
''Wah, Pakdhe. Selamat datang di pesta akikahan putra kami yang pertama.'' celoteh Vera. Ayah tersenyum tanggap.
''Siapa namanya, mas?'' tanya Ayah sambil menjawil pipi si bayi.
''Hamzah Abdul Halim.'' jawab Lime dengan senyum tanggung.
Kami bergabung dengan undangan lainnya.
''Ini mba' Mira?''
''Halo, Mir.'' Siori! Dia datang rupanya. Siori bersama satu anak balita cewek duduk di samping suaminya. Keluarga bahagia.
"Halo, sudah punya anak aja."
"Wakil ketua, apa kabar?" sapa Arin. "Aku juga belum nikah lho."
"Oh ya? Sama dong."
"Dokter Amira sehat?" sapa Lyon-sama yang memangku anak pertamanya. Padahal beberapa hari yang lalu dia ikut trjun menangani pasien.
"Iya... makasih ketua."
"Geng ABC, masih kaya dulu. Gimana saham kalian, lancar terus?" Masih bernostalgia masa masa SMA. Alangkah cepatnya waktu berputar.
"Ayah senang kamu punya teman level atas." ungkap Ayah.
"Pakdhe Kirom, silahkan bicara di pertemuan tak resmi ini." kata Lime mempersialahkan.
"Saya?"
"Iya, Pakdhe. Pakdhe khan paling tua di sini. Hanya sepuluh menit kok." Yang lain ikut mengangguk, pertanda setuju.
"Terima kasih atas undangannya untuk anak saya, Amira.
Sudah bertahun tahun, saya tidak mendidiknya. Saya biarkan dia tumbuh dengan alami tanpa pengawasan saya.
Saya menyesal, teramat menyesal menelantarkan anak anak saya.
Saya malah sibuk mengejar karir. Menjadi pejabat negara, mendapat dukungan rakyat. Menjelajahi pulau Jawa.
Padahal, keluarga saya yang lebih membutuhkan saya.
Di usia senja ini, saya berusaha memperbaiki hubungan saya dengan keluarga saya. Menganyomi mereka sehingga kalau saya meninggal siapa lagi yang lebih kehilangan saya kalau bukan mereka? Siapa lagi?
Oleh karena itu, saya berharap keluarga yang masih tunas ini menjadi keluarga yang utuh, saling mengasihi, saling mengisi kekosongan, tanggung jawab, dan rela berkorban.
Semoga keluarga tunas ini menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahman. Amin..." kata Ayah seperti pidato.
"Amin." sahut yang lain.
Kumandang adzan maghrib...
"Adzan tuh adzan." kami pun berdoa bersama-sama lalu buka bagi yang berpuasa.
"Wah, kalau sering sering begini gak perlu masak dong." canda Ayah disusul tawa teman temanku.
Ah, Ayah. Seandainya dulu kita selalu bersama...
Tapi, biarlah. Semua itu sudah lewat. Yang bisa diperbaiki tentu saja diperbaiki. Seperti hubungan keluargaku yang kini sudah erat.
__ADS_1
🌈🌈🌈
Aku masuk klinik.
"Dokter, ada pasien yang mau melahirkan. Rambutnya pirang."
Eh, apa itu Elena? Aku melepas rangkulan Lyon. Aku segera ke ruang bersalin.
''Oeek....'' Bayinya lahir!
''Elena. Kamu, dek.'' Aku mengusap rambutnya dengan lembut. Syukurlah, dia melahirkan normal. Air matanya mengalir deras seperti tak percaya melihat kehadiranku.
''Mba' masih hidup?''
''Iya. Aku baik baik saja. Kenapa?''
''Syukurlah. Sesuai harapan. Di mana mas Galih?''
''Dia sedang bekerja. Kamu tunggu aja dia.'' kataku berbohong.
''Tolong beritahu kabar bahagia ini.''
''Insya Allah kalau aku sempat.'' jawabku dengan penuh kebingungan. Aku keluar ruangan. Lyon sudah ada di posisinya. Aku tersenyum. Masih sempat sempatnya memeriksa orang.
''Lyon-sama. Aku mau keluar sebentar untuk membeli mie ramen.'' pamit ku. Padahal aku mau menjenguk Galih.
...----------------...
''Mas Galang. Dokternya bilang apa?''
''Masih lemah nadinya. Aku sih percaya percaya saja.''
siapa suruh masuknya rumah sakit ini. lihat saja, tanda tanda kehidupannya semakin meningkat. beberapa menit kemudian ia akan sadar.
''Mba' Mira.''
''Aku tahu kok yang melukaiku malam itu kamu. Tapi, aku sudah memaafkanmu.''
''Mba' Mira.''
''Selamat ya. Anakmu lahir.''
''Mba' Mira. Aku minta maaf.'' Tiba tiba ia terkulai lemas.
''Galih... Galih... Bangun, Galih.'' kataku dan mas Galang panik. Aku mengguncang guncang tubuhnya.
Piiiip...
Alat pendeteksi detak jantungnya mati. Aku meraba kakinya. Dingin. Aku dokter, meskipun aku sering lihat orang meninggal, tapi tak kuasa menahan air mata kesedihan.
Mas Galang menutup seluruh tubuh Galih dengan selimut.
''Kenapa mbak?'' tanya seorang perawat Rumah Sakit itu keheranan saat aku mencopot infus dan segala macam.
''Adikku meninggal. Aku dokter Amira menyayangkan ini. Cepat urus jenazah adikku.'' perintahku. Aku masih pakai baju dokter. Sesaat kemudian, datang empat perawat membawa ranjang yang ada rodanya.
''Mas, aku masih ada kerjaan.'' Aku mencoba menghubungi kuarga di rumah.
🌈🌈🌈
__ADS_1
Gempar. Terutama Bunda. ''Ya Tuhan,,, baru sembilan tahun bersama anakku, dia sudah menutup kenangan.''isak Bunda. Yang lain ikut menangis, tapi tidak berkata kata. Orang datang mengucapkan bela sungkawa.
Pukul satu siang, jenazah dikebumikan.
Ya Allah... adikku kini sudah berpisah dari kami. Semoga dosa dosanya diampuni dan pahalanya diterima.
Aku masih termangu menatap makam yang tanahnya masih basah. Lily menepukku.
''Amira. Aku juga pernah kehilangan seseorang yang aku cintai. Dia adalah Lusi, kembaran Luki. Lusi meninggal karena penyakit mag kronis di umurnya yang masih belia. Semua itu sudah menjadi suratan takdir.''
''Aku tahu. Aku lebih memikirkan istri dan anaknya yang baru berumursatu hari. Aku bingung apa yang harus kukatakan pada mereka. Aku tidak ingin melukai perasaan Elena.''
''Pikirkan. Kalau kamu terus terusan di sini pekerjaanmu jadi terbengkalai, dokter. Bagaimana dengan pasien pasienmu?''
''Oleh karena itulah aku tak bisa melihat pasienku Elena. Aku tak kan kuat menahan derasnya air mataku. Aku tak tega melihat mereka.''
''Tenangkanlah dirimu, dokter. Kamu harus tenang di dalam menghadapi pasienmu.''
''Terima kasih, Lily.'' Aku bangkit.
''Mau ke mana?'' tanya Lily.
''Mau ke klinik. Aku mau bertemu pasien pasienku.'' Aku mengacungkan jempol. Begitu pun Lily.
🌈🌈🌈
''Wah, menyusunya kuat banget.'' komentarku pada bayi Elena. Kami di teras belakang klinik. Tepat di depan kamarku.
''Kamu sudah menyiapkan nama?''tanyaku pada Elena.
''Malika.'' katanya pendek. ''Kakak sudah menghubungi mas Galih?''
''Sudah, dia senang mendengar berita ini.''
''Tapi, dia tidak menanyakanku?''
''Bersabarlah Elena. Setelah aku memberi kabar gembira ini, dia menghembuskan napas terakhir.''
''Aghrr!!" Dia menyandar tembok. Malika bayi merah itu ikut menangis.
"Aku tahu kamu terpukul. Bahkan semua orang pun ikut terpukul. Bersabarlah Elena. Karena yang mengurusmu dan anakmu adalah Ayah langsung.''
''Ayah?''
''Ya. Ayah yang akan bertanggung jawab atas kehadiran kalian.''
Dan tahun pun berganti
Umurku genap dua puluh empat tahun. Beberapa orang menyarankanku ikut biro jodoh.
''Ngapain? Aku yakin jodoh itu datang sendiri.''
''Yeee, dulu sudah ada yang datang malah ditolak mentah-mentah.'' sindir Levy disusul tawa ngakak.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc