My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
eps 26


__ADS_3

Aku berhasil menemukan nomer Galih. Kutelpon dia berkali-kali selalu dijawab dengan umpatan. Aku terus mengelus dada. Ada apa inip Kenapa mereka jadi membenci padaku?


''Mi..Mira. Akhir-akhir ini kamu terlihat murung. Kenapa?'' Siori duduk di kursi depan mejaku. Aku cuma tersenyum pahit. ''Mir...kalau kamu ada masalah bilang aja... jangan dipendem sendiri.''


Seketika air mataku mengalir dan mengalir. Siori, maaf aku gak bisa bilang sama kamu.


Aku mengambil tisu dan mengusap pipi dan mataku. Aku paling gak bisa curhat sama orang lain.


''Ikut aku,yuk.''ajak Siori sambil menarik tanganku. Aku menurutinya. Siori mengajakku ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah.


''Ngapain?''tanyaku begitu sampai di rumah Siori.


''Tentu saja ngilangin stress mu.'' Siori membuka pintu rumahnya. Ia mengajakku ke ruang tengah yang penuh buku.


''Kapan Lyon membebaskan mu?''tanya Siori. Aku menggeleng pelan. ''Amira, please deh...jangan tertutup banget. Aku tuh paling gak suka lihat kamu diem terus. Kamu itu tertekan,ya?''


''Iya.''jawabku pendek. ''Aku gak tahu, sejak aku SMP aku jadi tertutup banget. Cuma sama kakakku aku bisa cerita apa saja tentang diriku.''


''Amira...''


''Keluargaku gak ada yang peduli sama aku.''keluhku.


^^^Tiiinnn...brak!!!^^^


Aku terlonjak,''kenapa siori?''


''ada yang kecelakaan.''jawab siori sambil menyingsingkan lengan.


''siapa?''tanyaku.


''bentar, aku keluar dulu. kamu di sini aja.'' siori keluar rumah. Aku menunggu kabar harap-harap cemas. Siapa gerangan yang kecelakaan siang bolong begini?


Siori masuk lagi. Aku menatapnya penuh tanda tanya.


''Si..siapa?''Siori menunjukkan hasil jepretannya.


''Bukan siapa-siapa, sudah diangkut ke rumah sakit.''jawab Siori.Aku bergumam sebentar, aku kira siapa.


🍃🍃🍃


Kak David jarang pulang. Aku bebas mengatur waktuku. Aku fokus persiapan UN, supaya nilaiku bisa bersaing dengan anak-anak kelas A. Lyon juga pulang telat-telatan karena dia les, kumpul bareng teman-teman, atau bertandang di rumah Liona. Kadang-kadang bawa Liona dan dua adiknya ikut makan malam di rumah. Seperti malam ini...


''Cuma sendirian?''tanya Liona. Aku mengangguk. Vera sudah tidur duluan karena kecapekan seharian aktivitas yang berat-berat.


''Udah, ikut makan sini aja.''ajak Liona sambil menarik tanganku. Aku duduk di tengah-tengah antara Lyon dan Liona.



''Oh, jadi ini asisten baru yang berhasil merebut hati kak Lyon?''tanya Visca.


''Padahal cantik juga gak.''sambung Rista.


Liona menegur kedua adiknya,''eh...kalian itu apa-apaan sih. Gini-gini dia itu teman kakak. Jadi apa salahnya kakak ajak dia makan.''

__ADS_1


Visca menggeleng''halah kak...gak usah pura-pura deh...kakak cuma pengen ngehancurin hidupnya khan?''


Lyon membelaku,''Anak kecil diem ajalah. Aku memang pacaran sama kakak kalian, kami pacaran karena saling mengagumi.''


''Sudah-sudah.Kita makan aja,yuk.''ajak Liona tanpa peduli.


kami makan malam bersama.


''Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.''terang Lyon.


''ma..makasih.''air mataku menetes.


''aih, cengeng.''cela rista.


''kak mira, gak usah nangus gitu lah. khan ada kami yang siap menjadi bahu penolong kakak.''visca ikutan mewe'.


''iya, ayolah kak...gak usah diinget-inget yang dulu.''


aku mengangguk.


dan tahun pun berganti....


kali ini aku menangis bahagia,''aku lulus SMA." lyon menepuk pundakku.


''selamat,ya.''


''apa,sih. kamu tetap lebih unggul dariku.''


''ayo kita daftar kuliah ke unirvesitas terbaik se-Indonesia.''ajak Lyon.


''Udahlah...urusan biaya sudah beres.''


Tinggal satu langkah lagi buat ngerealisasikan mimpiku. Aku salut dengan keluarga Akmarahulla. Beribu-ribu terima kasih kuucapkan pada mereka. Karena seluruh biaya kuliah ditanggung mereka


.


.


.


.


Suatu malam yang dingin dan sunyi, dua orang tengah berbincang serius di ruang tengah kopi panas. Nyonya dan Kak David. Aku membangunkan Vera supaya ikut mendengarkan. Kami memasang telinga baik-baik.


''Kau denger Roy nabrak cewek berjilbab di persimpangan jalan?''suara nyonya.


''Ya...alasannya cuma sepele. Cewek itu ada sangkut pautnya dengan Candy Murbel.''suara kak David.


''David,ceritakanlah lebih lengkap.''pinta nyonya sesaat setelah menyeduh kopi.


''Mom, dia itu Lily, Mom. Ciri-cirinya membawa liontin pemberian Lusi.''kata kak David.


''Berarti satu langkah lagi buat ketemu Candy Murbel.'' Nyonya menarik napas lega.

__ADS_1


''Ya, sebentar lagi aku akan menikahinya.''


''David...mom percaya sama kamu.''


🍃🍃🍃


Di dapur



''Sebenernya aku bingung sama apa yang diomongin nyonya semalam.''keluh Vera sambil mencuci peralatan dapur.


''Aih! Kamu khan sudah kujelasin tiga hari yang lalu.''


''Ooh...masalah teman baikmu.''


Aku mengangguk. Vera mengeringkan tangan. ''Udah ngobrol yang lebih asik. Kamu dah daftar kuliah jurusan apa?''


''Kedokteran. Kamu?'


''Aku mau jadi guru tk.Jadi kuliahnya guru PG-TK.''


''Ohh...''


''Masa-masa penderitaan kita hampir selesai.'' Vera mencomot gorengan yang ada di dekat penggorengan.


''Habis kuliah mau ngapain?''tanyaku balik.


''Mau nikah.''jawab Vera pendek.


''Ngomong-ngomong kapan sih kita bertemu pertama kalinya?''tanya Vera di sela-sela makan.


''Waktu kelas sembilan semester dua di perpus.''jawabku. Waktu itu aku bersama Hanan habis foto untuk ijazah. Kemudian Hanan mengajakku mampir ke perpustakaan, lalu aku malah bertemu Vera. Pertemuan pertama kali malah baku hantam.


''Oh iya....aku waktu itu sensi banget sama anak beda sekolah.''Vera terkekeh saat mengingatnya.


''Dan kini malah berteman akrab,khan.''


Kami tertawa bersama. Hati itu kami sama-sama tidak ada jam kuliah. Jadi kami menghabiskan waktu santai bersama, sebelum nyonya pulang dan memberi tugas yang tidak ada henti-hentinya.


''Ah, hari ini membosankan. Keluar,yuk.''ajakku.


Vera berhenti mengunyah miso yang kami buat siang itu. ''Ke mana?''tanyanya.


''Ke rumahku. Gak ada siapa-siapa kok.''ajakku.


''Alah, paling sama ngeboseninnya kayak di sini.''


''Dijamin enggak. Kamu khan belum pernah main ke rumahku.''ajakku


''Okelah, aku habisin dulu misonya.'' Karena terburu-buru Vera tersedak.


''Pelan-pelan aja. Be slowly. Rumahku gak begitu jauh dari sini.''aku menepuk-nepuk bahunya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2