My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Lyon Salah Paham


__ADS_3

Kami tiba di rumah. Rumah sepi seperti tak berpenghuni. Aku membuka pintu rumah dengan kunci cadangan. ''Selamat datang di rumah keluarga Pak Kirom.''sambutku sambil menepuk pundak Peter. Peter menatapku datar.


''Aku tahu Pangeran kecil. Kamu pasti ingin cepat-cepat bertemu Ibumu.''hiburku saat matanya mulai berkaca-kaca. Anak ini kurang kasih sayang banget.


''Oh, ya. Kemarin Azam sama Bapaknya beli marmut. Kamu mau lihat?'' Aku mengajak Peter ke belakang rumah.


''Aku mau bu dokter cerita tentang keluargaku.''


''Ah, kenapa harus sekarang?''


''Ayolah, Bu. Ayolah!"rengek Peter.


"Ibumu belum mengizinkan."sanggahku. Anak itu terus memohon kepadaku bercerita tentang keluarganya. Aku mengalah.


"Gimana ya? Setahu saya Ibumu adalah wanita cantik, berjiwa pemimpin, dan seabrek kelebihan yang jarang orang punya. Sekarang Ibumu lagi proses."


"Proses?"


"Iya, proses pembebasan dari penjara. Ah, seharusnya saya gak bilang sampai sini. Maaf, ya, Peter."


"Ayahku?"


"Ayahmu sakit keras sehingga maut menjemputnya."


"Kalau gitu aku ikut bu dokter saja."


"Hah? Aku?"


"Iya, bu dokter khan orang tua adopsi saya." Aku hanya tersenyum getir. Aku tidak lebih baik dari Marbel. Aku punya banyak kesibukan sebagai dokter ahli bedah.


Suara motor memasuki halaman rumah. Aku menoleh ke belakang. Aku mengingat-ingat suara motor siapa? Aduh, siapa ya?


"Amira." Tuan muda Lyon datang di saat yang tidak tepat. Aku menjadi panik. Tuan muda memanggilku berkali-kali.


"Kamu jangan ke mana-mana. Kalau lapar ke dapur." Peter mengangguk. Aku bergegas ke depan.


"Amira!" Tuan muda memanggilku. Aku mempercepat langkahku.


"Lyon, ada apa siang-siang begini datang?"tanyaku panik.


"Aku kehilangan kamu. Kata asistenmu kamu cuti, ya?"


"Iya. Aku refreshing."


"Sendirian?"


"Bareng Chaterina. Si janda muda di Bandung."


"Baik." Aku sengaja menghindari kontak mata dengan pria tampan di hadapanku.


Raut mukanya berubah terkejut. "Siapa anak itu, Amira?"


Peter! Peter Gunawan menyusulku.


"Anak-"


"Aku mengerti."potong Lyon. "Aku memahamimu dokter. Bisa-bisanya kamu merahasiakan dariku."


"Ini tidak seburuk yang kamu bayangkan, Lyon."


Terlambat. Lyon tancap gas dan pergi dari halaman rumah. Aku mendengus. "Aku khan sudah bilang jangan ke mana-mana."

__ADS_1


"Apa aku salah? Apa aku salah bertemu teman Ibu?"tanya Peter.


Ya Ampun. Anak ini tidak paham urusan orang dewasa. Lyon pasti mengira aku mempunyai anak di luar pernikahan.


...🌈🌈🌈...


Aku merasa bersalah dengan kejadian satu bulan yang lalu. Aku memutuskan mengunjungi rumah besar Akmarahulla. Mba Sayla menemuiku.


"Amira. Tumben datang ke sini." Mba Sayla menyuguhkanku secangkir teh manis hangay. Aku duduk di sofa dekat dengan jendela. Kami saling diam sesaat.


"Mba, sebelumnya saya minta maaf, karena kedatangan saya tanpa bilang-bilang terlebih dahulu."


"Santai saja. Rumah ini selalu terbuka untukmu."


Aku tersenyum tipis. "Mba, aku pernah bilang khan kalau aku mengadopsi anak."


Mba Sayla menatapku.


"Hari pertama aku membawa anak itu pulang, Lyon mengunjungiku, lalu dia melihat kenyataan di luar dugaan. Maksudnya, dia kira anak itu anak kandungku. Dia tidak mendengarkanku."


"Amira, aku sudah memberi tahunya."


"So?"


"Semua akan baik-baik saja."


...🌈🌈🌈...


Saat aku pulang, aku melihat Peter mencuci sepatu. Hari ini hari Kamis.


"Peter. Hari apa ini?"


"Besok?" Aku mengerutkan kening.


"Besok lusa."


"Oh.."


Aku kembali ke kamar untuk melepas rasa penat. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Azam, keponakan pertamaku. "Tante Mira. Nenek mencari Tante."


"Ngapain?"


"Katanya penting." Aku mengangguk paham. Bunda tengah duduk di kursi goyang, tangan kanannya memgang mushaf Al Quran. Aku duduk di hadapnnya.


"Amira."Bunda satu-satunya memanggil nama depanku lengkap. "Bunda ingin kamu segera menikah dengan pria pilhanmu. Kamu sudah punya calon?"


"Belum punya, Bun."


"Kalau begitu, pilihlah calon yang sepadan denganmu."


...🌈🌈🌈...


Hari ini adalah hari kesehatan dunia. Seluruh dokter mengadakan perkumpulan di tempat dinasnya masing-masing. Aku bertemu Albert.


"Halo, dokter Albert."sapaku ramah.


Albert tersenyum sebagai balasan sapaanku.


"Sekarang kamu kerja bagian mana?"tanyaku langsung.


"Aku maaih jadi dokter umum."

__ADS_1


"Oh, bagus itu. Setidaknya kamu punya banyak pasien."


"Usahamu lancar?"


"Usaha?" Aku mengerutkan kening.


"Saham."katanya pendek. Dokter lain lalu lalang melewati kami sambil membawa pirinh kecil dan gelas cantik. Aku memiringkan kepala.


"Ya, tapi tidak terurus." Aku menyandarkan tubuhku ke tembok.


"Aku kelewat sibuk dengan pasien-pasienku."lanjutku.


"Dokter Amira. Pemilik rumah sakit memanggilmu."panggil asistenku. O-ow belum kelar basa-basinya sudah dipanggil kepala rumah sakit.


"Dokter Inul. Selamat malam!" Kepala rumah sakit menatapku datar sambil mendorong kursi.


"Duduk."kata beliau galak. Aku yakin ada sesuatu yang gak beres di tempat ini.


dr. Inul menyodorkan selembar kertas kepadaku. Aku tertegun saat membaca isinya. Kontrak bayi tabung.


"Maaf, saya menolak permintaan ini."


"Tidak bisa! Pokoknya harus Anda yang melakukannya."


"Dokter jangan gila. Apa kata orang nanti. Harga diri saya bisa diinjak-injak. Kalo dokter memaksa saya, kenapa tidak dokter saja yang menyanggupinya?!"


dr. Inul menggebrak meja. "Kamu gak mau? Kamu gak mau mendapat uang sebesar itu? Satu-satunya harapan cuma kamu. Dokter!!!"


"Maaf, sekali lagi saya tolak. Ini rumah sakit bukan tempat pelacuran."tegasku.


dr. Inul semakin emosi. "Tapi yang diminta kamu, Mira!"pekiknya saat aku memegang gagang pintu.


''Siapa yang minta?''tanyaku dengan nada tinggi.


''Lyon Akmarahulla.''


Seketika tubuhku membeku. Lyon? Lyon yang minta?


...🌈🌈🌈...


Aku mengumpat dalam hati. Lyon Akmarahulla. Bisa-bisanya dia berpikir sejauh itu. Aku menelpon Lyon. ''Kamu lebih menjijikkan dari seekor cacing.''


''Dokter Amira.''sapa Albert. ''Ada keperluan apa dipanggil dokter kepala?''


''Maaf, aku sibuk.'' Aku berjalan cepat menjauh dari Albert. ''Dengar! Peter adalah anak angkatku yang aku adopsi dari Panti.''tegasku. Aku mematikan HP bertepatan dengan kehadiran Lyon. ''Lyon.''


Lyon menghampiriku. ''Siapa yang kamu sebut lebih menjijikkan dari cacing?''kata Lyon kesal. Ia ingin menyentuh tanganku yang segera kutepis.


''Peter Gunawan adalah anak kandung Candy Marbel yang dititipkan di panti asuhan sampai dia bebas dari penjara.'' Aku menyodorkan surat pengadopsian. Barulah Lyon percaya.


''Maaf.''bisik Lyon. Ia berlalu meninggalkanku.


''Dokter Amira. Anda baik-baik saja?''tanya Albert.


''Ya.''


''Sebenarnya siapa dia?''


''Sepupuku jauh. Dia agak berbeda hari ini. Benar-benar gila.''


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2