
Elena pov
Aku berkali-kali mengetuk pintu rumahnya. Namun, keluarga itu sepertinya menyembunyikan keberadaan belahan hatiku. Aku terus berdo'a semoga bila kita ditakdirkan. Tuhan akan mempertemukan kita.
Hingga, suatu hari saat aku memikirkannya, ia mengetuk pintu rumahku. Aku terlonjak saat dia mengajakku makan malam di salah satu restoran. Di situ, ia melamarku. Aku langsung menerimanya. kami menikah di KUA melalui wali hakim. kami tidak mengadakan pesta apapun. kami pun menjalani hidup bahagia.
Beberapa hari ini, dia tidak pulang. Aku mondar-mandir di teras rumah tiap sore. Aku berkali-kali menghubungi lewat Hp. saat aku gelisah, dia datang membawa kebutuhan RT. Aku tersenyum Dia bercerita bahwa dia mendapat keuntungan yang besar di luar kota. Aku percaya dengan omongannya.
Baru beberapa hari di rumah, ia pergi lagi. Beberapa hari kemudian dia pulang. Begitu seterusnya.Aku sempat kecewa dengan jawabannya yang kadang gak masuk akal. Aku mengeluh padanya kalau aku meriang. Dia membirikan obat dari kakaknya. Belum sampai 4 hari dia pergi lagi, padahal aku belum sembuh. Akhirnya aku periksa kedokter. Ternyata aku positif.
Aku tak sabar menanti kedatangannya sementara persediaan rumah semakin menyusut. Di puncak penantianku dia datang. Aku merasa bahagia.
Kebahagian ku lenyap saat aku melihat tangan kanannya ada benda tajam yang berlumur darah
"Mas habis ngapain?" tanyaku ketakutan.
"aku habis begal orang." jawabnya. Ah......jangan-jangan selama ini semua pemberiannya hasil begal.
"Kenapa?kenapa harus membegal?"tanyaku yang masih ketakutan
"aku ingin membunuh kakak ku yang tidak peduli kondisi keluarganya. Sampai kapan kita melarat begini?"
"Jangan!"larangku. "Aku sejujurnya gak suka Amira. Tapi, aku punya cara lain untuk membalaskan dendammu, Mas. Percayalah padaku!"kataku.
🌈🌈🌈
''Apa ini? Hadiah bagi pemenang kuis? Aku gak pernah ikut kuis tuh.'' Amira merobek-robek kertas yang kuberikan. Aku tercengang. ''Tukang pos. Kamu salah alamat. Dasar, gak becus!"
Sombong sekali Amira.
"Maafkan aku, Mba'." Aku membuka topiku. ''Aku Elena. Aku tidak punya biaya untuk melahirkan bayiku. Kami dalam kondisi ekonomi yang buruk.''
''Kenapa tidak langsung bilang? Kalau kamu mau lahiran di tempatku saja. Dijamin gratis. Oh, ya, bilang ke Galih, kalau mau bekerja, aku punya lowongan di tempat temanku. Dijamin prosesnya gampang.''tawar Amira.
__ADS_1
''Terima kasih Mba'.'' Aku tidak layak membencinya! Aku melirik pria tampan yang duduk di sampingnya.
''Ngomong-ngomong sampai kapan kamu jomblo?''tanya pemuda tampan itu.
''Apa sih? Dari pada kamu sudah beristri masih ngeceng dengan perawan tua.''balas Amira.
JLEB, mereka bertengkar di depanku. Aku bisa meembaca dari raut muka Amira seperti mencintai laki-laki itu.
''Maaf, Mba. Aku permisi dulu.''pamitku.
''Oke, jangan lupa pesanku tadi.''
🌈🌈🌈
Aku pulang ke rumah. Dia tengah tidur mendengkur, sementara TV dibiarkan nyala. Aku membangunkannya.
''Halo, aku punya kabar baik.'' kataku dengan senyum terukir.
''Apa?''tanya Galih.
''Memang apa pekerjaannya?''tanya Galih.
''Masih belum jelas. Mungkin di perkantoran.''jawabku.
''Aku bisa apa? Aku saja tidak lulus sarjana.''
''Tenang saja. Sarjana atau bukan yang penting punya skill.'' Aku mengganti siaran TV. ''Hari ini ada film bagus yang biasa diputar di bioskop.''
''Luar negeri?''
Aku tersenyum simpul. Sebagai gadis Belnda tentunya tontonanku adalah film-film Barat. ''Bagus kan?'' Aku mengelus perutku yang makin hari makin buncit. Galih mengangguk.
''Aku pernah nonton film ini. Waktu itu, umurku masih lima tahun.''
__ADS_1
Ah, Galih bernostalgia.
''Mas Galanh yang memutarnya. Kami berempat nonton di ruang tengah. Mba' Mira orang yang paling heboh waktu itu. Setiap ada adegan yang mengerikan, dia akan memeluk siapapun yang di dekatnya. Waktu itu juga, Bunda melahirkan putri terakhir.''
DEG!
''Ah, iya. Waktu itu aku juga bersama kalian.'' Aku mengalihkan pandangan. ''Mas, kalau nanti kita punya bayi mau kamu kasih nama apa?''
''Malika( Ratu Perempuan). Aku terobsesi dengan nama Mba' Mira.''
''Omong-omong tentang Amira. Kamu tahu selama ini dia dekat seseorang gak?''tanyaku sambil memikirkan pria tampan di samping Amira.
''Mba' Mira punya banyak teman cowok. Sejauh pengetahuanku dia gak punya perasaan lebih kecuali sama satu orang.''
''Tadi, aku lihat Amira bersama cowok blasteran di kliniknya.'' Galih terkejut.
''Kamu ke tempat Mba' Mira?''
''Loh, memangnya kenapa?''tanyaku balik.
''Sudah hampir seminggu Mba' Mira gak pulang. Jadi dia di klinik.''
''Kamu masih mau balas dendam?''tanyaku merinding.
''Iya! Wanita jalang itu memang pantas dibunuh.''
Hah, wanita jalang? Memang kamu gak takut polisi? tanyaku dalam hati. Lagipula, lanjutku kenapa gak dari kemarin inisiatif mencarinya ke kliniknya?
''Pinjam kunci mobilmu.'' Aku langsung menyerahkan kunci dengan gemetar.
''Hati-hati, mas. Hati-hati.''pesanku.
Galih tersenyum tipis. ''Kamu lihat aja.''
__ADS_1
Akhirnya, Galih pergi. Ini adalah pertemuan terakhirku dengannya. Bayiku lahir di hari kematiannya. Mapang sekali nasibmu. Malang sekali.
Bersambung