My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Liona Kembali


__ADS_3

Kelas 11 B heboh, karena wakil kelas mereka kembali. Ya, karena Amira resmi menjadi siswa Elite High School, maka Liona kembali ke habitatnya. Liona sangat populer di kalangan siswa. Selain memiliki paras yang cantik, ia murah hati. Banyak cowok yang jatuh cinta padanya. Tapi selalu ditolak Liona.



''Nona Liona...bagaimana kabarmu?''tanya salah seorang temannya. Liona sangat dihormati, ia diperlakukan layaknya putri raja. Apa pun keinginannya pasti dituruti. Perintahnya selalu didengar. Liona mempunyai sahabat setia. Ayako, Bisca, dan Christina atau kerap dipanggil geng ABC. Mereka adalah teman-teman Liona sejak SMP. Karena mereka teman kepercayaan Liona, mereka suka berbuat sewenang-wenang. Tak ada yang berani melawan mereka.


''Baik...kalian sendiri tampaknya baik. Oh iya...bangkuku mana?''Liona melirik ke arah Amira yang duduk manis di bangkunya. Seketika anak-anak kelas menyuruh Amira pindah.


''Menyingkir! Orang kolot sepertimu tidak layak duduk di bangku nona Liona...''usir mereka kor.


Amira memeluk tasnya. Lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah apapun.


''Sombong sekali dia! Dia tak memedulikan nona Liona.''


''Sudah. Dia adalah asisten pribadi Lyon. Kalian jangan mengganggunya.''larang Liona.


''Hanya asisten pribadi saja bangga.''


''Siapa yang mengganggu asistenku?''bentak Lyon, ia baru datang ke kelas. Matanya mendelik.


''Ketua, anak baru itu mengacuhkan nona Liona. Padahal itu khan kursi nona Liona.''adu seorang cewek, berlagak sedih.


''Mengacuhkan? Kalian pikir orang pendiam masih disebut mengacuhkan? Dia tak ingin membuat masalah dengan kalian...dia tak mengganggu kalian juga.''bentak Lyon, suaranya terdengar seisi ruangan.


''Tapi...''


Lyon menghampiri Amira, lalu menggandengnya ke bangku depan, mengusir orang yang sudah menempatinya, ''Minggir!''


Mereka berdua pun duduk berdampingan di bangku depan tepatnya dekat guru.


Lyon menoleh ke arah Amira yang masih tertunduk, kacamata Amira melorot. ''Tenang, kamu baik-baik saja kalau di sampingku.''Amira mengangguk lemah.


Sementara masih di satu ruangan Liona meremas-remas kertas hvs yang dia bawa untuk coret-coret.


''Nona..kesal ya?''tanya Christina selaku teman sebangkunya. Ia menoleh ke arah Liona.Wajah Liona yang biasanya seputih kapas, kini merah padam. Liona menggigit bibirnya sampai berdarah. Ia paham, sejauh ini pacarnya suka memainkan perasaan cewek, pura-pura perhatian, tapi kali ini berbeda, Liona merasa dirinya dicuekin pacarnya.


''Agh...''


''Nona, tissu..'' Ayako menyodorkan tissu basah untuk menghentikan darah di bibir Liona.


****


Istirahat pertama...


Bel berbunyi nyaring, siswa-siswi keluar kelas. Tersisa Lyon dan Amira.

__ADS_1


''Kamu gak ke perpustakaan?''tanya Lyon memecah keheningan.


''Ga ada yang menarik.''jawab Amira cuek.


''Ga ada?'' Lyon mengernyitkan dahi. Ia mengenal sesosok Amira dari kakaknya penggila buku. ''Apa karena buku waktu itu?''pancing Lyon.


''Ya...!" Pertama kalinya Amira meninggikan suaranya. ''Aku heran kenapa peraturan sekolah ini aneh sekali. Perintah ketua adalah perintah raja. Itu sama saja melanggar hukum negara tau ga?''


Lyon terkekeh, ''Menolak peraturan yang sudah disepakati berarti menantang anak kelas. Kamu berani menghadapi mereka sendirian?''


Amira menggeleng lemah,'' Aku ga mungkin seberani itu...hanya saja kamu sudah punya pacar. Dan pacarmu itu cantik, populer, disukai banyak orang, orang tuamu juga baik sama dia, anak orang kaya, pintar, kurang apa coba? Kenapa kok kamu bela aku? Aku tuh ga pantas dibela tau... Aku ga mau orang lain ikut² dibenci mereka.''


''Heh.''Lyon membalas ucapan Amira,''Aku tuh ga suka cewe kaya dia. Dia bukan typeku. Terlalu sempurna.''


Amira kaget,''Terus typemu apa?'' Seorang Liona sangat sempurna bahkan bukan typenya Lyon.


''Orang yang unik.''jawab Lyon cepat.


*****


Kantin sekolah dipenuhi dengan siswa-siswi, di salah satu sudut kantin, Liona duduk dengan teman-temannya. Liona masih shock melihat perlakuan kekasihnya beda terhadap cewek.



''Nona Liona. Mau makan apa?''tanya Bisca.


''Aduh, kasihan loh...perutnya nanti sakit..nanti ga bisa sekolah. Makan yah?''bujuk Ayako.


''Sudah kubilang aku ga mau makan!''ujar Liona ngegass.


Christina meletakkan semangkuk sup ke hadapan Liona, ''Makan dulu...biar bisa mikir lebih jernih. Aku dari awal sudah curiga kok sama pacar nona. Seperti sudah memprediksi ada orang menarik lagi. Aku ingin memberi pelajaran anak itu selama nona di sekolah kabupaten. Tapi kekasih nona berjalan selangkah lebih dulu dari kami.''


''Ih...bikin gemes tuh anak. Kukira dia orang baik-baik niat belajar di sini. Ternyata dia punya maksud lain.''gumam Liona. Ia menyuap satu suapan dari sup pemberian Christina.


''Nona...jangan-jangan dia ingin populer seperti nona..''


''Jangan-jangan dia mendekati nona untuk merebut kekasih nona?''


''Jangan-jangan dia mau meraup semua kekayaan kekasih nona...''


Teman-teman baik Liona menyusupkan pemikiran-pemikiran negatif ke dalam lubuk hati Liona. Liona membayangkan betapa menyedihkannya ia ditinggalkan kekasihnya, lalu kekasihnya bersama anak baru itu dan menikah lalu mereka hidup bahagia.


''Tidaaaaakkkkk...."Liona memekik. Ia pun berlari ke kelas, ia yakin kekasihnya dan anak baru itu masih di kelas.


"Lyon...Lyon...aku..." Nihil. Di kelas tidak ada siapa-siapa."Ke mana perginya mereka?"

__ADS_1


*****


Amira didorong Lyon supaya bergaul dengan teman-temannya. Untungnya orang yang dikenalkan salah satunya Siori, sie kebersihan.


"Ha...hai."sapa Amira canggung. Ia melirik Lyon, memastikan ada di sisinya.


"Amira...selamat datang."sambut Siori. Teman-teman Siori beda kelas. Vera juga ada di situ tapi dia pura-pura cuek.


"Mmm..boleh aku bergabung sama kalian?"tanya Amira malu-malu. Mereka mengangguk. Amira menoleh ke belakang, Lyon sudah menghilang entah ke mana.


"Amira, kamu tahu apa aja tentang sekolah ini?"


"Amira, kamu masuk klub apa? Aku klub voli loh."


"Amira katanya kamu pintar yah? Ajarin aku yah."


Amira kelabakan menghadapi satu persatu pertanyaan mereka.


"Ternyata sekolah ini tidak seburuk yang aku bayangkan."


****


Perpustakaan seperti biasa David mangkal di sana. Lyon menghampiri kakaknya. Tentu saja setelah mengusir cewek-cewek yang menghalangi jalannya.



"Kak."Lyon mengetuk meja.


"Apa? Sudah dapat informasi yang dibutuhkan?"David langsung bicara ke inti masalah.


"Yah...masih proses. Hanya saja aku penasaran sama wajahnya tanpa kacamata."tutur Lyon.


"Kau ini gak berubah juga."gerutu kakaknya.


"Ayo dong kak. Jangan pelit informasi."rajuk Lyon pada kakaknya.


"Sudah ada di hpmu."Rupanya David diam-diam memotret Amira tanpa kacamata tempo hari dan mengirimkannya pada Lyon.


"Wow...imutnya...persis seperti fotonya."Lyon tertawa riang.


"Puas? Pergi jauh-jauh. Kau mengganngu ketenangan perpustakaan." usir David.


"Oke...lain kali kalau aku butuh aku akan ke sini lagi."kata Lyon tak merasa bersalah.


"Sumpah, kalau di rumah langsung kutinju saja."tekad David. Lyon hanya tertawa dan pergi.

__ADS_1


Terima kasih banyak☺️☺️☺️


__ADS_2