My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
eps 23 pulang kampung


__ADS_3

Jakarta, kota metropolitan, ke sanalah aku pergi, di sanalah kak avie bekerja.



''Kamu yakin alamatnya di sini?''tanya Lyon kepadaku.


''Iya, kakakku yang memberikan alamatnya sebelum pergi ke sini.''kataku yakin.


Kami sekarang berada di taxi. Pak sopir taxi sudah hafal jalanan Jakarta, jadi waktu aku beritahu alamatnya dia langsung mengangguk.


Bangunan bercat putih itu tempat tinggal kakakku yang pertama. Kak Avie nebeng di sini supaya gak susah-susah bayar kontrakan, tempatnya juga dekat sama tempat kerja kak Avie.


Yang di rumah cuma istrinya kakak pertama sama anak laki-lakinya. ''Oalah...Amira...'' Istri kakakku wanita keturunan China-Arab, dia pake jilbab kecil motif bunga-bunga sama pakai jubah, kelihatanya alim, beda banget sama aku.


Aku belum ketemu masku setelah hari pernikahannya. Menurut laporan Mba' Novi, masku masih merokok meski gak sesering dulu, katanya lagi sudah mulai sholat lima waktu meski agak telat-telatan. Aku tersenyum lega.


''Ini siapa?'' tanya Mba' Novi.


''Lyon, teman saya di sekolah.''


''Bukan pacar,nih?''goda Mba' Novi.


''Masih proses PDKT.''jawab Lyon disusul tawa jahil. Aku mencubit lengannya.


Dari dalam ruangan, keluarlah anak kecil berumur dua tahun, kulitnya kuning langsat, rambutnya ikal, hidungnya mancung, matanya bulat itu menghampiri Mba' Novi.


''Azam...itu ada tantemu, saliman dulu gih.''


''Gak mau, aku gak punya tante. Tanteku cuma tante Avie.'' Azam menolak, bibirnya manyun.


''Itu tantemu juga. Namanya tante Mira.''ujar Mba' Novi lembut.Azam akhirnya menyalamiku. ''Tuh, mas yang di sampingnya juga disalamin.'' Azam menuruti kata-kata mamanya. ''Nah, gitu dong...anak pintar.''puji Mba' Novi.


''Kakaknya Amira belum pulang kak?''tanya Lyon ke pembahasan inti.


.'Belum, mas. Biasalah asyik sama pacarnya.''jawab Mba' Novi zopan.


Aku berinisiatif menelpon kak Avie.


Azam menatapku, ''Tante nelpon siapa?''


''Nelpon tante Avie biar pulang.'' jawabku. Aku menjauh dari mereka, barangkali sinyal lemah. Mba' Novi dan Lyon pun berbincang-bincang ringan.


Setelah berkali-kali mencoba menelpon, aku kembali dengan tangan kosong.


''Gak diangkat.''laporku.


''Biasanya diangkat kok.''kata Mba' Novi. ''Coba saya telpon.Azam ambilin telpon mama di atas meja belajar.''


Azam berlari mengambilkan hp Mba' Novi. Setelah diambilkan Mba' Novi pun menelpon.


📞: Avie, kamu lagi di mana?


📞: Di rumah sakit Mba... Temen saya sakitnya kambuh. Kenapa mba?


📞:Cepetan pulang...ada yang nyari kamu.


📞: Siapa mba'?


📞:Amira, vie.


📞: Amira? Aku otw mba'


📞:Mba' tutup, ya. Assalamu alaikum.

__ADS_1


Selesai menelpon, Mba' Novi mengkodeku supaya menanti di pintu.


''Wah, mentang-mentang nomerku asing.''gumamku.


Tak berselang lama, terdengar bunyi deru motor memasuki halaman rumah.


Seorang wanita memakai baju kerja turun dari moyor, melepas helm, kemudian berlari kearahku.


''Amira!" Kak Avie langsung memelukku.


''Kakak...'' Air mataku tumpah, air mata bahagia.


''Kamu kapan sampai sini, dek?''tanya Kak Avie melepas pelukan.


''Satu jam yang lalu kak.''jawabku sambil mengusap air mataku.


Mba' Novi tersenyum,''Ayo masuk.''


Kak Avie tertegun melihat cowok yang berada di ruang tamu,'' Amira, ini siapa?''


''Lyon, kak. Temen aku satu sekolah.''jawabku.


''Selamat sore, kak.''sapa Lyon.


🍃🍃🍃


''Kak, kami pamit pulang dulu.''pamitku setelah dua hari di Jakarta.


''Pst... Lyon, jangan lupa yang aku omongin semalam.''pesan kak Avie misterius.


Lyon mengacungkan jempol. ''Kita ke Semarang.''kata Lyon.


Di Jakarta selama dua hari terasa singkat bagiku. Kini, aku akan bertemu Bayu, sepupuku dan keluargaku.



''Kamu ngapain ke sini? Mau minta uang biat biaya kuliah kedokteran? Mimpi kamu!"kata Galih sinis.


''Mba' Mira sombong banget dua tahun gak ke sini. Pasti ke sini mau bikin masalah. Kalau susah aja ke sini.''tambah Citra.


''Lyon, ayo kita pergi saja. Aku menahan emosi karena salah paham. Aku gagal bertemu nenek, padahal aku gak bisa ke sini karena gak ada biaya.


Aku pergi ke rumah Papa dan mama kedua, tapi aku malah mendapat celaan oleh mama kedua ''Melan ngapain ke sini, bukannya sudah mati karena keracunan!!''


Hatiku hancur. Aku sempat melihat seringain adik-adik tiriku yang gak kuketahui namanya. Ada yang seumuran Azam. Ini salahku menolak menginap di hotel.


''Sekarang kita mau ke mana lagi?''tanya Lyon melihat wajahku bersimbah air mata dan wajahku murung.


'' Kita ke rumah Oom Trian.''kataku kemudian. Lyon mengangguk. Ia masih teringat jalan menuju rumah Oom Trian.


Sampai di rumah Oom Trian, aku menangis tersedu-sedu di pelukan tante. Tante mengelus-ngelusku.


''Iya, mereka itu kurang kasih sayang dari seorang ayah, mereka gak bisa berhenti membenci papa. Tapi kenapa aku terkena imbasnya. Gak cukupkah penderitaanku?''


Tante membiarkanku menangis dalam dekapannya,'' Mira, kamu yang sabar ya nak. Jadilah wanita yang kuat.'' Tante menyemangatiku.


Lyon menatap kejadian ini, dia tidak ingin mengusik perasaanku yang sedang labil.


''Assalamu alaikum,Bunda.'' Suara ini mirip sekali dengan suara Bayu. Bayu masuk ruang tamu, begitu melihatku ia bertanya, ''Kenapa kamu nangis?''


Aku menggeleng pelan. Bayu mengambilkan tissu untuk menghapus air mataku.


Lyon menyapa Bayu,'' Bayu, lama gak ketemu.''

__ADS_1


''Lyon, kamu yang mengantar Mira ke sini? Terima kasih ya...'' Mereka berjabat tangan, danenatap dingin.


Aku takut mereka akan bertengkar.


''Aku punya lego, mau main bersamaku?''tawar Bayu setelah dua menit.


''Oke, siapa takut?''


''Yok, ke kamarku.''ajak Bayu.


''Fyuh...''aku menghembuskan napas lega.


''Bagaimana? Sudah agak mendingan?''tanya tante.


''iya tante.''


🍃🍃🍃


Rumah Liona Burmanista



''Rista! Visca!'' Liona setengah berteriak memanggil kedua adiknya.


''Kenapa, kak?''sahut mereka kompak.


''Ambilin pembalut sama kresek.''seru Liona dari KM.


Kecurigaan timbul di benak anak kembar itu. ''Kak, kalau gak tahan mendingan ke rumah sakit saja.''


''Ih, **** kalian. Memang aku mau lahiran? Cepetan.''kata Liona sewot.


''Iya...iya...sorry.''


Sepuluh menit kemudian, Liona keluar kamar mandi, dia kesal dengan ucapan dua adiknya.


''Makanya anak kecil ga usah baca berita kayak gitu! mending fokus belajar biar pinter kayak kakak ini.''


''Halah! kakak aja kalah pinter dari kak Lyon.''bantah Visca.


''Terus diputusin dan galau berhari-hari.''tambah Rista.


''Rista, Visca, wifinya kucabut lho.''gertak Liona.


''Mengalihkan pembicaraan.''kata Rista dan Visca kompak.


Liona pov


Sudah bertahun-tahun aomma dan appa meninggalkanku, aku sebagai anak pertama harus menanggung beban kehidupan dua adikku. Perusahaan appa kini dijalankan tuan Trian, suami adik perempuan appa. Menurut perjanjian di umur dua puluh tahun, aku batu boleh menjabat sebagai kepala perusahaan.


Aku merasa senang, ketika Lyon mengajakku berpacaran, karena kami sederajat, aku sering diajak kumpul-kumpul keluarganya. Aku sudah dianggap anal sendiri oleh nyonya akmarahulla.


Aku semakin bahagia dengan rencana perjodohan, kebahagiaanku sudah lengkap. Aku merasa menjadi wanita paling sempurna.


Entah kenapa, pandangan kasih sayang Lyon berubah saat bertemu gadis itu...dia sangat perhatian dengan gadis itu melebihi siapapun.


Teman-temanku sudah lama memberiku peringatan. Awalnya, aku gak mengerti apa yang mereka khawatirkan, setelah semua terungkap, aku lebih agresif untuk mendapatkan perhatian Lyon.


Tapi, tatapannya selalu datar. Aku bahkan sudah mengirim Robert buat mengalihkan perhatian si gadis, tapi usahaku sia-sia. Lyon lebih cerdik dalam menguasai suasana dan Amira gak sepolos yang kuduga.


Ah, seandainya gadis itu pergi...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2