
''Kak Aviee!' aku menangis tersedu-sedu di pelukan kakak tercinta, belum pernah aku sesedih ini.
''Aduh dek...katanya wanita kuat..kok nangisnya suram banget,sih.''goda kakakku. Aku melepas pelukan.
''Kak, jangan tinggalin aku walau sedetik aja.'' Kembali aku memeluk kakakku.
''Dek, sebenernya kakak juga gak rela ninggalin adek buat kerja di Jakarta, tapi ini semua juga buat adek.'' Aku terdiam. ''Baik-baik ya di rumah...jangan keseringan menginap di rumah teman.''pesannya dengan wajah tulus. Kak Avie.
***
Aku mengemasi barang-barangku, kubiarkan Vera keasikan mendengarkan lagu favoritnya. Kami sama-sama lelah, tapi di kamar yang sempit ini, aku tak bisa berdiam diri terlebih saat jasrat ingin pulang ke rumah memuncak, dan malam ini kuputuskan untuk pulang.
Terdengar ketukan pintu, aku menduga yang datang tuan mudaku, Lyon. Vera masih santai-santai. Kubukakan pintu, benar Lyon datang ia menarikku ke dapur, ''Aku lapar, ayo bikin mie dan makan bareng-bareng di sini.'' Aku menurut.
''Kita lanjutin yang tadi pagi. Kamu serius pengen beli buku?'' Aku mendengus.
''Ya! Semua ini gara-gara kamu yang seneng bangetbbuat ngehancurin impianku.''tundingku. Kalau sudah berdua dan jauh dari nyonya aku berani bilang begini.
''Salah sendiri melanggar perintahku.''ejeknya. Aku lagi-lagi mendengus. ''Aku pengen buat Liona keki sama aku supaya dia bener-bener tahu aku lebih populer dari dia dan aku yang pantas masuk kelas A.''
''Terus?'' Aku bertambah tidak mengerti. Dia menepuk pundakku.
''Dengar, ya...aku bakal ngewujudin apapun keinginanmu asal gak melanggar perjanjian kits dan aku minta kamu bantuin aku di lomba nanti biar aku menang.''
''Caranya?''
''Bujuk sekelas dan semua orang di sekolah buat mereka nge fans sama aku.''
''Gila! Lo gak salah orang khan? Aku? Bisa apa aku? Kenapa lo gak nyuruh Vera aja yang jelas-jelas lebih tahu tentang kamu.''
''Mira, sekarang kamu itu populer dengan gaya imutmu..apa susahnya sih mempengaruhi orang. Aku yakin banget sama pesonamu yang bikin teman-teman tertarik. Lo nyadar gak?''
Aku menggeleng.
''Ya sudah...apa yang kamu inginkan aku kasih''
''Aku ingin ke Jakarta.''jawabku penuh harapan.
***
''Oh, ya ini cowok yang sering aku ceritakan.'' Kak Avie manggut-manggut tanpa berkomentar. Aku mendesah pelan. 'Tumben.'pikirku.
''Lyon...jadi kamu ya yang pernah mondar-mandir di depan rumah. Waktu kutanyain kamu jawab cari seseorang tapi gak tahu di mana tinggalnya.'' Lyon tersenyum. ''Dan orangnya Amira.'' Lyon mengelus rambutku.
''Haha...kasih tahu gak ya...?'' Kak Avie senyum-senyum sambil melirik ke arahku.
''Apa sih kak?''gertakku.Lyon menatapku. Kak Avie menutup mulut.
''OK...kakak traktirin kalian bakso ya...''kak Avie meninggalkan kami.
__ADS_1
Kak Avie menuju gerobak bakso di seberang jalan. Ya ampun..aku sangat terharu melihat wanita itu, aku kagum dengannya. kak Avie satu-satunya keluargaku yang paling baik, bertanggung jawab.
Aku meneteskan air mata, aku merasa berdosa karena sering membuatnya susah...perasaan bersalah lagi saat aku membuatnya berkali-kali kecewa dan khawatir apalagi pas SD dulu saat bersama Bayu.
''Oi, malah melamun. Makan dulu gih. Kalian khan capek jauh-jauh ke Jakarta.'' Kak Avie sosok mengagumkan itu duduk di depanku.
''Iya, iya..''Aku menyendok bakso ke mulutku.
Selama di Jakarta, kak Avie mengajak kami ke tempat kerjanya, jalan-jalan ke taman, dan menceritakan apa saja tentang dirinya.
Terakhir ia berkata kepadaku, ''Tampaknya dia memberi lampu hijau.u' Aku melongo. ''Ingat, mampir ke Semarang! Jangan cuma di Jogja terus.''pesannya. Kak Avie, berat rasanya meninggalkanmu.
🍃🍃🍃
''Ngapain jauh-jauh ke Jakarta?'' Aku mulai meneteskan air mata.
''A...aku, kakakku di sana.''jelasku yang tak berani berterus terang.
''Siap, habis aku menang, kita langsung terbang ke Jakarta. Syaratnya kamu harus bikin aku populer.''
''Bisa bantuin caranya? Jujur saja aku kurang berpengalaman.''
''Kamu gak usah sok bodoh gitu deh. Pertama-tama, hilangkan rasa gengsimu anggap saja mereka itu bukan siapa-siapa, selanjutnya terserah kamu.''
''Seperti membawa batu dari gunung merapi.''keluhku.
''Ngaco dah.''komentarku sambil mencuci piring.
🍃🍃🍃
''Bu kantin..boleh bantuin pas istirahat?''tawarku pagi-pagi sekali. Aku jarang banget ke tempat ini kecuali kalau ada acara tertentu. Bu kantin tertegun saat mendengar permintaanku terlebih dia gak kenal aku.
''Ide bagus. Tapi apa itu ndak memberatkanmu?'' Aku menggeleng. Demi tuan muda aku akan melakukan semua ini semaksimal mungkin.
''Ibu gak perlu menggaji saya.''terangku kemudian.
Ibu kantin tersenyum,''halah, jangan sok baik gitu. Mana ada orang hidup kerja keras yang gak pengen gaji.''
Mulai hari itu aku menjadi penjaga kantin, sempat aku meras gak PD, tapi dengan bekal di rumah besar aku lumayan cekatan menghadapi banyaknya pesanan.
''Amira, sejak kapan lo di sini? Jadi penjaga kantin?''
'Duh, si kepiting ini ingin menyurutkan semangatku.' Aku tersenyum tipis.
''Pasti ulah ketua lagi ya. Kamu cekatan juga sejak tinggal di rumah.''
'Kepiting pergi sana!' Tapi dia gak pergi-pergi. Sialnya ini lagi istirahat kedua. ''I..iya.'' Aku gelagapan menanggapinya. Aksi kepiting tidak berhenti begitu saja.
''KAMU MAU NGAPAIN?!!''gertakku. Kepiting itu gak ngefek digertak kaya gitu. Aku teringat dnegan kata-kata Lyon tentang pesona. Aku berpikir ada baiknya pesona ini kukeluarkan, meski rasanya aneh.
__ADS_1
''Oh, tuan mungkin Anda ingin bicara sesuatu yang penting?''gayaku berubah menjadi sangat manis. Wus...pesonaku membuat cowok-cowok tercengang, apalagi si kepiting. ''Aku siap mendengarkannya.''lanjut ku. Kepiting memberikanku secarik kertas lalu pergi.
🍃🍃🍃
Lyon bertepuk tangan saat aku selesai bercerita kejadian di kantin. Dia memujiku dan bangga kepadaku.'' Lyon, kepiting memberiku ini.'' Lyon membaca tulisan di kertas.
''Kamu gak boleh oergi. Robert pasti ingin menjebakmu lagi.''
''Taoi, aku sudah menyanggupinya.''sanggahku.
''Kamu pilih ikut perintahku atau dia? Kamu khan gak punya siapa-siapa lagi di sini. Tanoa keluarva Akmarahulla kamu bisa gak aman. Gak, Mir. Kamu tetap harus di sini.''
Kata-katanya membuatku bertambah bimbang.
''Kamu tetap mau pergi?''tanya Lyon. Aku menggeleng lemah. ''Aku mau pulang ke rumah. Aku pengen...'' Lyon mengeluarkan kunci kendaraan roda dua.
''Oke, aku yang mengantarmu.''
Lyon...kenapa kamu begitu perhatian sama aku? Bagaimana dengan Liona? Pikiranku berkecamuk sepanjang perjalanan pulang.
Motor melaju lebih kencang.''Lyon...hati-hati nyetirnya.''
''Ada mobil yang sedari tadi buntutin kita.''
Mungkinkah itu Robert, ataukah orang lain?
''Kamu bawa kuncinya khan?'' Aku mengangguk.
Hari ini aku bermalam di rumah melepas rasa kangenku, aku semakin ingin ke Jakarta bertemu kak Avie. Aku sampai tidak memperhatikan tayangan TV yang membosankan itu. Aku menguap lebar.
''Lyon, mau pulang atau tidur di sini?''tawarku.
''Mau tidur di sini sama lo.''
''Idih!"
''Mau pulanglah...emak gua ga bakal tidur kalo anak bungsunya gak pulang.'' Ia bangkit dari sofa di ruang tengah.
Aku tersenyum.
''Besok pagi buta datang ke rumah ya.'.pesannya sebelum pergi. Aku mengangguk, kemudian tertidur dan lupa mematikan TV.
Bersambung....
Catatan:
Setelah kecemburuan Liona mereda, Robert sering mengejar-ngejar Amira. Amura selalu menghindari Robert dan bersembunyi di belakang Lyon.
__ADS_1