
Amira pov
Aku benar-benar bimbang, tapi sorakan itu menguatkanku. Seketika air mataku meleleh di pipi, kuusap dengan lembut.
''ngga papa,Mir. Kamu memang pantas menjadi pemimpin kami.''
''ta..tapi bagaimana dengan Lyon?''tanyaku sedikit menderu, aku gak bisa sekuat ini tanpa tuan Lyon. ''bagaimana perasaan si perfecsionis itu?''lanjutku,lagi kuusap pipiku.
''dia lebih baik dari yang kamu kira.''jawab siori lembut. Aku belum mengerti maksudnya. Saat ini yang kuharap kehadirannya. Si kepiting merah mendekatiku, ia mengelus rambutku pelan, aku menyibak rambutku kulihat ia menatapku dengan lembut,''mari kita perjuangkan bersama." merasa gerah aku berteriak,"TIDAAK...!!!"
Bunyi alarm di kegelapan malam, rupanya aku bermimpi buruk, aku meraba sekelilingku,"mati lampu."desahku lemah.
Aku membangunkan Vera yang masih terlekap dalam tidur,"Vera...bangun...Vera..."Ia bergumam lalu melanjutkan tidur.
"VERA, GEMPA!!!" Seketika gadis yang sangat mirip denganku itu terlonjak dan berlari ke arah pintu.
Aku terpingkal melihatnya yang mulai menggerutu."Pagi, sobat!"sapaku sambil pura-pura bodoh.
"Huh...kamu itu ngagetin tau gak. Tak kira gempa beneran. Ini kok suasananya gelap banget."
"Mati lampu, sob. Entah gimana dengan yang lain. Yuk nyalain lilin."
"Males,ah. Paling tuan muda masih tidur."
"Vera, ih...bangun! Ntar sarapannya telat loh..."kataku melas. Vera menarik selimutnya lalu mendengkur lagi. Aku memutuskan untuk menyalakan lilin di dapur. Aku mengolet sejenak.
Tak berapa lama, ada asisten lain masuk dapur,"Oh...dek Aman sudah bangun,toh."
__ADS_1
Aku tersenyum simpul,"mba hari ini masak apa?"
Asisten itu menyodorkan daftar menu. Aku hanya bergumam,"oh.."asisten itu sibuk menyiapkan segalanya buat sarapan tuan rumah."dek, piringnya belum dicuci tuh."
"udah kali..semalam aku sama Vera yang nyuci."
"la itu apa?"
"kagak tau...pasti ada yang ngerjain tengah malam."aku mengangkat tangan.
"barang kali tuan muda ada yang laper trus makan di dapur dan males nyuci."
"ya elah...manja amat sih"aku menepuk jidat.
"udah sana cuci, yang bersih ya..."aku tersenyum simpul.
Fajar menyingsing, kokok ayam dari kejauhan bersahutan. Aku mengambil air wudhu dan sholat sendirian, karena tuan rumah ini non, mereka menyediakan ruangan kecil buat aku dan pembantu lain sholat, jadi aku nyaman tinggal di situ dan dibebaskan makan di luar, jam kerja pun gak full kaya mba asisten ini.
Aku kerja di sini sebagai hukuman dari tuan muda yang menjadi ketua kelasku karena gak nurut sama perintah ketua. jahat memang. menurut teman-teman, perintah ketua adalah perintah raja. jadi deh aku menderita seperti sekarang ini.
"maaf ya kesiangan."kata Vera sambil kucek-kucek mata.
"mukamu dikondisikan dulu sebelum beberes rumah."perintahku.
Aku bertugas merapikan kamar Lyon sementara Vera bertugas merapikan kamar David, kamar Nyonya sendiri dirapikan oleh seorang bibi asal Pemalang. Aku mengetuk pintu kamar ketua kelasku. Ternyata dia sedang mandi, dan pintunya tidak dikunci, aku pun masuk dan membereskan kamar ketua pembawa sial.
"Amira?"katanya yang baru keluar dari KM, aku menunduk sambil menahan malu.
''Selamat pagi!"sapaku ramah.
''Pagi, Mira.''Ia berlalu dan dengan pedenya melepas handuk.''Seragam.''
__ADS_1
''Ini seragamnya.''Aku menyodorkan seragam sambil menutup mata.
Kemudian aku pun membereskan kamarnya. Selesai membereskan Lyon menarik tanganku, ia sudah memakai seragam dengan rapi. ''Ayo sarapan! Aku sudah lapar.''katanya.
''Ta-tapi...''Aku diseret ke ruang makan.π
Nyonya menatapku galak.
''Mom, izinin aku makan bareng asistenku ya, ada hal-hal yang perlu kami bicarakan.''pinta Lyon sedikit manja. Nyonya mengangguk. Aku pun duduk bersebelahan dengan Lyon, aku membisu.
''Aman-nama panggilan Amira di kalangan asisten-, sebentar lagi acara tahunan sekolahku-baca:kita-tiba, menurutmu apa yang perlu disiapkan?"
''Duit.''jawabku singkat.
''Dasar mata duitan.''semprot David. Aku kembali menunduk.
''Kakak jangan galak-galak gitu dong, khan jadi gak asyik.''canda Lyon kepada David. David menatapku dengan tatapan paling sadis ke arahku.
''Buat apa asisten dikasihani. Ntar ke PD an.''
JLEB, jadi begitu pandangannya selama ini terhadapku. Nyebelin.
''Aku setuju, ntar kita beli yang di pameran yang banyak ya! Kamu pengen apa?'' Lyon mengabaikan ucapan kakaknya.
''Buku!"kataku melancarkan aksi karena dapat perhatian lebih. Ini sekaligus protes dengan sikapnya beberapa waktu yang lalu.
''Selain itu?''
Ingin rasanya aku bebas dari tempat ini, tapi aku berpikir ulang, lebih baik cari yang lebih bermanfaat dan gak nyakitin,''ngikut aja deh.''kataku tanpa alasan. Kali ini Lyon tersenyumππ
__ADS_1
Bersambung....
Maaf kurang nyambung dari episode sebelumnya, karena author menulis episode ini di buku tulis sampai ending kemudian menulis episode sebelumnya...πππ