My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Galih masuk RS


__ADS_3

''Veranya mana?'' tanyaku pada asistenku


''di ruang situ.'' tunjuknya. Berarti aku harus bersabar menunggu mereka keluar ruangan. Tak berapa lama, mereka keluar. Aku terhenyak melihat perubahan penampilan mereka.


'' kalian Islam?'' tanyaku sedikit terbata. Mereka menganguk. Asal kamu tahu aku juga mencintai kak Lime.


'' Yah, Obatnya banyak banget, sih.'' komentar kak Lime.


'' Padahal juga harus kontrol.'' lanjutnya.


Sejak kapan mereka Islam? Mereka menjadi muallaf dong.


''Amira, kami harus berbincang denganmu. Tapi jangan di tempat ini.'' Ok. Kamipun pergi ke taman RS.


'' Sebelumnya selamat atas kesuksesanmu!'' ucapnya. Aku mengangguk-angguk.


'' Kak, lukisan buatku mana?'' pertanyaan konyol.


'' Ah, kamu khan gak pernah minta.'' protes Vera


'' Sok tau, lo! Aku pernah minta sebelum kak Lime ke prancis.'' -Mira


'' Iya,iya. Nih, lukusannya. Jangan lupa bayar, lho.'' - Kak Lime.


'' Bukan yang ini, cuy. Ini mah gambaranmu!'' - Mira.


'' Aku belum ngomong apa-apa sudah ribut. Dokter, mau dengerin gak?'' - Kak Lime.


'' Apa?'' -Mira.


'' Aku mau mengundangmu kepesta kelahiran putra pertamaku bersama Wanita ini.'' -Kak Lime.Ah, so, mereka resmi beneran !!!


'' kalian punya bayi merah? oalah....bung. Mana banyinya.'' - Mira.


'' Sama neneknya.'' - Vera.


'' Ah, maulah kesana. Tapi kapan acaranya?'' - Mira


'' Besok.'' - Kak Lime


'' Besok?'' ulangku.


'' Iya, besok. Sekalian peresmian nama putraku.'' papar Vera.


'' Pas buka, ya? Insya allah aku usahain.''- Mira


'' emang kenapa? sibuk, ya.'' - Vera


'' Adikku habis kecelakaan. Aku sendiri baru tahap peyembuhan luka dalam.'' - Mira


" Miris sekali. Ya sudah. Kalau bisa, datang ya." Mereka berdiri.


" Kami gak bisa lama-lama di sini. Kami pamit pulang."


" Ok. Hati-hati. di jalan. Keluarga menunggu di rumah." kami saling melainkan tangan, "jaga diri baik-baik, Dokter." Dua sosok itu perlahan menghilang dari pandangan.

__ADS_1


"Dokter, katanya Dokter cuti." Aku menatap orang yang menyapaku penuh keheranan. Ada yang aneh dengannya. Mukanya pucat banget.


"Ah, aku memang cuti. Tapi memangnya tidak boleh berkunjung ketempat ini?" tanyaku yang tak butuh jawaban. Adzan Isya berkumandang, Aku pamit dengannya. Lalu aku pulang ke klinik. Alangkah terkejunya aku melihat asisten Dokterku sedang kelabakan mengurus pasien.


Aku menuju UGD, tampak asistenku murung.


" Kenapa?" tanyaku


" Pasiennya meninggal sebelum kami sempat memberikan pertolongan."


Aku membuka selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Orang tadi yang menyapaku di Rumah Sakit!!


" Keluarganya sudah datang?" tanyaku, mencoba menutupi ketakutanku.


" Mungkin beberapa waktu lagi." ucap dokter pendiam dengan pelan.


Kami diam beberapa lama. " kenapa diam saja?" tanyaku tiba-tiba mereka tampak kebingungan


" Sambil menunggu, mandikan mayatnya dulu!" -Mira


" Baik Dokter." - Para asisten.


Aku keluar ruangan. Pasien membludak, aku turut serta melayani pasien.


" Ada keluhan?" tanyaku. Dia tampak kebingungan. Aku mengulang pertanyaanku.


" Telingaku sakit." pantas saja! Aku menyalakan senter, lalu manggut-manggut. Aku menyebutkan obat yang harus dia gunakan. Pukul setengah sepuluh ( 10.30), kilinik baru tutup.


" Dokter, keluarganya belum datang." kata salah seorang asisten.


" Kenapa tidak menghubungi polisi? Tugas kita, sudah sampai sini." omelku.


" Oh, dia itu perempuan yang menghilang 3 tahun silam. sekarang, sebaiknya dokter telpon keluarganya di nomer ini." pinta pak polisi. Hah, pasien ini menyusahkan orang saja.


Pukul 00.00 keluarganya datang dengan mata sebam karena kelamaan menangis.


'' Pak, bu', tolong bawa pulang putri anda dengan selamat. Kami semua harus istirahat supaya besok bisa bekerja lebih optimal." Kataku tegas.


.


.


.


.


.


.


" Mir bangun!" Rasanya baru sebentar memejamkan mata Kak Avie dengan semangat membangunkanku.


"Ngapain? Sahur?" tanyaku dengan nada malas.


" Iya sahur sudah jam 3 kurang seperempat, lho." Ah, itu artinya aku baru tidur dua setengah jam. Aku mengucek mataku.

__ADS_1


" Buruan, yang lain sudah di ruang tengah." - Avie


" Iya-iya." - Mira


" Azam juga ikut sahur?" tanyaku, seketika kantukku hilang. Azam manggut-manggut.


" Aku mau puasa beduk, tante." jawab Azam


" Aku juga mau puasa." tambah ponakanku yang satunya.


" Ayah masih di rumah sakit." kata Citra pelan.


" Gantian sama mas Dimas, ya?" tebakku.


" Malah berdua."


" Waw." Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Aku terdiam sejenak. " Oh, ya, sekalian aja,deh. Bunda dan semuanya yang hadir disini."


" Apa Mir?" Mas Galang menyalakan rokok.


" Hei, katanya mau puasa? kok masih ngerokok, sih." omel mba' Novi.


" Ini buat sahur aja. Nanti pas puasa gak, kok." - Galang


" Dasar." - Novi.


" Aduh! Ya udah langsung aja. Selamat ya Bun, sebentar lagi Bunda mempunyai cucu baru." Kataku penuh semangat.


" Kamu hamil?" tuduh Mama tiri.


" Masa sih hamil? khan belum nikah?!" bantah Levy yang masih duduk di bangku SMA _ Adik tiriku_


" Gak mungkin." bantah mas Galang.


" Galih sebentar lagi jadi ajah." kataku singkat, padat, dan menggena. Semua terdiam. Aku heran dengan keheningan ini. Yang terdengar hanya bunyi dentingan piring sampai adzan subuh berkumandang .


Kenapa, ya? Mereka gak suka dengan parkataanku barusan? Atau ada sesuatu yang di sembunyikan dariku. Aku ingin bertanya. Tapi mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Mba' Novi menidurkan anaknya yang masih bayi. Kak Avie malah tidur di kamarku. Mas Galang gak pulang-pulang dari masjid. Bunda juga istirahat. Mama tiri mengaji dengan ke dua anaknya yang masih kecil. Levy main hp. Tinggal aku di dapur mencuci piring sambil ngedumel.


" Shadaqollohul adzim...." terdengar suara Mama tiri di penghujung surat.


" Aamiin.." sahut Anak-anaknya.


" Mama aku boleh nanya bentar?" kataku sambil bersandar di tiang.


" Tumben, kamu nanya saya. Kamu khan sudah pintar. Silahkan nanya apa?, kalau saya tahu, saya jawab."kata Mama tiri.


" Mama, sebenarnya apa yang terjadi dengan Galih? Kalian gak suka sama dia?" tanyaku.


" Oalah, ndok..ndok..kamu pasti belum tahu betapa bejatnya sifatnya beberapa bulan terakhir ini. Dia selalu menyalahkan keadaan kami. Kami sampai dibuat bingung dengan sikapnya. Beberapa kali dia begal orang? Pulang-pulang bawa sabit berlumur darah. Siapa yang gak takut?


Galang aja hanya bisa mengelus dada. Gak berani ngomong. Lha kok tiba-tiba kamu bilang mau punya anak. Kapan dia nikah? Sama siapa? Siapa yang mau sama dia? Siapa coba?" jawab Mama tiri.


DEG!!! Tiba-tiba saja aku teringat dengan peristiwa penusukan itu. Aku berusaha melempar jauh-jauh prasangka burukku.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


*Jangan lupa beri Like dan favorit beri komentar ya....


Author tunggu.....*


__ADS_2