My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Keputusan Lyon


__ADS_3

Liona menunggu Lyon di ambang pintu. Ia mendapat laporan dari Amira bahwa Lyon menginginkan Amira hamil bayi tabung dari benihnya. ''Dari mana saja kamu? Menganggu party orang?''


''Aku ada urusan penting menyangkut masa depanku. Pemimpin rumah sakit sudah mengizinkanku. Aku memberinya banyak uang untuk kelancaran urusanku.''


''Kamu jahat, Lyon. Kenapa kamu melakukan hal senekat ini?''kata Liona sedih.


''Dia punya anak di belakangku. Anak siapa?''


Liona menatap suaminya lekat-lekat. Dia menahan emosinya, mengingat dia tinggal di rumah mertuanya. Terlebih mereka sudah memiliki dua buah hati. ''Terserahlah.''kata Liona kemudian duduk di kursi, menahan emosi.


''Kemarin ada tagihan SPP dari TKnya Dani. Belum lagi biaya daftar ulang Danah masuk Play Group menanti.''lapor Liona dengan nada datar. Ia lelah mencari perhatian Lyon. Keberadaan anak mereka seperti tak diharapkan. Lyon malah asik berduaan di klinik Amira dengan modus membantunya.


''Liona.''panggil Lyon berwibawa. Liona menoleh.


'Kenapa kamu ini, Lyon? Sadarkah kamu telah menyakiti perasaanku?'batin Liona.


''Masalah keuangan besok aku urus. Sekarang kamu tidak perlu memusingkan itu lagi.''kata Lyon menenangkan perasaan Liona yang bencinya menggumpal-gumpal.


''Oke, asal kau tinggalkan wanita yang membuatmu tergila-gila itu.''tegas Liona.


Tak lama kemudian, kedua buah hati pasangan tak akur itu mengetuk pintu.


''Mama! Aku pulang!'' Ya. Mereka baru pulang sekolah.


Liona bergegas membuka pintu. ''Aduh, anak-anakku yang lucu. Selamat datang!'' Wajah polos mereka mengobati luka dalam hati Liona.


''Salami Papa kalian!''ajak Liona. Dani dan Danah berlari-lari menghampiri Papa mereka yang tidak menoleh sedikit pun.


''Papa! Papa! Tumben pulang cepat!''Kedua anak menggemaskan itu menubruk Lyon dengan kekuatan kasih sayang anak kecil.


''Iya, Papa libur hari ini.''kata Lyon gelagapan.


''Kalau begitu, nanti kita jalan-jalan, Pa. Seperti keluarga lain. Ke supermarket, ya Pa.''kata Dani dengan lancar.


''Papa, aku mau es kelim.''kata Danah. Wajahnya yang bulat dan polos itu menatap Papanya yang merasa bersalah.


''Papa, aku mau robot-robotan.''request Dani.


''Papa, nanti lihat akualium yang ikannya gede ya Pa.''kata Danag tak mau kalah.

__ADS_1


''Oke..oke... Papa akan mengajak kalian ke tempat mana pun yang kalian mau.''


Mereka berkeliling kota dan bersenang-senang sampai larut malam. Di perjalanan pulang, Dany dan Danah berceloteh riang menceritakan apa saja yang mereka lihat.


''Hmmm.'' Liona tersenyum. Ini pertama kalinya ia melihat Lyon kembali ceria sejak pernikahan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya


Dua buah hati mereka meloncat turun dari ranjang.


''Aku bangun pertama!''seru Dany.


''Aku duluan!''bantah Danah.


Lyon geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis. Lyon merengkuh mereka berdua.


''Yang bangun pertama Papa. Papa khan sholat shubuh.'' Dany dan Danah saling pandang disusul tawa yang riuh.


Liona dan Sayla sibuk memasak di dapur, meski ada pembantu tapi mereka tetap sibuk. Liona mengusap keringat saat gorengan ayam ditiriskan. Ia pun mematikan kompor.


''Kenapa dimatikan?''tanya Sayla.


''Cabe nya belum dimasak, nona.''


''Oh.'' Liona menyalakan kompor kembali.


Kemudian, cabe merah meletup-letup di penggorengan disusul terasi yang wanginya memenuhi seisi dapur. Liona kembali mengusap keringat saat cabe ditiriskan. Pembantu dengan sigap menghaluskan cabe dan terasi tersebut.


''Aku mau makan.''kata Zaid. Anak pertama dari pasangan David dan Sayla. Ia menepuk-nepuk perutnya yang beberapa kali berbunyi. David mengambilkan makan untuk putranya.


''Adik mau pakai sambel?''


''Enggak mau. Pedas.''tolak Zaid yang mempraktekkan orang kepedasan. David tertawa.


Mereka pun berkumpul di ruang makan. Di situlah terjadi obrolan panjanh tentang pembagian harta sesuai surat wasiat Dady Akmarahulla. Yang memulai tentu saja Mommy.


''David, Lyon.''panggil Mommy dengan nada berat. Mereka mengangkat pandangan kepada Mommy, asli Belanda itu....

__ADS_1


Maka, pagi itu, selepas mengantar dua buah hatinya, Lyon membawa Liona ke tempat peninggalan Dadynya. Sebuah rumah. Rumah itu cukup ideal untuk keluarga 'bahagia' seperti mereka. Liona menjepret setiap ruangan.


''Akan kita apakan rumah ini?''tanya Lyon meminta pendapat.


''Kenapa gak kita tempatin saja?''usul Liona, ia melihat-lihat hasil jepretannya.


''Aku gak bisa meninggalkan Mommy sebatang kara di rumah.''kata Lyon keberatan.


''Khan ada Kak David dan Kak Sayla. Aku yakin mereka baik-baik kok.''


Lyon mencerna usul istrinya.


''Oke, kita pindah ke sini, tapi jangan bilang siapa pun.''putus Lyon. ''Sekarang.''


''Tidak bisa!''Liona menolak mentah-mentah usul barusan. ''Barang-barang kita bagaimana?'


''Kita beli baru saja.''


Liona tak percaya. Tapi ia mengangguk.


...Hari itu juga mereka mengundang cleaning service untuk membersihkan rumah baru mereka dan berkeliling membeli semua peralatan rumah tangga dan meminta untuk diantarkan ke rumah mereka sekaligus ditata yang rapi. Lyon membayar dua kali lipat dari harga normal sebagai imbalan menata barang dan biaya tutup mulut....


Malam datang, Liona gelisah karena teringat anak-anaknya. ''Dani sama Danah belum dijemput.''keluhnya pada Lyon.


Lyon menatapnya datar. ''Kita pindah tanpa bilang-bilang. Aku ingin mengubur masa laluku dan perasaanku pada Mira. Kalau kamu memberontak, aku tidak menjamin kita bertahan dalam pernikahan ini.''


Liona terpaku sambil tersenyum kecut. Diancam seperti itu membuatnya tidak berkutik. Ia mencintai Lyon teramat dalam. Bahkan keinginan Lyon yang terdengar gila ini ia turuti. Asal Lyon jauh dari Amira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain...


Keluarga Akmarahulla


''Di mana Mama?''rengek Dany kepad Mommy, alias neneknya dari pihak Papa. Mommy menggelengkan kepala. Ia mencoba menghubungi baik Lyon atau Liona namun tidak kunjung diangkat. Mommy menyalahkan Amira dan memanggil Amira.


''Kamu tahu di mana Lyon sekarang, heh?''gertak Mommy.


''Tidak. Justru hubungan kami sangat buruk saat ini, Nyonya. Saya tidak tahu menahu di mana Lyon sekarang.''

__ADS_1


''Mamaaaaa!'' Dua anak itu menangis sekencang-kencangnya.


Bersambung...


__ADS_2