
Rumah keluarga besar Akmarahulla
Vera menghampiriku. ''Oi,Mira. Kamu dicariin Nyonya tuh.'' Pagi-pagi begini sudah dipanggil aja. Sekali-sekali kek Vera atau yang lainnya. Aku terus.
''Kamu kemarin di mana aja?''tanya Nyonya galak. Di sisinya ada tuan muda yang sedang serius menatapku. Menyebalkan! Memang aku orang sepenting apa sih sampai kabur sedikit saja dicariin.
"Nyonya, saya pulang ke rumah karena tiba-tiba ana makanan di kulkas habis dan saya belanja banyak hari itu dan..."
"Mau bohong lagi?"tanya David, tatapannya merendahkan. "Apa mau dipotong gaji lagi?" TIDAAK...bukan begitu.
"Lalu saya harus bagaimana? Apa fungsinya saya di rumah ini selain art?"tanyaku.
"Kamu anak angkat keluarga ini. Kemarin baru acara peresmianmu tapi kamu malah gak ada."jawab Nyonya dengan nada kecewa.
"Maafkan saya Nyonya."kataku merendah.
"Pfftt..kasihan banget sih."komentar Lyon. Aku mulai terisak. "Tuan Lyon, tolongin aku..."kataku sambil menarik tangan Lyon.
"Mulai hari ini kamu gak digaji."putus Nyonya.
"Ta-tapi."ucapku terbata.
"Bukan! Semua kebutuhanmu dipenuhi. Kamu tinggal minta apa aja kami turuti."
Hah...situasinya berbalik begitu.Aku bahagia banget. Namun, ternyata aku masih diperlakukan sama. Dan kujalani hidupku yang rumit ini.
...****************...
Aku bahagia banget karena mendapat cuti lebaran. Aku menghubungi Robert untuk menemani pulang kampung. Kebetulan dia punya saudara di sana. Aku mengemasi kue-kue lebaran buat sanak saudaraku. Hasna turut membantu. Ia memelukku erat saat kami akan berpisah.
Robert menungguku di mobil. Yaay...mobil pun meluncur dari Jogja menuju Semarang. Berbagai kota telah kami lalui. Kadang kami singgah di suatu tempat lalu selfie berdua. Kemudian lanjut perjalanan. Senang banget,sih.
Aku menghembuskan nafas lega saat tiba di depan rumah nenekku. Rumah joglo peninggalan buyutku itu masih tampak kokoh berdiri di atas bumi. Rumah terlihat ramai.Mereka bertanya-tanya saat mobil Robert yang mewah berhenti di halaman rumah adat. Aku menggandeng Robert menerobos kerumunan para tamu sampai akhirnya masuk ruang tengah.
"Eih, Mira. Tumben datang kemari."sapa Mba' Novi yang sedang menggendong Azam.
Aku mengangguk. "Mba'. Papa sama nenek di mana?"tanyaku.
"Oh, Papamu belum ke sini. Kalau nenek lagi di ruang tamu."
"Oh,ya? Duh, malu. Langsung masuk aja ke sini."
"Eh, mas siapa itu? Sini tehnya diminum dulu keburu dingin."kata Mba' Novi kepada Robert.
''Oh,ya mba'. Makasih.''sahut Robert.
''Robert.''ucapku lirih. ''Aku tu punya teman, namanya Lily. Dulu sih tinggal di Semarang, terus sekarang di Surabaya. Kira-kira dia ke sini gak ya?''tanyaku meminta pendapat.
''Mungkin saja. Kebetulan khan lebaran. Dia punya saudara di sini khan?''
''Enggak. Tapi dia punya Oom daerah sini. Masalahnya itu dua tahun terakhir dia itu menghilang.''
''Lha terus...menghilangnya itu kenapa? Apa karena dia punya masalah yang gak bosa diselesaikan?''
''Sederhananya begini. Dia tu punya sesuatu yang bikin dia gak aman. Hidupnya terancam.Maksud?''
__ADS_1
''Oh, pasti yang sering dibahas Lyon.''
''Ih,kok tau sih..''
''Lu tuh gimana. Aku khan genknya''
Aku mengangguk-angguk lucu. Robert menjawil pipiku. Aku ingin balalan bersama keluargaku. Robert kuajak tapi dia memilih ke tempat saudaranya. ''Ya sudah. Hati-hati.''
Malamnya, Om Trian dan keluarganya datang. Itu artinya aku bertemu Bayu-kun. Dia ganti penampilan. Aku sampai gak berkedip melihatnya.
''Mir..kedip-kedip.''
'' Apa sih?'' kataku sewot.
''Calon dokter kok tukang ngambek. Ntar gimana ngadepin pasien?''ledek Bayu yang bikin geregtan. Pedes banget. Langsung nusuk ke hati.
''Iya-ya.. Kok Papa gak datang-datang ya?''
''Paling besok. Emang kenapa sih?''
''Aku cuma kepo tentang Bunda Melan.''
Bayu terhenyak. ''Melan.''gumamnya. '''Ah, bicara apa sih. Orang mati kok masih diungkit-ungkit.''hibur Bayu.
Aku mementahkan pendapatnya. ''Mana ada. Ibuku masih hidup kok. Tepatnya dia koma."
"Bulannya bagus,ya." Bayu melihat langit malam. Ia mengalihkan pembicaraan.
"Tentang Ibumu aku sudah tahu semua. Jangan dipikirkan terus. Doakan yang terbaik buat Ibu kamu. Tugas kamu sekarang belajar Mir. Belajar itu gak harus di belakang meja. Tapi dari apa aja. Jangan memendam dendam kepada Ibumu. Ibumu memang belum mampu mendidikmu dengan baik. Jadi kamu...tugas kamu setelah ini tutupi seluruh kekurangan Ibumu."pesan Bayu.
"Bayu...aku gak mau kehilanganmu."isakku malam itu.
...****************...
Aku bertemu Elena Xympony. Aku menatapnya tajam. Dia biasa aja menatapku.
"Kamu yang namanya Amira khan?"tebaknya.
DEG.
"Aku tahu karena kamu mirip Ibumu. Ibumu sering menyebut-nyebut namamu dan gelarmu sebagai dokter. Ternyata orang yang dimaksud belum menjadi apa-apa."hinanya.
"Iya memang. Tapi suatu saat nanti aku akan menjadi dokter."tekadku.
"Biaya dari mana kamu kuliah kedokteran?"tanya Elena.
"Dari..aku BEASISWA!!"
Citra yang kebetulan lewat menoleh. "Mba' Mira beneran kuliah? Beasiswa?"
Aku mengangguk. "Apa kamu tidak menaruh rasa iba kepada anak yang belum pernah mendapat kecupan lembut dari IBu kandungnya?"
Elena mengangguk. "Kalau kamu memang ingin menyembuhkan Ibumu coba pecahkan teka-teki ini. Waktunya bebas."
"Apa ini?"
__ADS_1
"Itu gambaran penyakit yang menjangkiti Ibumu. Kami sampai detik ini belum menemukan obatnya."
"Baiklah. Aku pasti memecahkan teka-tekinya."tekadku.
...****************...
Waktu aku pulang kampunf, aku hadir dalam reuni akbar SDku. Padahal aku hanya empat tahun mengenyam pendidikan di SDku. Aku bertemu teman-teman seangkatan.Aku bertemu Luki yang ternyata sudah bekerja di pabrik Ayahnya.Ternyata, Lily turut hadir.
"Lily."panggilku kepada gadis berambut pirang, tubuhnya sexy. Gayanya sudah kebarat-baratan.
Dia membalas lambaianku. "Mira...apa kabar say?"tanyanya basa-basi.
"Baik."Kami pun berjabat tangan. Masing-masing menyimpan kekaguman.
''Mir, tampangmu anak kuliahan kedokteran.''
''Emang aku kuliah kedokteran. Situ gak ya?''
Dia menggeleng. "Aku langsung kerja. Bosan belajar di depan bangku." Aku tertawa renyah.
"Amira. Cowokmu mana?"tanya Lily yang berhasil membuatku kelabakan.
"Cowok apa-an. Punya pacar aja gak."jawabku ketus.
"David! Kamu itu gimana sih. Harusnya tahun ini kalian nikah khan?"
"Lily..siapa yang bilang kaya gitu? Waktu itu cuma akting."Aku menepuk dadaku.
Lily geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum. "Bagus! Itu artinya kamu bukan cewek murahan. Gimana hubunganmu dengan Bayu?"
Aku terbatuk. "Bahas yang lain aja deh. Candy Murbel punya kembaran ya?"
Lily terhenyak, dia seperti orang ketajutan. Badannya sampai gemetaran. "Tahu dari mana? Kak Candy gak punya kembaran."
Cewek di loteng itu siapa? Apa jangan-jangan aku hanya mimpi? Atau jangan-jangan dia hanya setan?
"Oke, tak masalah. Lak Candy lahor bulan Agustus tanggal 1 khan?"Lily mengangguk. "Aku bertemu kembarannya,namanya Candy Arbei. Dia banyak cerita tentangmu dan Murbel."
"Mana mungkin....Aku tahu Arbei. Tapi aku gak tahu dia kembarannya."kata Lily. Ketakutannya melunak.
"Apa kamu ada hubungan darah dengan keluarga Akmarahulla?" Lily menggeleng cepat.
"Arbei ada di keluarga Akmarahulla. Dia bersembunyi daru media massa."paparku kemudian.
"Amira, aku harap kamu tidak mengungkit keluargaku lagi."
Daun pohon rambutan terbang diterpa angin๐๐
...****************...
(Bunga Lily putih_nama Lily teman Mira)
(Bunga Daisy_nama Mama Lily)
__ADS_1