My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Hasna Keluarga Lily


__ADS_3

Pulang kerja, aku langsung menghempaskan diriku di atas ranjang. Aku membuka HP. Aku menemukan kabar hot. Candy Murbel bebas dari penjara. Insiden di penjara bawah tanah. Kepala gangster baja hitam tertangkap. Saat aku melihat fotonya. Pasienku! Pasien korban kecelakaan. Aku juga menemukan foto Candy Murbel yang kondisinya jauh berbeda dari masa mudanya. Ada pula berita tentang putra Candy Murbel. Murvel mencari adik sepupunya, Lily. Aku sendiri kehilangan kontak dengan Lily.


Seseorang mengetuk pintu. ''Siapa?''tanyaku dengan nada malas.


''Arbei. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu meski di balik pintu. Aku mau pamit.''


''Hei, kamu mau ke mana?'' Tak ada jawaban. ''Arbei, Arbei, kamu mau pamit ke mana?''tanyaku. Aku bergegas membuka pintu.


''Ha-Hasna! Kamu lihat Arbei?''


''Mama sudah pergi. Ini titipan dari Mama.'' Ternyata Arbei dan Hasna punya hubungan darah ya.


''Aku pernah bilang kan kalau Mamaku kabur dari rumah?!"kata Hasna. Aku memalingkan wajah.


''Berani-beraninya kamu mengambil kertas penelitianku. Lalu menghilang. Kemudian tiba-tiba muncul di rumah Akmarahulla.''omelku.


''Aku baru pertama kali di sini kok.'' Pintu dikunci dari luar.


''Buka. Eh, buka!" Dan aku pun terkurung di kamar.


Setelah ini kamu jangan tanya-tanya lagi tentang keluargaku,Mir. Kata Lily suatu hari. Ya, aku bisa tahu tanpa bertanya padamu, Ly. Aku terduduk. Hpku tiba-tiba bunyi, ada WA masuk.


Hasna


Amira. Sampai jumpa!


^^^Amira^^^


^^^Brengsek! Dimana kamu?^^^


Hasna


Di rumah sakit tempatmu bekerja.


^^^Amira^^^


^^^Mau ngapain?^^^


Hasna


Menjenguk temanmu. Andita mengajakku.


^^^Amira^^^


^^^Siapa Andita?^^^


Hasna


Teman Aya.


^^^Amira^^^


^^^Siapa Aya?^^^


Hasna


Adik tiri temanmu.


^^^Amira^^^


^^^Kamu jangan ke sana^^^


Hasna


Siapa kamu? Melarang-larang.


^^^Amir**a**^^^


^^^Aku dokternya. Kondisinya jauh dari kata baik.^^^


^^^Oh, ya, rese. Selama ini km tinggal di mana?^^^


Hasna


Dokter gak perlu tahu tentang hidup kami. Dokter harus hidup normal seperti orang pada umumnya. Jangan campuri urusan kami.


^^^Amira^^^


Aku teman lama Luki. Aku yang paling tahu tentangnya. Kamulah yang sok dekat dengan Luki. Yang mencampuri urusan kami. Kamu tidak boleh campur baur antara laki-laki dan perempuan seperti yang kamu bilang. Luki khan bukan mahrommu.


Hasna


Dokter, jaga dirimu baik-baik.


^^^Amira^^^


^^^Hasna!^^^


Terdengar bunyi pintu terbuka. Aku menoleh. "Lyon?"


"Kamu belum tidur?"tanyanya.


Aku langsung berdiri. "Lyon, Arbei, Arbei pamit."


"Arbei?" Dia mengerutkan kening. Aku mengangguk-angguk. "Oh, perempuan tua itu. Ya, dia juga pamit padaku."


"Kamu juga? Dia tadi pamit lewat pintu. Misterius banget." Kami saling membisu. "Oh, ya. Ada apa ya Lyon kemari?"tanyaku menyelidik.


"Mau ke taman belakang gak? Cuma bentar kok."ajak Lyon.


Malam-malam begini ke taman belakang? tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Aku mengikuti langkahnya. Gelap. Tamannya gelap. Aku mengerutkan kening. Lyon mengambil sesuatu dari kursi taman. Kertas?


"Dari siapa?"tanyaku.


"Anne."jawab Lyon pendek.


"Anne?"ulangku. Anne adalah mantan murid bimbel ku. Aku membacanya perlahan.


'Seperti dipermainkan takdir


kenapa cinta harus hadir dalam hati


jika luka yang menjadi pengikat cerita kita


jika perpisahan  yang harus dirasa


Apakah cinta ini hanya sebuah fatamorgana


yang memaksa hati untuk merasa dahaga


haus akan kasih dan sayang


atau sekedar impian semu yang takan jadi nyata


Kau hadir membawa senyum


dan kau pergi membawa senyum


tinggalah air mata yang kau sisakan


dan kesedihan yang tak berkesudahan


masih ingatkah janji yang kau ikrarkan


tentang impian yang dibalut kesetiaan


tentang cinta abadi yang terhias kasih sayang


tentang keindahan dalam naungan kebersamaan


kini janjimu kau bawa pergi


kau berikan luka yang kau tancapkan di hati


luka abadi yang menancap jiwa


berdarah darah merintih memperparah hasratnya.'


Puisi itu dibacakan Anne beberapa tahun silam. Tintanya masih baru. Aku menoleh ke arah Lyon. "Kamu baca?"


Lyon mengangguk. Aku menunduk. "Masa sih Anne menulis hal yang sama padahal beberapa tahun sudah lewat."gumamku. Lyon menarik lenganku.


"Sedikit."jawabku lirih.


"KALIAN NGAPAIN?"Lengkingan suara Liona. Jantungku serasa mau copot.


"Lyon, gimana ini?"bisikku.


"Biarin aja."jawab Lyon enteng. Aku melipat-lipat kertas pemberian Anne. Liona mendekat.


"Kalian berdua ngapain di sini? Gelap-gelapan pula? Abang khan sudag menikah. Kamu masih gadis. Ngapain coba kalo gak melakukan yang enggak-enggak."bentak Liona. Lyon, tolong jelaskan yang sebenarnya!


"Hampir."jawab Lyon yang membuat mataku terbelalak dan kertas pemberian Anne jatuh.


"Aku gak ngapa-ngapain di sini."kataku berulang-ulang.


Mantan dewi smu ku menahan emosi. Ia mengambil kertas itu. Hiks, seandainya kertas itu tidak jatuh. Aku meremas-remas jemariku. "Amira, kamu mencintai suamiku?"tanya Liona.


Keringat dingin menetes di pelipisku. "Sebagai teman kok. Gak lebih."kataku lemah.


Dewi itu tersenyum kecut. Ia menarik lengan suaminya. "Balik! Dany menangisimu." Mereka memang serasi. Semoga kalian bahagia.


Aku kembali ke kamar. Ternyata, Hasna membalas chat.


Hasna


Dokter, Luki sudah boleh pulang?


^^^Amira^^^


^^^Belum! Dia harus kontrol dua kali sehari.^^^


^^^DANGER! Jangan sentuh pasienku.^^^


Hasna


Kenapa?


^^^Amira^^^


^^^Dosa. Yang boleh Aya doang.^^^


Hasna


Dokter baik-baik saja?


^^^Amira^^^


^^^Hasna aneh.^^^


Hasna

__ADS_1


Bibi bilang mau ketemu dokter.


^^^Amira^^^


^^^Siapa?^^^


Hasna


Candy Murbel.


^^^Amira^^^


^^^Oh...ide bagus.👍^^^


^^^Oh, iya. Nama sepupumu sp?^^^


Hasna


Sp? Sepupu? Aku gk py sepupu.


^^^Amira^^^


^^^Oh ya? Tapi...^^^


Hasna


Bilang sj ke Bibi langsung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rumah Sakit Permata Husada


"Dokter Amira. Beberapa orang datang kemari."lapor satpam.


"Keluarganya?"tanyaku.


"Iya dok."jawab satpam.


Aku membuka pintu kamar tempat Luki dirawat.


"Pak Luki, waktunya kontrol."sapaku sambil menenteng tas berisi peralatan dokter. Teman kecilku langsung dusuk. Aku langsung mengeceknya. Obatnya masih bereaksi.


"Dokter Amira. Apa luka saya dalam? Kapan saya boleh pulang?"tanya pasien Luki. Aku gagal fokus.


"Maaf, Pak. Bapak bicara apa?"tanyaku sopan. Luki tampak kesal. Hal itu terlihat jelas, dia melipat tangannya. Aku langsung berdiri. Tampaknya dia bukan Luki yang dulu.


"Kapan saya boleh pulang?"ulang Luki.


"Em, em...sampai luka Anda benar-benar sembuh. Keluarga Anda belum ada yang datang?"tanyaku mengalihkan pembicaraan.


BRAK. Pintu kamar VIP didobrak. Beberapa orang masuk. Mereka!


"Amira!"Mereka kompak memanggilku.


"Mba' Lina sering bercerita tentangmu. Aku Aya."kata gadis kecil dengan tatapan tegas. Lily biasa dipanggil Lina.


"Maaf, saya belum selesai mengontrol pasien."kataku sopan.


"Kapan kamu punya waktu berbincang dengan kami?"tanya Hasna.


"Kami jauh-jauh datang kemari lo." Candy Murbel yang berbicara. Seketika pikiranku melayang ke Kak David.


"Kalau sepuluh menit masih bisa."kataku.


"Amira. Kamu sahabat Water Lily khan? Kamu tahu di mana dia sekarang?"tanya Candy Arbei. Aku menggeleng. Candy Murbel memberiku alamat rumah Lily.


"Oh, ya. Kalau aku ada waktu aku main ke sana. Kak Murbel, kalau kamu punya waktu bertandanglah ke rumah Akmarahulla. Dialah yang membebaskanmu dari penjara."kataku sopan.


"Aku keberatan."kata Candy Murbel.


"Jangan ragu. Nyonya ramah,kok."kataku.


"Masalahnya aku masih jadi buronan polisi."kata Candy Murbel lirih.


DEG!


"Lily masih belum memaafkanku."lanjutnya dengan wajah sendu. "Oleh karena itulah aku minta kamu untuk membantu pembebasanku."mohonnya. Aku lagi?


Aku melirik jam arloji di tanganku. Dua menit lagi aku harus beranjak.


"Oke. By the way. Kalau boleh tahu di mana anakmu sekarang?"tanyaku.


"Panti asuhan. Aku belum bisa mengambilnya."kata Candy Murbel.


"Aku mau mengambilnya."tekadku.


Cklek, seorang perawat masuk. "Dokter Amira. Catatan kesehatannya?"pinta si perawat. Aku menyodorkan secarik kertas. Si perawat mengangguk. Setelah ini ke kamar tujuh belas. Toza!


"Nyonya mau ikut?"tawarku pada Candy Murbel.


"Tidak. Terima kasih dokter."


Ke kamar tujuh belas


Pria ini, pria yang menghancurkan kebahagiaan orang. Keluarga Carle hancur di tangannya. Keluarga Triple XA hancur di tangannya. Dia pantas mendapat hukuman. Dia pantas untuk mati!


"Maaf, Pak Toza. Anda tidak takut suntik khan? Saya suntik ya supaya cepat sembuh."izinku.


JLEB. Dia mengerang kesakitan. Jadi, seperti inikah dulu Bunda? Seperti inikah?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2