
Hari sudah sore, rintik hujan mewarnai sore itu. Kak Avie duduk termenung di teras. Ia kebingungan mencari keberadaan adiknya semalam. Kemarin saat ia pulang kerja di toko kue, ia mencari adiknya yang biasanya rebahan di kamar.
"Dek..." Niat memberi kejutan buku komik terbaru kesukaan adiknya gagal. Ia meletakkan kejutan itu ke laci meja belajar. Kak Avie melirik jam dinding yang menunjukkan tepat pukul enam sore. Ke mana Amira? Kak Avie mencemaskan adiknya. Kak Avie menemukan hpnya dicash di kamar. Pasti ia pergi belum lama, tapi ke mana? pikir Kak Avie.
Kak Avie yang bertanggung jawab atas adiknya itu mencari-cari Amira ke segala penjuru rumah, namun Amira tidak ditemukan. Kekhawatirannya bercampur kesal,"Tumben banget ni bocah pergi ga bilang-bilang."
Langkah selanjutnya, Kak Avie menanyakan ke tetangga kanan, kiri, dan depan rumah. Tapi mereka tidak ada yang tahu karena sama-sama baru pulang kerja.
Karena putus asa, Kak Avie duduk di teras, pandangannya tidak lepas dari jalanan, "Dek, kamu ke mana sih? Cepetan pulang dong..."
Di tengah keputus asaan, sepasang matanya menangkap sesosok cowok berambut pirang, wajah seperti artis, mondar-mandir mencari sesuatu sebentar-sebentar melirik rumah di mana Kak Avie berada.
Kak Avie memberanikan diri bertanya, "Excuse me...can I help you?"
Cowok berjaket itu memasang penutup kepalanya.
"Saya sedang mencari seseorang di sekitar sini." Cowok memakai jaket itu tak sedikit pun menoleh ke arah kak Avie. Cowok itu menerima panggilan dari pacarnya. Selesai menelpon ia pamitan kepada kak Avie. "Maaf kak...aku permisi dulu..."
Kak Avie membalas dengan sopan, ia menghubung-hubungkan kepergian adik kesayangannya dengan cowok asing tadi,"Sayang banget, ganteng-ganteng lebih muda dariku."
Kembali ke masa sekarang, setelah mengingat kejadian kemarin sore kak Avie bangkit,"Hati kecilku bilang Amira baik-baik saja."
"Kakak! Kakak...aku pulang!"
Sesosok adiknya datang sambil menuntun sepeda. Kak Avie berlari kecil menyongsongnya, setelah dekat Kak Avie memeluk adiknya dengan erat.
"Kamu habis dari mana dek?"
"Maaf kak. Amira semalam gak pulang karena nginep di rumah teman. Kakak gak marah khan sama Amira?"
"Marah, sangat marah Amira. Kamu pergi tanpa pamitan ke kakak. Makanya lain kali bawa hp."
"Tapi kak..."
"Gak ada tapi tapian. Ayo masuk."
Hujan turun begitu deras. Kak Avie menyiapkan makan malam berupa omelet dan nasi goreng.
"Ah, sebentar lagi uang bulanan habis. Padahal masih pertengahan Oktober."gumam Kak Avie.
"Apa kak? Uang bulanan mau habis? Yah...gimana dong..."
"Yah...kakak kerja tambahan lagi. Biar pemasukan kita bertambah. Mungkin nanti kakak tambah jarang di rumah."
"Kak...aku pengen cari uang juga."
"Kamu? Jangan dek...Cukup kakak saja yang cari uang. Kamu belajar yang rajin saja..."
Dari dulu kakak selalu berkorban untukku. Sedangkan aku hanya menikmati hasilnya. Sekarang malah terjebak menjadi pembantu di rumah ketua kelas. Aku gak tega bilang ini sekarang, batin Amira.
"Jadi kakak memutuskan kerja apa?"
"Kakak jualan di kampus saja, dengan sisa uang ini dan berhutang sama teman sebagai modal."
"Semua sisa uang dipertaruhkan?"
"Mau gimana lagi dek. Semoga dagangan kakak cepat laku ya dan kita bisa makan."
__ADS_1
"Iya kak." Amira mengusap sudut air matanya yang berair.
"Kamu pakai baju siapa? Kok kebesaran?"
"Baju temanku kak. Besok kukembalikan kok."
Amira masuk kamar. Air matanya mengalir deras. Ia mengambil pulpen dan buku diary, menulis curahan hatinya.
*****
Pukul tujuh malam tepat, hujan berhenti. Amira beranjak dari duduknya. Ia menoleh kakaknya tertidur pulas di ranjang. Amira tersenyum tipis.
"Kakak, Amira berangkat kerja dulu."
*****
Rumah besar Keluarga Akmarahulla, ruang belakang tempat para pembantu tinggal. Amira sudah ada di kamarnya dan Vera.
"Kamu dekat ya sama Lyon?"
"Dekat? Gak juga. Dia saja yang mendekatiku."
Vera yang sedang mendengarkan musik lewat tape merenggangkan ototnya. "Syukurlah...kukira kamu naksir dia juga."
"Gak mungkin aku naksir sama orang yang sifatnya memaksa begitu."
Pintu kamar kami diketuk-ketuk,"Ada Amira gak?"
Suara Lyon!
"Ayo ikut aku."
Amira melirik ke arah Vera. Vera mengangguk. Amira keluar mengikuti tuannya. Tuannya menyuruh Amira mencuci pakaiannya.
"Bahkan mencuci pakaian?"Amira terbelalak.
"Kenapa? Kalau gak suka waktumu jadi asisten bertambah."
"Iya..iya." Amira ketakutan. Ia pikir baju tuan mudanya di loundry. Bukan dicuci manual oleh pembantunya.
"Ayo ke kamarku. Bajunya ada di kamar mandi."perintah Lyon.
"Baik..."Amira menahan kesal terlebih saat ditunjukkan pakaian kotor yang harus dicuci. Segunung. Amira berteriak tertahan. Jorok banget sih. pikirnya.
"Ahem...maaf akhir-akhir ini aku banyak kegiatan jadi harus gonta-ganti baju."
"Alasan..." Tanpa sadar Amira mengumpat.
"Alasan?"ulang Lyon.
"Maaf tuan, detergennya di mana? Kenapa tidak kutemukan di mana pun."
"Karena gak ada kamu beli sendiri di toko depan."
Amira menggigit bibir,menahan kesal."Uangnya tuan?"
"Uang? Kamu pengemis ya...sampai uang buat beli detergen murah begitu gak bisa."
"Tapi khan ini untuk baju tuan..."kata Amira lirih. Ia tambah sebal disebut pengemis.
__ADS_1
"Oke, kali ini aku akan berbaik hati, tapi hari minggu kamu full di rumah."
"Baik." Kesepakatan diterima oleh Amira, karena dia benar-benar tak punya uang. Untuk makan besok saja ia tak tahu. Semua bergantung dengan takdir Kak Avie mujur jualannya atau tidak.
Maka, Amira berangkat ke toko seberang jalan untuk membeli detergen. Namun ia kesulitan memilih aroma apa yang cocok untuk baju tuannya dengan nominal sedikit.
"Aha..." Terlintas ide bagus di benak Amira. Ia membeli detergen sashetan. Sekali pakai untuk satu bak cucian.
Tak jauh dari situ, Robert sedang berbelanja di toko itu juga. Ia membeli bola basket. Karena bola basket yang lama pecah tergilas truk lewat.
Robert tidak sendirian. Ia bersama Mia, teman dekatnya.
"Eh, Robert...lihat tuh anak yang pakai sepeda onthel."Mia menunjuk ke arah Amira yang tengah mengantre karena banyaknya pembeli.
"Amira? Kok bisa sampai sini sih?"
"Mau nyamperin gak?"
"Ayo."
Mereka berdua pun menghampiri Amira. "Amira!"sapa Robert. Amira menoleh. Lalu cepat-cepat berpaling membuat Robert cengok.
"Salah orang kayaknya."bisik Mia.
"I-iya sih...dia gak pake kacamata tebal. Haha...terlalu berhalusinasi."Mereka kembali ke jajaran dagangan.
"Iya...orang khan banyak mirip ya..."
"Kamu mau beli apa Mia?"tanya Robert.
"Eh, boleh nih? Tumben perhatian. Biasanya cuman nebeng doang."
"Aku serius. Kamu mau beli apa, aku beliin."
"Aku mau beli makanan. Laper tauk...bosan makanan rumah."
"Oke..."
Kembali ke Amira ia keluar dari toko tersebut sambil menghembuskan napas lega,"Hampir saja...jantungku rasanya mau copot."
Kemudian Amira pulang ke rumah besar Akmarahulla. Di sana Lyon menunggu Amira di depan pintu kamar.
"Hah? Tuan kenapa masih di sini?" tanya Amira.
"Ngawasin kamu kerja."
"Sepertinya tuan tidak punya kegiatan malam ini."Amira menahan kekesalannya.
"Memang gak punya."
"Tapi,tidak bisakah tuan tidak mengawasi saya ketika saya bekerja...saya merasa canggung."
"Oh...begitu? Kalau gitu aku turun ke ruang tengah dulu. Nanti pas aku balik sudah beres,ya?"
"Iya....tuan muda."
Tinggallah Amira sendiri. Ia mencuci baju sambil mengoceh marah,"Baru pertama kali ketemu sama cowok ribet, suka seenaknya sendiri, pesuruh....aghrr...pengen rasanya bikin dia kesal."
Bersambung...
__ADS_1