
Satu-satunya orang yang kupercayai di sekolah ini adalah Siori, ia adalah anak orang kaya tapi tak bertingkah macam-macam. Andai aku duduk sebangku dengannya. Namun nasib pertukaran pelajar, aku duduk menggantikan pelajar sebelumnya. Teman-temannya gak beres. Sudah berapa kali coba mereka sengaja menyumpal laci mejaku dengan sampah?
''Mereka berulah lagi?'' tanya Siori sambil mendekatiku. Aku sibuk mengeluarkan sampah dari dalam laci.
''Hah...sudah biasa.''
''Mereka itu tidak baik untuk didekati Amira.''kata Siori dengan nada lembut padahal tampangnya kesal.''Ayako, Bisca, Christina...mereka bertiga terlalu fanatik pada nona Liona. Kami satu kelas tidak ada yang berani menentang mereka.''
Sesulit itukah? pikirku.
''Liona sangat setia kawan. Dia bisa buta kalau temannya disakiti. Padahal jelas-jelas mereka yang berulah.''sambung Siori lagi.
''Tidak masalah Siori. Asalkan menghindar dari mereka sudah cukup.''ucapku percaya diri.
Siori menatapku lekat-lekat,''Amira...berhati-hatilah.''pesannya.
****
Geng ABC, nama dari teman-teman setia Liona berunding di ujung koridor.
''Eh, gimana nich? Kayaknya si kismin itu gak kapok-kapok juga kita kasi pelajaran.''Ayako menggigit ujung kukunya.
''Kayaknya kurang mantap nih. Sudah miskin, tampang jelek juga. Aku ingin dia ga betah di sekolah ini.'' Bisca ikut-ikutan panas.
''Gunakanlah otak kalian sedikit. Kalian tahu, akhir-akhir ini nona Liona dekat dengan kak Jack.''cetus Christina.
''Kak Jack..?''Seketika wajah dua orang itu pias.
''Bagian keamanan berdarah dingin itu pernah bentrok dengan nona Liona. Kalian tahu? Itu karena nona Liona pernah menampar Kak Jack gegara kak Jack menembaknya. Nona Liona berhasil menghindari Kak Jack.''cerita Christina.
''Lalu apa rencanamu?''tanya Ayako.
''Kita memancing kak Jack bahwa nona Liona akan meminta maaf.''
''Apa itu akan berhasil?''tanya Bisca.
'' Percaya saja padaku.''
****
Bel istirahat tiba, seperti biasa aku menuju perpustakaan, berburu buku yang berguna untuk masa depanku.
Buku-buku kedokteran. Sedang asik-asiknya membaca buku, adik kelas memanggilku.
''Geng ABC mencarimu, kak.''
Aku membenarkan kacamata bulatku. Apa...? Mereka pasti mau mencari masalah denganku. Aku harus menghadapi mereka dengan tegar.
__ADS_1
''Iya, di mana mereka sekarang?'' tanyaku.
''Di koridor antara kelas 11 A dan D.''
''Terima kasih.''
''Amira Amana.'' seseorang menyapa ku dengan nada datar. Bisca. ''Bagaimana pun posisi mu di sini menggantikan Liona. Tapi aku kurang yakin.''
Aku tersenyum kecut. Hmfh, cari masalah.
Ayako angkat bicara,'' Liona diberi tenggang waktu oleh kakak kelas. Dia ingin menerimanya. Tapi...''
''Karena Liona tidak ada.''sambung Christina.
''Kamu yang menggantikannya.''
Kata-kata mereka terdengar penuh tipu muslihat, buktinya mereka buru-buru bersembunyi ke dalam kelas saat terdengar derap kaki seseorang dari arah belakang.
Tiba-tiba leherku dicekik, sehingga aku tak bisa mengeluarkan suara. Aku berusaha melawan cengkeramannya.
''Liona matilah kau.''
Orang ini menyangka ku Liona. Aku serasa mau mati, bernafas pun susah. Apa kesalahan Liona begitu besar sampai tak segan ingin melenyapkan? Seseorang, tolonglah aku.
''Lepaskan dia!'' Tiba-tiba ada suara berwibawa, menatap tajam ke arah kami. Keringat membasahi pelipisku. ''Aku bilang lepaskan dia, Jack.''
Cengkraman itu mengendur, aku bisa bernapas dengan lega. ''Oh, David Akmarahulla. Ada apa gerangan kau kemari. Ingin menegakkan keadilan. Seharusnya kau bertanya dulu pada anak ini.''
''Heh? Aku salah orang?'' Jack jadi salting.
''Maafkan aku nona.'' Seketika sifatnya berubah menjadi kalem.
''Tidak apa-apa kak.''
Kak David menoleh ke arah ku,''Kamu kembali lah ke kelasmu.''
''Oke...''
Sementara, tak jauh dari situ...
''Hahaha..tau rasa dia! Rencanamu memang bagus.''_Ayako.
''Liona yang menyulut, dia yang kena.''_Bisca.
''Aku rasa berita ini akan tersebar satu sekolah.''_Christina.
''Jadi ini ulah kalian?'' pergokku.
''Amira?!'' Mereka bertiga terkejut.
__ADS_1
''Amira, kamu gak papa?''tanya Siori, wajahnya cemas.
''Semuanya beres kok. Kamu jangan khawatir Siori.''Aku menepuk-nepuk bahu Siori.
''Syukurlah, tadi tuan muda pertama Akmarahulla menolong Anda.'' ucap Siori sambil tersenyum.
''Akmarahulla?'' Seketika pikiranku melayang kepada Robert yang mengancamku tidak boleh dekat-dekat dengan Lyon. Hah... kalau dekat dengan orang baik itu membuatku tak yakin kalau Lyon adalah orang berbahaya.
*****
Lyon pov
Istirahat paling enak nongkrong di kantin bareng teman-teman. Selama Liona tidak ada hidupku menjadi tenang kembali. Aku bebas dari ikatan. Aku bisa menyapa cewek-cewek sesuka hatiku.
"Hei Lyon...nyanyi dong..." pinta salah satu pacarku manja.
"Boleh...mau lagu apa?"
Tiga orang tak diinginkan datang. Wajah mereka muram. "Hai Ayako, Bisca, Christina... Selamat bergabung... Kalian pasti bosan ya tanpa Liona."
"Berkebalikan denganmu yang santai-santai bersama pacar-pacarmu." balas Ayako.
"Hahaha.. buat apa hanya kehilangan permaisuri jadi sedih begitu...ayo makanlah yang banyak...mumpung aku dapat uang saku lebih dari Mommy..."ajakku.
"Dasar Lyon...gak lihat apa kalau kita ini sedang kesal?!" tiba-tiba Bisca melunjak.
"Eh, ada apa dengan para cewek ini...apa kalian habis ditolak pacar? Makanya pacaran aja sama aku."
Christina memukul lenganku yang segera dipijat-pijat pacar-pacarku.
"Hei, gara-gara anak baru itu kehidupan kita gak tenang tahu gak!" Wajah Christina berubah menjadi monster.
"Sejak kapan ada anak baru? Sekolah kita kekurangan murid apa?" tanyaku gak peduli.
"Hah..lo itu pura-pura gak tau apa lupa sih?"berondong Ayako.
"Memang kenapa?" tanyaku balik.
Bisca memijit pelipisnya, mengatur emosinya, "Sejak kedatangan murid kampungan itu aku sama teman-teman gak betah. Sok berlagak pula. Memang dia gak ngaca apa?"
Aku berdehem,"Murid kebanggaan itu Amira Trian?"
"Yeah..."
"Amira? Mira sudah datang?" Sontak pandangan kami terarah pada Vera. "Akhirnya bocah bodoh itu datang juga."
Jangan-jangan orang yang dijanjikan Roy? Sudah satu tahun aku menunggunya, akhirnya datang juga. Aku bangkit bertepatan dengan bel masuk berbunyi.
__ADS_1
Jangan lupa kasih komentar dan like. Arigato gozaimas.