My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Cinta Itu Buta atau Mati


__ADS_3

Di tengah temaramnya cahaya bulan, gadis muda asal Belanda itu memberanikan dirinya untuk menyatakan cintanya. ''Galih, aku mencintaimu.''kata Elena.


Rupanya Galih merespon dingin. Hal itu membuat hati gadis itu bak tercabik-cabik. ''Elena, kau pembunuh ibuku.''kata Galih.


''Itu dulu. Tapi aku berubah pikiran. Aku memberikan apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku.''suara gadis itu meninggi.


Galih tak menghiraukan kata-kata gadis itu. ''Pergi!''kalimat yang keluar dari mulut Galih mengakhiri pertemuan di malam yang sunyi itu.


Elena mundur perlahan-lahan. Air matanya tumpah bak anak sungai. Hatinya sesak. Ia pergi meninggalkan rumah Galih dengan isakan.


Galih yang tak peduli dengan Elena kini mengangkat telepon dari temannya. ''Bro, bentar lagi lulus nih!"


"Ah, paling nilainya segitu-gitu aja.''


''Yok, kelulusan nanti konvoi.''


''Di mana maunya?''


''Biasa...''


''Rambut pirang itu ikutan dong.''


''Cih, gak usah deh. Kasihan.''


"Ya udah bro. Sampai jumpa nanti di Try Out besok. Jangan lupa contekannya.''


''Siap!" Galih menutup telepon.


Ada beberapa chat masuk dari Elena.


Elena: Maaf ya bro, aku lancang bilang ke kamu.


Galih: Udah,ah. Lupain aja.


Elena: Tapi, kamu gak marah khan?


Galih:Udah, lupain ya lupain. Selesai.


Elena: Ok, bro.


Saat Galih balik badan, Bayu mengawasinya.


"Senang ya bentar lagi lulus. Mau lanjut di mana?''tanya Bayu.


"Kerja! Aku gak punya buang buat kuliah. Bunda mah Amira, Amira melulu. Apa gak cukup satu kali kuliah?''ungkap Galih.


"Itu khan hak Bibi. Kalau kamu mau kuliah, bilang aja ke Paman. Apa susahnya, sih?''saran Bayu.


''Ayah? Sejak kapan Ayah peduli sama kami? Apa kamu tidak ingat waktu pernikahan oemarin? Selesai acara, Ayah pulang bersama anak istri mudanya. Dia bahkan tidak senyum padaku.''kata Galuh berapi-api.


''Ok. Kalau gitu bekerjalah di perusahaan Ayahku.''tawar Bayu.

__ADS_1


''Kamu terlalu baik, Mas. Aku mau cari pekerjaan yang lebih menantang.'' Galih menolak tawaran Bayu.


''Itu sih boleh. Asal jangan sampai bentrok dengan aparat keamanan.''nasehat Bayu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mana Galih? Gadis Belanda itu berkali-kali ke rumahku dengan membawa kado. Wajahnya melas banget. Kami selalu berkata bahwa Galih sedang mengembara di kota lain untuk kehidupan lebih baik. Tapi, tetap saja gadis itu tidak percaya pada omongan kami.


Sampai Kak Avie melahirkan putri pertamanya, gadis itu tidak putus asa menanti kedatangan Galih. Aku heeran dengan ketulusannya.


''Emang kamu gak capek apa menanti?''tanyaku egois.


''Gak, Mba'. Aku tetap menantinya sambil memperbaiki diri. Lalu Mba' sendiri apa yang dinantikan?''


''Gak ada. Aku hanya butuh lulus S2, lalu membawa pulang ijazahku dan aku melihat air mata kebahagiaan Bunda.''jawabku.


''Apa Mba' tidak berusaha mencintai orang?''


''Mencintai? Hatiku sudah mati terlalu banyak terpautdengan pria berwajah tampan, tapi ujungnya mereka bersama yang lain. Hatiku terlalu dalam menyimpan luka, Lena.''


''Ah, Mba' terlalu pesimis deh.''


''Mungkin kelihatannya begitu. Namun, di lubuk hatiku yang terdalam, ada secercah cahaya harapan bahwa aku bisa memilikinya.''


Bayu, dua belas tahun lagi Bayi ini aku serahkan padamu! Apa aku salah dengar? Tidak mungkin! Waktu itu umurku sembipan tahun. Harusnya, tidak, itu masih terlalu lama!


Aku melirik kearah gadis Belanda yang kini tengah mendendangkan lagu rindu dengan bahasanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Praktek baru tutup pukul tujuh malam.Aku pun menyiapkan makan malam sendiri dan menyantapnya sendiri. Kali ini berbeda, Lyon mentraktirku di warung bakso. Dia pun bernostalgia tentang perjalanan kami ke Jakarta menjenguk Kak Avie. Dia baru bilang tentang pesan Kak Avie.


''Jaga baik-baik adikku. Awas kalau ada apa-apa.''


Aku tertawa. ''Oke, dan kamu pun melaksanakannya dengan baik,khan?'' Dia mengangguk. Aku melirik jalan raya. ''Baiklah, ayo kita pulang ke rumah besar!"


"Kamu yakin dokter?''


''Aku yakin Khonsa menunggumu dengan penuh cemas, apalagi dia bersama batita yang baru disapih. Pasti repot khan?"tekanku.


Lyon tersenyum masam. Kami pun melaju ke rumah besar. Ternyata, Khonsa audah menunggu di ambang pintu.


"Abang." Tampak jelas di raut mukanya tanda-tanda kecemasan.Dengan gemetar, ia merangkul suaminya. Mereka berjalan di depanku. Aku mengikutinya.


''Abang dari mana aja tadi? Kok baru pupang? Abang sudah makan belum? Abang dari tadi Dany menanyakanmu. Sekarang dia sudah tertidur." Khonsa bercerita panjang kali lebar tentang peristiwa hari ini.


Sementara aku menghempaskan diriku ke ranjang. Aku sedang memikirkanmasa depan. Apa yang kurang dariku? Aku merasa ada kesedihan yang menjalar ke seluruh persendianku. Seperti ada yang kurang lengkap dalam hidupku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pacar itu hanya menghalangi mimpi besarku. Sekarang mimpiku sudah terwujud. Apalagi yang kucari? Tidak ada Bunda, izinkan aku mencari pendamping hidup.

__ADS_1


Kak David memberi kabar gembira bahwa Candy Murbel dibebaskan dari penjara dan sekarang Kak David bersiap-siap menikahi Murbel. Kak David sangat berterima kasih padaku atas kerjasama. Aku hanya mengangguk.


''Dokter Amira, seorang pasien datang dengan luka dalam.''


Aku terperangah saat melihat pasien itu. Luki... Luki Wolf...darah mudanya bercucuran. Dia habis ngapain sih sampai lengan atasnya luka?


''Oke, aku persiapan dulu.''Aku memakai baju operasi. Lalu aku memanggil timku bahwa ada pasien yang luka parah. Mereka dengan gerak cepat menyiapkan alat-alat operasi yang dibutuhkan. Operasi itu berjalan dua jam.


Fuh...selesai juga pertarungan ini."gumam seorang dokter sambil keluar ruangan. Semntara aku mengantarkan pasienku ke ruangannya bersama seorang perawat.


"Dokter, ada apa?''tanya si perawat. Aku menggeleng lemah.


Luki Wolf. Apa yang terjadi padamu? Apa ini masih ada hubungannya dengan Candy Murbel.


"Pak satpam, tolong jaga pasien saya baik-baik. Kalau ada yang datang harap lapor. Tanyakan pula apa hubungannya.''


''Baik dokter.''


Aku menuruni anak tangga. Pikiranku masih tertuju pada teman kecilku itu.


''Dokter, pasien korban kecelakaan menunggu Anda.'' Aku tersadar dari lamunan. ''Wajahnua tak karuan. Bersimbah darah.'' Aku bergegas turun dan menuju UGD. Timku satu persatu datang.


''Peralatannya sudah siap?''tanyaku.


''Siap, dokter.''


Menangani pasien yang menjadi korban kecelakaan tidaklah mudah. Kami harus menghentikan pendarahannya dulu, baru kemudian kami menjahit lukanya.


''Obat biusnya vertahan berapa lama?''tanyaku.


''Dua jam dokter.''


''Ok. Setelah itu pindahkan dia ke ruangan yang kosong.''


''Dokter sendiri mau ke mana?''


''Mau menjenguk temanku.''jawabku enteng.


''Hah? Teman dokter di sini?''tanya dokter.


''Mungkin pria tadi.''sahut perawat.


''Aku tadi melihatnya melamun.''kata dokter lain.


''Akhir-akhir ini aku dokter tampak murung.''komentar asisten dokter.


''Kamu tanyakan sajalah.''suruh dokter senior.


''Aku? Kenapa harus aku yang bicara sama dokter?''elak asisten dokter.


''Kamu asistennya koplak!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2