
Memasuki halaman mansionnya dan memarkirkan mobilnya sembarangan, Marcel keluar dan melangkah lebar menuju kamarnya dimana dia yakin kalau sang istri berada disana. Dua lembar bukti identitas pencuri V berada ditangannya sedang dirinya merasa begitu marah dan menginginkan penjelasan dari istrinya sekarang juga
Menatap pintu kamarnya yang terlihat semakin mendekat lalu begitu sampai
BRAAKK...
Membukanya kasar hingga Marcel dapat melihat keterkejutan diwajah sang istri. Wajahnya semakin mengeras marah saat matanya melihat penampilan Vika yang begitu menggoda. Berbagai pikiran buruk mulai merayap dikepalanya. Apa Vika sengaja ingin memancing hasratnya lalu setelah itu menolaknya untuk berhubungan seperti beberapa malam ini saat Marcel sering memilih mengalah ketika Vika berkata tidak mau. Apa dirinya serendah itu bagi Vika? Hingga dengan mudahnya sang istri membodohinya sekarang? Mencuri hasil produksinya lalu menyerahkannya pada Markus yang merupakan rivalnya. Menggodanya tapi melarang dirinya untuk menyentuhnya dan membohonginya seakan tidak melakukan kesalahan apapun. Marcel sudah terlalu muak dengan kepalsuan sekarang ini
Melangkah cepat dengan kaki jenjangnya mendekati sang istri yang masih menampilkan ekspresi terkejut
" Jelaskan! Apa maksudnya ini?" Marcel melempar dua lembar bukti itu ke pangkuan Vika yang menatap terkejut benda dipangkuannya. Dia telah ketahuan!! Vika mendongak menatap wajah marah sang suami, mata Marcel bahkan sudah memerah menahan panas kemarahan dalam diri
" A..a..aku.." Vika tergagap untuk menjawabnya, dia tidak pernah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk ketahuan seperti ini. Mungkin akan mudah baginya jika saja Vika tidak mengetahui fakta kalau Marcel adalah penolongnya tapi sekarang faktanya, dia tidak bisa lagi memberi alasan tentang ikrar sumpahnya
" Sebegitu besarkah keinginanmu menghancurkanku hanya untuk Markus, pria yang kau cintai itu" mata Vika terbelalak dengan pernyataan itu. Kenapa kata-kata itu begitu menyakitkan didengarnya?
Kepala Vika menggeleng. Tidak! Dia tidak pernah berpikir seperti itu. Semua yang dilakukannya karena salah paham
" Heh!" Marcel menampilkan tawa remeh dengan gelengan kepala Vika. Apa sekarang istrinya itu sedang mempermainkannya
" Bukan! Bukan se...akh" ringis Vika saat lengannya dicengkram dengan kasar oleh Marcel. Vika sadar kalau suaminya sedang marah besar terlihat dari mimik wajah dan rahangnya yang mengeras serta urat lehernya yang tampak begitu menonjol karena tegangan kemarahan Marcel
__ADS_1
Marcel mencengkram lengan mungil Vika dengan kuat lalu menariknya untuk berdiri. Ingin sekali rasanya Marcel bertindak kasar pada Vika sekarang, setelah mengetahui fakta kalau sang istri lah yang telah mencuri darinya untuk rival bisnisnya tapi logikanya masih sedikit berjalan ditengah gejolak kemarahan dalam jiwanya, dia tidak bisa bertindak kasar pada seorang wanita terlebih lagi wanita itu istrinya dan sedang mengandung anaknya
" Dengar Vika! Aku mungkin dapat kau permainkan, tapi aku tidak dapat mentolerir kebohongan ini" bisik Marcel ditelinga sang istri yang kini sudah berdiri di depannya
" Apa sekarang kau juga sedang ingin mengujiku dengan penampilanmu ini? Lalu setelahnya menghindar dan meninggalkanku seperti binatang" Vika menggeleng, mencoba membantah kalau dirinya berpenampilan seperti ini bukan karena ingin menguji Marcel tapi memang ingin menyambut suaminya itu, orang yang sudah terikrar akan dia serahkan dirinya.
" Bu-bukan seperti itu, a-aku ha.."
" Tidak perlu menjelaskannya" potong Marcel lalu tersenyum sinis saat menghirup aroma dari tubuh Vika, aroma yang begitu menggairahkan yang sengaja Vika bubuhkan tadi untuk menyenangkan sang suami tapi ekspetasinya tidaklah seindah realita yang kini terjadi
Marcel menyusuri hidung mancungnya pada leher istrinya, aroma yang memabukkan menguar disana. Marcel memejamkan matanya, disambut seperti ini sangatlah menyenangkan. Namun, tiba-tiba pikirannya kembali pada kesadarannya tentang siapa pencuri yang menggagalkan produksinya dan siapa pria yang dicintai istrinya, tangannya terkepal karena terhantam fakta itu. Marcel menjauhkan wajahnya dari sang istri yang menegang semenjak sapuan lembut bibir Marcel di lehernya tadi
" Kau sudah mengundangnya dengan baik dan akan sangat keterlaluan jika aku tidak menerimanya bukan. Jadi, aku akan menerima undangan ini" kata Marcel menatap tajam wajah sang istri yangbhanya mampu menampilkan wajah bersalahnya serta berharap Marcel mau mendengarkan penjelasannya
" Dan Lihat baik-baik" tangannya menyentuh rahang sang istri, membuat wajah Vika tepat menghadapnya dan mata gadis itu menatap sendu wajah sang suami
" Aku Marcel bukan Markus, pria yang kau cintai itu. Jadi, buang jauh-jauh bayangan Markus dalam fantasimu karena aku tidak rela dibayangkan sebagai pria lain " ucap Marcel tajam dan menghempas rahang sang istri ketika emosinya kembali ingin meledak
Marcel melangkah cepat menuju pintu kamarnya dan menutup serta menguncinya karena pertunjukan yang akan dilakukannya sekarang bukanlah untuk dipertontonkan apalagi dengan banyaknya para pelayan yang berlalu lalang
Kembali mendekat pada Vika seraya melepas sembarangan pakaian ditubuhnya, Marcel langsung mengulurkan lengan kokohnya menarik pinggang sang istri agar melekat di tubuhnya lalu mulai mencumbui sang istri. Tidak ada kelembutan dalam gerakannya saat ini, Marcel sepenuhnya melepaskan emosinya dalam cumbuannya pada Vika. Saat bayangan-bayangan masalalunya yang dipenuhi dengan kehampaan dan pengkhianatan terlintas di benaknya membuat Marcel semakin larut dalam emosinya apalagi kini fakta bahwa satu-satunya wanita yang dekat dengannya juga mengkhianatinya. Begitu tidak pantaskah dirinya untuk dicintai, hingga harus selalu menerima pengkhianatan dalam hidupnya
__ADS_1
Vika mencoba menyeimbangi kebrutalan sang suami walau dia yakin besok tubuhnya akan benar-benar terasa seperti dilindas mobil karena gerakan Marcel yang sama sekali tidak berlaku lembut. Vika mencoba memakluminya, kalau sang suami sedang meluapkan emosinya sekarang pada tubuhnya. Vika terkadang hanya berusaha agar kebrutalan Marcel malam ini tidak berimbas pada kandungannya. Berharap juga kalau suaminya itu tidaklah lupa kalau dia sedang mengandung
Bagaimana bisa Vika membayangkan wajah pria lain saat wajah sang suami begitu membiusnya dan selalu membayangi mimpinya. Marcel tidak melewatkan sejengkalpun dari tubuh istrinya dengan tanda dari bibirnya, dia benar-benar lepas kendali malam ini. Tubuhnya panas karena marah dan demam karena gairah bersatu membentuk hasrat yang sulit dijabarkan
Memacu dengan waktu mencari pelepasan hingga Marcel akhirnya mencapai puncaknya dan menuntaskan hasratnya
๐๐๐
Pagi hari, Vika melenguh setelah semalaman digempur sang suami. Dia yakin hari ini pasti tubuhnya akan terasa begitu remuk setelah kebrutalan suaminya tadi malam
Vika membuka pelan matanya dan lamgsung disuguhi pemandangan dada bidang sang suami yang masih tertidur nyenyak, terlihat dari deru nafas teraturnya kalau Marcel sedang larut dalam dunia mimpinya
Tangan besar sang suami bertengger indah di pinggangnya sedang satu lagi berada dibawah kepala Vika menjadi bantalannya semalaman. Vika tertidur dalam pelukan suaminya.
Vika mencoba bergerak agar bisa lebih leluasa dan dirinya sama sekali tidak merasakan seperti yang dibayangkannya semalam. Tubuhnya tidak sesakit bayangannya, walau rasa pegal itu tetap sedikit terasa tapi tidak terlalu sakit bahkan pada area bawahnya. Tidaklah sesakit dulu, padahal Vika yakin semalam Marcel kehilangan akal ketika menyetubuhinya, suaminya benar-benar seperti orang kesetanan semalam
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan๐๐