
''Semuanya kumpul!"pekik kak asisten.Ini yang kutunggu-tunggu. Gajian.
"Vera, ke ruangan tengah yuk."ajakku.
"Sebentar-sebentar..aku benerin poni dulu."Vera bercermin sambil sisiran.
"Ih, cepetan. Ntar kebagian terakhir."kataku tak sabaran. Aku benar-benar butuh uang sekarang.
"Tenang aja. Khan amplopnya sudah dikasih nama."kata Vera santai.
"Kalau tertukar gimana?"tanyaku khawatir.
"Gak mungkin."Vera menaruh sisirnya di depan cermin.
Aku menarik tangan Vera. Seluruh personilnasisten rumah tangga berkumpul di ruang tengah dan mengantri untuk mendapat gajian secara teratur. Kami urutan terakhir.
Kini tiba giliranku.
"Aman." Aku mengangkat kepala. "Kamu jangsn kaget ya." Aku mengedipkan mata. Aku mengangguk pelan. Di belakangku, Vera menepuk pundakku.
Kami kembali ke kamar.
"Ih, nyonya aneh banget hari ini."gumamku.
Vera mengangkat bahu. Dia menggendong tas mininya. "Waktunya pulang!"katanya padaku.
Aku menaruh amplop ke dalam dompet. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 12.45 PM. Waktunya pulang.
...****************...
Sampailah aku di rumah tercinta. Di teras rumah ada sesosok gadis berdiri menungguku.
Dia mengangguk kalem. "Ayo masuk!" Aku membuka pintu rumah.
Kubantu dia membawa barang-barang. "Hanan mana sih? Gak TJ banget!"omelku saat kutinggal dia menata barang. Aku masuk kamar sambil membuka amplop. Aku menghitung lembaran uang berwarna biru.
"Apa-apaan ini? Gajiku dipotong! Lyon brengsek!" Aku menelponnya. Lyon langsung mengangkat.
"Lo tega ya motong gaji gue...apa salah gue coba..."Aku menitikkan air mata.
"Dua kali telat sama bolos dua hari."jawab Lyon santai disusul kekehan. Hukuman yang kuterima sia-sia. Lyon brengsek!! Dia mempermainkanku.
"Tuan Lyon!!! Salahku apa?"ulangku tak yakin. Air mataku tumpah. Sakit banget rasanya.
"Bantah perintahku lima kali."
"Perintahmu yang gak masuk akal itu?"Aku semakin kesal.
"Mira-chan, maaf aku sedang sibuk." Tut..tut.tut...
Aku tersenyum pahit. Kuletakkan hpku di atas meja belajar. Tiba-tiba ada pesan masuk dari sepupuku, Bayu.
Bayu: Mir, lagi ngapain?
Mira:Bete
Bayu:Kenapa?
Mira:Aku boke Bay. Sedih bangetπ.
Bayu:Halah-halah. Gitu aja sedih. Rezeki itu datang dari mana-mana.
Mira:Ya,ya Pak Ustadz...
Bayu:Kebetulan nih...usaha Ayah untung besar. Terus aku kebagian jatah. Kamu kutransfer ya
Mira:Beneran Bay?
Bayu:Iya...kamu cek aja di ATM
Mira:Thanks,Bay...
__ADS_1
Senang banget rasanya. Memang bener ya rejeki itu datang dari mana-mana. Aku tersenyum puas saat mengambil uang di ATM.
"Hasna...hari ini kita makan mie ayam!"kataku riang saat pulang dari bepergian. Busyet! Rumahku diapain sampai sekinclong ini...yang tbah bikin kaget pajangan foto dibalik. Kaset-kasetku pun dikemasi. Buku komik kesukaanku ikut dikemasi.
"Mau buat apa?"tanyaku penuh keheranan.
"Mau aku buang. Yang kayak gini membuat rumah banyak setan tahu."kata Hasna kritis. Aku menghembuskan nafas.
"Oke deh. Taruh gudang saja. Ayo kita makan malam."kataku dengan nada bersahabat.
Hasna berdiri dan berjalan mendekatiku. "Kamu beli apa?"
"Mie ayam!!!"sorakku sambil memegangi perutku yang sudah berbunyi. Hasna tampak terkejut melihat sikapku.
"Sorry.."Aku menutup mulut. Malam itu kami berkenalan lebih dalam.
.
.
.
.
Marry Christmast
"Selamat hari natal!"ucap Helen kepada Elena. Elena tersenyum manis.
"Aku ingin ke Indonesia, mencari seseorang."mohon Elena.
"Pujaan hatimu?"tebak Helen. Seketika wajah Elena bersemu merah.
"Oke, sore ini kita ke sana."putus Helen.
Sore itu juga mereka menuju belahan bumi timur. Sampailah mereka ke Ibukota Jakarta lalu mereka transit ke Semarang.
"Kita dulu pernah tinggal di sini,khan?"kata Helen mengingatkan masa kecil mereka.
"Ah, kamu ungkit itu lagi. Di mana komplek seseorangmu itu?"tanya Helen mengalihkan pembicaraan. Elena berjalan mengitari kompleks. Helen mengikutinya. Elena menunjuk ke rumah joglo.
"Wow, fantastic!"decak Helen. Helen menyipitkan mata. "Tampaknya ada seseorang. Kau sapa dia. Aku kurang fasih bahasa Indonesia."
"Good morning."sapa Elena. Dua wanita itu memakai jaket, topi wisatawan, dan kacamata lensa coklat. Mereka terlihat sangat cantik. Dan orang yang mereka sapa adalah adik pertama Amira, Galih.
"Morning Girl."
"Perkenalkan nama saya-"
"Kamu Lena khan?!"tunding Galih memotong pembicaraan Elena.
Elena tersenyum. "Masih ingat ya." Mereka berjabat tangan. "Dan yang di samping saya Helen."
"Helen Barbarina." Kali ini, Helen angkat bicara sambil berjabat tangan dengan Galih.
"Lena. Helen masuk dulu lah."suruh Galih sopan
Elena dan Helen menurut. Mereka berbincang lama mengenai masa kecil mereka, perjalanan menuju Indonesia, dan banyaknhal lainnya.
"Elena ke sini karena kangen kamu."ceplos Helen.
"Ha?"tanya Galih tidak mengerti. Elena cuma menepuk dahi. Lalu dengan manjanya dia merangkul Galih.
"Kau tahu...aku merasa kehilanganmu semenjak aku ke Belanda." Galih terdiam seribu bahasa.
"Galih..."
"Lena." Galih melepas rangkulan Elena. "Aku gak mau punya kekasih pembunuh Ibuku." Galih bangkit.
"Tunggu, Ibumu masih hidup.... Beneran!! Semua kakakmu sudah tahu."kata Elena memohon.
__ADS_1
"Gak mungkin...berarti yang di keranda itu siapa dong?" Galih teringat keranda Ibunya di kamar depan.
"Kalau kamu gak percaya. Buka aja kijingnya."kata Elena memberu saran.
Galih benar-benar melakukannya. "Gila! Petinya kosong! Gila!!"gumam Galih."Sekarang di mana Bunda?"
"Di Belanda."
Galih memelototi Elena. "Dengar, kau gak puas apa menyuntikkan racun ke Bunda. Kemudian membohongi segenap keluarga besar bahwa Bundaku mati."
Elena gemetar. "Aku kemari untuk menebus kesalahanku. Aku tahu yang aku lakuin dulu itu salah. Please, maafkan aku."
Sementara....
Vera bahagia banget hari inj karena hari ini hari natal. Segenap keluarga besar Akmarahulla pergi ke gereja. Aku mulanya diajak, tapi kutolak baik-baik. Aku memutuskan untuk pulang. Sebenarnya pengen nangis sih. Hasna memperhatikanku.
"Kamu kayanya sedih banget. Nih aku beliin. es. Biar hatimu dingin."
"Makasih."kataku. Aku menyandarkan tubuh ke sofa.
"Gak kerja?"tanya Hasna.
Aku menggeleng. "Ini khan hari libur bersama."
"Ohh."Hasna menatap lantai.
"Nonton yuk."ajakku.
"Oke."
...****************...
Sorenya aku mengajak Hasna belanja ke minimarket terdekat dari perumahan. Kami borong banyak belanjaan buat persediaan satu bulan.
"Busyet, banyak banget belanjaannya."komentar otang yang melalui kami. Kami membawa barang belanjaan ke rumah pakai trolli makanya jadi pusat perhatian.
Di pertengahan jalan, aku melihat cewek-cewek bersorak sorai menyemangati orang yang sedang adu tanding bola basket.
"Kyaa...."jerit cewek-cewek. "ROBERt kereen!" Hah, si kepiting rupanya. Aku buru-buru menyerbu Robert. Kepiting merah itu kaget melihat kehadiranku.
"Aih, Mira."katanya polite. Aku merangkulnya bersahabat.
"Lama gak ketemu. Kangen gak sama aku?"tanyaku ramah.
Robert mengelap keningnya dengan handuk kecil. "Iya,kangen. Kamu kok tumben jalan-jalan."
"Harusnya aku yang nanya, kamu kok bisa sampe sini?"
Robert tersenyum misterius. "Kepo lu."katanya sambil memalingkan muka.
"Nih..juz buah. Kamu pasti haus,khan."kataku sembari menyodorkan sekotak juz buah.
"Makasih Mir... I miss you."
"Apaan sih tu cewek. Sok akrab banget. Bubar yuk bubar!"komentar cewek-cewek.
Hasna memanggilku."Amira, ayo pulang!"
"Oh ya...ini teman baruku namanya Hasna.Cantik khan?" Aku memperkenalkan Hasna kepada Robert.
"Hahah..iya. Tapi tetap cantikan kamu. Aduh..gua haris pulamg dulu nih. Udah dulu ya."
"Oke." Kami saling melambaikan tangan.
"Amira, itu pacarmu?"selidik Hasna.
"Bukan, hanya kenalan. Kenapa?"tanyaku balik.
"Kamu ini terlalu gampangan sama cowok ya."komentar Hasna. "Kupikir orang berpendidikan sepertimu tak tergoda dengan lawan jenis."lanjut Hasna.
"Haha...gitu ya. Jadi orang gak usah kaku-kaku amat."Aku menggaruk kepala. "Udah ah. Kita pulang aja yuk. Langit udah bertambah gelap nih."ajakku.
Bersambung...
Hayuk, kasih komentar, terserah apa deh...asal gak mak jlebin author. Hehehe...πππ
__ADS_1