My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Ban Sepeda Bocor


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi. Siswa-siswi beranjak keluar menuju parkiran termasuk Amira. Ia berjalan gontai ke parkiran. Hari sudah siang, sinar mentari terasa menyengat, membuat keringat bercucuran.


Saat di parkiran yang super luas itu, Amira harus waspada, karena kendaraan yang terparkir di sini adalah mobil. Kalau ceroboh sedikit saja minimal terserempet mobil.


Tak jauh dari situ...



''Eh, sepeda butut siapa nih? Kok ada di sekolah kita?''


''Ada pemulung masuk kawasan kita.''


''Payah banget! Pemulung aja berani belajar di sini.''


''Kita bocorin aja bannya. Biar kapok.''


''Nih, pakai brossku.''


''Bagus!''


Mereka tertawa jahat setelah berhasil membocorkan ban sepeda orang, kemudian pergi tanpa wajah penyesalan.


Amira yang baru sampai kebingungan kenapa sepedanya terasa berat, setelah dicek ternyata ada tangan jahil yang iseng membocorkan ban sepedanya. Mau tak mau Amira menuntun sepedanya menuju bengkel terdekat.


Untuk sampai ke bengkel terdekat memakan waktu yang lama, karena untuk keluar parkiran yang seluas lapangan sepak bola saja Amira sudah kecapekan.



Bunyi klakson mobil mendekati Amira, seseorang turun dari kursi penumpang turun dari mobil,''Kamu ada masalah?'' tanya Robert.



''Ban sepedaku bocor.'' keluh Amira seraya menunjukkan ban sepedanya yang belakang. Amira terlihat sangat sedih dan penat.


Robert menoleh ke arah pengemudi mobil,''Mia, dia ikut kita ya?''


''Siap bos!'' Orang yang bernama Mia turun dari mobil. Mia dan Robert mengusung sepeda Amira dan memasukkan sepeda itu ke mobil bagian tengah. Kemudian Amira disuruh naik ke bangku depan tepatnya di antara Mia dan Robert. Hal itu membuat Amira canggung.


''Ga apa apa nih di tengah?''


''Kamu khan kecil. Di tengah-tengah pasti muat.''jawab Robert.


''Ke bengkel Pak Yakob ya?'' Mia berkata sambil mengemudi. Amira memperhatikan penampilan Mia dari atas sampai bawah.''Ngapain lihat-lihat? Aku bukan alien.'' desis Mia, ia sadar ia diperhatikan.


''Amira ga pernah lihat orang dengan style ganjen kaya lo. Makanya ia merasa heran.'' tukas Robert.

__ADS_1


''Kakak cantik kok.''kata Amira. Mia menjulurkan lidah, merasa menang berkat pujian Amira.


''Cantik ukuran tante-tante.'' Robert tak mau kalah, ia ingin membuat Mia kesal.


''Huh.'' Mia mendengus.


Akhirnya mereka sampai di bengkel Pak Yakob. Bengkel sekaligus tempat cuci mobil dan .otor. Lagi-lagi Mia dan Robert yang mengurus sepeda Amira, mereka menurunkan sepeda Amira dan diserahkan kepada salah satu montir untuk ditambal. Amira mengikuti dari belakang.


''Beres.''kata Mia sambil mengacungkan jempol. Tiba-tiba Mia ditelpon Mamanya disuruh pulang cepat. ''Robert, lo pulang sendiri ya, dijemput Papamu. Gua cabut dulu, dah ditunggu mak.''pamit Mia.


''Gampang. Salam buat mak lo.'' Robert menyanggupi.


Tersisa mereka berdua. Mereka menunggu kerjaan selesai sambil minum es. Amira terdiam. Sesekali melirik sepedanya yang dalam proses penambalan.


''Gue denger lo deket sama Lyon.''Robert membuka pembicaraan. Membuat Amira menegakkan punggungnya dan mengangkat kepalanya. Jantung Amira berdegup kencang, mengingat ancaman Robert tempo hari.


''Aku...''Amira tak mampu berkata-kata. Memang benar, ia kini telah dekat dengan Lyon, tapi bukqn karena keinginannya. Lyon-lah yang menyeretnya untuk menjadi asisten pribadinya. Sehingga, Amira tak mampu melawan.


Robert menarik kerah baju yang dikenakan Amira, karena aslinya ini bajunya Vera.''Lo lupasama perjanjian awal kita?''


''Memangnya kenapa aku gak boleh dekat sama Lyon? Apa kamu beneran kaki tangan Akmarahulla? Kok aku ga lihat kamu di pesta semalam?'' tunding Amira sukses membuat Robert terpojok. Robert pun melepas cengkramannya.


''Gue gak mai lo jadi boneka barunya Lyon.''jawab Robert lirih. Ia masih terbayang-bayang masa lalunya. Saat pacarnya direbut Lyon. Ia memperingati pacarnya untuk menjauhi Lyon, tapi pacarnya tak menggubrisnya.


Dan akhirnya pacarnya datang dengan hujan air mata, ia bilang ia diputusin Lyon. Ia ingin balik lagi jadi pacarnya Robert, tapi Robert tolak mentah-mentah.


''Amira.'' Robert terharu dengan ucapan Amira barusan. Saat menoleh, Amira tidak ada di tempat.


''Pak, bayar berapa?'' tanya Amira kepada montir. Sepedanya sudah selesai ditambal!


''Sepuluh ribu neng.'' jawab Pak montir santai.


''Sepuluh ribu?'' ulang Amira. ''Bapak jahat sekali...bahkan uang sakuku tidak sampai sepuluh ribu. Dua ribu aja ya Pak?'' tawar Amira memasang tampang imut.


''Ga bisa neng. Saya menambal ban sepeda dari bahan berkualitas.''tolak Pak montir keras kepala.


''Bapak...ayolah beri diskon sama pelanggan baru...''rajuk Amira tak mau menyerah.


Robert mengulurkan selembar uang merah.''Pak, ini uangnya. Kalau kurang bilang saja.''


''Haha...ini mah kelebihan, mas.'' Pak montir menerimanya dengan senang hati.


Amira melotot,''Orang kaya uang sakunya banyak banget...''


Orang kaya uang sakunya berapa ya? Sampai mengeluarkan uang seratus ribu saja teras ringan.

__ADS_1


Kemudian Amira menepuk-nepuk jok sepeda. Tasnya ditaruh di keranjang sepeda. ''Terima kasih untuk hari ini Robert...''


''Alamat rumah.''pinta Robert.


''Hah? Alamat rumah? Aku?''


''Iya kamu. Alamat rumahmu mana?''


''Mau apa nanya alamat rumahku?''tanya Amira lebih hati-hati.


''Mau mainlah.''


''Hah? Tapi-tapi...''Amira mau mengatakan ia gak mau menerima tamu dalam waktu dekat ini.


''Kenapa sih? Pelit banget. Kamu lebih memilih Lyon daripada aku?''


''Ga lah.''


''Terus kenapa?''


''Ada mak galak di rumah. Aku takut kamu ikutan dimarahin.''


''Oh...situasinya lagi gak bagus ya? Oke lah. Tapi berikan alamatmu dulu.''


''Loh...jangan sekarang lah.''


''Kamu ga mau kuantar pulang?''


''Anter? Haha...bercandanya gak lucu mas. Tadi aja kamu nebeng kakak siapa tuh...sekarang malah mau anterin aku...orang tua kamu ga perhatian, ya?''


''Tuh, Papa aku dah datang.''


Tampak mobil sedan cat merah berhenti di depan bengkel. Kaca mobil depan diturunkan.



Pengemudi menyembulkan kepala, memanggil nama Robert.


''Robert, cepetan! Papa setelah ini ada meeting.''panggil Papanya setengah berteriak. Robert berlari-lari kecil menuju mobil. Ia duduk di bangku depan, di samping Papanya. Sebelum benar-benar pergi Robert melambai-lambaikan tangan kepada Amira.


''Jangan lupa yang kubilang tadi.''


''Gak sudi!''tolak Amira.


Akhirnya pergi juga. Untung aku gak diapa-apain..malah dia baik hati nolongin aku pas lagi kesusahan...Sekarang masalahnya adalah gimana aku menjelaskan ke kakak...Kakak pasti marah besar karena tadi malam gak pulang, pikir Amira.

__ADS_1


Ia berpikir keras bagaimana ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan kakaknya nanti...


Bersambung....


__ADS_2