My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Perpisahan


__ADS_3

''Liona.''kata Lyon dengan suara tercekat. Liona memalingkan muka. ''Kenapa kamu di sini?''tanya Lyon kebingungan.


''Gue yang harusnya nanya kenapa lo ke sini? Ini pasti akal-akalan lo khan? Lo mau pamer dapet perhatian pacar baru lo?''Liona mendengus.


Amira meluruskan kejadian ini,''Liona, aku yang merencanakan semua ini...aku ingin kalian berbaikan lagi, aku gak mau lihat kalian bertengkar terus.''


''Cukup. Pada akhirnya tidak memberikan efek apa-apa. Vera aku pulang dulu.''Liona berbalik badan. Vera tidak berkutik.


''Tunggu, Liona.''Lyon menahan langkah Liona.''Aku yang salah, waktu itu...aku memang tidak memikirkan perasaanmu.''


Liona membisu.


''Mas, mba, giliran kalian naik.''kata penjaga.


Liona naik duluan, Lyon duduk di samping Liona. Amira dan Vera duduk di belakang mereka.


''Jadi, Liona maukah kamu memaafkanku?''tanya Lyon saat Liona memakaikannya pengaman.


''Menurutmu? Aku kelihatan tidak memaafkanmu?''


Masalah berakhir dengan baik.


*****


Amira pov


Sejak saat itu Liona sering main ke rumah keluarga Akmarahulla. Mengobrol dengan nyonya, bercanda, suasana rumah kembali hangat.


Hanya saja, Lyon tidak berubah, masih sewenang-wenang memerintah asistennya. Hari ini saja aku disuruh mengepel lantai satu dan dua sendirian.


Liona yang baru datang terheran-heran melihatku mengepel lantai sendirian.


''Amira? Sendirian?''


''Hukuman karena diperintah malah membantah.''jawab Lyon sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.


''Aduh kasihan. Ngomong-ngomong kamu sudah bisa berenangnya belum? Kata Bisca kamu satu klub dengannya.''


'' kuajarin ya. Waktu kelas empat sd aku pernah kursus berenang.''tawar Liona.Wah, boleh ini.


''No,no,no.''larang Lyon. Apa yang terpikirkan olehnya. ''Amira asistenku. Yang mengajar renang dia aku.''


''Amira cewek, pelatihnya juga harus cewek.''bantah Liona. Mereka bertengkar karena masalah sepele sampai pukul-pukulan.

__ADS_1


''Terserah deh.'' Aku selesai mengepel lantai. Kucuci alat pengepel di bawah pancuran. Lelah sekali. Setelah mengepel, aku latihan berenang sendiri di kolam milik keluarga Akmarahulla.


''Amira...''panggil Lyon dan Liona bersamaan. Kakiku tergelincir. Aku berteriak. Mereka pun datang menyelamatkanku.


''Dasar ceroboh.''Lyon memarahiku.


''Lebih baik kamu istirahat saja.''kata Liona.


Badanku menggigil kedinginan karena terlalu lama berenang. Aku pun minta izin pulang ke rumah.


****


''Kakak, kenapa kemas-kemas?''tanyaku begitu sampai di rumah. Kulihat kak Avie mengemasi pakaian dan barang-barang pribadinya.


''Kakak mau ke Jakarta mengundi nasib.''jawab kakak. Separuh pakaiannya sudah masuk ke koper. ''Kamu sih dari kemarin menginap di rumah temanmu sampai kakak sendiri gak diperhatikan.''


Aku menelan ludah.''Maaf ya kak...tapi kakak berangkat ke sana sendiri? Kakak nanti tinggal di mana? Kakak di sana sama siapa?''


''Kakak di rumah mas Galang.Ntar mas Galang yang jemput kakak di bandara.''jawab kakak tanpa menoleh ke arahku.


''Terus aku gimana kak? Masa aku putus sekolah sih?''tanyaku lebih lanjut. Aku masih berhutang pada keluarga Akmarahulla.


''Kamu khan sudah gede, dek. Di rumah sendiri gak papa. Toh, kamu akrab sama temanmu. Sampai menginap tiap hari di sana.''jawab Kak Avie.


''Hua...kakak tega banget ninggalin aku.''Aku memeluk kak Avie.


Aku terdiam, mencerna kata-kata kakak, itu artinya sebentar lagi kakak akan meninggalkanku. Aku kini tidak bisa bermanja-manja lagi dengan kakak. Aku nanti harus berdiri sendiri di kota ini.


''Maaf ya dek...kakak sebenarnya gak tega sama kamu, oh, adikku tersayang.''Kak Avie meneteskan air mata.


''Kak, aku mau tidur sama kakak untuk terakhir kalinya.''pintaku sambil menangis sesegukan. Kak Avie mengangguk.


****


Hari berganti, kak Avie menyempatkan diri memasak sarapan pagi untukku. Makanan kesukaanku.



''Dek, selama kakak gak ada di sini kamu yang jaga peninggalan mamah ya. Rawatlah dengan baik.''pesan kak Avie. Kata kak Avie semalam mas Galang menjemput kak Avie di bandara, kak Avie bilang mas Galang tidak punya banyak waktu untuk sekedar bertemu denganku. Aku memaklumi alasan itu. Jadi, sarapan ini benar-benar terakhir.


''Iya kak. Amira janji.''kataku masih menangis.


''Kakak ingin melihat Amira menjadi wanita yang tegar.''pesan kak Avie.Pesan yang sama yang pernah diucapkan mama ketika masih hidup.Aku mengangguk dalam.

__ADS_1


''Iya kak. Amira akan berusaha.''


''Satu lagi, Amira belajar yang rajin. Buat mama tersenyum bangga di alamnya.''pesan kak Avie terakhir kalinya. Kami melambaikan tangan.


''Iya, kak. Hati-hati di jalan.'' Air mataku tumpah. Saking sedihnya aku tidak berangkat sekolah. Aku merenung di rumah, mengenang kisah-kisah indahku bersama kakak yang tak pernah kembali.


*****


Kenangan...


''Amira, jangan menangis. Kakak ada di sampingmu.''kak Avie memelukku dengan erat. Waktu itu adalah kematian mamah. Pelayat tidak menunjukkan wajah sedih. Mereka malah tertawa-tawa dengan kematian mamah.


''Mamah mau dibawa ke mana? Mama mau dibawa ke mana?''Aku terus menangis, air mata mengalir dari mata dan hidungku.


''Mamah pergi dek. Mamah pergi meninggalkan kita. Adek hidup sama kakak ya...hidup dengan tenang dan damai.''hibur kak Avie, air matanya mengalir deras.


Tak jauh dari kami, seorang bayi merah yang berumur satu hari menangis berteriak-teriak kehausan. Tak ada yang memedulikannya. Selain kak Avie, kak Avie melepas pelukannya dan menggendong bayi merah itu. Ia menyuapi bayi merah itu dengan air gula.


''Oh, kamu yang namanya Avie yang mengasuh adek-adekmu? Memang pantas menjadi baby sitter ya?''sapa perempuan masih muda, ia adalah wanita yang akan dinikahi papa.


''Menjauh dariku. Jangan ganggu hidup kami, tante.''usir kak Avie.


Orang yang dipanggil tante tertawa sinis,''Asal kamu tahu, sebentar lagi aku menjadi istri papamu dan baik kamu dan adik-adikmu akan ditelantarkan.''


''Aku bisa mengurus kehidupanku sendiri tanpa seorang ibu.''gertak kak Avie.


''Yah...kamu memang didikannya melan, si ****** itu, pantas saja Kirom tak menyukaimu.''tante itu masih menghina.


''Pergi kamu.....!"usir kak Avie, bayi merah itu kembali menangis keras.


''Kakak...''Aku ikut menjerit. Beberapa orang menoleh, dan ada yang menghampiri kami. Mereka tak lain adalah Tante Icha, Oom Trian, dan Bayu.


''Avie, tenanglah...''Oom Trian menepuk bahu keponakannya.


''Avie, Amira, masih ada tante...jadi, jangan khawatir ya?''hibur Tante Icha.


Bayu ikut menghibur,''Amira, kak Avie kalau ada yang menyakiti kalian akan kulawan dengan jurus kungfuku.''


''Oom, Tante, aku bisa menanggung derita ini semua, tapi Amira, Amira harus bersembunyi di belakang punggungku.''kata kak Avie lirih.


''Oom mengerti, Avie anak yang mandiri dan bertanggung jawab seperti kakak Melan. Tapi, Avie tentu butuh uang untuk bertahan hidup khan? Avie mau ya...Oom bantu uang untuk kebutuhan kalian.''bujuk Oom Trian.


''Ya.''Kak Avie mengangguk.

__ADS_1


*****


Bersambung.....


__ADS_2