
Nyonya memanggilku. Matanya merah. Air mukanya tidak ramah. "Saya dengar kamu sudah main dokter-dokteran. Hah?"
Bagaimana mungkin secepat ini Nyonya tahu.
"Hanya percobaan ilmiah."ucapku penuh kebohongan. Lyon tidak ember khan? David sepertinya bodo amat dengan urusanku. Berarti ada pihak ketiga! Siapa dia? Hatiku penuh dengan tanda tanya.
Aku keluar ruangan memikirkan hal ini. Vera menepuk bahuku. "Hallo, pagi-pagi dah melamin. Ada masalah apa,say?"
"Gak ada apa-apa kok. Beneran!"jawabku.
"Aih! Terus kenapa kamu dipanggil Nyonya?"
DEG! Rupanya dia ngeh dengan apa yang kurasakan.
"Cuma masalah kecil."jawabku enteng. "Ya sidah ya. Aku mau pulang."lanjutku. Vera melongo, sebentar kemudian dia menguasai keadaan.
"Oke. Hati-hati."
...****************...
Aku menggempaskan tubuhku di atas kursi. Hasna sedang memasak di dapur. "Senang pulang kampung? Oleh-olehnya mana,nih?"sindir Hasna yang kini mondar-mandir membawa wakul, baskom, piring, gelas, sendok, dan tissu.
"Seneng,dong. Cuma aku lumayan baper pas ziyarah."
"Udah..udah...bahas yang lain aja."
"Mmm...apa sih."ujarku agak sewot.
"Aku kangen ortuku tauk,Mir."Lalu, Hasna menceritakan tentang keluarganya. Aku manggut-manggut dan sesekali mengatakan, "Oiya? Waaw...amazing!"
Pikiranku melayang ke sesosok wanita terkasih yang sedang mengalami perawatan intensif. Melihatnya membuat hatiku teriris-iris. Lyon selalu mendampinngiku di saat-saat genting itu.
"Ibu mau muntah?"tanyaku saat Ibuku mual. Pasti reaksi obatnya. Dengan sigap, Lyon menyerahkan aroma theraphy untuk menghangatkan perut dan kresek hitam untuk menampung muntahan."Ini dokter."
Ibu, cepat-cepatlah sembuh....
Aku ingin keluarga ini kembali lengkap seperti dulu....
Ibu, lihatlah Kak Avie, dia sebentar lagi mau menikah. Lihatlah anak kebanggan Ibu itu.
Ibu,lihatlah calon dokter muda di hadapanmu yang sebentar lagi menyandang gelar dokter.
Ibu, lihatlah cucu Ibu yang amat menggemaskan itu, kau takkan percaya jika kau harus dipanggil nenek. Waktu berlalu begitu cepat.
"Ah...kenyang."Aku mengelus-elus perutku yang terisi penuh.
"Alhamdulillah."larat Hasna.
"Has, kamu kenal Albert?"tanyaku. Seketika pipinya merona. Ia mengangguk. "Albert itu ternyata orang yang baik hati membantuku buat menolong pasien pertamaku."
"Oh,ya?" Hasna terlihat bersemangat mendengarkannya. Terbukti, dia duduk mepet-mepet ke aku.
"Tapi, dia agaknya terlalu simpati padaku. Tau gak? Dia tiba-tiba saja nongol terus dari raut mukanya kaya cemas banget. Heran."
"Dia emang perhatian,ya."komentar Hasna.
"Kamu suka,ya?"tundingku.
"Enggak. Cuma kagum doang. Gak lebih."
"Alah..bilang aja suka,sih."Sip! Aku berhasil memanas-manasi orang. Berhasil memancing orang. "Aku bilangin ke Albert ya."
__ADS_1
"Jangan..."larang Hasna dengan tampang melas.
"Emang kenapa?"
"Nunggu waktu aja. Soalnya agaknya dia suka sama kamu."
🤮Ueekk..muntah pelangi. "Hahaha...itu mah penilaian mu saja."
...****************...
Jam kuliah mata pelajaran matematika. Ternyata di sampingku Albert. Kok kebetulan banget ya? Usai dosen menerangkan, kami mempelajarinya sendiri-sendiri atau diskusi. Aku melempar penghapus ke arah Albert. Kena hidunngnya. Albert langsung memelototiku. "Apa,lu?''tantangnya.
"Aku pengen belajar kelompok sama dokter A."cibirku mengingat peristiwa beberapa hari yang lalu. Aku baru sadar dr A dengam Albert sebenarnya paman dengan keponakan.
"Oke, tapi ada syaratnya."katanya menantang.
"Apa?"tanyaku sok cuek.
"KAMU HARUS JADI PACARKU!!"
JLEGER..⚡Bak petir di siang bolong. Zaman gini masih ada cowok menindas cewek. "Gak mau,ah. Kemarin kamu hampir membunuhku."tolakku mentah-mentah. "Maksudku, penilitianku hampir kacau karena kita-"
"Sudahlah kalau gak mau."
"Maaf...setelah ini aku gak mengungkit masalah ini."Kali ini aku yang mengalah. "Aku sangat berterima kasih pada pamanmu itu."
Ibu, kenapa aku harus melakukan hal bodoh lagi kepada cowok. Aku pengen insaf, Ibu. Tapi, aku belum bisa.
...****************...
Sore ini ke rumahnya? Ogah betul! Aku khan udah sibuk jadi guru bimbel. Aku mencoba bicara baik-baik ke Albert, tapi dia keras kepala. Baru pertama kali aku menemukan cowok stay cool kaya dia.
"Amira."panggil Albert. Albert tengah jongkok di depan tanaman bunga. Ia memetik setangkai bunga dan menyerahkannya padaku. "Sayang, gak ada mawar."katanya lirih.
"Ah, gak papa. Ini bagus juga,kok."Lagi pula siapa yang mau dikasih bunga mawar?
"Kamu suka bunga,ya? Lihat dari ujung sampai ujung bunga semua. Kaget tahu. Benaribenar mengagumkan. Beruntung sekali wanita yang mencintaimu berada di tempat ini."kataku.
"Aku suka bunga sejak kecil. Mama yang mengajarkanku."ceritanya.
Pfft...sepertinya dia anak yang manja. Bisa disimpulkan yanh merancang itu mamanya. "Mama kamu desainer ya?"tanyaku polos.
Albert melirikku. "Iya. Mari kita belajar di situ." Albert menunjuk ke arah balai di tengah kolam ikan. Mataku terbelalak. Belum pernah aku ke tempat seindah ini. Tempat yang sangat menenangkan.
Di tengah-tengah belajar, hpnya bunyi. Albert mengangkatnya. Anehnya dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa kamu tidak meresponnya?"tanyaku.
"Mamaku yang menelpon."
Aduh,anak mama beneran. Di balik ke coolan dia ternyata....
Aku membolak-balikkan buku mata pelajaran kuliah. "Kenapa kamu memilih jurusan kedokteran?"tanyaku penasaran.
"Karena aku pengen menjadi dokter seperti Oomku."
"Waahh..alasan yang masuk akal."
Kemudian Albert membicarakan sejarah taman bunga ini, menyebutkan nama-nama bunga yang ada di setiap sudut. Aku mengangguk-angguk sekaligus takjub.
"Wah,langit sudah gelap.Aku harus pulang dulu."seruku tiba-tiba.
__ADS_1
"Oke, hati-hati di jalan."Albert mengiringiku menuju gerbang rumah. Selamat tinggal taman bunga!
...****************...
Lyon menelponku. Sudah kuduga, dia marah-marah karena aku tiba-tiba menghilang dari rumahnya. "Yang penting mereka senang,khan."kataku tenang. Lyon sepertinya tidak puas dengan jawabanku.
"Aku ada tugas kuliah tahu!"kataku kemudian. Agaknya dia melunak.
"Mom mencarimu lagi." Apa? Ada apa lagi sih memanggilku. Suara dari seberang berubah menjadi suara wanita dengan nada membahana.
"Amira! Dengar,saya sudah mengecek pembiayaan operasi Ibumu. Ternyata, kamu masih saudara saya. Menantu saya ternyata keponakan Trian."
Eeeh...kok bisa? Aku hanya terdiam.
"Fokus sama kuliahmu. Urusan Melan akan ditangani oleh yang profesional. Kalau ada apa-apa bilang ke saya atau putra saya. Jangan sok bertindak!"kata nyonya.
"Iya nyonya. Iya."kataku.
"Ya sudah. Begitu saja. Lyon."Kali ini gantian Lyon yang memegang HP.
"Amira. Besok aku mau mengantarmu menjenguk Tante."janji Lyon.
"Beneran? Makasih ya..."
...****************...
Hasna mengemas barang-barang ke kardus.
"Mau ke mana?"tanyaku heran. Hasna mengelap keringat di kening.
"Gak ke mana-mana. Cuma beres-beres."
"Has, besok aku mau keluar kota lagi. Mau ikut gak?"
Mata Hasna terbelalak. "Ke mana? Sama siapa?"
"Ke..rahasia. Yang penting kamu mau ikut gak?''
"Mau."jawab Hasna pendek.
Meauw...🐈🐈🐈suara eongan kucing. "Gawat! Ikan di nampan!"Mendadak Hasna kalang kabut ke ruang tengah. Aku hanya senyum-senyum.
...****************...
Hanan menarik lengan Hasna. "Gimana? Dah kerasan?"
"Aku sering sendiri di rumah."keluh Hasna sbil membenahi kerudung.
"Mira ke mana?"tanya Hanan lebih serius.
"Nginep di rumah teman cowoknya."
"Busyet!"
Hasna menaikkan alis. "Katanya sih doa kerja di sana."
"Iya, tapi gak perlu nginep kali'."
Bersambung...
__ADS_1