My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
hanan main ke rumah mira


__ADS_3

Kak David pulang kuliah. Dia masuk ruangan dimana Amira sudah terlelap. David menoleh ke arah TV. TVnya masih nyala. Dia pun menatap Amira yang hanyut dalam mimpi. David tersenyum jahat. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Amira.


Amira langsung membuka mata dan memukul wajah kak David. ''Kak, David...''


''Kamu tahu ini sudah jam berapa?''tanya Kak David sambil meringis kesakitan. Aku menggeleng.


''Jam sebelas siang.''kata Kak David. Itu artinya aku tertidur kurang lebih 30 menit.


''Kak David ingin istirahat di sini ya? Maafkan aku.'' Aku bangkit. Namun tanganku ditarik.


Pintu ruang keluarga dibuka oleh seseorang. Dia adalah nyonya Akmarahulla.


''Eh, pangeran kecil...tumben sama Aman.'' Aku getar ketakutan. Kak David melepas tanganku. Selamat dari satu masalah masuk masalah baru.


''Iya, dia teledor. Tidur di jam kerja.''kata Kak David profesional.


''Tidur?'' Mata garang nyonya menatapku. Aku menundukkan pandangan.


''Iya, nyonya. Maafkan saya.''kataku terbata-bata.


''Ya sudah, lanjutkan saja istirahatnya. Kemarin khan kamu habis sakit. Jadi banyakin istirahat dulu.''putus Nyonya.


''Kalau begitu saya ke kamar dulu. Permisi, nyonya.'' Aku mengundurkan diri. Syukur, nyonya begitu baik hari ini.


''Mom, tumben pulang cepat.''kata Kak David sepeninggalku. Ia berbaring di sofa melepas kepenatan aktivitas kuliah.


''David, ingat kamu tidak boleh memperlakukan lebih Aman. Hubungan kalian sebatas tuan dan asisten.''kata Nyonya tegas.


''Mom, aku gak tertarik Candy Murbel. Dia sudah punya baby.''Kak David menguap lebar.


''David, mau punya anak kek atau gak punya anak...kamu harus dapetin dia. Kamu adalah penerus keluarga Akmarahulla. Kamu mau gak keluarga kita tambah melebarkan sayapnya?''tanya nyonya masih dengan nada tegas.


''Mom, apa dia masih kaya? Dia masuk jeruji besi bertahun-tahun.''Kak David mengacak-ngacak rambutnya.


''Mom dapat info tentang Toza. Kalau mau dapetin Candy Murbel harus nebus 1 m pada Toza.''Nyonya membuka smartphonenya.


''Sebanyak itu?''Ka David membelalakkan mata.


''Yah...memang keuangan perusahaan akhir-akhir ini tidak lancar. Kamu menabung dulu...berjuang dulu modal goceng, nanti dapatnya yang lebih banyak lagi.''Nyonya mata duitan.


''Oke,mom. Serahkan kontraknya.'' Kak David mengambil pulpen.


''Nah,ini.''


...----------------...


Aku berpapasan dengan Hanan. ''Selamat sore!"sapaku.


Hanan tersenyum padaku sambil menjulurkan tangan. "Maafin sikapku yang kemarin ya. Aku banyak masalah. Kamu udah baikan badannya?"


Aku menjabat tangannya. "Iya, gak papa. Aku sudah lama pengen potong rambut tapi gak kesampaian-kesampaian."


"Emang kamu punya masalah keuangan ya?"


"Ya, begitulah."Aku menautkan dua jari telunjukku.


"Sepupumu itu kabarnya gimana?"


Ah, sial. Aku gak pernah tahu kabarnya semenjak aku sibuk berurusan dengan tuan muda. Aku cuma menggeleng pelan.


"Oh, kamu sudah nyaman sama lingkunganmu yang sekarang,ya. Mereka baik-baik khan?"


Aku mengangguk.


"Aku boleh dong main ke rumahmu."


Aku mengangguk.


"Ntar ortumu marah gak?"


"Aku khan tinggal sama orang tuaku."

__ADS_1


Ia pura-pura menepuk dahi. "Oh...iya. Kalau gitu aku bisa main sewaktu-waktu dong. Besok pagi belajar kelompok yuk."


"Ntar sore gimana? Jam lima sore aja. Ntar makan malam di rumahku."


"Boleh."


...----------------...


Bayu kabarnya gimana ya? Duh...sudah lama aku gak kontakan sama dia. Kira-kira nomernya masih aktif gak ya? Aku mengetik nomer Bayu, lalu kutelpon tapi tidak diangkat. Akhirnya aku menghubungi lewat salah satu akun medsos.


Amira:Halo?


Bayu: Halo...


Amira:Bayu, kamu lagi apa?


Bayu:Boring.


Amira:Gak mendaki?


Bayu:Gak...temen-temen sibuk. Kamu?


Amira:Lagi dengerin lagu.


Bayu:Ooh..


Amira:Bayu, kangen...lama gak ketemu


Bayu: Alah...bilang-bilang kangen tapi gak ke sini


Amira: Aku boke lah.


Bayu:Haha..tuh punya kuota.


Amira:Transferin duit...


Bayu: Emang aku wali kamu?


Banyak sekali obrolanku dengan Bayu yang tergolong basa-basi. Aku nanya dia kuliah apa. Dia bilang kuliah tehnik. Aku kaget. Dia tanya aku kukiah apa. Aku bilang aku kuliah kedokteran. Dia tampak mendukungku. Aku senang sekali mendapat motivasi darinya.


Terdengar bel rumah, "Assalamu alaikum." Itu pasti Hanan! Aku membuka pintu dengan perasaan riang gembira.


Hanan memakai baju potongan dan jilbab kecil. Dia membawa map. Gayanya cukup anggun. Aku mempersilahkan masuk.


"Kok sepi?"komentarnya. Aku menaruh radio mini ke meja ruang tamu.


"Iya, aku cuma sendiri di sini. Kak Avie pulang ke rumah nenek."


"Kita mau belajar apa nih?"tanyaku ke pembahasan inti.


Dia meletakkan map ke atas meja. "Ini, aku masih bingung sama materinya."


"So, mana yang bikin kamu bingung?"tanyaku seperti guru privat dadakan.


Hpku bwrbunyi. Aku menyalakan layar. Jawaban dar Bayu yang bikin aku terkejut.


Bayu:Udah.


Amira:Hah...siapa namanya?


Bayu:Kepo dah. Mending kamu fokus sama kuliahmu.


Amira:Maksudnya?


Bayu:Gak. Ntar kamu nangis.


Aku cuma bo'ong tentang Rina.


Dia masih di Indonesia. Dia masih jd


pacarku.

__ADS_1


Amira:Ooh...betah banget...


Bayu:Aku lagi nunggu seseorang.


Amira:Siapa?


Bayu:Kepo dah. Sana belajar.


Amira:Oke.


Aku menaruh hpku ke saku. "Oke, kita kerjakan tugas dulu." Aku mulai menukis dan menulis. Aku harus fokus kuliah. Bayangan Bayu ada di pelupuk mataku. Aku mengerang. "Ahh...galfok dah."


"Hayoo...mikirin si dia ya?"tebak Hanan. Aku cuma tersenyum malu. "Jujur, siapa cowok yang kamu suka?" Aku menggeleng.


"Banyak sih cowok yang ada dalam hidupku. Cowok yang aku suka? Gak tahu ya..."tuturku. Semenjak aku hidup di SMU elite aku punya banyak kenalan cowok baik kakak kelas maupun teman kelas.


"Ah...pasti kamu seleranya tinggi,ya. Kamu khan dikelilingi cogan. Kayak di cerita harem gitu."kata Hanan sambil tersenyum menggoda.


'Lyon dan Kak David cogan!!! Iya sih cogan. Tapi sofat mereka gak ada yang bener...'


"Tuh khan mikir lagi."Hanan masih menggoda.


"Menurutmu cowok yang cocok buat aku siapa? Cowok yang dingin pada perempuan tapi pengertian,cowok yang sudah punya pacar tapi menganggapku seperti adiknya, cowok yang ramah pada semua cewek tapi manja, atau cowok yang pura-pura gak peduli tapi sebenarnya sangat peduli?"paparku pada Hanan. Aku belum pernah pacaran.


"Menurutku kamu itu cocok sama siapa pun kaya bunglon."komentar Hanan setelah berpikir keras guna mengklarifikasi type-type cowok yang kusebutkan tadi.


"Oh,ya?"tanyaku ragu.


"Kok jawabnya gitu sih."


"Ya gak lah...kok bisa kamu mikir sampe situ?" Hanan terkekeh.


Aku menceritakan kematian Bunda yang ternyata palsu, kebohongan Ayah, kehadiran Elena, dan sikap tidak baik saudara-saudaraku. Aaku menutup kisahku dengan tangisan.


"Yang sabar ya Mir. Trus klo kamu hidup sebatang kara begini kamu mencari kerjaan sambilan dong."


Aku mengangguk lemah. Dia mengusap-usap punggungku. "Kapan kamu kerja?"


"Malam sampai siang."laporku. "Aku bermalam di sana."


Hanan bersedekap. "Kamu harusnya minta keringanan dong. Malam di rumah. Baru pagi-paginya kamu ke sana.''


''Tapi aku gak punya teman.''


''Benar juga,ya.''Hanan berpikir sejenak. ''Aha, mendingan kamu ajak temen sekampus yang gak kuat bayar kontrakan gara-gara jarang ditransfer.''


''Oi, jahat banget ngomongnya.Aku aja pontang-panting ngurus hidupku sendiri. Gimana orang lain?''tolakku.


''Kamu percaya aja sama aku. Kamu kenal Hasna? Dia itu anak yang jarang ditransfer.''Hanan menawarkan temannya.


''Jangan begitu dong. Dia itu cewek penakut kaya' kamu. Mungkin kalau kalian bersama bakal jadi kuat.''Hanan berargumen supaya aku setuju.


Aku berpikir sejenak.''Ya, gak papa deh. Besom suruh dia kemari. Pokoknya pulang kerja dia sudah nyampe.''


''Siap mir.''


Aku mengajak Hanan ke dapur. Aku hanya memasak mie rebus dan telur mata sapi.



''Ya elah. Cuma ini doang?''Hanan mengerutkan kening.


''Khan udah kubilang. Aku lagi boke nih.''


''Besok khan tanggal satu. Bentar lagi gajian dong.''


''Ya, tapi gak seberapa. Aku gak bisa bayangin kita makan apa besok lusa.''


''Jangan pesimis begitu. Hasna punya banyak kelebihan kok.''


''Oh,ya?''Aku menyangsikan ucapan Hanan.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung...


__ADS_2