
Hari sabtu tidak ada pelajaran. Siswa dan siswi yang ikut kegiatan ekstrakulikuler ke ruang latihannya masing-masing. Karena Amira masuk ekstrakulikuler berenang, ia ke kolam renang.
Pelatih menyuruh anak-anak didiknya pemanasan sebelum latihan renang. ''Anak baru, gerakannya lebih bersemangat."tegur pelatih pada Amira.
''Eh, i-iya...''
''Hmh.''Beauty yang kebetulan sama ekstrakulikulernya tersenyum licik.
''Nah, karena Amira masih pemula dan kita belum tahu kemampuannya, Amira dilatih yang mahir di antara kalian. Ayo, Beauty ke sini!''
''Baik, kak. Apa yang bisa saya bantu?''tanya Beauty sopan. Pelatihnya masih muda makanya dipanggil kak.
''Kamu latih Amira di tempat terpisah. Lihat. sejauh mana kemampuannya.''
''Siap,kak.'' Beauty menghampiri Amira berbisik,''Ayo pergi.''
Amira mengikuti Beauty ke kolam yang lain letaknya cukup jauh dari kolam teman-teman, Aku harus hati-hati,tekad Amira.
Mereka tiba di kolam sedalam tiga meter.
"Eh, yang benar saja...kolam sedalam ini buat latihan berenang?"protes Amira.
"Kenapa? Aku mau melihat seberapa jauh kemampuan anak kampungan sepertimu."kata Beauty tak bersalah.
"Hei, kamu meragukan kemampuanku? Aku gak takut...lihat saja!" Amira melompat ke kolam renang sedalam tiga meter.
Beauty tersenyum,"Hah, dia gak tahu kolam itu ada arusnya...entah dia selamat atau tidak."
"Be..Beauty...tolong..."Amira terseret arus, kepalanya timbul tenggelam.
Beauty terkekeh,"Ayo...mana semangatmu tadi? Masa cuma segitu saja gak bisa?"tantang Beauty sambil melangkah pergi.
Amira terus berteriak minta tolong sambil berusaha berenang...tapi tidak ada siapapun di tempat itu...
*****
"Ayo, anak-anak...sebentar lagi kalian lulus sekolah. Sebelum lulus kalian harus menguasai semua gaya berenang...terutama kamu Jack..."
pelatih lain dan anak-anak didiknya.
Jack acuh. Ia sudah bosan dengan aktivitas berenang. Ia memisahkan diri dari kelompok.
Jack mendengar suara orang berteriak minta tolong.
"Kak Jack..Kak Jack..."panggil Robert kepada kakak sepupunya yang malah berlari ke arah lain. Robert ikut berlari mengejar kakak sepupunya.
"Kakak tuh kenapa sih lari-lari kayak dikejar setan?"gerutu Robert tersengal. Robert menemukan jawabannya saat melihat ada seorang cewek tenggelam
Tanpa pikir panjang, mereka berdua jebur kolam dan menolong cewek itu.
__ADS_1
"Astaga, kenapa bisa ada yang tenggelam di sini."kata Robert. Ia tak tahu bahwa yang tenggelam adalah Amira karena kacamata Amira lepas dan masuk ke dasar kolam.
"Sudah pasti kalau gak kecelakaan berarti ada yang mencelakainya."ujar Jack.
"Apa? Dicelakai orang kak? Siapa yang nekat mencelakainya?"
"Entahlah. Yang penting bawa cewek ini ke UKS."
Mereka pun bersama-sama ke UKS. Dokter yang menjaga pun bergegas memberi oksigen melalui alat bantu pernapasan yang tersedia di sekolah itu.
"Untung kalian menolongnya dengan cepat. Kalau gak nyawa mba Amira tidak tertolong."kata dokter setelah selesai menangani Amira.
"Hah? Sampai segitunya. Kak, tolong selidiki siapa dalang di balik peristiwa ini."pinta Robert.
"Nanti juga akan datang kok."jawab Jack."Kamu tadi kenapa nyari aku?"
"Mau lihat kakak berenang dong...kakak khan atlet."
"Pasti Papa yang menyuruhmu."
"Hehehe..."Robert meringis.
"Kamu itu seperti kepiting. Suka bersembunyi tapi mematikan."
"Jahat banget...menyamakan aku dengan kepiting."
"Dah...aku mau balik ke kelas. Kamu tungguin pacarmu itu."pamit Jack.
"Woy...cuma dekat, bukan pacar."bantah Robert. Robert menoleh ke arah Amira yang masih terkulai lemas.Kasihan banget, baru beberapa hari di sini sudah ditimpa cobaan.pikir Robert.
"Jelas-jelas aku manusia. Kamu itu terpengaruh kakakku ya?"Robert bertambah kesal.
"Huhuhu...aku kira tadi aku dapat kepiting merah...ternyata hanya mimpi."Amira mengusap air matanya.
Robert melongo."Heh...kamu tadi tenggelam, bukan dapat kepiting."
"Tapi, tadi aku melihat warna merah."bantah Amira. "Aku beneran lihat kepiting."
Robert cemberut. Ia sekarang pakai kaos merah, kaos olah raganya yang masih kuyup.
BRAKK...
Teman-teman latihan berenang beserta pelatihnya datang.
"Amira, maaf kami datang telat. Kami tadi mencari-carimu."
"Amira, maaf ya...aku tadi ke toilet sebentar...gak tahu ternyata kamu malah tenggelam. Maaf ya.." pinta Beauty sambil mengulurkan tangan. Amira mengacuhkannya.
"Eh,kenapa sih sombong amat...ga mau kasih maaf sama kakak Beauty."protes adik kelas.
Amira masih acuh. Robert melindunginya.
__ADS_1
"Hei, yang gak tahu kejadian sebenarnya ga usah ikut campur...Amira jelas-jelas tenggelam, kalau aku terlambat datang dia sudah tak tertolong."
"Oh, mungkin karena Amira gak bisa berenang."kata Beauty.
"Itu masuk akal. Walau ditinggal sebentar kalau kak Amira gak pandai berenang kemungkinan besar tenggelam."dukung adik kelas.
"Amira baru saja mengikuti eskul berenang hari ini. Memulai tahap awal, tapi dilatih di kolam terdalam. Apa itu tidak keterlaluan?"kata Jack tegas.
"Kak Jack...ka-kami tidak tahu situasi sebenarnya."ucap adik kelas ketakutan, sampai tubuhnya gemetar.
"Jack, aku ikut sedih karena kecelakaan ini, aku juga kesal telah mempercayakan ini kepada Beauty, lain kali aku menyuruh orang lain."ucap pelatih mewakili anak didiknya.
"Baik, kak. Tapi Beauty mendapat hukuman berat karena telah mencelakai siswa lain."putus Jack.
Setelah kesepakatan itu. Beauty digiring anggota keamanan OSIS lain ke ruang konseling, anggota klub renang kembali ke kelas masing-masing, pelatih kembali ke ruang guru.
"Yeah...kakak hebat. Bisa membungkam semua anak-anak itu."puji Robert. Jack menyerahkan seragam adik sepupunya.
"Menjalankan kewajiban keamanan."imbuh Jack kalem.
"Te..terima kasih kak Jack."
"Amira, kamu cantik kalau tanpa kacamata."kata Jack, ia keluar lagi menuju ruang konseling menyusul teman-temannya.
"Ma-masa sih?"Amira tersipu mendengar pujian Jack.
"Cuman dipuji sedikit saja. Kamu tetap bukan level kak Jack."gerutu Robert tak senang. Robert melepas kaos olah raganya.
"Heiii...kenapa buka baju?"pekik Amira.
"Karena bajuku basah gara-gara nolongin kamu"jawab Robert datar.
"Bu-bukan itu masalahnya...jangan buka baju di depanku bodoh."Amira menutup wajahnya dengan selimut.
"Kenapa cewek sensitif lihat orang lain ganti baju sih?"gumam Robert. Ia memasang dasinya.
Amira mengatur nafasnya. Dokter yang menangani Amira datang membawa teh hangat dan camilan.
"Mba Amira sudah sadar? Ini silahkan dinikmati."Dokter itu menyodorkan bawaannya, yang menerima malah Robert. Ia menghabiskan teh hangat dan camilan dalam waktu singkat.
"Do...dok...ter..."Amira memelototi dokter itu, melihat penampilan dokter itu dari atas sampai bawah.
"Kenapa mba?"
"Wah....aku fans bu dokter." Amira menubruk dokter itu.
"Haha...boleh saja, tapi teh dan camilannya dihabiskan ya mba?"
"Sudah beres dok."seloroh Robert.
"Hei, itu khan untukku."bentak Amira.
__ADS_1
"Aku khan yang menolongmu."bantah Robert. Mereka berdebat panjang, dokter yang menonton debat mereka tersenyum simpul,Indahnya masa muda.
Bersambung....