My Dream Is Doctor

My Dream Is Doctor
Prolog (Season 2)


__ADS_3

Hai, namaku Amira. Waktu kecil aku bercita-cita menjadi dokter. Semua orang menganggap remeh mimpiku. Mereka menganggap aku lebih cocok menjadi guru ketimbang dokter. Mungkin karena kondisi ekonomi dan lingkungan yang kurang mendukung.


Masa kecilku penuh dengan warna. Kerjanya main terus. Sampai akhirnya keluargaku pindah. Aku menjalani hari-hari yang sulit bersama Kak Avie.


Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku menjadi dokter. Dan, kini keluargaku kembali lengkap.


''Mira, bangun!" Aghr...rasanya baru beberapa menit memejamkan mata.


''Kakak, jam berapa sih?''tanyaku.


''Jam setengah tiga.''jawab Kak Avie.


''Eih, masih terlalu pagi.'' Aku kembali menarik selimut.


''Sahur, Mir. Sahur. Ini bulan Romadhon.''


Hah?! Aku memaksakan mataku terbuka. ''Romadhon kak?''


''Selama ini kamu ke mana aja? Sampai awal Romadhon pun lupa.''


Aku merengut. Aku terlalu sibuk. Makanya jarang tahu dunia luar. Teman-teman kerjaku menjulukiku 'dokter kudet'.


Di ruang makan


Seluruh keluargaku berkumpul. Aku masih terkantuk-kantuk di depan hidangan.


"Mba' Mira, melek!"sindir Citra.


"Aiya, iya." Aku pangsung menyuapkan makanan ke mulutku. Tiba-tiba ada pesan singkat masuk.


Asisten dokter


Dokter, ada pasien patah tulang menunggu Anda.


^^^Mira^^^


^^^Iya. Sebentar lagi aku ke sana.^^^


Aku cepat-cepat menghabiskan makanan, lalu minum segelas air mineral. Kemudian, meluncurlah aku ke Rumah Sakit.


''Memangnya kalian gak bisa ngatasi sendiri tanpa aku?''omelku.


Asistenku tampak ketakutan. ''Habisnya hanya dokter ahli bedah di sini yang dicarinya.''


Ah, apa-apa kok musti aku.


"Mana pasiennya?"tanyaku. Aku membuka pintu UGD. "Anne!"seruku. Gadis itu tampak merintih kesakitan. Kemarahanku mereda. Aku segera melakukan tugas dokterku.


''Dokter, aku terpeleset dari tangga saat aku memikirkanmu.''kata Anne.


''Ah, kamu ini. Lain kali hati-hati pas jalan. Kamu tahu kan tangga itu licin? Aku yakin kamu jalan sambil ngantuk.''kataku.


''Dokter marah padaku?''tanya Anne takut.


''Enggak. Cuma aku sedang sahur, ini pun baru perdana. Kalau aku tidak makan yang cukup, hari ini kerjaku tidak profesional.''

__ADS_1


''Oh...''Anne manggut-manggut.


''Sekarang kamu boleh pulang.''


Anne berdiri, lalu berjalan menuju pintu keluar, kemudian berhenti, ia menoleh kepadaku. ''Kapan dokter menyatakan cinta pada Kak Lyon?''


JlebπŸ’˜


Anak ini masih saja ingat.


''Ah, kayanya gak perlu.''jawabku.


Anne mengangguk. ''Dokter hanya butuh ketulusan.'' Aku melotot.


''Dokter.''panggil asistenku. Aku menoleh. ''Dia meninggalkan kertas.'' Aku membacanya. Puisi yang sama! Rasanya, Anne seperti mempermainkanku.


🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈


Mau tak mau. Aku sudah muak dengan teror Anne. Puisi itu berulang-ulang dia tulis dan ditujukan padaku. Kalau kukumpulkan totalnya dua puluh lima. Aku turun dari taksi dan memandangi gedung perkantoran. Aku meremas jemariku. Ini pasti tempat kerja Lyon!


Aku bertanya kepada orang kanan kiri. Mereka menjawab sama. Aku bertambah yakin ini tempatnya.


''Selamat siang!"sapaku kepada orang yang serius ke komputer.


''Siang! Silahkan duduk."


''Aku butuh waktumu sebentar."


Lyon melirik ke arahku. ''Dokter?''


''Amira ngapain di sini?'' Aku tersenyum simpul.


''Aku lagi-lagi dapat puisi ini.''laporku.


''Ini yang ke dua puluh kalinya.''simpul Lyon.


''Aku...aku ingin menghentikannya.''kataku. Dia mengerutkan alis. Aku harus berani! Dan akhirnya aku menyatakan apa yang kupendam bertahun-tahun. Sudah kupastikan, dia tak bisa berbuat apa-apa. Karena dia suami seorang wanita dan Ayah dari dua anak. Biarin saja, yang penting perasaanku lega. Dia mencium keningku, lalu meninggalkanku.


...----------------...


''Taxi!" Aku mencegat taxi yang lewat di depanku.


"Mau ke mana Mbak?''tanya sopir taxi.


''RS di jalan...'' Taxi berjalan merayapi padatnya lalu lintas. Aku membuka hp.


Asisten dokter


Dokter, ada pasien korban kecelakaan menunggu Anda.


^^^Amira^^^


^^^Maaf, aku sedang dalam perjalanan. Suruh dokter yang lain saja.^^^


Asisten dokter

__ADS_1


Tapi dokter, Anda satu-satunya harapan kami.


^^^Amira^^^


^^^Panggil dokter lain. Aku dalam perjalanan. Gak harus aku kan?^^^


Asisten dokter


Dokter, kondisi pasien sangat parah. Tolonglah dokter.


^^^Amira^^^


^^^Lakukan pertolongan pertama. Jangan cerewet!^^^


Asisten dokter


Maaf, dokter sedang tidak enak hati?


^^^Amira^^^


^^^Cepat. Tangani pasiennya.^^^


Asisten dokter


Dokter, ada masalah. Pasien kejang-kejang.


^^^Amira^^^


^^^Cepat tangani, bodoh!^^^


Asisten dokter


Baik.


^^^Amira^^^


^^^Aku ke sana.^^^


''Mbak, sudah sampai.''kata sopir taxi. Aku membuka pintu taxi. Tak lupa, aku menyerahkan selembar uang warna biru.


Seorang perawat lari-lari ke halaman rumah sakit.


''Kenapa?''tanyaku.


''Pasiennya meninggal.'' Aku terpana. Segera aku mendatangi ruang operasi. Air mataku mengalir deras. ''Kalian mengapa tidak melakukan pertolongan pertama? Kenapa?''isakku.


''Kami semua menunggumu dokter.''


''Bodoh sekali. Serendah inikah mutu RS ini? Sampai hatikah mengjilangkan nyawa orang?'' Aku mengemasi peralatan dokterku. Lalu, menggendong tas dokterku.


''Dokter mau ke mana?''


''Mau keluar. Aku mau kembali kalau kalian menjadi pebih baik.''


Timku terbengong-bengong. Biarlah, sudah remuk perasaan ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2