
Amira pov
"Kamu senasib denganku.'' Aku menoleh. Seorang wanita muda bersandar di tiang. Rambutnya dikucir dua sebahu.
''Vera!'' decakku. Bagaimana bisa?
''Ceritanya panjang.''
''Dek Aman. Anda dipanggil nyonya.'' Aku berbalik badan dan mengikuti langkah si mbak yang memanggilku. Tepat di ruang tengah, aku diceramahi bak tersangka. Ini pertama kalinya aku takut kepada orang lain.
Malamnya, tempat ini diadakan pesta. Para pembantu sibuk mondar-mandir bekerja mengantar makanan dan minuman. Semua sibuk. Aku yang masih pemula duduk termenung di taman belakang.
''Mira, ngapain lo di situ?'' tegur Vera.
''Aku pengen pulang.'' keluhku.
''Mimpi kamu, orang yang sudah tetikat keluarga Akmarahulla gak bisa pulang.''
''Tapi, aku takut kakak mengkhawatirkan aku. Aku belum izin padanya.''
''Bilang saja menginap di rumah teman malam ini terjebak hujan.''
''Benar juga.Makasih Vera.''
Vera tersenyum tipis,''Sekolah kita itu otoriter. Perintah ketua adalah perintah raja. Jadi begini deh. Sesuatu yang jelas- jelas melanggar hukum negara.''
''Di mana Lyon?''
''Buat apa menanyakan ketua gak jelas itu?''
''Aku asisten pribadinya. Aku berhak menanyakan keberadaannya.''
''Oh, berarti tugas kamu yang membangunkan dia setiap pagi, merapikan kamarnya, dan menyiapkan seragamnya. Belum lagi kalau dia sewaktu-waktu butuh bantuanmu.''cerocos Vera.
''Apa-apaan? Dia pikir aku apanya?''
''Itulah tugas asisten pribadi.''
''Sudah seperti ibunya.'' gerutuku.
''Sebelum tidur malam kamu juga membereskan kamarnya. Nanti juga ada kerja bakti ruang tengah biasanya ketika ada pesta. Tiap pagi baik asisten pribadi maupun pembantu biasa terjun ke dapur, menunya sesuai selera Tuan rumah. Belum lagi tempat-tempat yang biasa dipakai tuan muda. Kamulah yang membereskan.''
Aku tertawa, benar-benar penghinaan. Dia ingin membuatku menderita? Lihat saja nanti siapa yang akan menang.
''Lalu bagaimana dengan hewan peliharaan?'' tanyaku kemudian.
__ADS_1
''Tenang saja. Tuan muda peliharaannya setan gepeng.'' Kami tertawa. Baguslah! Aku tidak perlu berurusan dengan hewan- hewan.
*****
Aku menaiki anak tangga dengan langkah perlahan. Tangan kananku membawa kunci kamar. Cklek, ini dia kamar Lyon. Alamak! Ini kamar atau gudang sih... Barang- barang eletronik bertebaran di mana-mana. Apa dia punya kesibukan lain sehingga tak sempat membereskan kamarnya? Aku bertaruh butuh tiga puluh menit untuk membereskan kamar.
Segera kusingkirkan barang-barang yang mengganggu pemandangan ke kotak barang sambil ditata rapi. Setelah itu debu dibersihkan dengan penyedot debu. Kasurnya ku ganti seprai.
Klek, pintu kamar dibuka.
''Amira.'' Akhirnya kau muncul juga.
''Ya?''
Raut mukanya tampak kelelahan. Mungkin karena faktor pesta tadi bertemu banyak orang. Aku tersenyum, membukakan lemari dan mengambilkan piyama untuknya.
''Hei, jangan lupa buku kedokteranku.''sindirku seraya menyerahkan piyama kepadanya. ''Kenapa kau menjebakku dan menjadikanku sebagai pembantumu? Kau tahu waktuku tersita banyak karena kau!'' tundingku.
Lyon terkekeh, ''Memang kenapa? Kau tampaknya sangat membenciku?''
''Memangnya apa lagi? Pertama kau menyita buku ku dengan alasan konyol. Ketua adalah raja. Perintah ketua sama dengan perintah raja. Kedua, kau menjebakku dan menjadikanku asistenmu. Memang benar kau adalah orang berbahaya.'' Akhirnya semua uneg-unegku keluar juga. Lihat, bagaimana kau menjawabnya.
Lyon kembali terkekeh, ''Alasan pertama, memang dari awal sudah menjadi kesepakatan satu kelas. Alasan kedua, kau sendiri memecahkan guci peninggalan alamarhum ayahku. Tidak merasa bersalah?''
Ah, dia memutar balikkan fakta. Membuatju bertambah kesal. ''Oke, aku akui aku memang salah...tapi kau harus ingat penyebab masalah ini adalah kau! Kau yang menyeretku ke rumahmu. Permisi.''
Bammm!
Aku mengendap-ngendap, berjalan mencari pintu depan. Tapi aku malah tersesat. Rumah ini terlalu besar dan denahnya memusingkan.Karena terlalu lama mencari jqlan keluar, aku kepergok Kepala Pembantu, Bibi Beti namanya. Ia menunjukkan ruangan tempatku bermalam.
Aku membuka pintu kamar khusus pembantu. Ruangannya sempit, seperti kamarku kalau dibagi dua. Ranjangnya ada dua dempetan lagi.
Ah, aku baru tersadar ada orang yang mendengkur. Aku membangunkan orang berselimut tersebut.
''Astaga!'' orang itu bangun karena terusik tidurnya.
''Sorry...a-aku.''
''Mira. Sudah balik?'' Ia menguap lebar. Aku mengangguk perlahan. ''Tadi kepala bi Beti bilang kita sekamar. Kamu jangan khawatir, tempat ini strategis kok. Dekat dengan dapur, kamar mandi dan taman belakang.''Asisten sekamar denganku tak lain adalah Vera. Ia bercerita bagaimana ia bisa menjadi asisten di sini.
Lyon benar-benar menyebalkan! Memanfaatkan perasaan Vera dengan menjadikannya babu. Kalau aku masih bisa ditolelir, aku tak sengaja memecahkan guci antik yang harganya milyaran. Pria seperti dia membuatku muak.
''Baiklah, kita harus tidur supaya bisa bagun subuh. Nih selimut!'' Vera melemparkan selimut yang dipakainya untukku. Padahal ia hanya punya satu selimut tersebut.
''Kamu yakin?''
__ADS_1
''Iya ga papa pakai saja.'' Aku harus belajar banyak darimu Vera. Bagaiman kau bisa bertahan selama satu tahun di sini.
Dan hari pun berganti....
Paginya, aku betkecimpung di dunia perdapuran. Dunia yang sebelumnya jauh dari duniaku. Biasanya kak Avie yang ribet mengurus soal memasak sarapan tiap pagi. Aku tinggal mandi dan persiapan sekolah. Makanya, saat ini adalah ujian besar bagiku. Pagi- pagi buta bangun, memotong-motong daging dan sayuran.
''Kak, menu pagi ini apa?''tanyaku pada kak asisten yang menyambut kedatanganku.
''Sup ****. Ini adalah menu favorit tuan rumah kita. Ada masalah.?'' tanya kak asisten.
''Saya muslim kak.''
''Oh, jadi tidak bisa sarapan bareng ya... Oh, iya ada roti tawar di lemari makanan. Kamu bisa memakan itu.''
''Terima kasih, kak.''
Selesai memasak, kini waktunya membangunkan tuan muda tepatnya jam 06.00.
Kuketuk pintu kamar Lyon. Apakah dia masih tertidur?
''Tuan muda kedua, selamat pagi!" Aku membuka pintu kamar. Ranjangnya kosong. Sementara di KM terdengar gemericik air. Bagus! Selagi masih mandi, aku membereskan tempat dan kamar ini!
Tak berselang lama, tepat aku selesai beres-beres Lyon keluar dari KM.
''Amira, selamat pagi!"sapanya aambil tersenyum. Ia tampak segar setelah mandi.
''Ya, sarapannya sudah siap,lo...Ini seragamnya'' Aku berusaha sesopan mungkin, memposisikan sebagai asistennya.
''Terima kasih.''
''Anu...karena urusan saya sudah selesai saya turun dulu...ada hal lain yang belum saya selesaikan.''pamitku.
''Ah, kenapa buru-buru? Kau belum menyiapkan buku ku!'' Lyon menghalangiku.
''Tampaknya tuan terlalu lelah semalam sampai tidak sempat menyiapkan buku.'' Aku menuju rak, mengambil buku untuk pelajaran hati ini di sekolah. Memang rasanya aneh, melayani tuan tapi temannya sendiri. Padahal aku sendiri belum ngapa-ngapain!!! Aghhr....
''Tuan, bukunya sudah saya siapkan. Saya permisi dulu.''
''Tunggu, mari kita turun bersama.''Ia sudah memakai seragam dengan rapi.Terlihat keren dan berwibawa. Memang pantas menjadi ketua kelas kalau sifat arogannya dihilangkan.
****
''Vera, kamu mau berangkat kapan?" tanyaku sambil menyisir rambutku. Aku masih memakai baju kemarin sore, karena ke sini modal baju kemeja putih dan rok kotak-kotak warna biru yang melekat di badan.
''Ntar aja. Kamu yakin gak pakai seragam ke sekolah? Kedisiplinan sekolah sangat ketat loh.''
''Habis, mau gimana lagi...''
__ADS_1
''Ini, pakai saja punyaku. Sebenarnya buat cadangan sih...'' Vera menyodorkan seragam resmi sekolah elite.
Satu kebaikan lagi...Vera membuatku terharu.''Terima kasih, Vera.'' Ternyata orang-orang kaya tidak semenyebalkan pikiranku. Aku rasa aku bisa berteman baik dengan Vera baik di sekolah maupun di rumah. Terima kasih Vera...