My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Lyon dan Liona


__ADS_3

Pukul 20.00 WIB


Kak Avie sibuk di kamar menghitung penghasilan hari ini. Amira diam-diam keluar kamar lalu mengendap-ngendap keluar rumah.


Rumah besar keluarga Akmarahulla



''Amira, kok baru datang?''tanya Vera.


''Hm...tadi aku demam, sekarang udah baikan kok.''jawab Amira sambil membenahi poninya.


''Oh, yaudah tadi tuan muda kedua nyariin kamu. Kayaknya dia udah di kamar.''


''Oke.''Amira bergegas ke kamar Lyon yang terletak di lantai dua.


''Selamat malam,tuan muda kedua.''Amira mengetuk pintu kamar.


Lyon membuka pintu kamar, ''Amira, cepat...aku butuh bantuanmu.''



''Apa yang perlu saya bantu?''


''Kerjakan peerku yang harus dikumpulkan besok. Malam ini harus selesai.''


Lyon menunjuk setumpuk buku pelajaran, membuat mata Amira terbelalak.


''Sebanyak itu?''Amira keberatan.


''Kenapa? Keberatan? Kalau keberatan tugasmu akan bertambah.''ancam Lyon.


''Tidak...saya patuh.'' Amira bergegas mengerjakan tugas matematika, fisika, kimia, dan bahasa inggris. Apa-apaan ini...dia menyiksaku dengan mengerjakan soal sebanyak ini,gerutu Amira dalam hati.


Lyon mengawasi pekerjaan Amira di sampingnya, membuat Amira tidak berhenti mengerjakan sampai larut malam.


Tiba-tiba pusing menyerang Amira, sehingga pulpennya jatuh ke lantai, Amira memijit pelipisnya.''uh...''


''Kenapa?''tanya Lyon panik.


''Aku gak enak badan. Aku...''


''Sudah kamu istirahat saja.''


''Tapi, pekerjaannya belum selesai.''


''Aku selesaikan sendiri.''


''Oke.'' Amira beranjak pergi dengan tubuh gemetar. Ia berjalan dengan badan sempoyongan.


Lyon membantunya berjalan,''Kalau kamu gak bisa kerja tuh izin saja.''


''Tapi, saya...''Kepala Amira bertambah pening. Dan dia ambruk. Lyon membawanya turun bertepatan dengan Liona mau naik ke lantai dua.


''Lyon.'' Liona berseru tertahan. Ia hendak menahan langkah Lyon namun Lyon tak menggubrisnya. Hal itu membuat Liona sakit hati. Kue hasil buatan tangannya dijatuhkan ke lantai. Ia berlari turun, menangis kejer. Lyon, tak mempedulikan ku.


David yang baru pulang dari kegiatan pramuka kebingungan melihat Liona menangis di ruang tengah. Maka ia pun menghampiri Liona.


"Kamu kenapa malam-malam nangis?"


"Lyon, kak...Lyon.."


"Lyon kenapa? Ngomong yang jelas."


"Lyon gak pedulikan aku...dia cuekin aku kak...dia malah sama asistennya kak..."


"Asisten? Oh, cewek penggila buku itu. Tenang...kakak akan tegur Lyon.''


''Mohon bantuannya kak.''ucap Liona sambil menghapus air matanya. David mengangguk, ia ke kamar belakang memanggil asistennya.


Liona tersenyum licik,'' Amira, pertarungan kita baru saja dimulai.''


****


Vera terkejut melihat Amira digendong Lyon, ''Tuan muda kedua, Amira kenapa?''


''Dia sakit, tolong jaga dia.''


''Ba-baik.'' Vera mengangguk paham.


Amira dibaringkan ke ranjang. Lyon berbalik pergi. Vera mengecek kening Amira,'' Ya ampun, kamu memaksakan diri...''Vera tersenyum tipis.


Tuan muda pertama memanggil Vera. ''Vera....Vera kamu di mana?''


''Di sini tuan muda.'' Vera membuka pintu kamar lebar-lebar.


''Kamu ngapain saja di kamar? Kamu sudah membereskan kamarku belum?''

__ADS_1


''Sudah beres, tuan muda David...''jawab Vera ngeles.


''Siapa yang tidur itu?''tanya David, pandangannya terarah kepada Amira yang terbaring lemah di atas ranjang.


''Amira kak.''ceplos Vera.


''Fyuh, dia lagi.''gumam David. Ia pergi begitu saja.


''Kenapa sih? Gaje.'' kata Vera. Vera pun bergegas ke dapur. Mencari air hangat untuk mengompres kening Amira.


''Makin hari tuan muda pada aneh.''gerutu Vera.


''Kamu membicarakanku?''pergok Lyon yang ternyata juga di dapur.


''Ahahaha...aku gak seberani itu lah.''jawab Vera tergagap.


''Lyon, akhirnya ketemu juga kau.''Liona datang sambil berkacak pinggang.


''Apa sih datang-datang ribut.''ujar Lyon cuek.


Liona berjalan mendekati Lyon, setelah dekat ia merangkul Lyon. ''Aduh, kamu lupa ya sayang...kita khan tunangan, harus terbuka satu sama lain. Apa hari ini aku membuatmu kesal.''


****


Ruang tengah



''Lyon...kenapa sih kamu cuekin aku? Apa gara-gara anak kampungan itu?''tebak Liona, ia masih merangkul Lyon. ''Apa sih bagusnya dia? Penampilan biasa aja...pintar gak pintar-pintar amat...apa coba?''


''Kamu butuh penjelasan?''Lyon akhirnya ngomong juga. Ia kesal dirangkul Liona.


''Iyalah, kita tuh statusnya tunangan Lyon...bukan pacar lagi. Kamu ingat khan.''peringat Liona dengan tegas.


''Tunangan? Hah, aku gak peduli...kamu di depan sini sok dekat, sok akrab, tapi di belakang kamu menyakitiku...memang aku gak tahu apa?''bentak Lyon, ia melepas rangkulan Liona.


''Memang siapa dulu yang mulai? Aku dekat sama banyak cowok karena aku populer, karena aku punya banyak jabatan. Gak kayak kamu yang hobinya bermain cewek, dan sekarang kamu levelnya rendah. Anak kampungan pun kamu lirik.''ejek Liona disusul tawa menghina.


''Berisik.'' Lyon menampar pipi kekasih sekaligus tunangannya,'' Kamu sekali lagi menghina Amira kita putus hubungan.''ancam Lyon dengan tatapan marah.


''Huh, coba saja kalau berani.'' Liona pergi meninggalkan Lyon yang dipenuhi dengan rasa amarah.


''Ini kenapa ribut-ribut?''tanya Mommy nya Lyon. Beliau baru saja pulang dari perkumpulan kalangan orang kelas atas.


''Nyonya...''Liona mulai menitikkan air mata. Sandiwaranya dimulai.


''Nyonya...Lyon tadi menamparku...''kata Liona dengan nada sedih.


''Apa?''Mommy menatap Lyon galak. ''Lyon, ke sini kamu nak.''


Lyon dengan langkah malas mendekati Mommy nya.


''Kamu apakan Liona? Apa dia membuatmu kesal?''tanya Mommy, Mommy memperlakukan Liona seperti putrinya sendiri sehingga kalau Liona disakiti beliau akan memarahi orang yang menyakitinya.


''Dia menggangguku. Apa aku salah peduli sama asistenku?''


''Aman kenapa?''tanya Mommy lagi, mencari akar masalah ini.


''Dia sakit Mom. Dia tidak bisa bekerja untuk sementara waktu ini. Dia-''


''Bohong nyonya...aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bukan hanya di sini, di tempat lain Lyon berselingkuh, dia main di belakangku...ia mengkhianatiku..lihat aku punya bukti.''Liona memotong ucapan Lyon dan menyerahkan hpnya yang memuat foto-foto Lyon dan Amira di sekolah.


''Bagus...Liona kamu boleh pulang sekarang. Minta Pak Banu mengantarmu pulang. Lyon, kamu tetap di sini. Mom mau bicara empat mata denganmu, kamu harus jujur sama Mommy.''


''Saya permisi nyonya.'' Liona berpamitan pada Mommy sambil mencium punggung telapak tangan Mommy kemudian pergi. Sedangkan Lyon masih di posisi.


Setelah kepergian Liona, Mommy menyuruh Lyon duduk di sofa di mana Mommy juga duduk di situ.


''Kamu bertengkar sama Liona karena apa?''


''Mommy...aku gak setuju sama pertunangan ini. Mengganggu kebebasan aku. Pokoknya Mom, hentikan sekarang.''


''Karena Aman?''


''Salah satunya. Yang kedua perasaanku terhadap Liona seperti pada saudaraku sendiri. Tapi dia berlebihan, di sekolah ia tak peduli padaku, di rumah ia seakan lem. Aku jadi tak memahaminya.''jelas Lyon dengan nada sedih.


''Maaf Lyon...tentang pertunangan ini tidak bisa dibatalkan, karena pernikahan ini demi mempertahankan bisnis keluarga kita, orang yang tidak berkelas tidak pantas menjadi pasanganmu.''kata Mommy keberatan.


''Terserah mommy mau atau gak, yang penting aku gak tertarik bisnis dan aku mau hidup dengan caraku sendiri. Titik.'' Lyon pergi ke kamarnya dengan langkah cepat. Mommy nya geleng-geleng kepala.


''Kenapa aku melahirkan anak seperti dia. Susah diatur dan suka seenaknya sendiri.''gumam Mommy.


*****


Lyon membuka pintu kamarnya dengan kasar sambil menjerit kesal. Tampak kakaknya, David duduk dengan gaya santai di kursi belajarnya sambil main hp.


''Lyon, akhirnya balik juga.''sapa David dengan senyuman tipis.

__ADS_1


''Kakak...kenapa kamu ke sini, jangan bilang kakak mencuri kartu memoriku.''tuduh Lyon. Ia menutup pintu kamar.


''Memang aku terlihat seperti pencuri? Aku datang ke tempat ini karena penting tahu. Kalau gak penting aku mana sudi ke kamar yang sudah seperti gudang belakang ini.'' David bangkit menghampiri adiknya.


''Kakak mau bicarain apa?''tanya Lyon sambil menghempaskan dirinya ke kasur.


''Tentang asistenmu. Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama dia.''tebak David. Bantal jumbo di lempar ke arah David.


''Kalau gak penting keluar.'' Lyon memukuli kakaknya dengan guling.


''Lyon, aku peringatkan jangan dekati anak ******* itu.''


''Hah..******* kak?''


''Ya, aku sudah menelusuri latar belakang keluarganya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kamu harus hati-hati.''


''Gak mungkin...Amira gak mungkin seperti itu. Kakak pasti salah paham.''bantah Lyon, tangannya masih menggebuki David dengan guling.


''Makannya kamu baca dulu artikelnya.''David melempar beberapa kertas hvs ke lantai.


Lyon memungutnya. Matanya terbelalak saat melihat foto yang terpampang di halaman pertama, foto seorang wanita yang mirip sekali dengan Amira. Foto itu menunjukkan dia dengan pakaian agak terbuka dikelilingi banyak laki-laki.


''Ini Amira, kak?''tanya Lyon tak percaya.


''Bukan, itu ibunya yang telah meninggal sembilan tahun yang lalu. Wanita itu sering bepergian menemui banyak laki-laki. Oleh karena itulah ia menyerahkan tugas-tugas rumahnya kepada putrinya. Suaminya tak menyukainya. Makanya, setelah kematiannya suaminya segera pindah rumah.''


Lyon terdiam menyimak penjelasan kakaknya dan membaca informasi yang tertulis di kertas.


''Kamu masih suka sama asistenmu?''tanya David setelah menjelaskan semua informasi yang ia dapatkan.


''Amira itu menyimpan banyak rahasia ya...keluarganya pasti rumit.''


****


Amira pov


''Amira...akhirnya kamu bangun juga.''


''Vera, di mana ini?'' Aku mengeliat sejenak.


''Hm,,di kamar. Demammu sudah turun. Tahu gak siapa yang membawamu ke sini?''


''Siapa?''


''Lyon.''


''Hah...?''


Lyon yang membawaku ke sini? Masa, sih dia sebaik itu...


''Gara-gara kamu juga Lyon dan Liona bertengkar.''


''Waduh, gawat...terus gimana?''tanyaku cemas. Gak mungkin khan Liona cemburu padaku.


''Akhirnya nyonya yang menangani.''


''Huh...syukurlah. Aku hatus minta maaf pada Liona dan berterima kasih pada Lyon.''tekadku.


''Lyon sudah pergi keluar rumah.''


''Waduh...telat dong. Sekarang jam berapa?'' Bola mataku mencari jam dinding.


''Jam delapan cantik.'' Vera merangkulku. Itu artinya kita bolos sekolah. Vera setia menungguku sampai aku bangun. Terima kasih ya...


''Kita bolos dong.''kataku. Vera tertawa keras-keras.


''Sekarang libur Amira.''


Oh iya baru ingat hari ini hari minggu. Saatnya libur! Aku mau pulang lebih awal, ah.


''Amira, ingat kamu full kerja hari minggu.'' Kepala pelayan menghadang langkahku.


''Kok bisa nek?''


''Jangan lupa hukuman tuan muda kedua.'' ucap nek Beti tegas, pelayan yang sudah mengabdi pada keluarga Akmarahulla sejak David lahir.


Nenek lampir ini bekerja sama dengan tuan muda...''Oke, apa pekerjaannya nek?''


''Belanja kebutuhan sehari-hari. Ini daftar belanjaannya.'' Kepala pelayan menyerahkan selembar kertas hvs, penuh dengan tulisan. Ini sama saja penyiksaan.


Aku kembali ke kamar mengambil kunci sepeda. Vera mengikutiku.


''Amira, aku ikut dong.''desisnya.


''Loh, kok ikut sih? Gak mau pulang ke rumah?''


''Aku pengen belanja. Pokoknya pengen belanja.''rengek Vera.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2