My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Pencurian


__ADS_3

''Lihat...lihat...itu Lyon Akmarahulla bersama asistennya. Mesra banget."ujar salah seodang mahasiswa dari jendela. Hasna ikut mellngookan kepala ke luar jendela. ruang kuliah yang menghadap jalan.


"Mereka ada hubungan apa ya?"tebak mahasiswa lain memakai topi abu-abu.


"Bukannya Lyon sudah resmi dengan Liona?''gumam mahasiswa lainnya.


"Oh ya?''tanggap mahasiswa lain.


"Liona katanya sudah isi."gosipan mucul.


"Terus si asisten itu mau ngapain? pdkt?''


"Ah..asisten khan orang yang harus menyertai ketua/bossnya khan?''


"Apa iya?"komentar Hanan dingin.


"Lihat itu! Ada mobil bmw mendekat. Mereka sama-sama melambaikan tangan. Oh...ada seeseorang yang berpakaian modis turun dari mobil.''


"Mereka mau ngapain, yah?"


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


*Nyonya. Sekarang tinggal mengkampenyekan proyek kita kali ini." kata Amira.


"Kalian sudah izin? Tinggal sekian juta khan?" kata Nyonya.


"Ah.. kak David datang." kata Amira.


"Mom, anak - anak kedokteran sudah berkumpul di halaman." kata David.


"Baiklah." kata Nyonya.


Nyonya berjalan menuju halaman sementara kami menguntitnya. Aku deg - deg kan saat Nyonya naik mimbar. Oh,ya, Nyonya adalah satu dosen di universitas ini. Nyonya kini tengah memaparkan tentang penyakit yang baru kutemukan dan mengenai biaya diperlukan untuk pengobtan Bunda.


"Aku baru tahu ada penyakit seperti itu." gumam Hanan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Bu..Bunda." Aku agak terkejut saat melihat Bunda sudah jalan - jalan di taman rumah sakit.


"Dokter, obat nya sudah habis. Dokter mau mengecek saya?'' Bunda tersenyum. Guratan kesedihan.


Aku terdiam sejenak. "Tidak. Bunda lupa sama saya?''


"Dokter khan yang membantu kesembuhan saya.''


Aku menunduk. ''Jadi selama ini Bunda tidak mengenalku?''gumamku. Yah, maklum saja sudah belasan tahun kami saling tidak tahu kabar. Dulu, aku menganggap melihat Bunda lagi adalah hal yang mustahil. Nyatanya, kini aku ada di sisi kanan Bunda.


''Coba dokter tebak, umur saya berapa?''tanya Bunda tiba-tiba. Aku heran dengan pertanyaannya. Kenapa tanya umur kepadaku? Seingatku Bunda meninggal pada umur 33 tahun. Sekarang umurku 20 tahun.Berarti umur Bunda sekarang 45 tahun.

__ADS_1


"45 tahun, Bunda."jawabku dengan tenang.


Bunda malah menggeleng-gelengkan kepala. "Mana mungkin. Umur saya baru tiga puluh tahun. Lagipula saya mempunyai empat anak yang masih kecil-kecil."


"Oh ya?''Sejujurnya, aku merasa sangsi dengan pasien pertamaku ini. ''Kalau begitu bisa kau sebutkan nama-nama mereka?''pintaku.


''Galang...Auna....Amira...Galih...sama si bayi.''Bunda masih ingat meskipun terbata-bata.


"Maaf, Bunda. Saya Amira Amana. Sepuluh tahun telah terlewati.''terangku perlahan. "Saya bukan anak kecil yang merengek karena kalah bertengkar lagi.''


''Dokter anakku? Amira dokter?''tanya Bunda tak percaya.Bunda langsung memelukku. ''Aku sungguh tak percaya dengan kenyataan ini.''


''Di dunia ini tak ada yang mustahil, Bunda.''


Seseorang berdehem. Kami menoleh. "Roy Carle."gumamku. Roy bersama Lily berjalan beriringan menghampiriku. Mereka memberiku selamat.


"Sejak kapan kalian datang ke sini?''tanyaku.


Lily langsung nyolot. "Kemarin.Tapi kamunya gak ada. Syukur hari ini ketemu. Tante sudah mendingan?''


"Iya. Ini siapa ya?''tanya Bunda.


"Lily, Tante."jawab Lily sembari tersenyum dan menyalami tangan keriput Bunda.


"Oh, Lily. Gimana kabar Budhemu.Sehat khan? Udah lama gak denger kabarnya?'' Bunda basa-basi yang gak tepat. Suasana hati Lily berubah. Auranya menakutkan. Aura dendam.


...****************...


Aku mengadakan pertemuan khusus denganteman-teman satu jurusan. Aku mengajukan beberapa analisis mengenai penyakit yang baru kutemukan.


Beberapa temanmembanyahki. Aku mencontohkan yikus yang kutangkap di loteng tempat Arbei tinggal. Tikus itu kusuntikkan penyakit yang menjangkiti Bundaku. Tikus itu kejangokejang. Lalu, aku menyuntikkan penawar. Tikus kembali kesadarannya.


''Kalau gitu, apa nama penyakitnya? Termasul golongan apa?''tanya pria asal Klaten. Aku langsung memaparkan penjelasan yang memperkuat analisaku sehingga mereka tak ada yang bisa membantah.


''Baiklah. Ada lagi yang mau bertanya?''tanyaku.


...****************...


Rumah Amira Amana


Aku mengecek kalender. Ah...dua hari lagi kakakku menikah. Ke mana perginya aku selama ini sampai lupa keluarga? Aku berbaring di tempat tidur. Lelah banget hari ini. Aku matikan lampu.


Seseorang menyalakan lampu. Aku segera bangun. ''Apa-apaan ini?''


''Angkat tangan atau nyawamu melayang!"gertaknya.


Oops, mau gak mau aku mengangkat kedua tanganku. Aneh, kenapa dia sendirian? Lagipula, ngapain aku harus ke rumahku sih? Bukan ke rumah Akmarahulla. Aku mengerutkan dahi.


"Mau apa kamu?''tanyaku. Mungkin saja dia hanya maling. Jadi aku gak perlu takut dengan gertakannya. Aku menoleh ke belakang. Hasna tampak tertidur pulas. Sekujur tubuhnya ditutupi selimut.

__ADS_1


"Serahkan berkas penilitianmu!"katanya. Hah? Penelitian apaan? Aku gak pernah melakukan penelitian apa-apa. Aku baru ingat tentang pebelitian ayah Elena tentang penyakit yang menjangkiti Bunda.


"Oke...bisakah kau tenang sedikit? Aku akan memberikannya. Biar aku cari di lemari ini."negoku. Mencari lertas penelitian itu gampang. Aku sengaja menaruhnya di loker khusus. Untungnya lagi, aku sudah menyalinnya ke komputer.


Dia langsung menyambar kertas penelitian lalu menghilang ditelan kegelapan.Lampu kembali padam.


...****************...


Suara panggilan masuk. Aku merogoh kantong celana. Kak David, dia memberiku kabar buruk bahwa penyakit ini beritanya sudah tersebar dimana-mana. Hanya dalam waktu semalam?


"Kau tidak membuang kertasnya atau mengirimnya pada orang lain khan?''tanya Kak David memastikan.


''Sudah dirampas pencuri.''jawabku polos.


"Baka*!"bentak Kak David.


Aku menggigil ketakutan. "Kakak gak tahu situasinya sih. Dia berpenampilan hitam-hitam dan membawa senjata api. Apa boleh buat.''


''Aku gak mau tahu. Sekarang tugas kamu adalah membalikkan fakta.''sergah Kak David.


"Tapi itu gak mungkin,Kak.''Aku membantahnya.


"Di dunia ini tidak ada yang mustahil.''kata Kak David tak bisa ditawar lagi.


Aku tertunduk. ''Oke..oke...akan kucoba.''


Selesai menelpon, aku kembali ke kamar. "Hasna...Hasna...Has?''Aku membangunkan Hasna sambil menaril selimutnya.


Aku gak percaya. Yang semalam tidur hanya kain. Ke mana Hasna? DEG! Perasaanku menjadi tak menentu. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?


Aku menemukan secarik kertas di atas ranjang. Isinya:


Trims, sobat atas tampungannya. Aku banyak berhutang budi padamu. Angkat tangan atau nyawamu melayang!


حسناء


Gemetar tanganku saat membacanya. Pengkhianat! Hasna pengkhianat! Aku mengambil HPku lalu mengechat Hanan.


Mira: Temanmu itu baik,khan? Tau gak di mana dia sekarang?


Hanan:.... Gak tahu! Aku minta maaf.


Mira:Knp? Dia itu baik khan?


Hanan:Iya, tapi aku gak tahu latar belakang keluarganya. Aku gak tahu asal usulnya.


Aku shocked, seketika duniaku menjadi gelap.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2