatan" peringat Vika ditengah kegugupannya
" Ya sudah..papa tutup dulu ya. Papa sudah lega sekarang setelah mengetahui kabar putri dan calon cucu papa baik-baik saja, menantu papa memang dapat diandalkan" kata pak Trisna lalu menutup panggilannya
Vika duduk termenung setelah panggilan terputus, dia benar-benar berada dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan sekarang, Vika pasti akan banyak mengecewakan orang terdekatnya jika identitasnya yang lain terbongkar
" Kenapa melamun?" tanya sebuah suara maskulin yang diyakini sebagai suara suaminya. Vika menoleh dan selalu dibuat terpesona pada sang suami
Marcel berjalan pelan pada sang istri dan tersenyum saat melihat beberapa makanan yang sudah tertata rapi diatas meja
" Menungguku untuk makan malam?" tanya Marcel menatap istrinya yang masih bingung
" I-iya" Vika menjawab dengan anggukan ragu-ragu
__ADS_1
" Baiklah, mari kita makan" Marcel mulai mengambil piringnya namun dengan sigap Vika mengambil piring itu dan menaruh nasi kedalamnya. Marcel hanya menatapnya dengan tangan bertumpu diatas meja lalu tiba-tiba tersenyum saat pikiran liar terlintas di otaknya. Dia pernah mencumbui istrinya diatas meja ini dan tiba-tiba Marcel ingin mengulangi lagi kejadian itu
" Kau terlihat manis malam ini. Apa ada yang special?" Marcel bertanya saat melihat sikap manis sang istri malam ini dalam melayani makannya
" Tidak, aku hanya ingin mengetahui penilaianmu tentang masakanku saja" kening Marcel berkerut dan menatap pada makanan diatas meja
" Ini semua kamu yang masak?"
" Eum" Vika mengangguk sembari tersenyum bangga dengan diriny sendiri
Marcel mulai memakan masakan buatan sang istri dan mengangguk pelan
" Ini enak" komentarnya yang langsung membuat Vika terasa begitu senang dan reflek memeluk suaminya itu bahagia
" Apakah benar enak?"
" Eum, ini enak"
" Terima kasih suamiku" cup, Vika bertindak spontan tanpa diperintah oleh otaknya yang berarti tanpa sadar melakukannya
" Sebaiknya menjauhlah sedikit dariku Istriku, kalau tidak ingin aku berbalik dan memilih memakanmu di sini" kata Marcel dengan suaranya yang mulai terdengar berat
" Ups" Vika dengan cepat melepaskan pelukannya dan mundur. Dia lupa kalau suaminya itu tidak boleh sedikitpun di pancing karena akan membawa dampak lain nantinya
" Makanlah, aku ke kamar dulu" Vika langsung berjalan cepat menuju kamarnya memilih menghindar dari suaminya yang mulai lain
" Bagus, pergi setelah aku hampir kehilangan kendali" komentar Marcel tersenyum lalu memilih melanjutkan makannya sepenuhnya mengabaikan para pelayan yang wajahnya memerah karena kelakuan sepasang suami istri itu
.
.
.
Kritik dan saran diharapkanππ
__ADS_1