
Aku siuman di tempat yang berbeda, di rumah sakit. Hanan di sampingku. ''Amira!"serunya saking gembiranya. Aku hanya kedip-kedip. "Aku...aku minta maaf karena aku gak tau asal-usul Hasna. Aku-" Mulut Hanan dibungkam oleh Albert.
"Bagaimana keadaanmu dokter?''tanya Albert.
Aku memukul-mukul kepalaku. ''Payah. Aku terjebak masalah baru. Aku kurang hati-hati menyimpan rahasia. Aku teledor dengan penampilan orang. Aku hanya melihat orang dari penampilan luarnya saja. Aku gak menyangka orang itu adalah Hasna. Elena bisa marah besar padaku. Pun Doktor A, Oommu."
Semua terdiam. Aku bertanya lagi. "Lalu bagaimana keadaan Bunda? Bagaimana kabar keluargaku? Apa yang bisa kulakukan jika aku hadir di tengah-tengah mereka? Oh ya, berapa hari aku pingsan?''
Hanan menjawab, ''Dua hari. Itu pun kondisimu masih lemah.''
''Mengenai berita itu, orang pasti menganggap ini adalah jasa Oomku.''kata Albert. Ia menghela napas panjang. ''Yah, meskipun yanh mengerjakan kami. Keluargamu menganggapmu sebagai malaikat penyelamat jiwa Bundamu. Meskipun Bundamu hilang ingatan. Iya khan?''
Aku berpikir sejenak. ''Aku mau ke Semarang. Aku mau menghadiri pernikahan kakakku. Albert, bisakah kamu mengantarku?''tanyaku.
''Yakin nih? Kondisimu lemah,lho.''kata Albert khawatir.
''Gak masalah.''jawabku.
...****************...
Aku menangis bahagia saat melihat Kak Avie bersanding dengan mas Dimas. Namun yang menyakitkan, Ayah bersanding dengan Mama tiri sebagai pihak orang tua mempelai wanita. Sementara Bunda... Bunda hanya duduk di antara deretan keluarga pihak wanita. Anehnya, Bunda terlihat sangat bahagia. Di sisi beliau, Bayu dan Tante asyik bersenda gurau dengan Bunda.
''Assalamu alaikum.''sapaku. Kemudian aku menyalam-nyalami mereka.
''Ini dokter yang menolong penyakit saya ya?''tanya Bunda. Ugh, rasanya sesak saat disebut orang lain.
''Iya, saya Amira, putri kedua Bunda.''benahku perlahan.
''Oh..iya..iya...Amira! Ada yang perlu saya sampaikan padamu nak! Oh ya..yang ini siapa?''Bunda menunjuk ke arah Albert.
"Selamat pagi Tante. Saya Albert, teman Amira."Albert memperkenalkan diri.
"Pagi Mas."
"Loh, kok ganti cowok lagi sih?''sindir Rina. Aku langsung menyikutnya.
"Kukira gak datang. Alhamdulillah sampai. Sehat khan dek?''tanya mba Novi.
"Alhamdulillah,sehat.''
"Wajahmu sayu banget,Mir.''komentar Kak Galang.
"Iya, habis dari magang di rumah sakit.''
"Oh, ya, tahun depan udah wisuda ya Mba'?''tanya Citra yang baru turun dari panggung. Aku manggut-manggut. Komentar mereka macam-macam.
"Kamu salam-salaman dulu sama keluarga Mas Dimas.''ujar Bayu. Ada secercah cahaya harapan di sorot matanya.
"Aku pengen foto!"kataku.
__ADS_1
"Eh...mas Albert mau nemani mba' Mira?''tanya Citra. Albert tersenyum sopan.Dia menggenggam tanganku.
''Ini baru namanya harum mawar yang sejati.''komentarnya. Maklum, pecinta bunga, pasti komentarnya tentang bunga.
''Ini siapa ya? Putrinya mas Kirom?''
''Iya mbah. Ini Amira, putri kedua.''jawabku sopan pada seoranh nenek memakai kebaya dan selendang. Berkas-berkas kecantikan di masa mudanya masih terlihat. ''Yanh ini teman kuliah saya, Albert.''
''Siapa? Albet? Alber?''
''Albert, mbah.''
''Oh, ya itu..''
''Kalau yang ini wangi seribu bunga.'' Ah, lagi-lagi komentar tentang bunga.
''Oh ya? Ini wanginya mantap.''
Aku melirik ke arah panggunh, aku melihat kak Avie masih tegar duduk di atas kursi pelaminan. Aku melirik ke arah mama tiri. Rasa kebencian dan dendam bergejolak di hatiku.
Tiba-tiba hp Albert berbunyi, dia segera mengangkatnya, tapi lagi-lagi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pasti dari mamanya.
''Btw, mamamu sekarang kerja di mana?''tanyaku usai menelpon. Dia menaruh HP di sakunya.
''Buat apa kamu nanya-nanya. Gak penting tahu.''
JLEB. ''Oke..''kataku sambil mengacungkan jempol. Aku cuma basa-basi apa gak boleh?
''Iya....!Masa sih..masa sih mereka?''
Tiba-tiba Bunda, Tante, Bayu, dan mas Galang berdiri dan berlari-lari kecil menyambut tamu yang baru datang. Perasaanku makin gak menentu.
''Dariapada tegang mendingan kita lihat langsung saja.''ajak Albert. Aku mengangguk tak yakin, tapi kupaksakan diriku mengikuti langkahnya.
''Halo, mba' Melan.''sapa Nyonya Akmatahulla.
"Kamu to dek...'' Mereka berjabat tangan. Aku terpaku saat melihat dua tuan muda bersama pasangan mereka. Rasa canggung menderaku. Apalagi tangan kiriku di genggaman Albert.
''Kak David, Tuan Lyon, Liona, Mba' Sayla.'' Aku perlahan mudur, lalu menyingkir dari mereka.
Di tempat ini terjawab sudah hubunganku dengan mereka. Kami masih punya hubungan kekerabatan!!! Kenapa dulu aku tidak tahu menahu tentang mereka? Di hidupku hanya Bayu, Bayu, dan Bayu.
"Loh, Amira mana?Padahal saya mau kenalkan pada kalian.''ujar Bunda.
''aduh, Budhe. Kami sudah kenal.''jawab Kak David dan Lyon bersamaan.
"Oh, begitu ya? Tapi kaliam sudah beritahu rencana saya dulu, belum?''
''Rencana apa Mba'?''tanya Tante.
__ADS_1
"Saham saya, saya serahkan sepenuhnya pada Amira.''kata Bunda.
"Ai..gila.''komentar tuan muda terutama Kak David.
"Budhe..Budhe serius?''
''Iya. Solanya dia anakku satu-satunua yang mirip denganku. Aku tahu, dia pasti menderita sepertiku karena kalian tahu sendiri khan? Aku punya banyak kenalan laki-laki?''kata Bunda.
"Amira gak percaya ini.''simpul Kak David. "Dia bakal gak percaya kecuali kalau Budhe yang bilang sendiri.''
"Repotnya di tengah kerumunan ini Amira menghilang.''tambah Lyon.
"Ya sudah, cari dia keburu pergi. Dia itu bisa hilang tiba-tiba."perintah Liona.
Sementara aku menangis di dekat pancuran air. Seandainya aku mendengar kabar baik ini. Aku mengajak Albert pulang ke Jogja.
...****************...
"Kamu ngapain nangis? Harusnya kamu senang tahu pihat tamu itu.''tanya Albert di perjalanan pulang. Dia sibuk menyetir mobil. ''Kamu itu calon dokter lo.. Harusnya tahan nangis dong."tambahnya.
''Kamu gak tahu sih siapa mereka. Sedih tahu. Bertahun-tahun aku hidup sama satu saudara, terus aku pindah, lalu pindah lagi ke sekolah swasta yang penuh fasilitas, lalu bertemu orang-orang yang bikin hatiku capek, bersaing dalam hal apa pun, lalu dia yang menang, lalu aku bekerja di rumahnya, setiap hari lihat mukanya, lalu sekarang dia saudaraku! Keluarga besarku! Sok bergaya dia! Huh!"
"Kamu tu harusnya mikir yang panjang dong. Ambil hikmahnya bukan yang jelek-jeleknya doang. Dengan begitu kamu jadi rendah hati khan, bisa gaul sama kalangan bawah khan, biarpun orang kaya gak modis tapi kamu dapat kepercayaan juga khan? Justru yang malu itu mereka bukan kamu. Aneh!"cerocosnya.
Aku berhenti menangis. "So, aku harus naik lagi dong harga dirinya! Setelah aku dibully mereka sampai lelah lahir batin. Butuh kesabaran extra buat ngadepin mereka."Aku masih terbawa emosi.
"Trus buat apa kamu capek-capek sabar klo tahu kenyataannya malah ngedumel. Otakmu buat mikir, Mir. Bukan cuma buat pelajaran doang."sergah Albert.
Aku perlahan tenang. "Iya, aku ngerti kok. Aki masih belum dewasa menerima kenyataan ini. Tapi, aku akan belajar menata hidupku perlahanilahan. Akan kuobati luka-lukaku di masa lalu dengan menatap masa depan yang cerah.''tekadku.
Albert tersenyum. "Nah, gitu dong. Psthink. Tahun depan sudah jadi dokter lo. Jadilah dokter profesional,dengan hati yang tulus membantu orang yang kesulitan, kamu pasti dapat kepercayaan banyak orang,Mir.''
''Terima kasih Albert. Terima kasih atas nasihatnya. Kamu memang teman yang baik.''ucapku tulus.
Hari sudah gelap. Lampu jalan nyala.
"Oh ya, mampir dulu di hotel buat istirahat. Aku punya kenalan di sana."putus Albert.
Di hotel, Albert mengenalkanku pada wanita yang kira-kira seumuran Bunda.
''Selamat malam Tante. Nama saya Amira, teman kuliah Albert.''kataku sambil membungkuk. Budaya dari buyutku yang masih membekas dalam darah keturunannya.
Tante itu ikut membungkuk. ''Selamat malamjuga. Selamat datang di hotel saya. Semoga tempat ini menyenangkan."
"Oh, ini hotel Tante? Tante yang mendesain semuanya?''tanyaku berdecak kagum. Tante wajah Jepang itu mengangguk.
Karena sudah malam, aku diantar ke kamar tidur.
"Selamat malam!"
__ADS_1
Bersambung...