My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Dilamar


__ADS_3

Aku memanaskan motor. Levy sudah siap dengan seragam rapi.


'' Mau ku antar?" tawarku pada adik tiriku. Dia membenahi kerudungnya.


" Mba' gak kerja?" Malah balik nanya. Aku sudah baik hati melupakan kenangan pahit masa lalu.


" Halah, gak usah jaim. Aku mah jadwalnya Jam 10 nanti." - Mira


" Beneran, mbak? Jadi. Mbak sengaja manasin motor buat aku?" - Levy.


" Gak juga sih. Aku mau jenguk mas mu." - Mira


" Kirain." - Levy


Dasar kepedean


" Berangkat!" - Mira,Levy


BRUM…….


"Makasih, ya, mbak. Aku bakal balas budi,mbak." - Levy


aku pun pergi ke rumah sakit.


...Di sekolah Levy...


" Levy, siapa tuh tadi? kakak kamu? kuliah, ya? Bening banget wajahnya" tanya teman laki laki Levy.


" Beda ya sama aku. Wong itu kakak tiri. Tapi dia itu dah gak kuliah." Jawab Levy.


" Loh, loh, dah kerja toh?" tanya teman laki laki Levy lagi.


" Kakakku itu dokter, bro. Dokter, bro…." Kata Levy.


" Sudah nikah belum?" Tanya teman PR Levy.


" Belum." jawab Levy.


" Boleh tu dijodohin sama kakak aku." Kata teman perempuan Levy.


" Enak aja. Kakak kamu khan iteng." Jawab Levy dengan nada kesal.


" Eh gitu manis kali. Tapi bener lho, kayak baru lulus SMA." - Teman perempuan Levy.


" Iya. Kakakku sering gonta-ganti cowok. Ganteng-ganteng semua. Situ sirik, ya?" - Levy.


" Ya jelas lah. Jarang lho anak jaman sekarang yang baby face dan kawaii gitu." - Teman perempuan Levy.


" Ya udah, kakak kamu sudah siap belum? Kakakku galau gara-gara gak ada yang ngelamar tau!" - Teman perempuan Levy.


" Kok bisa? Oke, deh. Aku bilang ke kakakku, ya… kakakku alim kok. Jomblo sejati."- Levy.


" Beneran gak pernah pacaran khan?!" - Teman perempuan Levy.

__ADS_1


" Beneran!" - Levy.


" Oke aku bilang ke kakakku. Kamu juga bilang ya, Lev." - Teman perempuan Levy.


" Siap, sis." - Levy.


KRINNGG......... KRINNGG


" Eh, bel tuh. Apel woy...."


.


.


.


.


.


" Pak Toza, Dokter Amira mau mengontrol anda." kataku saat mau memasuki kamar 17. Aku membawa obat yang pernah kuresepkan untuk bunda. Aku sudah tidak butuh dendam atau semacamnya . Yang penting aku menjalankan tugasku menjadi dokter.


Tiba-tiba saat itu,Toza kejang hebat."Pak tenang, pak tenang." Bukannya semakin tenang,nafasnya terengah-engah. Aku baru tau dia mengalami sakaratul maut yang hebat.


Aku segera menghubungi Murbel."Cepat kesini! Do'akan yang terbaik buat suamimu agar kematiannya dimudahkan."


"Amira,aku belum pernah menikah.laki-laki itu telah mempermainkanku, jadi biarkan dia seperti itu.oh,anakku sudah kamu ambil?"


Aku segera mematikan hp.aku meminta asistenku dan dokter lain serta perawat menjaga Toza.


"Baik dok."


Pukul 11.30,Toza menghembuskan nafas terakhir.Kami segera memandikan jenazahnya serta mengkafaninya.Saat itu laki-laki yang berwajah sangar datang.


"Dimana bos ku?"


"Ini,silakan dibawa dan do'akan yang terbaik,kata dokter atasan kami."


Urusanku untuk menjadi dokter yang baik selesai.Sekarang,aku bisa bernafas lega.


Di klinik pun aku fokus menangani pasien yang mengalami kecelakaan tingkat pertama seperti luka bakar.


"Ini putih-putih mbok apakan?" tanyaku penuh keheranan.


"Saya kasih odol" jawab wanita berumur 60-an.


"Oalah,mbok.sini saya bersihkan odolnya dulu" kataku penuh kesabaran.


"Gak semua luka bakar bisa dikasih odol.apalagi ini keluar dagingnya" komentarku sambil membersihkan odol yang menempel di luka bakar wanita ini.


Tidak sampai lima menit,penanganannya selesai.


Tiba-tiba ada telepon masuk."Halo oh,Mama kenapa?"

__ADS_1


"Ada tamu,kamu harus pulang."


"Aku lagi banyak pasien.aku baru bisa pulang ashar,Ma."


"Tunda dulu,Ntar kamu nyesel.Udah ya Assaalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Kira-kira siapa tamunya,ya? kok aku harus ikut menemui."Dokter Sintia.Tolong gantiin baju saya disini.Saya ada urusan penting.Asisten kepercayaan ku datang."Dokter mau pulang?"


"Iya,ada tamu.Gak enak kalo gak ditemuin."


Ada sekitar empat mobil berjajar rapi di pinggir jalan aspal. Aku keheranan. Terlebih saat aku masuk ke halaman rumah. Gak ada yang ku kenal tuh. Kok bisa mereka tahu aku?


''Assalamu alaikum.'' Saya bersalam-salaman dengan para tamu. Mereka memakai baju batik.


''Kamu dokter?'' tanya seorang laki-laki muda dengan senyuman manis.


''Iya. Aku dokter ketua di klinikku. Ini baru pulang.''


''O... dokter to rupanya.'' gumam para tamu.


Keluargaku duduk rapi menghadap para tamu. Aku segera duduk di antara Mba' Novi dan Kak Avie.


''Mereka mau ngapain, Mbak?'' tanyaku.


''Tebak aja sendiri!" Tumben, mba' Novi main rahasia-rahasiaan.


''Mereka mau ngapain Kak?''


''Kamu nanya aku? Kira-kira mereka mau ngapain?'' Ih, pada gak jelas.


''Ayah belum datang.'' gumam mas Galang.


''Karena orang pentingnya sudah datang. Langsung saja, saya mau bilang, kedatangan kami di sini mau melamar putri Ibu, dokter itu untuk anak sulung kami.''


JLEGER.. bak disambar gledek badankublangsung lemas dan hilang kesadaran.-puasanya batal🤭-


Aku bangun ketika sayup-sayup terdengar adzan ashar berkumandang. Aku ini kenapa? Harusnya aku senang saat mendengarnya. Hatiku malah terasa sakit, tenggorojanku tercekat.


''Hei, mba Mira. Sudah bangun?'' sapa Levy. ''Mba' tadi beneran pingsan?'' tanyanya dengan lirikan dan senyuman sinis.


''Amira.'' Ayah pulang! Aku langsung memeluk Ayah seperti minta pembelaan. ''Kamu memikirkan lamaran tadi?'' Tatapan Ayah sendu. ''Mereka menerima tamu tanpa Ayah. Ayah khan jadi kesal.'' kata pria berumur lima puluhan sambil melepas pelukan. ''Ayah lebih percaya pada keponakan Ayah. Kamu juga, khan?'' Aku mengangguk.


''Tamunya ke mana?'' tanyaku.


''Pulang. Saya usir semua.''


''Anak istri Ayah bisa membenci keegoisanmu.'' Aku tersenyum tipis.


''Kamu makan dulu. Pasti tubuhmu lagi gak fit.''


''Terima kasih, Ayah.'' Aku malah mandi kemudian persiapan pergi ke rumah pasangan Lime Vera.


''Kamu mau ke mana, ndok?'' tegur Ayah saat aku sedang mengikat tali sepatu.

__ADS_1


''Mau bukber. Ayah mau ikut?''


''Ayo! Jarang- jarang Ayah bukber sama kamu.''


__ADS_2