
Setelah libur lebaran
Aku terpana melihat banyak perubahan di rumah besar. Seakan-akan aku tidak pernah tinggal di sini. Vera menyambutku. Tapi dengan wajah sendu.
"Mir,ngapain balik?"tanyanya.
"Lho, emang kenapa?"tanyaku balik. Vera menarikku kuat-kuat sehingga aku hampir terjungkang. "Emang udah waktunya khan."
"Mir..maaf, aku harus bilanh sejujurnya. Kamu harus menerimanya dengan lapang dada. Tu..tuan muda menikah! Dua-duanya, Mir."
HAH...nikah???
Vera menyodorkan undangan pernikahannya. Mataku melotot saat melihat nama mempelai wanita. 'Sayla'. Bagaimana mungkin? Aku bisa gila memikirkan ini.
"Mereka semua di mana?"
"Di Berlin. Mereka sedang bulan madu, Mir."
"Terus?"
"Mimpiku hancur." Vera meneteskan air mata. Iya, aku kemari demi sahabatku, Vera. Sekarang sudah tidak ada gunanya aku di sini. Mau ngapain lagi? Lyon sudah resmi sama Liona. Kehadiranku hanya sebagai pelakorš¤£.
"Yang penting ada Nyonya,khan?"kataku mengalah. "Lagipula di dunia ini banyak yang lebih baik dari Lyon."
"Aheem.." GLEK,Nyonya menegur kami. Kami terkesiap.
"Kalian ikut saya ke ruang tengah."
"Baik, nyonya."
Nyonya duduk di kursi favoritnya. Nyonya menatap kami satu per satu. Napasnya naik turun. Kami cuma menunduk.
"Dengar, karena putra-putraku sudah melepas status lajang pekerjaan kalian saya batasi."
Aku bersorak dalam hati.
"Kalian bekerja mulai jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Setelah itu kalian bebas melakukan yang kalian suka. Ingat, di jam-jam itu saya jarang di rumah. Kalian harus lebih patuh dengan nenek Beti."
"Baik nyonya."kata kami kompak.
"Ya sudah begitu aja."
Kemudian, kami ke kamar belakang.
"Sedih banget sih jadi asisten. Kamar kecil, paling belakang pula."komentarku asal
Vera menggerutu. "Aku jadi jarang bertemu Tuan Lyon dong."
"Tenang. Pasti masih ada kesempatan lain. Kalau kamu tidak bisa menikah dengannya, minimal kalian menjadi besan. Ha-ha-ha!"
"Benar jugaā¦" Tiba-tiba mood Vera membaik.
"Nah, gitu dong dari tadi..."kataku.
Aku menata barang-barangku di kamar kami. Saat aku melipat baju, tiba-tiba Vera berseru.
"Cangcutmu imut Mir."
"Vera!" Aku buru-buru menutup kotakan. "Mendingan ente urusin barang-barangmu deh. Malu tahu."
__ADS_1
"Hahaha...kamu itu lebih oantas jadi anak SMP tahu, Mir."ledek Vera.
"Terus..gitu terus..."Aku menggembungkan pipi.
"Jangan marah. Itu artinya kamu imut."
"Please deh. Aku udah kenyang dikata-katain imut."
"Ngomong-ngomong kapan kakakmu menikah?"tanya Vera. Ia ikutan beres-beres kamar.
"Kurang tahu.Dengar-dengar sih habis lebaran iedul adha."
"Dua bulan lagi dong."
Aku mengangguk. Barangku sudah beres. Sekarang waktunya istirahat. "Ver, aku tidur dulu ya. Jam sepuluh bangunin. Jangan lupa."
"Heem..."
...****************...
Pertama kali aku mengenalmu Tuan Lyon. Saat aku duduk di perpustakaan. Kamu memaksaku bergabung dengan teman-teman. Kamu menyita bukuku. Dan aku dipaksa menjadi asisten pribadimu.
Sejak saat itu aku punya banyak temab. Tiba-tiba ada isu Liona pindah kelas. Itu artinya kepengurusan ganti. Lyon menunjukku sebagai wakilnya.
"Tidak...aku gak mau jadi pengurus kelas."
Prinsip ketua adalah raja, perintah ketua adalah perintah raja kembali didengungkan. Aku mengalah. Teman-teman mendukungku. Vera terus menyenggolku. Ia berambisi menjadi wakil. Geng ABC tersenyum kecut.
"Gak papa, kamu pasti bisa kok."kata Siori menyemangatiku. Yang lain menjabat posisi mereka. Geng ABC masih suka menggangguku. Kadang Liona ikut campur.
Namun kebahagiaan itu hanya sementara, kini sudah lenyap sia-sia. Dan hari-hari sulit pun dimulai....
...****************...
"Beneran?"tanyaku dengan perasaan yang membungah. Mba' Sayla mengangguk yakin.
"Cuma mommy yang belum masuk islam."lanjutnya. Aku menatap lantai marmer.
Aku tak sabar ingin bertemu Lyon dan Liona. Sayang, mereka sedang istirahat karena kecapekan perjalanan. Baru keesokan harinya aku bisa bertemu Liona yang sedang sisiran di kaca full body.
"Hai nyonya muda. Selamat pagi!"sapaku profesional.
Liona tersenyum lebar, sampai gigi depannya yang bak mutiara tersusun rapi kelihatan. "Assalamu alaikum Amira!"
GLEK. "Waalaikum salam." Beneran sudah muallaf. Lina berdiri kemudian mengambil handuk.
"Rista dan Visca di rumah?"tanyaku.
"Mereka boarding school. Oh ya, aku punya nama baru. Al Khonsa'."
Sungguh kejutan. Liona berganti nama Al Khonsa'. Aku manggut-manggut saja.
"Berarti mushollanya buat bertiga."simpulku. Al Khonsa mengangguk.
"Oh ya. Aku punya jadwal kuliah pagi ini. Aku duluan ya."pamit Liona. Aku mengangguk hormat.
Saat aku tengah mengelap kaca jendela. Seseorang membuka pintu kamar. Cklek-cklek...
"Amira-"Aku menoleh. Dia,dengan tatapan sendu menatapku.
__ADS_1
"Tuan Lyon. Selamat pagi!"tanganku spontan terulur padanya. Dia menjabat tanganki.
"Dasar, gara-gara kamu minta cuti aku gagal membatalkan rencanaku."kata Lyon dengan lirih.
"Oh, aku sungguh tidak tahu apa yang kamu bicarakan."kataku pura-pura tak tahu.
"Berapa kali aku harus bilang padamu, aku harus membatalkan pertunanganku."
"Akan tetapi kamu sudah melakukannya khan?"
...****************...
Tugasku mulai terbatasi. Aku tidak sebebas dulu. Aku hanya datang sekitar pukul delapan lalu beberes beberapa barang yang perlu dirapikan. Kemudian ke dapur memasak sarapan pagi, lalu aku turut dalam merapikan rumah besar.
"Emm..boring banget. Baru dua jam di sini sudah gak punya kerjaan."keluhku pada Vera. Vera mengangguk. Aku menghembuskan napas. "Masa sih tiap hari begini. Cari kerjaan lain kek buat ngisi waktu luang."
"Aku pengen jadi kasir swalayan deh."cetus Vera. Mantan bendahara sih gak masalah, tapi itu bukan hobiku menghitung uang.
"Silahkan. Aku mau ngapain ya?" Aku kembali merenung.
...****************...
"Kamu gak jadi guru bimbel saja."saran Lyon. Oya,kenapa aku gak kepikiran jadi guru bimbel yah. Aku mengangguk. Apa benar aku berbakat menjadi guru seperti kata orang-orang.
Sore itu, di taman belakang anak-anak berusia 9-12 tahun berkumpul menungguku.Lyon juga berada di situ.
"Nah,ini dia guru kalisn sudah datang. Ayo, sapa guru kalian."perintah Lyon.
"Selamat sore,Miss."
"Sore!" Aku memandangi wajah mereka satu per satu. Mereka hanya terdiri dati lima oranh anak pejabat. Aku sempat gugup ketika mengajar mereka. Apalagi mereka aktif bertanya. Aku senang berbagi ilmu dengan mereka.
"Miss!"Anne mengangkat tangan mungilnya. Aku memandangnya hormat. "Apa miss dan kak Lyon sepasang kekasih?"
DEG! Jantungku terasa berhenti berdetak. "Kamu bicara apa sih? Kami hanya teman."jawabku apa adanya. "Lagipula Lyon sudah menikah."lanjutku.
"Oooh."gumam anak-anak.
Lyon menyikutku. "Kamu terlalu jujur."
...****************...
Saat makan malam, Liona langsung membicarakanku. "Wah, tadi sore di taman belakang ada kelompok belajar."sindirnya.
Nyonya memperhatikan dengan serius. "Wah,bagus..bagus...kapan-kapan aku melihatnya langsung."komentar Nyonya.
"Hanya mengisi waktu luang kok."kataku membenarkan.
"Tadi juga baru perkenalan."tambah Lyon.
Liona terseyum kecut. "Harusnya pengajarnya satu."
"Ha..iya sih tapi"kataku.
"Kamu butuh adaptasi lama. Begitu?"potong kak David.
"Sedikit."Aku memelankan suaraku.
"Mas, sudah biarin saja."lerai Mba' Sayla.
__ADS_1
Bersambung...