
Seperti biasa Amira menghabiskan waktu sekolahnya di perpustakaan. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir gesekan dengan anak buah Liona atau anak-anak lain, terlebih ia mendapat ancaman dari kaki tangan Akmarahulla-keluarga yang ia tak tahu menahu-
Sayup-sayup terdengar riuh anak-anak cewek membuat konsentrasi Amira terbuyar. Ia berpindah tempat ke sudut perpustakaan.
''Minggir!''bentak seseorang dengan galak.
''Ya ampun, serasa mimpi bertemu dia...!''gumam para cewek.
Amira menghembuskan napas lega, karena kebisingan itu mereda. Suasana perpustakaan kembali hening. Ia kembali terbuai dalam deretan kalimat berisi ilmu dasar kedokteran. Tersenyum sendiri, mengkerutkan dahi, saking seriusnya tak sadar ada yang memperhatikan.
Buku itu dirampas dari genggamannya, membuatnya berseru pelan, ''Astaga.'' Matanya terbelalak saat melihat sesosok pemuda tampan tersenyum tak berdosa
''Hai, nona...buku ini saya sita.''
''Apa...?'' Mulutnya menganga. ''Kenapa?''
''Karena kamu anak kelas saya.''
''Hah? Apa hubungannya?'' Amira semakin tidak mengerti dengan tingkah laku orang yang merebut bukunya.
''Sesuai peraturan kelas, anggota dilarang meminjam buku yang tidak berkaitan dengan tugas sekolah.''
''Hah? Memang ada peraturan begitu?''
''Benar, karena aku adalah ketua kelasnya. Orang yang tidak tunduk pada peraturanku akan mendapat sanksi.''
Ketua kelas. Peraturan. Dua kata itu berputar-putar di pikiran Amira. Apa hubungan ketua kelas dengan peraturan? pikirnya.
''Saya tidak mengerti ada peraturan seperti itu...Apakah sudah mendapat persetujuan anak kelas?''tanya Amira kemudian.
''Ya...keputusan ketua kelas adalah keputusan raja. Sekali menurunkan titah semua anggota akan tunduk.''
Mendengar penuturan itu gigi Amira bergemulutuk, ''Baik, sekarang bagaimana caranya supaya buku itu kembali...?''
''Pergilah ke tempat ini.''Ia meletakkan secarik kertas berisi alamat,kemudian pergi begitu saja sambil membawa buku ilmu dasar kedokteran.
Amira membaca alamat tersebut,'Rumah besar Akmarahulla. Sial,aku masuk perangkap. Kalau aku tidak ke sana bukuku tidak kembali. Apa yang direncanakan orang itu sih?'
"Kak, dipanggil pak kepsek. Kata beliau disuruh ke kantornya."panggil adek kelas dari arah pintu perpustakaan.
Amira segera beranjak. Sejenak melupakan masalah yang melandanya.
Ruangan pak kepsek tak jauh dari perpustakaan, sehingga untuk menempuh sana tak butuh waktu lama.
Setibanya di ruangan pak kepsek, Amira mengetuk pintu yang segera dibukakan oleh beliau.
"Selamat siang nak.''sambut pak kepsek sambil tersenyum lebar.
Amira membalas salam beliau. Kemudian Amira dipersilahkan duduk.
''Jadi begini nak, setelah meninjau perkembanganmu beberapa hari ini kami menyatakan kamu lulus menjadi murid resmi Elite High School.''
__ADS_1
''Hah...'' Mata Amira berbinar. Ia senang bukan main mendengar berita itu. Sekolah yang hanya dipenuhi oleh kalangan bangsawan dan orang-orang kaya itu menerimanya.
''Karena kamu sudah resmi menjadi murid kami ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan.'' Pak kepsek membuka sebuah map.
''Apa ini Pak?''tanya Amira
''Ini adalah hal yang harus dimiliki setiap murid.''
Amira membuka map dengan hati-hati lalu membaca satu persatu lembaran berupa formulir. Salah satunya ekstrakulikuler. Ada banyak sekali pilihan yang membuat Amira bingung memilih.
''Pak, hanya boleh memilih satu kegiatan?''
''Ya, karena murid kami ditonjolkan pada bidang yang diinginkannya.''
Amira menelan ludah, ia merasa kehidupannya selama ini sangat sempit. Ia tak mempunyai kemampuan apa-apa selain pelajaran.
''Kalau tidak memilih,Pak?''
''Harus memilih nak.''
Amira mengerutkan kening, seolah-olah lembaran di hadapannya adalah tugas anak kuliahan.
Jurus terakhirnya adalah menghitung kancing,
''A,B,C,D,E,F,....F!!!!"
Ekstrakulikuler pilihan Amira jatuh berenang, Amira sedikit menyesal karena selama ini ia menguasai gaya batu.
"Pilihan terbaik untuk anak sependek Anda."puji Pak Kepala sekolah sambil menepuk-nepuk bahu Amira. Hal itu membuat Amira malu, karena memang tingginya setinggi anak SD yang mau naik SMP.
*****
"Sudah kuduga. Pertukaran pelajar itu cuman kode buat narik kamu ke sana."
"Karin...maaf ya aku gak nepatin janji."
"Ah, apa sih Mir. Asal kamu bisa mengejar mimpimu aku dukung 100%."
"Iya...pokoknya makasih banget ya Karin."
"Iya...kamu harus sukses."
Teleponan mereka terhenti karena kuota Amira habis. "Ihh....hp bikin bete." Amira hampir saja melempar hp milik kakaknya yang sengaja ditinggal supaya Amira bisa menghubunginya kalau ada apa-apa.
Amira merogoh sakunya seragamnya yang ia gantung di gantungan baju. Berharap ada uang yang bisa ia pakai untuk beli kuota.
Nihil."Ahh..lupa uang saku mingguan sudah habis untuk beli komik."gumamnya. Ia malah menemukan secarik kertas pemberian orang yang merampas buku berharganya. Mengingat itu membuatnya bergegas mengontel sepeda ke alamat yang diberikan.
Dalam benaknya, ia bertekad mendobrak pintu si perampas bukunya, lalu akan melabraknya.
Akhirnya ia sampai ke rumah besar keluarga Akmarahulla. "Beneran besar banget seperti rumah zaman penjajahan."gumamnya.
Amira memasuki halaman rumah. Memarkirkan sepeda ontelnya di bawah pohon. Lalu mengebel rumah yang tampak sepi.
__ADS_1
Tak sampai menunggu lama,seorang pembantu menyongsongnya. "Aman,ya?"
"Aman? Iya kok aman-aman saja."
Pembantu yang menyambut Amira memakai seragam seperti pelayan restoran itu menggandeng Amira masuk ke dalam ruangan.
"Aman...silahkan ganti pakaian ini."Pembantu itu menyodorkan pakaian seperti yang dikenakannya. Amira hampir berteriak. Kepala pembantu umurnya lima puluhan menghampiri Amira.
"Jangan banyak omong, orang baru. Nyonya memerintahkanmu mengepel ruang tengah." bentaknya seraya menyodorkan kain lap dan seember kecil berisi air sabun.
"Haha...kamu ngeprank ya, ketua kelas?" Teroaksa Amira mengikuti perintah kepala pembantu, takut hal-hal tidak mengenakkan terjadi. Dendamnya pada ketua kelas makin menggebu-gebu.
Pengalaman mengepel Amira sangat payah. Karena di rumah ia tak pernah mengepel rumah, boro-boro mengepel, mencuci baju saja dicucikan kakaknya.
Baru lima menit mengepel tanpa gagang membuat Amira ngos-ngosan. Kinerjanya kacau. Sehingga...
PRANG...
Amira tak sengaja menyenggol guci antik milik keluarga itu, gucinya pecah tak karuan.
"Siapa itu?"tanya suara yang mirip geledek di siang bolong.
"Sa...saya."ucap Amira terbata. Orang yang membentaknya adalah Nyonya Akmarahulla. Baik suaranya maupun tampangnya sangat menakutkan.
"Kamu orang baru bikin masalah."omelnya.
Amira semakin tertunduk. Ia tak menyangka, ibu Lyon adalah orang yang tak mudahdiajak bernegosiasi."Maafkan saya."
Pembantu lain tak ada yang berani membela, karena guci yang dipecahkan Amira secara tidak sengaja adalah peninggalan turun temurun dari nenek moyang Akmarahulla di zaman penjajahan.
Situasi menjadi tegang. Amira menggigil seprti anak anjing di luar ruangan saat musim dingin.
Situasi tersebut menjadi cair sejak kedatangan putra kedua bersama kekasihnya.
"Nyonya, saya pulang!" sapa Liona yang tak tahu menahu situasi yang sedang terjadi. Ia melirik ke arah Amira yang tengah menggigil ketakutan."Amira?" bisiknya tak mengerti.
"Liona...menantuku dan putriku.. selamat datang." Nyonya menyambut Liona dengan pelukan.
"Amira..eh maksudku Aman. Maaf membuatmu menunggu." Lyon menghampiri Amira, membantu Amira berdiri. Lalu menggandeng Amira kepada Mommy nya.
"Ini mom...asisten yang aku bilang."
"Hmff...ceroboh."Nyonya menggeleng tak suka.
"Tolonglah Mom... Mom khan sudah berjanji."rajuk Lyon.
"Terus guci peninggalan Dady mu gimana? Mungkin seumur hidup ia mengabdi di sini tak mampu membayar."tantang Mommy nya Lyon.
Lyon berpikir sejenak,"Kita pakai sistem naik dan turun gaji. Kalau kinerjanya bagus hutangnya dianggap lunas. Kalau tidak terserah Mommy."
"Hah...mari kita lihat nanti."
Liona terkekeh,'Bakal jadi berita menarik nih.'
__ADS_1
"Aman...mulai hari ini resmi menjadi asisten pribadi Lyon... Beti...serahkan jadwal tugasnya."dekret Nyonya Akmarahulla.
Hari ini ada berita bahagia sekaligus berita menyedihkan,pikir Amira.