
Paginya, Amira membuka smartphonenya. Ada banyak pesan singkat yang masuk dari Kak Avie. Tampaknya Kak Avie khawatir dengan hilangnya Amira di tengah-tengah pestanya. Begini isi pesannya.
''Dek, kamu di mana? Kakak cari ke mana-mana gak ada. Bunda mau bicara sesuatu sama kamu. Dek, kamu pulang toh? Kok buru-buru sih? Kakak punya sesuatu untukmu. Selamat tidur."
Amira menangis sesegukan. Ia pikir tidak ada yang mempedulikannya. Ia lupa, ada Kak Avie yang selalu peduli sama dia. Amira mengusap air matanya yang beranak sungai karena mendengar ketukan pintu.
Tok-tok-tok... Segera Amira membuka pintu. Albert, pemuda Indo-Jepang itu yang mengetuk pintu tersenyum lebar. Ia datang untuk mengajak Amira sarapan pagi sebelum kembali ke kota Jogja.
"Ayo Amira." Albert menggenggam tangan Amira. Amira mengangguk. Ia tak ingin terlihat seperti orang yang rapuh.
"Oke."
Di dalam benak Amira, ia bertanya-tanya. Bunda mau ngomong apa ya? Ah, kenapa aku buru-buru pulang sih?. Amira menertawakan diri sendiri sampai tak memperhatikan jalan. Ia tak sengaja menabrak Albert yang tiba-tiba berhenti. Jduk*
Amira mundur perlahan. "Eh, kenapa berhenti?"tanya Amira. Mereka tiba di lift, karena restoran berada di lantai dasar. Namun, semua lift di hotel ini penuh. Jadi, mereka harus menunggu beberapa saat untuk naik lift.
Setelah lift kosong, Amira dan Albert juga beberapa pengunjung masuk lift. Amira yang baru pertama kali naik lift gemetaran. Ia merasa dirinya tersedot oleh gravitasi bumi. Makanya ia jongkok menyentuh lantai lift supaya tidak jatuh ataupun oleng.
Melihat tingkah 'memalukan' Amira, Albert menarik tangan Amira dan menggenggamnya erat. "Jangan takut."bisik Albert. Amira mengangguk pelan. Rasa takutnya perlahan-lahan hilang berganti dengan rasa nyaman.
Lift terbuka, mereka bergegas ke restoran di dalam hotel. Restoran untuk kalangan berkelas tentunya. Albert memesan makanan khas Jepang kesukaannya sementara Amira memesan makanan kuliner Nusantara. Hal itu mengundang perhatian orang di sekeliling mereka.
Mungkin orang mengira mereka adalah sepasang kekasih yang menginap di sebuah hotel setelah berlibur seharian. Dugaan mereka menguat karena mereka terus bergandengan tangan.
''Amira, jaga sikapmu.''bisik Albert kepada teman wanitanya yang terpesona dengan kemewahan restoran. Amira mengangguk, bibirnya membulat, kesal.
Tante pemilik hotel yang kemarin menyambut mereka tiba-tiba datang menghampiri. ''Dokter Amira.''panggilnya. Sontak para pengunjung pura-pura tak peduli. Tante itu meminta izin untuk bergabung dengan mereka.
''Ya?''Amira mengusap bibirnya dengan tissu. Cara makan dia berantakan. Tante pemilik hotel menjabat tangan Amira seraya memperkenalkan diri.
''Nama saya Ichigo Kitagawa. Saya asli Jepang. Dan yang bersama Anda adalah anak saya,Albert. Saya adalah Ibunya Albert.''kata Tante pemilik hotel yang tak lain Ibunya Albert. Amira memperhatikan wajah Tante Ichigo dan Albert bergantian. Tidak ada yang mirip. Amira makin cemberut.
''Kami memang tidak mirip. Tapi Albert benar anak saya. Iya khan Albert?''Tante Ichigo meyakinkan Amira bahwa dia benar-benar Ibunya Albert. Albert mengangguk.
__ADS_1
''Ibu yang tidak pernah pulang.''Albert membenarkan dengan tatapan dingin. Amira merasa ada perselisihan antara Ibu dan anak itu. Tapi Amira tak ingin mengusik hubungan mereka.
''Tante mau ngomong apa?''tanya Amira. Ia melanjutkan makan. Mendengarkan penjelasan orang sambil makan bukan perilaku yang baik.
''Tante terkesan sama kamu. Kemarin A bilang kamu memimpin tim operasi. Dokter bedah termuda yang pernah kutemui.Aku boleh minta tanda tangan dan kesan pesan?''pinta Tante Ichigo heboh. Ia mengeluarkan notebook kesayangannya dan sebuah pulpen gel.
''Saya gak sehebat itu Tante. Saya bisa berkat bantuan dokter A dan kawan-kawan satu tim.''
''Maaf Tante, saya tidak ada waktu untuk hal ini.''tolak Amira mentah-mentah. Tante Ichigo tampak kecewa, beliau meminta Amira tanda tangan saja. Albert menengahi mereka karena sangat gaduh.
''Bisakah kalian berhenti?''
...****************...
Amira pulang dengan langkah gontai. Langkahnya terhenti saat melihat mobil pick up di depan rumahnya. Dua orang memakai seragam salah satu pertokoan tampak kebingungan.
''Benar ini rumah Bapak Trian?''tanya salah seorang dari mereka kepada Amira. Nama orang yang membuat Amira muak dan ingin muntah. Nama seorang yang telah menelantarkannya bertahun-tahun dan meninggalkan tanggung jawabnya sehingga Amira menjadi pribadi yang sekarang.
''Ini ada pesanan Bu Avie. Katanya disuruh antar kemari.'' Petugas itu mengantar cek barang yang dibeli Kak Avie. Kalau Kak Avie membeli barang dari Semarang dan diantar ke Jogja berarti Kak Avie berniat menempati rumah ini lagi. Amira tidak kesepian lagi.
''Oh, ya, ya. Saya adiknya. Silahkan Bapak-Bapak masukkan ke ruang tamu.'' Amira membuka kunci rumah lebar-lebar supaya perabotan dapat diusung ke ruang tamu.
Setelah semuanya terusung, Bapak-bapak itu berpamitan.
Amira menghubungi Kak Avienya namun tak kunjung mendapat balasan. Hal itu membuat hati Amira galau. Apa harapannya untuk menjadi keluarga utuh hanya angan kosong belaka?
.
.
.
.
__ADS_1
Semua terjawab dengan datangnya minibus. Turunlah beberapa orang yang tak lain keluarga Amira. Ada Ayah, Bunda, Mama tiri beserta ketiga anaknya, Kak Galang beserta keluarga kecilnya, Kak Avie dan suaminya, Galih, Citra,beserta Keluarga Trian.Mereka membawa tas dan koper.
Bukannya menghampiri, Amira mengunci dirinya di kamar. Amira menangis sejadi-jadinya. Ia kecewa karena merasa diabaikan.
''Amira! Amira! Keluar gak!"panggil Bayu bergantian dengan Kak Avie maupun Kak Galang.
"Gak mau keluar?''tanya mba' Novi. Azam berceloteh dalam dekapannya. ''Dek, Bunda mencarimu dek. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan."Mba' Novi yang alim ikut membujuk Amira. Bujukannya sukses. Amira membuka pintu kamar.
''Kalian ngapain? Tugasku menjadi dokter sudah selesai. Aku lebih pantas menjadi guru, khan?'' Amira melipat tangannya. Keempat saudara Amira menatap Amira keheranan.
Kak Galang langsung menyergah. ''Hah, tidak ada waktu berbicara masa lalu. Bunda hanya membutuhkanmu,Mir. Kami tidak.''
Terpaksa Amira memenuhi permintaan mereka. Akhirnya Amira berbicara empat mata dengan Bunda di kamar beliau dahulu. Amira menunduk.
''Amira Amana. Sekarang aku ingat namamu, dokter. Kau adalah anak kebanggan Bunda. Mungkin saja karena kita memiliki banyak kesamaan.''kata Bunda memulai pembicaraan. Amira terdiam mendengarkan.
''Nak, bertahun-tahun semenjak Bunda gadis, Bunda membeli saham bersama dengan ketiga adik Bunda. Kami sama-sama membangun usaha. Bunda menggaet banyak kenalan untuk menjalankan usaha...''Cerita Bunda disusul dengan desahan lemah.
''Kemudian, masing-masing adik Bunda membangun usaha sendiri. Akhirnya, Bunda bersama teman-teman menyatakan ikrar bahwa usaha kita adalah yang terbaik. Hal itu membuat adik-adik Bunda menyimpan rasa iri. Padahal mereka memiliki banyak waktu luang ketimbang Bunda.''
Amira menaikkan alis. Penderitaannya tak seberapa dengan penderitaan Bundanya tapi kenapa ia menyerah begitu saja?
''Mereka tidak tahu, kenapa Bunda bisa nempel dengan banyak pria bahkan terkadang malam-malam kami saling kontakan. Bunda dituduh selingkuh oleh keluarga Bunda...
Maka di hari yang nas itu, penyakit aneh menggerogoti kesehatan Bunda. Yang Bunda ingat hanya kamu nak...'' Bunda mengguncang-guncang tubuh Amira. Amira terisak.
''Lanjutkan pendidikanmu dan genggamlah saham Bunda untuk biaya pendidilanmu. Tataplah masa depanmu dengan senyum kemenangan.'' Amira mengangguk.
''Bunda..aku..aku belum punya pacar..''kata Amira. Semua teman laki-lakinya pergi meninggalkannya.
Bunda menggeleng, senyumnya terukir. ''Pacar itu hanya menghalangi mimpi besarmu.''tegas Bunda. Amira mengangguk. Ia tancapkan tekadnya seperti orang yang ingin berperang.
Bersambung....
__ADS_1