My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
akhirnya kak avie tahu


__ADS_3

Keesokan harinya calon kakak iparku datang.


''wah, mas dimas lumayan juga ya.''komentarku saat mandi, takut terdengar kak Avie. Aku membayangkan bagaimana mereka menikah dan lain-lain.


Aku keluar kamar mandi. Tanpa sengaja berpapasan sama Mas Dimas.


''Habis mandi,dek?''sapa mas Dimas. Aku cuma cengengas-cengenges. Rasanya kayak kakak sendiri.


''Mas mau mandi ya?''tanyaku polos.Mas Dimas khan bawa handuk sama baju ganti. Otomatis diamau mandi dong.


''iya.''


''Mira...!" Kak Avie memanggilku. Wah, terciduk caper di depan calon kakak ipar. Aku terlonjak, kemudian buru-buru masuk kamar.


''kenapa kak?"tanyaku.


"makan malam dulu gih."ajaknya.


"oke."aku mengacungkan jempol. aku makan malam di depan tv nonton sinetron kesukaanku. setelah makanan habis, kutaruh piring di atas meja begitu saja.



"oh, kamu mau pulang? ya udah hati-hati ya di jalan. dadah!" sayup-sayup terdengar suara kak avie kepada tunangannya. kak avie tiba-tiba muncul di sampingku dengan suara lengkingan yang bikin jantungan.


''PIRINGNYAA... BALIKIN GAK!"


"Gak..."jawabku tenang. Kak Avie melotot. "Gak lama lagi."


Aku tak sengaja melihat jam dinding. Pukul setengah delapan. Biasanya aku sudah otw ke rumah besar tuan muda. Rasa rindu menyeruak dalam hatiku. Aku dua hari izin sakit. Dan ini adalah hari ketiga. Tuan muda gak akan main-main soal waktu. Benar saja, baru lima menit terlambat sudah ditelpon. Mira gelagapan.


"Kamu masih di rumah? Enak ya tinggal di rumah sendiri. Kamu tahu kalau kamu masih punya kontrak kerja sama aku. Masih delapan tahun lagi."_Lyon.


"Tuan Lyon. Aku demam hari ini. Oh, tidak...aku sehat,kok. Kakakku tiba-tiba datang hari ini. Aku gak bisa ninggalin rumah. Aku-"


"Ok. Biar aku yang menjelaskan ke kakakmu."_Lyon.


TIDAK…dunia rasanya bakal kiamat…


Lyon tidak main-main, lima menit kemudian diansampai rumahku. Aku bersembunyi di kamar dan pura-pura tidur.


"Ada apa ya malam-malam begini?"sambut Kak Avie.


"Halo, kakak. Masih ingat dengan saya?"


"Oh, Lyon. Iya…kakak ingat. Ada perlu apa?"


"Begini kak. Perlu kakak ketahui orang yang ingin menempuh pendidikan tinggi yang bagus itu butuh biaya banyak. Kakak setuju,khan?''Lyon mengajukan argumen.


''Iya.''Kak Avie menyetujui.

__ADS_1


''Apalagi kuliah.''lanjut Lyon.


''Iya.''kak Avie lagi-lagi menyetujui.


''Jurusan kedokteran pula.''tambah Lyon lagi.


''Iya.''kak Avie mengangguk.


''Kalau orang biasa saja masuk juruaan kedokteran apa jadinya?''tanya Lyon meminta pendapat.


''Cari uanglah.''kata Kak Avie mengingat dirinya dulu juga begitu.


''Itu dia. Amira juga seperti itu.''kata Lyon dengan tenang.


Kak Avie terpana mendengarnya. Dia menyangka Amira gak bakal lanjut kuliah. Rasa jengkel menggelayutinya.


''Amira?''Giginya bergemulutuk.


''Tenang. Adik kesayangan Kak Avie ini punya kesalahan kepada keluargaku. Sebagai balas budinya, diabekerja kepadakami sepuluh tahun.Selama sepuluh tahun itulah dia dijamin kehidupannya.''lanjut Lyon melunakkan hati Kak Avie.


Lyon menunjukkan kertas pelanggaran. Kak Avie manggut-manggut, ''Jam kerjanya pukul 19.30-12.00. Kerja apa dia?''


''Asisten pribadi. Ini baru berjalan hampir tiga tahun. Selamatujuh tahun ke depan dia masih terikat dengan kami. Sampai dia lulus S2.''


''AMIRA!!!'' Aku terbangun. Aku diomel-omeli kakakku. ''Kamu itu bodoh! Bisa-bisanya punya kesalahan ke tuan muda Akmarahulla. Mecahin guci dari marmer, lukisan abad '80, dan merusak nama baik tuan. Bodoh kamu itu!"


Ah, yang bodoh itu kamu kak. Mana ada aku berbuat seperti itu? Pasti itu dibuat-buat Lyon biar masuk akal. Aku diseret ke rumah Lyon tanpa alasan yang jelas. Diundang ke rumahnya malah disuruh mengepel, udah gitu dihina Liona, batang hidung Lyon gak muncul-muncul. Tanpa sengaja aku memecahkan guci. Nyonya murka. Aku resmi deh jadi asisten pribadi Lyon.


"Ya sudah. Sana kerja dulu gih. Jangan tampakkan wajahmu sebelum kerjaanmu selesai.''kata Kak Avie sambil menanggis sesegukan. Aku gak tega melihatnya. Kak,suatu saat nanti aku akan menceritakan kejadian sebenarnya.


...****************...


Rumah keluarga Akmarahulla



"Sebagai hukuman berbohong kamu kuras kolam lele malam ini juga."titah Lyon tanpa ampun. Aku membungkuk hormat.


''Siap melaksanakan perintah Anda tuan muda.''kataku hormat. Aku pun menuju kolam ikan seluas 160 m². Biarpun malam tersa dingin menusuk tulang ,aku tetap melaksanakan tugas berat itu.



Aku tak kuasa menahan air mataku. Cahaya rembulan memantul di dasar kolam. Aku terpana melihat sesosok lain yang jaraknya hampir dekat denganku. Aku menoleh. ''Siapa? Siapa di situ?''tanyaku siaga.


''Aih, dek Aman. Malam-malam begini kok jebur kolam? Apa gak dingin?'' Ternyata kak asisten bagian perdapuran. Aku merasa dia adalah penolongku.


''Mba' Astri. Bisa bantuin aku menguras kolam ikan ini? Jujur aku bingung mau digimanain kolamnya.''tanyaku dengan nada memelas.


Jadi deh kami berdua menguras kolam lele.

__ADS_1


''Ngomong-ngomong dua hari ini dek Aman ke mana?''tanya Mba' Astri di sela-sela bekerja.


''Cuti dadakan Mba'. Kak Avie datang tiba-tiba.''jawabku apa adanya.


''Ooh..''Mba' Astri manggut-manggut.


''Makasih ya Mba'... Makasih banget...''ucapku seusai kami bekerja.


''Iya, sama-sama. Ayo segera tidur, ini sudah malam banget lo..''saran mba' Astri.


Aku menurut,'' Iya,mbak. Selamat tidur!"


Aku melangkahkan kakiku menuju kamarku dan Vera. Ruangan yang luasnya 3×4 itu sangat gelap dan pengap. Berapa tahun lagi aku menempati ruangan sempit ini?


Vera sudah terlelap. Biasanya jam segini dia masih begadang. Mungkin faktor kecapekan merangkap tugasku dan tugasnya. Maaf ya sobat.


Aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Selamat tidur.


...****************...


"Amira…Amira…bangun, dah siang!"seseorang mengguncang tubuhku dengan kasar. Hawa dingin udara pagi merasuki ruangan, sinar matahari menerebos.


"Aih,silau…"gumamku. Aku bangun dan bangkit dari tempat tidur.


"Tumben, kamu kesiangan. Udah puas di rumah?"ledek Vera yang bikin hatiku dongkol.


"Ih, apa sih…biasa aja kali'."jawabku ketus. Vera tertawa melihat muka bangun tidurku.


"Cepetan! Waktunya bertugas lo." Ah,Vera mah bisanya nyuruh-nyuruh. Dikira aku gak capek apa nguras kolam semalam. Hih, pokoknya nyebelin. Sekarang aku menuju kamar tuan muda kedua.


"Selamat pagi tuan Lyon."sapaku kepada tuan muda kedua yang tengah sisiran menghadap kaca full body.


Dia menoleh, "Pagi Mira-chan! Istirahatmu cukup?"tanyanya. Aku memalingkan muka.


"Maaf, saya mau beberes dulu…" Aku membawa alat kebersihan. Untuk sementara kulupakan kekesalanku semalam. Aku ingat kata nyonya harus profesional mengurus tuan muda.


"Kamu itu ngapain sih? Muka kok ditekuk begitu?"tanya Lyon kepo.


"Aku gak apa-apa"jawabku sok ceria. Profesional. "Tuan kalau butuh sesuatu bilang saja."


Lyon menoleh, "Gak..."


"Baiklah, saya permisi dulu." Aku menutup pintu kamar. Aneh! Kenapa Lyon tumben dingin sekali padaku. Mungkin dia sudah bosan padaku.


Aku menuruni anak tangga menuju ruang tengah. Di situ ada banyak asisten sedang beres-beres.


"Wah, tumben rame banget."seruku.


"Tadi malam ada pesta."

__ADS_1


Mataku membulat sempurna. Saat aku bersusah payah menguras kolam, mereka malah senang-senang. Aku gak terima. Aku menuju ruang keluarga. Aku menyalakan TV. Kebetulan acaranya bagus banget. Pikiranku masih berkecamuk. Aku benar-benar lelah.


Bersambung...


__ADS_2