My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Peter Gunawan


__ADS_3

Peter Gunawan. Namamu unik. Keluargamu unik. Kehidupanmu unik. Aku datang ke Bandung untuk mencarimu, untuk mempertemukan mu dengan Ibumu, Marbel.


Peter, aku tahu hidupmu diliputi kecemasan dan kerinduan yang mendalam. Kegelisahan yang tak ada ujungnya.


Peter, dengan kedatanganku di Bandung bisa menghapus wajah mendung mu dan mengembalikan wajah cerah mu.


'' Benar ini Panti ___?"tanyaku pada salah seorang pengurus panti di pendopo.


"Ya, Mbak. Selamat datang di panti ___. Apa Mbak salah seorang kerabat salah satu anak panti?"


"Saya mencari Peter."


"Oh, Gunawan. Sayang sekali, sudah dua hari ini dia tidak pulang."


"Mengapa tidak dicari?"


''Memangnya siapa yang mau mencarinya. Dia memang suka tiba-tiba menghilang.''


''Kenapa tidak dicari? Kalian akan menyesal karena menyia-nyiakan ya. Saya dokter Amira mau mengadopsinya tahu!"


Pengurus panti berpikir sejenak. "Sebenarnya Gunawan ada kegiatan pramuka di sekolahnya. Hari ini seharusnya dia pulang."


"Ada tamu, ya?"sapa suara lain, seorang bapak-bapak berumur.


"Pak ketua. Ini Mbak dokter datang untuk mengadopsi Gunawan."


Ketua panti menatapku lekat-lekat. "Anda serius? Mana mungkin aku percaya pada bocah."


Aku melempar KTP ku. "Lihatlah. Aku dokter Amira, umur dua puluh lima tahun. Memenuhi persyaratan menjadi ibu asuh Peter Gunawan. Peter harus kuadopsi. Titik!"


Mereka saling pandang. "Oke, kita jemput dia."


...🌈🌈🌈...


Tap, tap, tap, langkah kaki para anggota pramuka bergerak menuju sekolah Ambe. Peter Gunawan memimpin mereka, berwajah tampan, rambutnya ikal, ada setitik tahi lalat di dagunya. Ia mengaba-ngaba pasukan untuk berhenti.


"Peter, selamat sore!"sapa seorang wanita muda berpakaian rapi, rambutnya tergerai panjang, bola matanya besar itu melambaikan tangan kepada Peter. Wanita itu adalah aku. Aku ditemani pengurus panti yang kukenal namanya Pak Hadi.


Peter tersenyum sinis. "Bapak ngapain ke sini? Aku bukan anak kecil lagi yang harus dijemput segala!"omelnya dengan nada tinggi.


Galak banget nih bocah. Perasaan aku yang nyapa kok Pak Hadi yang disemprot.


"Dengarkan dulu, Awan." Pak Hadi menenangkan anak asuhnya. Bukannya menurut bocah itu malah memberontak.


"Saya gak mau dengar. Saya tahu pasti tentang pengadopsian. Saya tidak mau diadopsi siapa pun selain Ibu kandungku."tolaknya.


Aku terkekeh. "Oh, kamu lupa dengan Ibu. Aku --teman-- Candy Marbel. Apa kamu lupa, Peter?"


Aku berhasil menarik perhatiannya. Ia menatapku lalu bergumam. "Ibuku?"


"Iya. Ibu akan menceritakan padamu tentang keluarga kita."janjiku. Tak disangka, Peter berlari ke arahku dan memelukku erat. Air matanya tumpah. "Maafkan Ibu yang telah kama menelantarkanmu."kataku lirih.


"Ibu... aku kangen Ibu. Ibu kenapa baru datang sekarang?"


...🌈🌈🌈...


"Terima kasih atas kerja sama nya, Pak Hadi. Sandiwara saya berjalan dengan mulus."kataku sambil berjabat tangan dengan Pak Hadi.


"Awan sedang persiapan."


"Oke. Urusan pindah sekolah sudah beres, ya?" Pak Hadi mengangguk.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian...


Peter muncul dengan senyum sumringah. Ia membawa tas ransel yang muatannya banyak.


"Bawa apa sampai sebanyak itu?"tanyaku.


"Aku membawa seluruh bajuku, Ibu." Aku menepuk dahi. Polos sekali pemikirannya.


"Ibu bisa membelikanmu baju yang lebih bagus."


"Ibu, kita mau ke mana?"tanya Peter saat kami menaiki taxi.


"Mau ke stasiun. Apakah kamu lapar?"


"Iya."kata Peter malu-malu.


Aku membelai rambutnya. "Nanti kita mampir dulu ke rumah makan. Jadwal kedatangan kereta satu jam lagi. Kita masih punya waktu untuk makan bersama." Wajah Peter sangatlah tampan, andai dia seumuran denganku, akan kujadikan pacar.


"Maaf, Nyonya. Mungkin sedikit terlambat ke stasiun, karena jalanan macet."kata sopir kepadaku.


"Kami turun di sini saja Pak. Ini uang pembayarannya." Aku menyerahkan dua lembar uang biru. Kemudian, aku dan Peter turun dari taxi.


"Peter,mau makan di rumah makan yang mana?"tanyaku pada putra Candy Marbel. Peter langsung menunjuk rumah makan yang bergengsi.


"Ayo kita mengisi perut kita Peter!"


"Oke."


...----------------...


Amira: Marbel, ini anakmu?



Amira: Dia sangat senang.


Marbel:Sekarang di mana kalian?


Amira: Si Bandung, otw pulang.


Marbel:👍


"Bu, mau bakso, Bu."


"Oke. Kita pesan bakso terenak di sini."


Sambil menunggu pesanan, aku mengamati wajah bocah ini. Parasnya benar-benar tampan. Membuat orang jatuh cinta. Andai dia seumuran denganku.


"Ibu, bolehkah aku meminjam HP Ibu?"


"Boleh. Untuk apa?"


"Aku mau pamitan dengan teman-temanku."


"Silahkan." Aku menyerahkan HPku.


Peter serius menatap layar HP.


"Bisa memakainya?"


"Bisa, Bu."

__ADS_1


Selesai menghubungi teman-temannya. "Ibu ini dokter?"


"Iya, aku dokter. Kamu pasti bangga khan punya Ibu dokter."


"Kalau Ayah?"


"Ayah...? Tidak tau. Ayah dan Ibu lama tidak bertanya kabar."


Ia manggut-manggut.


"Ayah kerjanya apa Bu?" Aku menepuk jidat.


"Kepo amat sih. Ibu mana tahu kerjaan Ayahmu. Kamu jangan bertanya-tanya lagi soal Ayah."


"Kamu bukan Ibuku."tunding Peter. Sejak kapan dia menyadarinya? "Kamu, dokter Amira Amana. Perawan tua umur dua puluh lima tahun, kerja di rumah sakit dan punya klinik sendiri."


Aku kalah.


"Benar. Aku bukan Ibumu, Peter."kataku sambil mengulas senyuman. "Aku mendapat perintah dari Ibumu untuk menjemputku karena keadaan yang tidak memungkinkan. Aku baik hati khan menyelamatkanmu dari kehidupan panti?"


"Biasa saja."


"Baik. Dari pada debat, setelah ini kita jalan lagi."kataku.


...🌈🌈🌈...


"Ibu, aku tidak kuat jalan."rengek Peter.


"Hah? Bukannya kamu pemimpin pramuka ya?"


"Aku ingin naik becak, Bu. Kumohon."


"Selagi kita masih punya kaki kita berjalan."


"Kumohon Bu, kumohon."


"Tapi kamu bayar sendiri."


"😑😑😑."


"Tidak. Ibu hanya bercanda."


Kami menghampiri becak. Tukang becak sedang tidur siang bermalas-malasan.


"Pak, ke stasiun, ya?"kataku sambil menyodorkan uang ungu.


Tukang becak menguap lebar, mengucek-ucek mata. Lalu bersiap duduk di belakang dan mempersilahkan kami naik.


"Peter, kamu suka keramaian atau sendiri?"tanyaku.


"Tergantung sikon sih Bu."


Berarti kesimpulan Caterina tidak sepenuhnya benar.


"Kamu tidak akan kesepian lagi jika di rumah Ibu, Peter."


"Baik." Peter mengulum senyum, membuatku terpesona. Tampan sekali.


"Kamu kalau ada keluhan bilang ke Ibu, ya."


Kami tiba di stasiun. Waktunya kembali ke kota asal!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2