
Billy minta izin pamit pada Vika setelah membaringkan Marcel diatas ranjang kamar sahabatnya itu. Tidak mungkin bagi Billy menyuruh Vika untuk memapah suaminya itu yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari Vika saat wanita itu kini sedang berbadan dua
Vika mengucapkan terima kasihnya pada para sahabat suaminya itu yang sudah mengantarkan Marcel pulang sembari bertanya apa yang telah terjadi dan Vika sama sekali tidak mendapatkan jawabannya karena Billy beralasan kalau dia tidak tahu-menahu apa yang telah dilakukan oleh Marcel. Padahalnya nyatanya, Billy langsung tertawa puas setelah menjauh dari mansion Marcel yang membuat Mike mendesis kesal
" Kau sudah gila" ucapnya menanggapi sikap Billy yang jauh dari kata normal
" Kau ini tidak asyik sama sekali sih. Ah! Tidak sabar aku ingin melihat reaksi istri Marcel setelah kita pergi dan besok pagi pasti bakal ada drama menarik tapi sayang, aku tidak punya alasan kesana besok pagi"
" Kau senang sekali melihat sahabatmu menderita"
" Sama juga seperti kalian yang senang melihatku menderita dan pria ini...?" kata Billy menatap Eric disampingnya yang sudah tidak sadarkan diri di kursi penumpang
"... Pasti akan lebih menyedihkan" lalu Billy tertawa lagi yang lebih keras membuat Mike menghelakan nafasnya lelah dengan kelakuan sahabatnya Billy
πππ
Vika menatap suaminya yang sudah terpejam karena mabuk diatas ranjang mereka. Setitik air mata turun dari matanya saat Vika terbayang kalau semua pikirannya ternyata benarlah terjadi. Suaminya mencari pelampiasan pada wanita lain, itu terlihat jelas pada bekas lipstik di wajah dan pakaian suaminya yang berantakan, membuktikan kalau suaminya baru saja selesai bermain dengan wanita liar entah dari mana
" Daddy kamu jahat nak" gumam Vika menunduk sembari mengusap perutnya. Kini, hanya janinnya itu sajalah yang menjadi tempat curhatnya walau tidak pernah ada tanggapan. Tapi, janinnya adalah bagian dari dirinya juga
Vika mengusap pelan air matanya lalu mendekati sang suami dan berusaha membuka mantel yang masih tersemat di badan suaminya, bau alkohol sangatlah menyengat
" Kenapa...kenapa harus Markus" racau Marcel dalam ketidak sadarannya membuat Vika terhenti dari kegiatannya dan menatap wajah suaminya itu ketika nama Markus terucap dari bibir sang suami
" Sialan!" racau Marcel lagi bergerak membalikkan tubuhnya hingga Vika terpaksa menghindar namun, dia kalah cepat hingga terjatuh dan terkukung lengan kokoh suaminya. Vika berusaha mengangkat lengan itu agar bisa terbebas namun, baru saja tangan itu berhasil disingkirkan dari tubuhnya. Gerakan Marcel sudah lebih dulu menariknya dalam pelukan pria itu
" Jangan pergi..." lirih Marcel lagi masih belum sadar
" Aku tidak akan membiarkannya" lanjutnya lagi dan kembali tertidur dengan nafas teratur
Vika tidak lagi bergerak, dia menatap suaminya seraya mengusap rahang tegas sang suami. Wajah Marcel dipenuhi dengan bekas lipstick yang cukup menyakitkan baginya membayangkan apa yang sudah dilakukan suaminya di luaran sana, tapi Vika tetap harus bisa bertahan. Bukankah dia sudah bersumpah untuk menyerahkan dirinya pada penolongnya bagaimanapun keadaan penolongnya. Kalaupun Marcel seorang pemain wanita, Vika juga harus tetap menerimanya.
__ADS_1
Vika masuk ke dalam pelukan suaminya yang sudah dua malam ini tidak memeluknya ketika dia tidur, tapi Vika biasanya tersadar di pagi harinya dalam pelukan Marcel yang membuatnya berpikir kalau suaminya tidak benar-benar ingin menjauhinya dan Vika yakin kalau Marcel pasti sudah berusaha sekuat mungkin untuk mengontrol diri agar tidak menyentuh dirinya dan akhirnya Marcel memilih memeluk tubuhnya saat Vika sudah tertidur agar nafsunya bisa sedikit terkontrol
" Sebenarnya apa yang sedang terbayangkan dimimpimu" tangan Vika menyentuh dahi Marcel yang berkerut dan perlahan-lahan kembali seperti semula
" Kamu tampan, maka tidak heran banyak yang mendekatimu" lirih Vika mulai terbawa sedih lagi memikirkan Marcel pasti pernah menghabiskan malam dengan wanita lain
" Lagian apa yang aku harapkan. Kau hanya pernah berkata menyukaiku tapi tidak pernah mencintaiku" Vika menunduk sendu dan setitik air kembali lolos dari matanya
" Tapi aku yakin dengan perasaanku sekarang. Aku mencintaimu suamiku" ucap Vika sembari sedikit memajukan wajahnya lalu mengecup pelan bibir suaminya yang berbau alkohol, setidaknya Vika tidak melihat bekas lipstick di bibir Marcel. Apa suaminya bermain tanpa mencium bibir wanitanya? Pikir Vika bingung yang tanpa disadarinya itu semua ulah sahabat suaminya. Ya kali, Billy mencium bibir sahabatnya! Bisa beda alam dia jika Marcel sadar, dia melakukan hal menjijikan itu
" Selamat malam" bisiknya lalu memejamkan matanya ikut ke alam mimpi dalam pelukan Marcel
πππ
Rasa berat dan pusing menghantam kepala Marcel saat dia baru saja terjaga dari tidurnya, matanya melihat sekeliling dan tersadar kalau dirinya berada di kamarnya. Sebuah lenguhan kecil mengalihkan tatapannya kesamping dan cukup heran dengan sang istri yang tertidur di sampingnya tepatnya dalam pelukannya
Marcel memukul pelan kepalanya yang terasa begitu pening dan mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam, karena seingatnya dia berkumpul di club bersama para sahabatnya, lalu minum-minum dan setelahnya dia tidak ingat lagi apa yang terjadi. Vika yang juga sudah terjaga hanya menampilkan wajah datarnya menatap sang suami lalu melakukan gerakan hendak turun dari ranjang. Namun, tangan Marcel bergerak cepat meraih tangan sang istri hingga Vika kembali terjatuh di pangkuan suaminya
" Apa yang terjadi semalam?" hanya pertanyaan penuh kebingungan itu yang terucap dari bibir Marcel
" Mana aku tahu. Pikir saja sendiri apa yang kau lakukan semalam. Pasti enak main celap celup" umbar Vika masih tidak dapat menerima apa yang dilakukan Marcel semalam, hatinya terlalu panas membayangkannya. Kening Marcel semakin berkerut dalam, dia semakin dibuat bingung
" Apa maksudmu?" Vika mendengus kesal
" Pergi lihat cermin sana" kata Vika lalu bangkit dan berlalu pergi dari suaminya
" Cermin?" Marcel membeo bingung. Apa hubungannya yang terjadi semalam dengan cermin. Daripada pusing memikirkan apa hubungannya, Marcel akhirnya mendengarkan saran Vika dan berjalan kedalam kamar mandi dan dibuat terkejut saat melihat pantulan dirinya di cermin wastafel. Dia melangkah mendekat pada cermin untuk memastikan apa benar wajahnya kini berlumuran bekas lipstick
" Apa-apaan ini" gumamnya lalu menatap pintu kamar mandi, berpikir kalau ini kelakuan Vika. Buru-buru dirinya melangkah keluar dari kamar mandi mencari keberadaan Vika di dapur
" Apa maksud semua ini, Vika?" tanyanya langsung pada sang istri dengan suara nyaring hingga mampu didengar oleh beberapa pelayan yanh sedang bertugas
__ADS_1
" Apa maksudmu?" Vika bertanya bingung dengan maksud suaminya itu
" Maksudku, kenapa ada bekas bibir berlipstick memenuhi wajahku? Apa kamu sengaja melakukannya?" Vika yang kesal dengan tuduhan itu melangkah cepat menuju suaminya, tidak peduli dengan pelayan yang khawatir pada nyonya muda mereka yang sedang mengandung.
Vika meraih tangan sang suami dan membawanya kembali ke kamar mereka
" Apa kau menuduhku yang melakukan ini semua?" Marcel mengangguk mengiyakan dan menatap sang istri seakan minta penjelasan. Vika menatap suaminya jengah
" Kau mabuk dan bermain dengan wanita liar lalu menuduhku yang melakukannya. Dasar brengsek!!" umbar Vika yang ingin sekali mencakar wajah suaminya itu lalu berbalik hendak pergi dari sana sebelum air matanya tumpah didepan sang suami
" Tunggu dulu. Apa maksudmu wanita liar?" Marcel meraih tangan Vika hingga wanita itu terhenti dari niatnya
" Jangan tanyakan padaku, tanyakan saja pada dirimu sendiri" Vika melepas kasar jegalan tangannya dari sang suami dan melangkah cepat keluar dari sana. Marcel hendak menghentikannya tapi suara ponselnya yang berbunyi menghentikan tindakan
" Iya, ada apa?" tanyanya langsung pada si penelpon
" Bagaimana pagimu? Aman? Sudah lihat video yang kukirimkan"
" Video apa?"
" Coba kau lihat dulu baru kau bertanya video apa!" ujar suara diseberang membuat Marcel langsung membuka Video yang masuk ke medianya dan wajahnya langsung berubah kesal sambil mengucap satu nama sibiang onar
" BI...LLY"
.
.
.
Kritik dan saran diharapkanππ
__ADS_1