My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Nikon


__ADS_3

Aku memutuskan pindah ke klinik, karena tersa lebih nyaman di sana. Aku mengemas barang-barangku. Peter memperhatikanku.


''Bu, mauke mana?''tanya Peter penuh tanda tanya.


''Pindah ke klinik.''jawabku pendek.


''Apakah letaknya jauh?''


''Malah lebih dekat dengan sekolahmu.''


Sorot mata Peter berbinar-binar.Ia memiringkan bibir manis sekali. ''Aku ikut, Bu.'' Peter mengambilkan barang yang ada di sisinya kepadaku. Aku mengacungkan jempol.


''Nanti kamu bakal tahu kegiatan Ibu selama ini. Hati-hati, banyak dokter muda yang takutnya suka menggodaimu.''


''Aku boleh mengantar minum untuk mereka Ibu?''


''Boleh. Asal jaga sopan santunmu.''jawabku lembut.


''Siap laksanakan.''kata Peter tegas.


''Satu lagi, ada satu ruangan yang tidak boleh kamu masuki meskipun kamu penasaran.''peringatku.


''Oke. Peter tidak akan menyentuh gagang pintunya sedikitpun.''


''Satu lagi, aku mempunyai adik ipar perempuan yang tinggal di sana. Dia orang Pranciss sepertimu. Dia punya bayi. Kamu boleh tanya-tanya ke dia nantinya.''


''Oke.''


Selesai beres-beres, aku pamit ke Bunda dan segenap keluarga di rumah. Levy memegang tanganku erat. ''Mba Mira, jangan lupa sering-sering main.'' Aku tersenyum kecut. Mereka melepas kepergianku dan Peter dengan lambaian tangan.


...🌈🌈🌈...


Suatu siang yang cerah


''Amira. Kamu masih ingat aku?''tanya pasienku saat aku memeriksa tekanan darahnya.


Aku menggeleng lemah. ''Bapak siapa?''tanyaku penuh hati-hati.


Ia melipat tangan. ''Aku Nikon.''


Aku mengerutkan kening, berusaha mengingat memoriku.


Nikon? Sejak kapan aku mempunyai teman namanya Nikon?


''Dulu di SMA Elite, aku suka gak pakai seragam.''paparnya.


Bak sinar fajar, aku langsung mengacungkan jempol. ''Aha. Nikon Charles. Gimana kabarnya kawan? Sudah berkeluarga?''


''Sudah. Aku menikah dengan wanita berjilbab dan dikaruniai seorang putra. Kamu sendiri?''


''Aku single parent.''jawabku. Aku adalah orang tua angkat Peter. ''Anakku bernama Peter Gunawan.''


''Kelas berapa Peter sekarang?''


''Kelas enam atau lima, ya? Kelas enam. Iya sekarang sudah kelas enam! Ayahnya satu tahun yang lalu meninggal dunia karena penyakit berat. Dia tidak pernah mengeluh padaku dan aku kurang memperhatikannya karena sibuk.''

__ADS_1


''Oh...''


''Kamu tahu kabar Arin?''tanyaku.


''Jangan meledekku. Istriku bisa cemburu kalau aku kontakan dengan dia. Emang gimana dia sekarang?''


''Sekarang dia jadi desainer taman ternama.Dan sekarang dia ikut biro jodoh. Dia belum menikah.''


''Oh.''Nikon mengangguk-angguk.


''Dokter Sintia.''aku memanggil asistenku.


''Ya,Bu.''


''Tolong gantikan saya sebentar.''


''Baik, Bu. Bu dokter mau ke mana?''


''Ke belakang. Tolong, ya.''


Aku ke belakang mengambil aneka macam makanan untuk teman lamaku dan memberikannya. ''Ini buat anak istrimu.''


''Malah repot-repot. Kayak begini yang doyan Aya.''


''Aya?''


''Adik tiri Kersya.''sambil menunjukkan foto tiri dan adik iparnya.


''Aya adiknya Luki?!''gumamku. ''Ya, titip salam buat Aya juga. Kapan-kapan suruh main ke sini.''


Nikon mengangguk paham. Kemudian tamuku itu pergi.


...🌈🌈🌈...


Hari ini, kamu masuk jenjang baru, SMA Elite. Kamu masuk kelas E karena IQ mu yang pas-pasan. Kamu bisa masuk sini karena pemilik sekolah ini pamanmu sendiri.


Dulu, di SMP kamu adalah ketua OSIS yang disegani. Berbeda dengan di sekolahmu kini, kamu malah gak dianggap karena untuk menjadi OSIS butuh kepopuleran. Apalagi kamu berpenampilan biasa-biasa saja tidak seperti kelas A atau B. Mereka adalah orang ningrat atau keturunan luar negeri. Kamu benci dengan perbedaan itu...


''Hei, siapa namamu?''tanga seorang senior dengan nada songong.


''Nicholl.''jawabmu dengan nada datar.


''Asal sekolah mana kamu? IQ mu berapa?''


''Cih.'' Kamu mengabaikan pertanyaan seniormu. ''Tidak penting.''


''Awas kau!"gertak senior. Ia mempersulit rangkaian MOSmu, tapi kamu pandai mengatasinya. Terkadang kamu kesal dengan seorang cowok wakil OSIS, David namanya. Dia kelewatan gayanya. Sok senior! Suka tebar pesona.


"Cih, mentang-mentang tampan."gumammu.


"Apa?" Seseorang memergokinya. "Kamu barusan bilang apa?" Seorang gadis berwajah bening, matanya bundar, rambutnya sepinggang. Dia memakai lencana sie keamanan tahap satu. Ia seangkatan denganmu.


"Kamu jangan coba-coba mencemar nama baik OSIS."ancamnya sambil menunjukkan tampang galak.


Kamu hanya menelan ludah.

__ADS_1


Sejak saat itu kamu membenci OSIS. Padahal dulu kamu mantan ketua OSIS.


Kebencianmu semakin menebal saat seragam kamu basah sehingga kamu terpaksa memakai seragam berbeda.


Tak disangka, hari ini pengecekan seragam.


"Semuanya berbaris. Sekarang pengecekan kerapian. Kalian yang membawa barang-barang terlarang juga."


Sial! Umpatmu dalam hati.


"Kau!" Mata bulatnya melotot. Tangannya menampar pipimu. "Mana seragammu? Ini hari apa, hah?"omelnya.


Hal itu membuat nyalimu menciut. Kamu mantan ketua OSIS, tiba-tiba dipermalukan. Siapa yang tidak kesal?Apalagi banyak melihatmu.


Kamu balas melotot. Belum semoat kamu mengatakan alasanmu, guru Bap datang dan menggiringmu ke ruang konseling. Lalu kamu didakwa bak di pengadilan.


"Saya tahu kamu keponakan pengelola sekolah ini. Harusnya Anda tahu kalau sekolah ini punya nilai plus kedisiplinannya. Seragam? Kamu harus pakai! Kamu punya seragam gak sih?"


Kamu menelan ludah.


Suatu hari, gadis itu sakit. Kamu bersuka cita karena hari ini tidak ada kedisplinan. Kamu nekad membawa majalah porno. Saat itu aku yang menggantikannya.Kamu tenang-tenang saja karena aku terkenal kalem.


Tak disangka-sangka aku memukul tanganmu dengan penggaris besi dan majalahmu aku lempar ke tempat sampah.


"Maaf, Arin yang memintaku seperti ini."desisku sambil melewatimu.


Kamu tersenyum kecut.


"Arin terus menyebut namamu padahal dia demam. Kamu harus menjenguknya."


Kamu setuju.


Arin senang menyambut kedatanganmu meskipun wajahnya pucat dan tubuhnya lemah. Entah apa yang terjadi, kalian saling memandang. Aku belum tahu perasaan Arin.


Hari-hari selanjutnya kamu banyak bercerita tentang Arin yang tidak kuketahui karena aku memang tidak dekat dengannya. Aku belum paham kodemu. Kamu sering menemuiku di perpustakaan.


Saat aku resmi menjadi wakil kelasku, kamu menggebrak meja.


"Ternyata kamu kelas B. Dasar!"


"Kenapa? Arin juga khan?"kataku membela diri.


"Aku membenci kelasmu."ungkapnya dengan nada tinggi.


"Berartu kamu benci Arin, dong."kataku skakmat.


Kamu membalikkan badan.


"Kamu cock menjadi menteri keuangan."ujarku sambil menepuk pundaknya. "Itu artinya ada kemungkinan untuk menjadi ketua OSIS."


Ucapanku menjadi kenyataan. Liona menjadi wakil OSIS turun jabatan, kamu naik jabatan menggantikan posisi Liona.


Ketika naik kelas, kamu benar-benar menjadi ketua OSIS dan Arin menjadi wakil OSIS. Kalian benar-benar serasi dalam hal kedisiplinan. Aku bangga dengan kalian. Generasi kita the best.


Hubungan kalian menguap setelah lulus SMA.

__ADS_1


...Tiba-tiba hari ini kamu datang ke klinikku dan bercerita bahwa kamu memiliki anak dan istri....


Cinta itu misteri, ya.😊😊😊.


__ADS_2