My Destiny Love

My Destiny Love
55. Penolongku, suamiku


__ADS_3

Marcel mendudukkan sang istri diatas ranjang, lalu mengambil sebuah kotak yang sudah disiapkannya sebagai hadiah


" Bukalah" perintahnya pada Vika yang hanya menatap bingung benda yang sudah berpindah pada tangannya. Perlahan Vika membuka kotak itu dan dibuat terkejut dengan isi didalamnya


" Bagaimana kau mendapatkan benda ini kembali?" tanya Vika sembari mengeluarkan benda itu dari kotaknya. Benda yang pernah dicurinya dan diberikan pada Markus. Kalung berlian Agnes


" Bukan hal sulit untuk mendapatkannya kembali" balas Marcel yang mendudukkan diri disamping sang istri, kemudian memeluk tubuh mungil itu kedalam dekapannya


" Kamu menyukainya?" Vika mengangguk


" Kalau begitu pakailah!"


" Tapi.." Vika merasa ragu untuk memakai perhiasan semahal itu


" Tidak apa-apa sayang. Pakailah, kamu pasti akan terlihat begitu cantik pasti" Marcel mengambil kalung itu ditangan sang istri lalu bergerak memakaikannya pada leher jenjang ibu hamil itu


" Lihat! Kamu begitu cantik sayang" puji Marcel menatap tulus pada sang istri.


" Berhentilah mengatakan cantik. Aku tahu kamu berbohong" sungut Vika sedikit terbawa kesal


" Aku tidak bohong. Kamu memang cantik, sayang"


" Apalagi saat kau memanggil namaku ketika mencapai *******, kamu seribu kali lipat lebih cantik sayangku" bisik Marcel di telinga sang istri dengan nada sensual dan jangan lupakan wajah mesumnya yang sudah terpasang dengan indah


" Dasar mesum!" tuding Vika sedikit kegelian akibat ulah suaminya


" Tapi kau mencintai pria mesum ini"


" Kau ini...? Ah sudahlah! Tunggu disini sebentar ya. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan!" ujar Vika sembari bergerak turun dari ranjang lalu mengambil sesuatu dibawahnya. Marcel menatapnya bingung tapi, dia tidak ingin bertanya


" Ini dia" kata Vika kembali duduk diatas ranjang dan memperlihatkan kotak putih itu pada sang suami


" Apa itu?" tanya Marcel bingung


" Barang-barangnya penolongku" jawab Vika dengan antusias sembari menatap tulus pada wajah sang suami


" Penolongmu! Siapa?" kebingungan semakin dirasakan Marcel


" Nih! Lihat saja sendiri" Vika meletakkan kotak itu ke pangkuan Marcel yang menatapnya bingung. Perlahan Marcel membuka kotak itu untuk menuntaskan rasa penasarannya.


Kotak itu terbuka dan Marcel dapat melihat seragam bekas berlumur darah serta atribut pelengkapnya. Keningnya berkerut


" Apa maksudnya ini? Kenapa kau menyimpan benda-benda seperti ini?"

__ADS_1


" Kamu tidak mengenali barang- barang ini punya siapa?" Marcel menggeleng, dia benar-benar tidak mengingat jelas kejadian saat itu. Kepalanya mengalami pendarahan parah saat itu hingga mengharuskannya untuk operasi setelah dipukuli secara membabi buta oleh para preman ketika itu. Setelahnya orang tuanya juga membuatnya melupakan kejadian itu dari memorinya hingga kini, hanya bayang-bayang dia pernah menolong seseorang yang kadang terlintas di kepalanya. Walau setelahnya Marcel tidak lagi mengingat jelas kejadian itu


Vika mengambil patahan nametag didalamnya lalu disatukannya dan diperlihatkannya pada sang suami


" Lihat ini!"


" Marcel! Itu namaku. Apa itu artinya ini barang-barang punyaku?" tanya Marcel, Vika mengangguk


" Kamu tidak mengingatnya?"


" Ingat apa?"


" Tiga belas tahun lalu kau pernah menolong seorang gadis dari para preman yang hendak melecehkannya. Dan kemudian para preman itu malah memukulimu hingga babak belur dan hampir kehilangan nyawamu. Apa kau ingat?"


" Iya, terkadang aku ingat kalau aku pernah menolong orang, tapi tidak tahu bagaimana kejadian jelasnya. Dan bagaimana kau bisa mengetahui cerita itu dengan jelas?" Marcel menatap mata sang istri yang sudah berkaca-kaca menatapnya


" Karena akulah gadis dalam cerita itu"


" Jadi, apa inti dari semua ini?" tanya Marcel merujuk pada cerita dan barang-barang usang di pangkuannya


" Artinya? Kaulah penolongku waktu itu, mas" kata Vika sembari berhambur memeluk sang suami


" Kamu lah yang menolongku hingga nyawamu sebagai taruhan, tapi aku salah mengenali orang saat itu" ujarnya semakin erat memeluk Marcel yqng semakin dibuat pusing dengan cerita sang istri


" Baiklah. Dengarkan baik-baik ya" Vika mulai menjelaskan kebenarannya. Dimulai dari dirinya yang pertama kali masuk sekolah menengah saat itu hingga kejadian dimana dia ingin dilecehkan oleh segerombolan preman dan kedatangan Marcel yang menolongnya, serta sumpahnya yang mengatakan akan menyerahkan diri pada penolongnya sebagai istri dari pria itu bagaimana pun keadaannya. Setelahnya Marcel menghilang, dia tidak lagi datang kesekolah, dan fakta yang baru diketahuinya kalau Marcel ternyata dibawa keluar negeri oleh orang tuanya untuk berobat. Dan karena dia yang tidak melihat Marcel, membuatnya salah paham dan mengira Markus lah penolongnya. Karena itulah juga kenapa dia membantu Markus selama ini


" Jadi, selama ini kamu membantu Markus mencuri barang perusahaanku karena mengira dia penolongmu?" Vika mengangguk


" Aku tidak tahu kalau itu kamu, bukan Markus" Vika mencoba membela diri dengan kenyataan. Marcel tampak berpikir


" Apa ini bisa diartikan kalau kamu memang sudah mencintaiku sejak dulu?" tanya Marcel yang kembali diangguki oleh Vika


" Karena itulah aku berkata kita sudah terikat takdir. Kamu lah takdir cintaku" jelas Vika membuat Marcel manggut-manggut mengerti. Memang apa yang terjadi pada mereka seakan sudah diatur oleh takdir. Dimulai dari pertemuan mereka yang tidak sengaja lalu pertemuan berikutnya yang menimbulkan kesan yang kurang baik. Masih teringat olehnya ketika dulu Vika terjatuh menimpanya dan tangan gadis itu di pusakanya. Hingga jebakan Markus yang berujung seperti sekarang ini. Campur tangan takdir memanglah luar biasa ajaibnya


" Apa itu artinya kamu tidak mencintai Markus. Tapi, karena sumpahmu ini kau menyangka dialah satu-satunya pria yang harus kau cintai?" Vika kembali mengangguk


" Awalnya aku memang mengira begitu walau hatiku tidak bisa berbohong, kalau aku menyukai dan mencintaimu"


" Dan kapan kau menyadari kebenarannya?"


" Saat aku menemukan kotak ini didalam gudang. Hari dimana kamu juga mengetahui identitasku sebagai pencuri V" jelas Vika. Marcel menaikkan alisnya


" Jadi, karena itu kamu berdandan menyambutku malam itu?"

__ADS_1


" Iya, dan kamu sangatlah kasar ma..lam...itu" jawab Vika spontan dan berakhir dengan suara lirih diujungnya


" Tapi, aku tidaklah sejahat bayanganmu kan?" kata Marcel tersenyum. Dia akui kalau malam itu dia memang sudahlah keterlaluan tapi, kemarahannya saat mengetahui fakta saat itu memang sangat memancing emosi marah dalam dirinya


" Maafkan kekasaranku saat itu ya?" katanya lagi menatap lembut wajah sang istri


" Eum" Vika hanya mengangguk dan kembali masuk kedalam pelukan suaminya


" Tapi tunggu dulu!" kata Marcel seperti menyadari sesuatu


" Ada apa?"


" Apa kelainan yang terjadi pada tubuhku ini karena sumpahmu ya?"


" Kelainan apa?" kembali sekarang Vika yang dibuat bingung


" Aku hanya bernafsu pada dirimu seorang dan tidak pada wanita lainnya. Apa ini karena sumpahmu?" kata Marcel yang membuat Vika menyadari maksud suaminya.


" Apa sumpah bisa berubah menjadi kutukan juga? Sumpahmu membawamu pada takdir yang baik dan membawaku pada suatu kutukan. Itulah kenapa hasratku hanya tertuju padamu" ucap Marcel memikirkan kemungkinannya


" Apa sekarang kamu ingin bilang ini semua salahku?" ujar Vika yang mulai mengeluarkan air matanya mendengar kata-kata suaminya yang seakan menyudutkannya. Marcel menatap wajah sang istri bingung, dia lupa kalau istrinya sekarang sangatlah sensitif


" Bukan..bukan begitu maksudku, sayang"


" Apa bukan begitu maksudmu! Kamu berkata karena sumpahku membuatmu tidak bisa suka sama wanita lain. Kamu ingin menyukai wanita lain juga? Kamu jahat! Pergi sana" Vika mulai mengamuk dan memukuli Marcel dengan bantal


" Vika sayang, dengar dulu! Bukan maksudku begitu, aku..."


" Pergi sana! Cari wanita lain sana" kesal Vika mendorong suaminya sampai keluar dari kamar mereka lalu mengunci pintunya. Vika menangis tidak peduli dengan panggilan Marcel yang menyuruhnya untuk membuka pintu serta berbagai penjelasan suaminya itu


" Daddymu jahat nak, dia sangat jahat. Dia bahkan tidak bisa bersikap romantis pada mommy dan sekarang malah menuduh mommy yang membuat kutukan padanya. Daddymu jahat" Vika berbicara kembali dengan janinnya sembari mengusap lembut perutnya, dimana sang anak bersemanyam


Sedangkan diluar pintu Marcel mendesis kesal


" Sial! Aku salah bicara"


.


.


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2