My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Operasi


__ADS_3

Aku menenteng tasku menuju ruang kuliah. BRAK...Aku tak sengaja menabrak seseorang." Dasar cewek, jalan tu pake mata."umpatnya.


"Maaf, aku buru-buru banget." Aku jongkok dan menata barang-barang yang berceceran. "Ini." Aku menyerahkan barangnya sambil tersenyum. Kemudian aku berdiri. "Lain kali aku memakai kacamata."sambungku. Aku menepuk pundaknya kemudian pergi meninggalkannya.


...****************...


Sorenya, aku kembali mengajar anak-anak pejabat. Kali ini mereka kompak memakai baju biru. Aku tersenyum tipis dan berkomentar, "Wah, kalian seragam."


Anne maju ke depan dan membacakan beberapa bait puisi untukku. Aku menyimaknya. Mataku berkaca-kaca."Terima kasih banyak."


Anne memang puitis, dia terlihat seperti penyair abad 20 dengan pakaian modern. Kemudian Anne menyodorkan kertas dimana puisi itu tertulis. Aku menerimanya dengan perasaan haru.


"Terima kasih Anne. Terima kasih adik-adik. Miss akan menyimpannya."


Murid-muridku tersenyum. "Ayo dong Miss semangat."kata Brian memanas-manasiku. Bukannya mengusap air mata yang hampir tumpah, air mataku semakin banyak meluncur ke pipi.


Aku memeluk Anne. "Terima kasih, Anne. Terima kasih atas nasihatnya."


Matahari tenggelam di ufuk barat. Murid-muridku berpamitan. Aku kembali ke kamar. Aku membaca puisi itu berulang-ulang. Puisi itu mengena di hatiku. Bagaimana mungkin anak kecil itu tahu perasaanku. Tapi, aku sangat berterima kasih padanya. Aku harus bangkit.


...****************...


"Matamu bengkak."komentar Lyon saat aku memakaikan dasinya. Oh,ya, semenjak dia menikah, dia bekerja di perusahaan Ayahnya. Aku tidak tahu dia bagaimana, yang jelas dia dihormati oleh orang-orang kantor dan dia selau pulang tengah hari.


"Oh,ya..?"kataku pura-pura bodoh.


Lyon menatapku dengan tatapan lembut."Kamu pasti habis menangis."simpulnya.


Aku mengalihkan pandangan."Aku kangen Ibuku."terangku pendek.


Lyon mendengus. "Aku sibuk tahu."


Aku menoleh. Aku bingung dengan apa yang baru saja kudengar. Aku mengerutkan kening.


Lyon menjelaskan perlahan, "Besok atau lusa kalau aku ada waktu aku akan mengantarmu ziarah kubur."


Lyon belum tahu kalau Ibuku masih hidup. "Tuan Lyon, benar tidak apa-apa kamu mengantarku ziarah?"


"Emang kenapa?''


''Bwih, kaya lupa aja sudah beristri.''


''Itu gampang diatur.''Dia mengacungkan jempol.


''Bener ya."kataku memastikan. Lyon mengangguk.


...****************...


"HASNA!!!"


"Aih, Mira. Pagi-pagi teriak-teriak. Kenapa?''


''Beberapa hari ke depan mungkin aku pergi. Aku mau pulang kampung Has. Kamu gak papa khan di rumah sendirian?''


''Gak papa. Huft..kirain ada apa.''Hasna mengelus dada.


"Seneng banget tahu Has. Apalagi aku ditemani orang special."


"Ya udah, ntar hati-hati aja. Dijaga jarak.''


''Apa sih. Larangan kholwat?''cibirku. Hasna terdiam. Aku benar-benar sensitif disinggung hubungan dengan lawan jenis. Aku menaruh mangkok berisi sup panas dan nasi.

__ADS_1


"Kamu tadi malam di rumah temanmu ya?"


"Iya. Emang kenapa?''


''Tadi malam ada paketan datang dan Mba'mu.''


"Kak Avie? Mana?''tanyaku. Hasna menyodorkan sekotak besar. Saat kubuka isinya baju-baju. Pantesan gede bungkusnya.


"Wah, bagus-bagus. Has, kalau mau ambil aja."


"Emang kamu gak mau?"


"Gimana,ya. Bajunya gak pas biat orang sibuk kayak aku."


Lalu aku cahtan dengan kak Avie.


Mira:Kak,sudah kuambil


Avie:Oh,ya? Km suka khan?


Mira:Suka...lain kali lengannya yang pendek-pendek ya kak.


Avie:Haish! Dipake lah


Mira:Iya deh. Tp pas kuliah aja.


Avie:Knp?


Mira:Aku khan kerja part time, susah klo lengannya panjang


Avie:Ooh..btw, km dh py pacar blm?


Avie:hahaha..jomblo trz


Mira:Aku pgn py pacar yg alim


Avie:Klo itu mah ga bakal dapat


Mira:knp?


Avie:Soalnya yg alim maunya langsung kawin


Mira:😱


Aku memberi informasi bahwa aku sudah menemukan nama penyakit dan resep obat yang kemungkinan besar menyembuhkan Bunda. Tinggal bagaimana Bunda dibawa ke Indonesia. Aku meminta Kak Avie menghubungi Elena. Kak Avie menyanggupi.


"Eh, sudah setengah jam lihat hp. Sopnya dingin tuh."tegur Hasna yang tengah mengganti-ganti saluran TV dakwah. Aku langsung mematikan HP. Malu banget kesindir.


...****************...


Cklek, seorang gadis Belanda membuka pintu ruangan. Di dalam, ada seorang perempuan tergolek lemah di atas ranjang.


"Tante, sebentar lagi, Tante pasti sembuh."jatanya setengah berbisik.


"Kamu bisa apa? Sudah belasan tahun aku antara hidup dan mati."balas wanita yang terbaring di atas ranjang. "Lebih baik kau bunuh aku saja. Aku sudah tidak kuat."


"..."Gadis itu terdiam. Ia mendorong ranjang keluar ruangan.Sementara wanita itu diselimuti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia pura-pura menangis. "Aku belum siap melihat kematianmu, Tante."bisiknya.


Airport


__ADS_1




"Minggir..minggir..."pekik gadis itu kepada setiap orang yang menghalanginya. Dengan dibantu gadis pirang sepertinya ia sampai juga ke badan pesawat.


"Apa kau yakin dia benar-benar sembuh?"tanya Helen.


"Tentu saja."jawab Elena mantap. "Tante, bersabarlah. Sebentar lagi kamu sembuh."


...----------------...


"Apa ini?"tanya David saat melihat kertas berserakan di atas meja belajarnya. "Rencana operasi? Amira?" David menekan tombol nomer, lalu menelpon Amira. Terdengar nada sambung.


"Aku gak mau memberi dana buat operasimu. Kamu belum mempunyai gelar dokter sudah berani mengambil resiko. Kamu bisa? Hanya dengan menelaah. Hahaha... dasar bodoh. Kalau gagal kamu masuk jeruji besi." Tut..tut..tut..


...----------------...


Persetan dengan David! Aku pasti bisa melakukannya. Aku sudah menyewa ruang operasi milim dokter A. Dokter itu mendukungku. Lagi pulabyang membantuku orang-orang jenus. Elena misalnya.


Saat Bunda masuk ruangan, aku langsung mencium keningnya. "Assalamu alaikum." Tak terasa air mataku mengalir deras.


Bunda mengusap air mataku. "Jangan bersedih. Semua ini berjalan sesuai takdirNya, dokter."


Padahal tahun depan aku baru bergelar dokter. Aku meminta perawat membius total Bunda. Lalu, aku bersama tim bekerja.


"Hii...serem banget penyakitnya."komentar si perawat saat kami kembali meninjau jenis penyakit yang menjangkiti Bunda. Obatnya mahal banget karena racikannya yang kompleks. Aku mengelap keringat.


"Kenapa dokter?"tanya perawat. Aku menyebutkan kode obat yang harus ada. Dengan sigap perawat mengambil obat permintaanku. Semoga saja bisa. Iya, semoga saja.


"Obat biusnya masih bekerja?"tanya Dokter A saat tim sedang menjahit bekas bedahan.Kami mengangguk. "Besok kamu bekerja di sini saja."saran dokter A tiba-tiba. Aku memicingkan mata. Belum pasti khan aku ditugaskan kemari.


Dokter A mengecek hasil penelitianku, "Bagus..bagus.."


"Dokter!"pekik perawat padaku. Aku menoleh. "Seseorang menaruh racun di obat yang yang dokter resepkan.''


"Memangnya tidak ada yang lain?"tanyaku berusaha tenang.


"Ada, sebentar kami ambilkan."


"Lho..lho kok semuanya keluar?"protesku.


Tersisa kami bertiga. Aku, Bunda dan Dokter A.


"Penelitianmu bagus."komentar Dokter A. "Sayang,obatnya tidak ada." Dokter A melepas maskernya dan berganti alat untuk mencegah asap. Albert! Wajah campuran Amerika Jepangnya itu...keterlaluan.


"Albert..apa-apaan kamu?"


Albert melempar satu kapsul yang berubah menjadi kabut tebal. Aku pegangin Bunda kuat-kuat. Gawat! Bunda bisa mati. Aku pun bisa mati di ruang yang tadinya steril.


Aku terbatuk-batuk beberapa kali. Segera aku mengambil alat bantu pernapasan dan memasangnya ke wajah Bundaku. Kabut hilang bersamaan dengan hilangnya Albert dan datangnya timku.


Mereka terheran-heran. "Apa yang terjadi?"


"Tiba-tiba saja Ibuku sesak napas."kataku tegar.


"Oh. Baiklah. Ini obat yang dokter minta."


Aku mengambilnya. "Obat ini akan bereaksi. Segera pindahkan pasien ke kamar kelas satu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2