My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Perpisahan 2


__ADS_3

Matahari tenggelam di ufuk barat, saat itulah aku terbangun dari tidurku setelah menangis lama. Waktunya bangun dari tidur panjangku, aku harus kuat mengawali kehidupan baruku.


Aku bersiap-siap berangkat ke rumah keluarga Akmarahulla. Selesai siap-siap aku berangkat ke sana dengan sepeda onthel.


Sampai di tempat tujuan,Vera bersama sesama asisten sedang beres-beres ruang tamu dan ruang tengah.


''Mau ada acara apa Ver?''tanyaku pada Vera yang tengah menata meja.


''Mau ada pesta besar-besaran.''jawab Vera.


''Aman mana?''Kepala pelayan mencariku. Pastinya memberiku pekerjaan.


''Saya di sini, nek.''sahutku.


''Kamu ke dapur, menyiapkan minuman untuk para tamu.''perintah nek Beti,selaku kepala pelayan. Aku mengangguk paham.



Di dapur beberapa pelayan sibuk memasak dan membuat roti. Aku datang disambut Lyon.


''Nah, akhirnya datang juga.''Lyon memanggilku. Ia tengah menyiapkan minuman juga bersama kak David. Mereka ikut terjun dalam urusan persiapan pesta sebagai bentuk bakti kepada nyonya Akmarahulla.


''Apa yang bisa kubantu?''tanyaku. Minuman yang disiapkan beraneka ragam. Aku disuruh menaruh minuman ke gelas-gelas mewah.


''Hati-hati,kalau pecah kamu gak bisa ganti.''ancam kak David. Aku mengangguk. Tatapan kak David menusuk, sangat berbeda dengan pertemuan kami di sekolah.


''Baik, kak.''jawabku.


Setelah persiapan pesta selesai aku kembali ke kamar melepas lelah. Vera juga baru kembali.


''Asik gak dikelilingi tuan muda?''sindir Vera. Ia sebenarnya menginginkan posisi itu.


''Menyedihkan. Sama sekali tak ada pembicaraan.''jawabku sambil menghempaskan tubuh ke kasur.


''kak David gak bilang apa-apa ke kamu?''tanya Vera lagi.


''Hanya mengancam.''jawabku sambil menguap lebar. Aku seharian sudah tidur malah pingin tidur lagi.


''Aku kangen kakak...''gumamku sebelum aku benar-benar memejamkan mataku.


*****


Pagi tiba, Vera sudah bangun lebih dulu dariku. Aku bergegas ke kamar mandi, mengondisikan muka dan gosok gigi. Setelah urusan selesai, aku menuju dapur.


Aku sangat terlambat! Memasak sarapan usai. Aku disoraki pembantu lainnya.


''Mba Aman telat nih.''


''Mba, ke ruang tengah aja bantu-bantu beresin karena pesta semalam.''saran kakak asisten.


Aku menurut. Di ruang tengah tampak nyonya mengatur-ngatur para asisten dengan suara bak geledek.


''Aman, lekas bereskan!''bentak nyonya begitu melihatku.

__ADS_1


****


Pagi itu, satu kelas ramai sekali. Aku yang baru datang mendengarkan percakapan mereka.



''Nona Liona...apakah kamu mau pindah kelas?''tanya Ayako.


''Kepala sekolah mengonfirmasiku semalam.''


Liona mau pindah kelas! Otomatis jabatan wakil kelas kosong. Untuk menjadi wakil kelas adalah keputusan ketua kelas atau pilihan wakil kelas.


''Yahh...gak bisa ketemu nona lagi dong.''Sahabat karib Liona tampak kecewa.


''Kita bisa bertemu waktu istirahat.''jawab Liona sambil tersenyum manis. Para fansnya tetap tidak puas. Liona menggelengkan kepala.


Lyon datang sambil menenteng tas di tangan kirinya. Sontak anak kelas sebelas memanggil namanya.


''Ketua....''


''Kenapa pagi-pagi sudah ribut?''Lyon duduk di bangku depan guru, karena hari itu ada pelajaran favoritnya.


''Nona Liona hari ini pindah ke kelas A.''


''Apa...?''Lyon tersentak.


****


Lyon pov


Masalah tidak berhenti sampai situ, aku perlu memilih kandidat wakil kelas yang baru. Tanpa wakil kelas, kelas ini akan hancur. Selama ini yang mengurus urusan kelas adalah wakil kelas, ketua kelas sepertiku hobinya memerintah sesuka hatiku. Kalau Liona pergi, siapa yang mengurus kelas ini? Anak-anak kelas B payah.


''Ketua, jadikan aku wakil kelasmu dong...''pinta salah seorang anak kelasku.


''Aku juga boleh ketua. Aku lebih cantik dari dia.''sambung anak kelas yang lain.


Mereka anak kelas yang menjijikkan. Dikira menjadi wakil kelas semudah membalikkan telapak tangan? Aku bingung memilih wakil kelas.


Bel masuk berbunyi, Liona melambaikan tangan kepada anak-anak kelas. Mereka semua menangis terutama geng ABC menjijikkan itu.


''ketua....ayo sekarang pemilihan wakil kelas.''pinta anak-anak kelas, mereka rusuh sekali, tidak tahu betapa sulitnya memilih kandidat wakil ketua.


''Ketua, bagaimana kalau Vera saja...?''usul Siori di tengah-tengah rusuh.


''Diam...!''bentakku. Seketika kelasku menjadi hening. Mereka menanti keputusanku.


''Kuputuskan wakil kelas yang baru adalah anak baru kita, Amira Amana.''putusku setelah beberapa menit berpikir.


''SETUJU.....''Kompak satu kelas meneriakkan kalimat persetujuan. Orang yang kutunjuk mundur-mundur ketakutan. Aku ingin tahu seberapa kemampuan dia di posisi teratas.


''Ayo maju...ayo maju...ayo maju...''sorak anak-anak satu kelas. Amira malu-malu ke depan. Ketika sampai di depan segera kurangkul.


(

__ADS_1



—pura-puranya di kelas yah–


''Ayo bicara.''desisku. Amira mengangguk pelan.


''Teman-teman, aku...aku sebenarnya gak pantas menerima posisi ini, apalagi aku masih baru di sini...aku senang teman-teman menerimaku di sini.''kata Amira sedikit terbata.


''Gak papa Mir, ada kami di sini.''Siori berjalan ke depan, pengurus kelas yang lain ikut-ikutan maju.Mereka mengangguk. Seketika air mata Amira meleleh.


****


Istirahat pertama


Amira di toilet membasuh wajahnya, ia kebanyakan menangis. Matanya sembab dan hidungnya merah.


''Apa aku pantas menerima jabatan ini?''gumamnya.


Tak jauh dari situ terdengar bisikan-bisikan disusul tertawa cekikikan.


''eh, bener si kismin itu di sini?''


''iya, gak salah lagi. huh, aku kesel lihat muka sok sucinya.''


''ayo, sudah siap beraksi?''


''ya.''


Byur...dari atas toilet Amira diguyur kuah bakso, disusul air satu ember. Amira mencoba membuka pintu untuk melihat siapa pelakunya. Sialnya, pintu dikunci dari luar. Ya, Amira terkunci.


Amira pasrah, dengan seragam separoh basah ia jongkok di toilet, berharap ada orang lain lewat dan menolongnya. Namun, setengah jam menunggu tak ada yang lewat.


Bagaimana ini?pikir Amira. Ia mencoba memanjat pembatas toilet, namun tubuhnya yang menggigil kedinginan tak mampu menggapainya. Amira terjatuh pingsan di toilet.


****


Amira pov


Saat aku terbangun, aku sudah tidur di kamar pelayan, dan pakaianku sudah diganti. Siapa yang melakukannya? Aku mengamati sekeliling.


Pintu kamar dibuka, Lyon masuk. "Kamu bisa-bisanya terkunci dalam toilet. Kemarin heboh gara-gara mencari kamu tahu."omelnya sambil meletakkan kompresan di dahi.


Aku tak membantah ucapannya. Perutku mulas tak karuan. Ini akibat diguyur air, kuah bakso, dan dikunci KM kemarin.


Lyon memeriksa keningku dan pipiku. Tatapannya sendu. Baru pertama kali ia menatapku sedih, biasanya tatapan amarah dan mematikan.


"Amira...kamu sudah berbuat banyak...maaf seharusnya aku lebih memperhatikanmu.''gumamnya sedih. Aku tertawa pelan.


''Gak papa,cuma sakit sedikit saja.''


''Tuan muda, bubur untuk Aman sudah siap.'' Kakak asisten muncul di daun pintu sambil membawa mangkuk dan beberapa butir obat. Lyon menerimanya.


''Nah, makanlah supaya kamu cepat sembuh.''Lyon menyuapkan padaku.

__ADS_1


Selesai makan, aku pun minum obat dan tidur. Lyon mencarikan selimut tebal untukku. Terima kasih, Lyon.


Bersambung....


__ADS_2