My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Pencarian anak Candy Marbel


__ADS_3

Aku mengisi kekosongan hatiku untuk mencari anak Candy Marbel.


**Mira: Marbel, anakmu cowok atau cewek?


Marbel: Cowok, umurnya kira-kira sembilan tahun.


Mira: Wih... Udah gede banget. Di panti mana? Namanya siapa?


Marbel: Panti ___


Mira: Sip! Alamatnya?


Marbel: Jalan ***, Bandung**.


Aku pun nekad pergi sendirian ke Bandung dengan kereta api.


🎤: Kepada seluruh penumpang, sebentar lagi kita akan berhenti di stasiun ..."


Berarti, sebentar lagi aku sampai tujuan. Aku membereskan barang-barangku. Perlahan-lahan kereta berhenti. Pintu kereta pun terbuka. Aku turun dari kereta dengan langkah perlahan.


Hpku berbunyi...


''Halo.''


''Sudah sampai?''tanya Rina.


''Ya. Sekarang aku di depan stasiun.''


''Lima menit lagi aku datang. Tetap di tempat.''


''Ok.''


Aku memandangi sekeliling. Kota Bandung, aku datang! Aku melihat kesibukan calon penumpang dan mantan penumpang hilir mudik melewatiku.


''Amira!'' Oh, sudah datang rupanya.


''Halo, apa kabarnya?''sapaku pada wanita eropa yang rambutnya dibiarkan tergerai. Ia menyerahkan helm padaku.


''Baik. Ayo ke rumahku.'' sambil mengedipkan mata ia menarik tanganku. Aku memboncengnya. ''Kamu harus lihat tempat tinggalku yang baru dokter.''


''Rumah pribadi?''


''Apartemen.'' Dia mengemudikan motor dengan lincah seperti pembalap. Motor direm mendadak. ''Sudah sampai!" Aku memandangi apartemen tingkat delapan. Busyet, tinggi banget. Jadi, ini tempat tinggal baru Rina.


''Ayo!''katanya penuh semangat sambil menarik tanganku.


''Aku baru pindah dua bulan lalu setelah cerai sama suamiku.''katanya dengan mata berbinar. ''Aku tinggal di lantai delapan. Di kamar empat belas.'' Ia terdiam sejenak.


''Tetangganya juga baik-baik. Mereka sering mengantarkan makan. Terutama nenek di kamar sepuluh.''


Kami berpapasan dengan seorang nenek yang menggendong kucing kecil. ''Halo nek. Panjang umur!'' sapanya dengan riang. Rina berjalan dengan penuh energik meskipun memakai sandal hak tinggi.

__ADS_1


''Temannya ya?'' Si nenek mengulurkan tangan sambil mengulum senyum. Aku menjabat tangan keriputnya.


''Saya dokter Amira.''kataku dengan sopan. Air mukanya berubah seperti tidak suka. Dia langsung pergi. Nenek songong!


Rina menepuk pundakku. ''Maaf, neneknya trauma dengan dokter.'' Aku mengerutkan kening. ''Anak semata wayangnya meninggal karena lambatnya penanganan dokter atau dokternya todak mau menangani.''


''Ck. Lalu dia memukul rata semua dokter?!'' simpulku sengit.


''Nah! Ini kamarku.'' Cklek. Rina melepas baju luarnya, lalu menyalakan AC. ''Cuacanya gak bersahabat. Makin lama di Indonesia kulitku makin gelap.''komentarnya. Sikapnya beda banget sama yang tadi. Rina membuka lemari es. ''Mau?'' Ia menawariku air es.


''Makasih.'' Pandanganku menjelajahi seisi ruangan. Kamarnya tidak terlalu besar. Ruangan dibagi menjadi tiga dengan triplek.


''Kamu kerja apa?''tanyaku.


''Peneliti.''jawabnya pendek.


''Peneliti?''ulangku. Sejak kapan dia suka meneliti?


''Sejak aku tahu ada penyakit baru, aku jadi suka meneliti.'' Terjawab sudah pertanyaanku. ''Kamu katanya mau cari anak temanmu?''


''Iya, anak keturunan Pranciss.''terangku. ''Namanya, Peter Gunawan.''lanjutku. Aku menyodorkan foto yang diberikan Candy Marbel.



''Cakep. Wajah eropanya sempurna.''komentarnya, kemudian menenggak air es sampai pun airnya tidak menetes. Aku menyodorkan gelasku.


''Minum aja.'' Ia meraihnya dan menenggaknya bak orang kehausan karena puasa seharian. ''Bayu kabarnya gimana?''tanyanya setelah menghabiskan dua gelas air es.


''Kamu belum niat menikah?''


''Pengen sih. Tapi belum ada calon.''


''Kamu kurang pergaulannya. Cari pacar kek. Siapa tahu jodoh.''usul Rina. ''Aku punya banyak kenalan. Kamu mau kukenalin, siapa tahu cocok?''


''Gak isah. Makasih banget.''


''Ah, bingung deh sama kamu, Mir. Prinsip kamu itu yangbikin kamu gak laku-laku. Sayang, lho...''


''Situ punya kaca gak?''gerutuku.


''Sorry. Aku emang udah bosan sama mantan suamiku. Untungnya belum punya anak. Gak ada beban.''


''Pernikahan baru seumur jagung. Apa faedahnya?''


''Buat pengalaman dong. Beneran gak mau kukenalin?''


''Gak!''tegasku.


''Oke, btw pesanannya udah datang. Sebentar mas!'' Chaterina, meskipun kita sudah berteman lama, aku belum bisa mendeskripsikan sifatmu.


''Ya ampun, banyak banget sih!''komentarku. Makanannya tidak ada yang sehat lagi. Dia pesan dua bungkus.

__ADS_1


''Ini untuk dokter.''


''Udah. Makasih.''


''Ih, songong amat sih. Mentang mentang jadi dokter gak mau junk food. Oke, bener ya gak mau.''


''Beneran.'' Aku membuka barang-barang ku. Sebelum ke Bandung aku menyempatkan diri beli sayuran segar dan buah-buahan. ''Boleh ya nitip di lemari es mu? Sambil di sini mari kita belajar masak bareng-bareng.''


''Panti ____. Aku pernah ke sana beberapa kali.'' lapornya sambil menjilati jemarinya. Ia sudah selesai makan!


''Kamu pernah melihat Peter?''tanyaku penuh antusias. Aku menghentikan gerakanku memasukkan sayur mayur ke dalam kulkas. Dia menatap langit-langit, menerawang ingatannya.


''Pernah cuma sekali. Kalau tidak salah dia bermain karet gelang saat teman-temannya bermain bola. Tatapannya sendu. Seperti menunggu seseorang. Ia suka mencuri-curi pandang ke arah jalan raya.''


''Kapan kamu melihatnya?''


''Setahun yang lalu saat aku melihat pengabdosian putri yang memiliki mata jernih.''


''Itu artinya, ada kemungkinan dia masih di sana.''


''Dia? Putri itu?''


''Peter. Aku khan dari tadi ngomongin Peter.''


Dia melongokkan jepala ke jendela kamarnya. ''Oh. Ada penjual tahu bulat pewat. Berhenti di situ. Beli ah.'' Janda ini rakus banget. Ia meninggalkanku. Demi tahu bulat, ia rela naik turun lift.


Lima menit kemudian, ia kembali dengan senyum merekah. ''Penjual tahu bulatnya menggodaku.''


''Kamu sih pakai baju kurang bahan.''


''Kemungkinan untuk bertemu Peter mendekati 0%.''


''Kok bisa?''


''Siapa tahu ada prang tertarik mengadopsinya.''


''Gak mungkin. Marbel bilang gak akan ada yang tertarik sama anak itu.''


''Ah, itu hanya omongannya saja.''


''Dia itu sifatnya gak jauh beda dari bapaknya.''


''Tapi belum tentu khan? Di panti juga ada bimbingannya. Siapa tahu sifatnya berubah.''


''Iya, kayak kamu. Gak bisa ditebak.''


''Kamu juga, Mir.''


Kami tertawa bersama.


tbc

__ADS_1


__ADS_2