My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
rahasia kematian bunda


__ADS_3

Kak Avie tiba-tiba pulang tanpa konfirmasi padaku. Pulang dengan heboh. ''OMG, rumah kok banyak perubahan begini?'' komentar Kak Avie spontan.


Aku tersenyum tipis. ''Yang berubah itu kakak.''


''Oh,iya kakak lupa...lihat...lihat ini.''Kak Avie menyodorkan selembar undangan pernikahan. Di situ tertera nama kakak keduaku.


''Kapan tunangannya?''tanyaku panik. Kak Avie pertama pulang tanpa konfirmasi. Kedua sudah punya tunangan dan akan menikah dalam waktu dekat ini.


''Sudah tiga hari yang lalu. Tunanganku pengen kemari dua hari lagi makanya, aku ke sini memastikan keadaan rumah." Kak Avie meletakkan barang-barangnya ke lantai.


"Jadi apa yang harus kurapikan,ya?" Kak Avie mondar-mandir di ruang tamu. Sifat rempongnya muncul lagi.


Maka, malam itu aku sibuk membantu Kak Avie beres-beres rumah sampai-sampai aku bolos kuliah. Aku tidak merasa kesepian lagi.


"Fyuh....akhirnya selesai juga." Aki mengelap keringatku.


"Kita jajan, yuk."


"Boleh." Aku mengacungkan jempol. Kami makan malam di warung mie ayam.


Kami mengobrol banyak tentang tunangan Kak Avie, namanya mas Dimas.


Yang kutahu mas Dimas lulusan ITB, bekerja di salah satu perusahaan terkenal, punya mobil pribadi, punya rumah tingkat dua, pokoknya mapan, dah.


Saat kutanya tentang ketampanan, kak Avie bilang, "Tergantung orang yang melihat."


Idih, kayaknya biasa aja deh, padahal orang yang naksir Kak Avie ganteng-ganteng. Mantan kak Avie pas kuliah aja ganteng-diamΒ² melihat fotonya pas kak Avie terlena.-


"Met bobok."kata kak Avie sambil mematikan lampu kamar.



.


.


.


.


Hari kedua, kami menata taman yang ada di halaman rumah,aku bersikeras untuk tidak mengubah lokasi yang biasa diduduki bunda. Kak Avie akhirnya mengalah.Pekerjaan kami selesai saat matahari tepat di atas kepala.


"Panas banget."keluhku. Kebetulan ada penjual es dawet lewat di depan rumah kami. Aku langsung beli dua bungkus.


Aku benar-benar bahagia bisa merasakan kebersamaan dengan kakakku lagi. Kami tidak menyinggung pendidikanku. Sampai sore itu aku ragu-ragu saat hendak kuliah.


"Mau ke mana,Mir?"


"Mau belanja kak."kataku berbohong.


"Ah, iya...buat persiapan menyambut tunanganku. Aku ikut,Mir."


"Tapi, aku ada janji sama temen." Kebohonganku berlanjut.


"Aih...ya sudahlah.Kakak pesan ini."


Pesanan kakak seperti gulungan tissu toilet alias banyak banget. Aku menyesal menyusun kebohongan ini sehingga aku kerepotan mengatur waktuku supaya seolah-olah habis belanja bareng temen. Pulang-pulang mandi keringat.


"Kak...Kak Avie..." Tak ada sahutan. Pesaanku menjadi gak enak. Terdengar suara tangis sesegukan dari dalam pintu kamar. Aku buru-buru membuka pintu kamar. "Kak...kenapa nangis?"


"Elena....Elena kembali dek." Kak Avie masih menangis.


"Elena....? Elena Xympony?"tanyaku tergagap. Jadi dia dalang dari peristiwa ini? Aku yang tak begitu mengerti duduk masalahnya mencoba menghibur kakak tercinta.

__ADS_1


.


.


.


.


Hari ketiga, Kak Avie baru cerita tentang Elena Xympony. Dialah yang menjadi penyebab kematian bunda Melan dengan menyuntikkan virus mematikan.Elena menelpon kak Avie mengakui kesalahannya kemarin sore.


Aku ngedumel, "Apa cuma bilang 'maaf'? Hah...emang satu keluarga bisa memaafkan dia? Bunda mati. Dia(Elena) harus dihukum mati juga dong!"cetusku saking kesalnya.


"Sayang, dia masih di bawah umur."jelas kak Avie. "Dia anak jenius. Kamu pasti terkejut saat tahu usianya sekarang. Tiga setengah tahun di bawahmu!!!"


Mataku langsung terbelalak. Pelaku pembunuhan itu seumur Galih. Waktu itu umurku 8,5 tahun. Masa sih anak lima tahun bisa membunuh Ibuku?


video klip


"Tante...tante gak takut suntik,khan?"tajuk Elena.


"Ah,jelas gak,dong. Emang kenapa?"


"Tante...aku suntik,ya!"


JLEB. "Aghrrr..."


"Kak." Tak terasa air mataku meleleh saat aku menonton video peristiwa menyakitkan itu. Kugenggam tangan kakakku.


"Itulah,dek. Kak gak percaya sama keterangan yanh Ayah buat. Sekarang kakak bingung di mana Bunda sekarang?"


"Bunda masih hidup?" Kak Avie mengangguk.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Seorang pria berbadan jangkung menghampirinya, "Nona manis, mau kutemani?"tawarnya dengan senyum lebarnya, dia duduk di samping gadis itu.


"Silahkan." Si gadis itu tersenyum manis sekali. "Namaku Elena. Kamu?"sambil bergeser ke kiri, merapat.


"Henry. Nona tampaknya kesepian."


"Ya, aku diusir dari rumah dua hari yang lalu oleh Papa. Aku dilarang melihat bahan penelitian Papa beberapa tahun ini. Tapi aku nekat."


"Oh, aku ikut sedih mendengarnya. Nona sudah mencari tempat tinggal?" Elena menggeleng. "Kebetulan sekali aku punya satu kamar kosong."tawar pria itu.


Elena tersenyum lagi disusul gelengan. "Tidak perlu. Terima kasih. Aku baru ingat punya saudari di daerah sini. Aku sudah mengirimnya pesan singkat satu menit yang lalu. Katanya, oke, tiga menit lagi aku datang menjemputmu. Baiklqh, Henry ini alamat rumah saudariku. Aku harap kita bisa bertemu lagi."


"Nona, aku harap aku punya waktu untuk berkunjung ke sana."


"Oh, itu harus. Aku akan senang hati menyambut kedatanganmu. Good bye, Henry."


"Bye, Elena!"


Suara mobil sedan mendekat, Elena melambaikan tangan ke pengemudi mobil yang ternyata perempuan sepertinya.


"Hai, Helen! Lama tak berjumpa denganmu."sapa Elena sambil membuka pintu mobil.


"Elena, kamu bakal terkejut melihat villaku yang sekarang."_Helen


"Kamu serius?"_Elena


"Pasti. Aku meminta ahli bangunan untuk menyusun ulang bagian yang jelek dipandang, terutama air pancuran yang lumutan itu."_Helen


"Wow...kau mengganti catnya juga?"_Elena

__ADS_1


"Tentu saja. Tebak warna apa yang kupilih?"_Helen


"Biru laut!"_Elena


"Tepat. Kamu tahu aja seleraku."_Helen


"Ah...sepertinya vilamu itu hanya terlihat baru bukan berubah."_Elena


"Ah...kamu belum lihat sudah komentar."_Helen.


Bunyi dering telepon, Elena mengangkat telepon. "Halo, bagian sekretariat di sini... Oh, Avia Auna. Tentang Ibumu? Maaf, aku belum bisa memberi kabar dalam waktu dekat ini. Iya...maaf sekali. Aku sedang sibuk sekarang. Terima kasih. Selamat malam!"


"Oi,sini khan masih siang."tegur Helen.


"Di Indonesia sudah petang. Ayolah,katanya vilamu dekat dari taman."_Elena


Mobil sedan menukik tajam di daerah pegunungan. Vila yang sudah mirip kastil itu berdiri kokoh di atas tanah.


"Hm...bagus. Lebih baik dari tahun yang lalu. Aku ingin merayakan natal tahun ini di vilamu."nilai Elena.


"Sekarang vila kita berdua."tegur Helen.


"Ya...vila kita berdua..."Elena menatap sekeliling dengan puas. "Aku ingin mengajak seseorang untuk tinggal di sini juga."


"Pria tadi?"tanya Helen.


Elena menggeleng cepat. "Cinta pertamaku. Aku samar-samar mengingat wajahnya.Pria yang menjadi cinta pertamaku di bumi timur, bekas jajahan kerajaan kita."


πŸƒπŸƒπŸƒ


Ruang Laboratorium Profesor Alex


"Dengar, kalau kamu masih ingin hidup, kamu harus mengorbankan sahammu itu Melan!"ancam Profesor kepada pasien wanita yang terkulai lemah di atas ranjang.


"Kamu bisa melakukannya saat kamu melihat putri dokterku."balas Melan.


"Mau sampai kapan kamu menderita? Aku cuma butuh kamu Melan...Siapa lagi kalau bukan kamu?"


"Amira."


"Hah, anak cengeng itu bisa diandalkan?"


"Aku berintuisi putriku itu berselancar dalam dunia yang sama. PERMAINAN SAHAM!"


"Oh, kamu bisa berteriak rupanya. Kamu mau sembuh atau tidak? Melan...Melan...MELAAAN!!!"


Orang yang dipanggil seolah-olah sudah mati. Profesor keluar dari laboratorium sambil ngos-ngosan.


"Dia...dia sudah mati? Apa? Aku bisa dipenjara ini. Elena sialan, aku bertahun-tahun mencari obat mujarab buat kesembuhannya, dia malah pergi entah kemana." Profesor menendang botol kaleng bekas yang ada di dejatnya. Dia ngeloyor ke rumahnya.


"Ke mana Elena?"bentaknya kepada istri mudanya.


"Dia kabur semenjak kamu memarahinya."


Profesor menghela napas yang semula tidak beraturan.


BERSAMBUNG DULU YA...


CATATAN:


author baru ingat negeri Belanda ada di bawah permukaan laut...πŸ˜”πŸ˜”.


__ADS_1


Bonus foto Elena Xympony


__ADS_2