
Keesokan harinya...
Suasana sarapan pagi tidak menyenangkan, baik Nyonya, David, maupun Lyon, tak ada yang berbicara. Hanya suara pembantu riuh rendah di dapur berebut makanan.
Amira dan Vera yang sudah siap ke sekolah mematung melihat tuan rumah mereka tak ada yang bicara.
''Anu...nyonya, kami berangkat sekolah dulu.''pamit Amira badan dibungkukkan, Vera juga membungkukkan badan, mencium punggung tangan nyonya mereka.
''Baik, belajar yang rajin...minta Pak sopir mengantar kalian. David, Lyon kalian lekas berangkat juga.''
''Baik mom.''
*****
Sampai sekolah mereka langsung berpisah, Amira ke perpustakaan dulu, Lyon ke lapangan, Vera ke kelas, David ke ruang rapat.
teng..teng..teng...
bel sekolah berbunyi, amira baru masuk kelas, ia mencari bangku kosong, di samping Siori. Lyon duduk di bangku belakang bersama temannya.
''Amira, kamu tau gak? Liona tadi nangis.''bisik Siori.
''oh, masalah kemarin ya.''
''kamu tahu sesuatu?''bisik Siori lagi.
''Liona bertengkar sama Lyon.''Amira menopang dagunya.
''Apa?'' Siori berseru pelan, beberapa siswi meliriknya. Ia segera menutup wajahnya dengan buku karena malu.
''Aku gak tahu kejadian pastinya. Yang jelas mereka ribut-ribut.''
''Kamu ada hubungan apa sama ketua?''tanya Siori lagi.
''Sekedar teman.''jawab Amira pendek.
''Amira, aku percaya padamu.''Siori tersenyum tipis.
****
Di toilet wanita, saat istirahat pertama...
''Kenapa Mir?''tanya Vera. Mereka janjian di toilet wanita karena merasa toilet tempat yang aman untuk membicarakan rahasia.
''Gini loh, Ver. Aku pengen Lyon baikan lagi sama Liona. Aku sedih lihat mereka bertengkar. Kamu mau khan bantuin aku?''pinta Amira dengan mata berkaca-kaca, membuat Vera gak tahan mencubit pipinya.
''Apa rencanamu cantik?''tanya Vera, tangannya mencubit pipi Amira.
''Pst..pst..pst..''Amira membisikkan rencananya pada Vera. Vera mengangguk-angguk.
''Serahkan padaku Mir.''ucap Vera, ia pun pergi menjalankan rencana.
''Semoga berhasil.''gumam Amira.
****
Di salah satu sudut kantin, Liona menangis-nangis, ia dikelilingi teman-teman setianya.
__ADS_1
''Nona Liona...jangan sedih.''hibur Ayako.
''Nona, semua pasti akan berlalu.''tambah Bisca.
''Nona, siapa yang menyakiti nona harus kita balaskan?''tanya Christina.
''Betul!!!''sambut cewek-cewek lain yang merupakan fans Liona, mereka memperlakukan Liona bagaikan putri.
Saat ini saja Liona disediakan tissu, minuman, dan kue basah. Ketiga teman setianya mengelus-ngelusnya.
''A..aku diduakan Lyon.''tutur Liona disela-sela isakannya.''Dia melupakanku gara-gara satu orang.''lanjutnya.
''Jangan-jangan gadis kampungan itu.''tebak Ayako.
''Menyebalkan, apa hukuman kemarin tak mempan untuknya?''gumam Bisca.
''Nona, kami akan mematuhi perintahmu.''tambah Christina.
''Maaf....ada Liona si wakil kelas?''Vera datang dengan nafas tak beraturan. Jarak antara perpustakaan dengan kantin harus melewati tiga lapangan olah raga.
''Loh, kamu Vera si bendahara kelas, ya? Ada perlu apa ke sini?''tanya Christina.
''Wakil ketua, saya mau bicara dengan Anda secara tertutup.''pinta Vera.
Liona melepas teman-temannya, kemudian berdiri,''Biarkan aku bersama keuangan kelas.''
Mereka pun pergi keluar kantin.
Vera mengatur nafasnya,''Liona, aku tahu kamu pasti sedih saat ini...aku dan Amira ikut sedih mendengarnya.''
''Berbelit-belit.''potong Liona.''Kamu cuma mau mengejekku khan? Ingat, baik kamu atau Mira mengganggu kehidupanku, siap-siap kalian ditendang dari sekolah ini, dan keluargamu bangkrut.''ancam Liona menekan kalimat terakhirnya.
''Saya mau Liona menerima undangan ini.''Vera menyodorkan selembar kertas sobekan. Isinya ajakan ke taman bermain. Setelah memberikan kertas itu, Vera buru-buru pergi.
''Hah..''Liona tertawa merendahkan, kertas itu imia simpan ke dalam saku.
****
Di lain tempat, ruang musik, di mana Lyon dan pacarnya singgah, Lyon sedang memetik gitar, wajahnya tanpa ekspresi, sangat suram.
''Lyon sayang, kenapa wajahmu seram begitu? Ayo dong senyum."hibur salah satu pacarnya yang tidak tahu apa-apa masalah yang tengah melanda hati Lyon.
Lyon mendengus,''Keluar! Kalian semua keluar dari sini!''
Para pacarnya kabur, mereka berlari keluar dan tabrakan dengan Amira. Jerit-jerit histeris di antara mereka.
''Aku gak mau dengar suara kalian lagi.''tambah Lyon, suaranya bergema. Gadis-gadis itu makin berlari menjauh. Amira menepuk-nepuk roknya yang terkena debu.
''Ah, dasar! Kenapa sih pada lari ketakutan gitu?''gerutu Amira. Ia berjalan tertatih-tatih menuju ruang musik. Ia lihat Lyon memetik gitar, wajahnya menunduk, air matanya mengalir.
''Tuan Lyon....''Amira memeluk Lyon dari belakang.''Kamu masih sedih?''
''Amira, kau kah yang datang?''tanya Lyon, suaranya serak.
''Kenapa masih kepikiran masalah kemarin? Kumohon tuan, jangan berlarut-larut sama suatu masalah. Tuan baikan saja deh sama Liona. Saling berbicara, mana yang selama ini belum kalian pahami.''kata Amira masih memeluk tuan mudanya.
''Kamu mengguruiku?''tanya Lyon dengan suara serak. Ia melepas pelukan Amira.
''Ga..hanya saja aku pengen Lyon ketua kelasku ini kembali periang. Aku pengen nanti malam selepas makan kita berangkat ke taman bermain. Mau khan?''ajak Amira, senyumnya mengembang.
__ADS_1
Jantung Lyon berdegup kencang,''Ke taman bermain bersamamu?''Ia berpikir sejenak.
''Bagaimana? Mau ga?''tanya Amira masih dengan senyuman.
''Oke deh.''
******
Liona pov
Bunyi shower dari KM,''Huh, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa cemburu gara-gara anak baru itu?''
Aku mematikan shower, memakai handuk, keluar kamar mandi, kemudian ke kamar memakai pakaian.
Selesai berpakaian, aku bergabung dengan keluarga kecilku yakni dua adikku yang kini duduk di bangku SMP.
''Kakak.''panggil Rista.
''Apa?''
''Kakak kok murung terus sih?''
''Ga papa kok.''
''Kakak dinakalin kak Lyon yah?''tebak Visca.
''Apa sih? Ga...''
Aku merogoh kantong seragamku yang mau kucuci, ini adalah kebiasaanku acap kali mau mencuci pakaian. Mengecek saku, apakah ada isinya atau tidak? Aku menemukan secarik kertas pemberian keuangan kelas. Setelah kubaca aku bergegas pergi.
****
Malam, setelah dinner Amira muncul dengan jaket biru muda dan celana panjang.
''Tuan Lyon...sudah siap?''
''Sudah.''Lyon mengacungkan jempol. Ia lebih rapi dari biasanya. Biasanya pakai style sesuka-suka dia, gaya anak geng. Sekarang ia pakai pakaian lebih rapi, karena mau jalan sama cewek.
Mereka pun berangkat ke taman bermain. Sesampainya, pemandangannya sangat indah. Amira sampai terkagum-kagum. Ia baru pertama kali ke tempat ini, sebelumnya hanya membaca di cerita-cerita.
''Amira, kamu mau beli apa?''tanya Lyon, membuyarkan khayalan Amira.
''Ah, eh...aku mau beli arumanis. Ayo.''Amira menarik tangan Lyon. Mentang-mentang badannya kecil, ia berlari cepat, Lyon sampai kewalahan menyesuaikan langkah Amira.
''Nyummy...''Amira memakan arumanis dengan lahap. Lyon hanya tersenyum melihatnya.
''Imut banget.''gumam Lyon.
''Lyon, sekarang kita ke rolling coaster.''ajak Amira.
''Eh, iya.''
Mereka tiba di tempat rolling coaster,mengantri beli tiket dulu.
Sebentar-sebentar Amira menengok jam tangan.
kok lama ya?
Lyon menoleh ke arah Amira,"Amira gimana kalau kita beli makanan dulu sebelum..."
__ADS_1
Mata Lyon terbelalak melihat dua orang di hadapannya. Siapakah mereka?
Bersambung...